Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 122 Wangi Dilawan...?


__ADS_3

"Mister... Mark?" Lukman membeo.


"Dia... Soledat?" Tanya Wangi.


Di sini hanya Lukman yang merasa bingung, sejak kapan Galih yang mempunyai wajah khas orang Jawa asli berubah nama dengan nama bule bernama Mark? Sementara Wangi tidak pernah menyangka jika wanita bernama Soledat yang pernah Galih ceritakan beberapa waktu yang lalu kini ada di hadapannya bahkan wanita itu sangatlah cantik. Wangi tidak bisa membayangkan jika Zahara melihatnya sekarang, mungkinkah Romero benar-benar selamat melihat sifat pencemburu Zahara itu?


"Tuan Mark, kenapa anda juga ada di sini? Ah, apa anda terluka? Apa karena menolong kami waktu itu?" Ucap Soledat ketika sudah berhadapan dengan Galih dan tanpa sengaja melihat perban yang melilit di telapak tangan Galih.


"Ah, ini bukan apa-apa." Jawab Galih.


"Bukan apa-apa??!" Sahut Wangi dengan menekan suaranya.


"Emm, ini hanya luka kecil." Ralat Galih sambil merasakan aura dingin di sampingnya.


"Luka kecil dengan tiga jahitan dan panjang melebihi tujuh centimeter." Wangi kembali menyahuti dengan nada dingin membuat Galih tak berkutik lagi.


"Luka ini cukup parah tapi tidak terlalu serius karena sudah diobati oleh dokter terbaik di sini. Hanya saja aku perlu istirahat saja.


"Ah... Syukurlah, kami akan sangat merasa bersalah jika anda terluka parah gara-gara menolong kami." Ucap Soledat sungguh-sungguh.


"Andai kamu tahu, yang harusnya kamu khawatirkan itu adalah Romero. Mungkin sekarang dia sudah mati di tangan Zahara." Gumam Galih dalam hati.

__ADS_1


"Lalu apa yang terjadi? Aku dengar adikmu..."


"Ah, benar adikku! Adikku tiba-tiba panas tinggi dan kejang-kejang. Aku, aku takut... Dia keluargaku satu-satunya...hiks.." Soledat seketika tersadar dan ingat jika dia saat ini sedang mengkhawatirkan adiknya yang sedang kritis.


"Tenanglah... Sekarang duduklah dulu. Tim Dokter di dalam pasti saat ini sedang melakukan hal terbaik yang bisa mereka lakukan saat ini." Ucap Wangi sambil menuntun Soledat ke kursi tunggu yang ada di ruang IGD.


"Berdo'alah agar adikmu bisa melewati masa kritisnya dengan baik." Lanjut Wangi berusaha menenangkan wanita cantik yang penuh dengan air mata itu.


"Minumlah... Agar lebih tenang, kamu terlihat pucat." Ternyata Lukman cukup perhatian untuk memberikan segelas air putih pada Soledat.


"Thank you." Ucap Soledat sengan suara dan tangan yang bergetar mengambil segelas air putih yang disodorkan Lukman dan meminumnya perlahan.


Lalu tak lama kemudian Dokter Rio keluar sambil tersenyum...


"Thank you Dok... Terimakasih banyak." Soledat juga tidak henti-hentinya berterimakasih pada Dokter Rio.


"Tapi untuk sementara dia masih di sini dulu untuk menjalani observasi, jika sampai nanti malam demamnya tidak naik lagi, maka bisa langsung dipundahkan ke ruang inap." Tambah Dokter Rio.


"Baik, terimakasih Dok. Apa bisa saya melihat adik saya?" Tanya Soledat setengah memohon.


"Tentu saja..." Jawab Dokter Rio dan Soledat kembali berterimakasih lagi. Entah sudah berapa kali kata terimakasih terucap dari bibirnya. Dan dengan bibir tersenyum dia langsung melangkah cepat menuju ke tempat adiknya dirawat.

__ADS_1


"Lalu... Kenapa kalian bertiga ada di sini? Maksudku... Jika itu Dokter Wangi dan Dokter Lukman saya masih memaklumi, tapi kenapa kamu ada di sini Lih? Lukamu nggak papa kan?" Tanya Dokter Rio sambil mengamati luka di tangan Galih.


"Aman kok Dok... Cuma wanita yang tadi itu saya mengenalnya, jadi saya tadi cuma menyapanya karena kaget aja dia ada di sini." Jawab Galih apa adanya.


"Owhh... Kirain kaget ketahuan Dokter Wangi karena lihat wanita tadi, pfft..." Ledek Dokter Rio.


"Enak saja... Saya ini orangnya setia!" Sergah Galih langsung.


"Ya... Pokoknya jangan setiap tikungan ada. Mister Mark?" Ujar Lukman yang malah memanas-manasi.


"Nggak usah jadi kompor deh... Kalau gak tahu mending diem aja!" Ujar Wangi sambil melotot ke arah Lukman.


"Itu tadi... Manggilnya pakek Mister Mark segala, sejak kapan Galih ganti nama?" Lukman tetap gak mau kalah kalau belum bikin Wangi dan Galih tarung. Emang Lukman itu suka jahil kalau sama Wangi.


"Mending kamu diam aja kalau gak mau Anne tahu kamu tadi sempat terpesona sama kecantikan Soledat sampai ngasih dia minum segala." Ancam Wangi. Skak mat! Mati kutu kan Lukman? Wangi dilawan... hahaha... Semua orang menahan tawanya karena di ruang IGD tidak boleh berisik, sementara Lukman majahnya sudah masam karena malu plus kesal.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2