Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 127 LDRan


__ADS_3

Keesokan paginya semua relawan sudah meninggalkan markas Indobatt setelah melakukan upacara pelepasan. Meski berat meninggalkan semua rasa, teman serta orang berarti yang tertinggal di sana, mereka semua juga tidak menampik jika mereka juga rindu dengan keluarga yang berada di kampung halaman. Ada tangis haru saat meninggalkan orang-orang yang pernah mereka tolong saat melihat orang-orang itu enggan untuk berpisah...


"Dokter Wangi, saya pasti akan sangat merindukan dokter, hikss..." Ujar Mariam ketika Wangi berpamitan untuk pulang.


"Jangan nangis dong... Aku jadi sedih nih..." Sahut Wangi seraya memeluk Mariam yang kini tengah menangis terisak.


"Selama aku gak ada di sini kamu harus giat belajar untuk mempersiapkan masuk kuliah ya..." Nasihat Wangi. Mariam mengangguk lalu menjawab...


"Saya akan belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa belajar di Indonesia. Di saat itu tiba saya akan menemui dokter." Ucap Mariam yang sudah bertekat.


"Oke, aku akan menantikannya." Sahut Wangi sambil mengusap kepala Mariam dengan senyum bangga di wajahnya.


"Oh ya, aku mempunyai kenang-kenangan untukmu..." Wangi mengambil sesuatu dari dalam tas selempang yang ia pakai.


"Stetoskop?" Ujar Mariam sambil terbelalak ketika Wangi menyerahkan sebuah Stetoskop padanya.


"Ambillah... Itu bisa kamu gunakan saat kamu sudah menjadi Dokter." Kata Wangi sambil tersenyum.


"Pasti! Pasti saya akan menjaganya dan mempergunakannya dengan baik benda ini. Dengan ini saya tidak akan lupa jika saya punya tujuan hidup." Ungkap Mariam dengan serius. Dia tersenyum bahagia ketika mendapat Stetoskop dari Wangi.


"Good. Aku senang itu bisa menjadi motifasimu." Ucap Wangi bangga melihat kesungguhan di mata Mariam.


"Sampaikan salamku untuk Erisha, kemarin dia menangis tersedu-sedu ketika datang kemari. Dia sedih tidak bisa mengantar kami hari ini, dan tolong berikan ini untuknya..." Pesan Wangi sambil menyerahkan sebuah buku Psikologis untuk diberikan pada Erisha.


"Baik nanti aku berikan untuk dia." Ucap Mariam sambil mengangguk dan mengambil buku itu dari tangan Wangi.


"Sampai ketemu lagi Mariam..." Ucap Wangi sambil melambaikan tangannya masuk ke dalam mobil yang akan membawa rombongannya menuju bandara.

__ADS_1


"Sampai jumpa lagi Dokter Wangi..." Gumam Mariam membalas lambaian tangan Wangi dengan mata yang berkaca-kaca.


Dan kini rombongan para sukarelawan sudah berada di bandara untuk dipulangkan ke tanah air.


"Jaga diri baik-baik ya sayang... Aku akan menyusulmu segera, jadi tunggu aku dan jangan nakal...!" Ucap Galih saat akan melepas Wangi di bandara.


"Seharusnya aku yang ngomong kayak gitu, apalagi di sini banyak sekali perempuan cantik." Sungut Wangi dengan bibir yang sudah mengerucut.


"Bibirnya jangan gitu dong sayang... Jangan mancing-mancing..." Ujar Galih yang malah salfok sama bibirnya Wangi.


"Ihh... Gak nyambung banget deh, ngomongnya apa? Jawabnya apa?!" Sahut Wangi dengan kesal dan juga malu. Malu kalau ada yang dengar ucapan Galih.


"Ya aku kan jadi kepingin nyium kamu sayang..." Ujar Galih yang malah membuat wajah Wangi semakin merah.


"Galih..!!" Seru Wangi sambil tengok kanan kiri siapa tahu ada orang yang dengar ucapan Galih yang bikin malu dia sekaligus membuat jantungnya berdendang tidak karuan. Namun Galih malah maju semakin dekat dan langsung memeluk tubuh Wangi dengan erat.


Cup...


Wangi langsung memotong ucapan Galih dengan mendaratkan kecupan di pipi Galih. Setelah itu Galih tersenyum...


"Sudah kan...?" Ujar Wangi sambil tersenyum menatap Galih.


"Ahh... Aku jadi ingin pulang sekarang bareng kamu..." Sahut Galih yang kembali memeluk erat tuhuh Wangi sebelum kekasih cantiknya itu melepas pelukannya dan masuk ke dalam pesawat karena waktu penerbangannya sudah diumumkan.


Ketika Wangi sudah berada di dalam pesawat dan hendak duduk di kursinya, ternyata di kursi sebelah tempat duduknya sudah ada Zahara yang tengah duduk anteng di sana.


"Lho Ra... Kok kamu ada di sini? Bukannya katamu kamu pulang bareng rombongannya Romero dan Galih?" Tanya Wangi yang lumayan terkejut dengan keberadaan Zahara di sana. Bukan hanya Wangi, yang lainnya pun penasaran kok bisa ada Zahara di dalam rombongan mereka.

__ADS_1


"Hehe... Gak jadi. Masih ada tempat kosong di rombongan ini, jadi aku ikut pulang bareng kalian." Jawab Zahara sambil tersenyum meringis.


"Lha Romero juga tahu?" Tanya Wangi penasaran dan mengambil duduk di sebelah Zahara.


"Ya tahulah... Tadi malam pas ketemu kamu dan Galih itu ya mau ngomongin masalah ini. Dia agak kecewa sih... Tapi biarinlah... Biar Galih nggak ngenes sendirian." Jawab Zahara.


"Lagian dia itu sudah harus cepet pulang, bahaya kalau ditinggal sendirian di sana." Seloroh Elias yang ikut menimpali. Kebetulan dia duduk di kursi seberang mereka.


"Aku nggak sendiri ya El... Ada Romero di sini kalau kamu lupa." Sahut Zahara.


"Justru itu yang bikin bahaya kalau dibiarkan berdua saja di sini." Balas Elias dengan tampang flat-nya.


"Ugh...! Aku kan bukan anak kecil lagi!" Sungut Zahara yang jadi kesal sendiri dengan ucapan saudara kembarnya itu. Memang sih... Tujuan Elias ke Lebanon bukan hanya sekedar menjadi relawan, tapi juga untuk mengawasi dan membawa pulang kembali Zahara. Orang tua mereka sangat khawatir pada Zahara yang pada waktu itu mengambil keputusan sendiri dalam keadaan galau untuk pergi ke Lebanon dimana di sana ada Romero, kekasihnya yang sedang ada masalah dengan dirinya dan keluarganya. Tapi untungnya semua masalah dan kesalahpahaman mereka bisa diselesaikan dengan baik.


"Wahh... Kalian berdua jadi sama-sama LDRan dong..." Celetuk Lukman yang duduk tak jauh dari Wangi dan Zahara.


"Berisik! Jomblo diem...!!" Sahut Wangi dan Zahara bersamaan.


"Anjiiirr... Sadis banget ucapan kalian. Ann..." Lukman melirik ke Anne yang duduk di sampingnya berusaha mencari pembelaan, namun dengan cueknya Anne justru memasang Headset di telinganya dan memejamkan matanya.


"Yahh... Gini amat jadi aku..." Gumam Lukman yang terdengar ngenes banget di telinga. Sabar ya Luk...


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2