
Tidak terasa beberapa hari telah berlalu dan hari pertunangan antara Wangi dan Galih pun semakin dekat. Banyak hal telah dipersiapkan, mulai pakaian untuk pertunangan, cincin hingga seserahan apa saja yang akan diserahkan untuk pertunangan mereka nanti. Pasti dibenak kalian Wangi yang sudah sibuk semakin sibuk saja. Jawabannya tidak, karena yang super sibuk ini itu adalah para ibu-ibu yang tidak sabaran menanti hari tersebut dan Wangi maupun Galih sudah terima jadi saja. Hanya saja untuk masalah cincin Galih yang memilihnya sendiri untuk Wangi karena urusan itu sangatlah penting baginya dan tidak ingin orang lain yang memilihnya. Galih cukup berdo'a agar cincin pilihannya pas di jari manis Wangi. Acara pertunangan Galih dan Wangi rencana akan digelar sepuluh hari lagi jadi sekarang lagi sibuk-sibuknya. Hari ini rencananya Galih dan Wangi akan pergi ke butik untuk fitting baju, karena mereka dapat kabar jika baju pesanan mereka sudah jadi.
Seperti biasanya Galih menjemput Wangi sepulang kerja dan akan langsung pergi ke butik. Kedua mama mereka sudah duluan berada di sana menunggu mereka.
"Hallo sayang... Aku sudah di parkiran nih." Terdengar Galih sedang menelpon Wangi, rupanya Galih sudah menunggu Wangi di parkiran mobil Rumah Sakit. Selang beberapa saat Wangi pun datang dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Hai sayang... Lama ya nunggunya? Maaf tadi aku ke poli obgyn dulu nemuin Riko." Kata Wangi.
"Gak apa-apa, gak lama juga kok, memangnya ngapain ketemu Riko?" Tanya Galih.
"Oh itu... Dia nitip sesuatu buat Mayang, pacarnya Riko, kebetulan besok aku kan ada jadwal ke kampus, sekalian ketu Mayang soalnya Riko gak bisa ketemu Mayang karena harus jaga malam." Jawab Wangi dan Galih hanya manggut-manggut saja.
"Oh ya, kita jadi kan ketemu duo mama di butik?" Tanya Wangi yang menyebut mamanya dan mama Galih adalah duo mama, soalnya mama mereka berdua itu kompak banget.
"Iya, mereka malah sudah sampai duluan di sana." Jawab Galih.
"Oh gitu... Ya sudah kita berangkat sekarang saja, ntar mereka kelamaan nunggu." Ujar Wangi.
"Ya udah, kamu nggak mampir-mampir dulu kemana gitu?" Tanya Galih sebelum melajukan mobilnya.
"Nggak ada, kita langsung ke butik saja." Sahut Wangi.
"Okey bu Dokter!" Seru Galih yang membuat Wangi tergelak tawanya.
"Hahaa... Apaan sih kamu." Wangi tertawa sambil malu-malu dan itu jadi menular ke Galih juga.
"Hahaa... Aku senang lihat kamu tertawa lepas begini, tambah cantik." Ujar Galih yang membuat pipi Wangi bersemu merah.
"Gombal saja terus pak..." Sahut Wangi dan Galih pun semakin tergelak tawanya, membuat Wangi tersipu-sipu adalah pemandangan yang indah buat Galih.
Dan akhirnya mereka sampai juga di butik tempat mereka janjian buat fitting baju dengan duo mama.
"Dah sampai, turun yuk!" Ucap Galih yang turun lebih dulu kemudian memutari mobil untuk membukakan pintu untuk Galih. Duuhh... Lelaki idaman banget kan...
__ADS_1
"Silahkan tuan putri..." Ucap Galih ala-ala menirukan pangeran yang membantu tuan putri turun dari kuda, hanya bedanya Wangi bukan turun dari kuda melainkan dari mobil.
"Terimakasih pangeranku..." Jawab Wangi yang mengikuti alur begitu saja dengan senyum menawan yang membuat Galih ikut tersenyum juga. Merekapun turun dan berjalan sambil bergandengan tangan memasuki butik yang mereka tuju. Di dalam sana sudah ada duo mama, mama Ratna dan mama Rina yang tengah menunggu kedatangan putra putri mereka sambil melihat-lihat dan mengecek pakaian yang mereka pesan untuk acara pertunangan Galih dan Wangi.
"Ma..." Panggil Wangi pada mama Rina yang tengah melihat gaun yang akan dikenakan Wangi nanti.
"Eh kalian berdua sudah datang? Kebetulan mama sedang melihat gaun yang akan kamu kenakan nanti, kamu coba sana gih!" Ucap mama Rina yang begitu melihat Wangi langsung menyuruh putrinya untuk mencoba gaun yang dia pesan.
"Iya, coba saja dulu biar tahu yang kurang yang mana. Kamu juga Galih, nih mama sudah cek kemeja dan jas kamu, sana coba juga." Mama Ratna yang datang sambil membawa stelan jas pria bersama pemilik butik juga langsung menyuruh Galih untuk mencoba pakaian tersebut.
"Lho... Memangnya duo mama sudah nyobain pakaian juga?" Tanya Wangi pada kedua mama.
"Kami sih sudah duluan tadi, punya mama sudah pas dan sudah bagus, cuma milik jeng Ratna harus dikecilin sedikit saja, selebihnya sudah oke semuanya." Terang mama Rina.
"Owhh..." Sahut Wangi dengan membulatkan bibirnya.
"Terus kalau punya duo papa sama Dino gimana?" Tanya Wangi kembali.
"Gimana, Dino sudah ganteng kan?" Dino langsung memamerkan dirinya sendiri dengan setelan kemeja lengan panjang berwarna lilac dengan dasi kupu-kupu yang dipadu padankan dengan celana pendek selutut warna ungu tua. Pakaian itu akan dia kenakan di hari pertunangan kakaknya.
"Wahh... Dino ganteng banget, jadi ingat Galih waktu kecil dulu." Ujar mama Ratna ketika melihat Dino dengan gaya sik cool nya.
"Tapi tetap gantengan saya kan tante ketimbang mas Galih?" Ujar Dino dengan percaya dirinya.
"Gantengan Galih dong... Galih punya otot yang kuat, kamu mana ototnya Din?" Ledek Wangi pada adiknya.
"Nanti, kalau Dino sudah besar pasti lebih kuat daripada mas Galih." Jawab Dino kalem tapi diucapkan dengan begitu yakinnya.
"Idiihh.... Kecil-kecil sok keren." Ledek Wangi lagi dengan tawa kecilnya, begitu pula Galih yang menyunggingkan senyumnya melihat tingkah lucu Dino.
"Ya sudah cepet kalian coba bajunya, nanti keburu malam lho..." Mama Rina langsung menengahi sambil mendorong Wangi menuju ruang pas pakaian untuk wanita yang dibantu oleh pemilik butik. Sedangkan Galih masuk ruang pas laki-laki.
Setelah menunggu beberapa saat, tidak lama kemudian Galih keluar terlebih dahulu. Galih terlihat begitu tampan dengan kemeja lengan panjang warna lilac yang dipadukan dengan dasi serta jas modern warna ungu tua yang senada dengan celana panjangnya. Dan tidak lama kemudia Wangi pun keluar dari kamar ganti dengan gaun panjang di bawah lutut warna lilac yang berornamenkan bruklat warna lilac juga dibagian atas sampai lengan, gaun tersebut sengaja dibuat simple dengan lengan pres body sesiku dan krah terbuka namun tetap sopan, sementara hiasannya cukup dengan pita warna ungu dibagian sisi pinggangnya. Sepasang sejoli tersebut terlihat begitu menawan dengan setelan couple warna lilac. Ya, tema warna yang mereka pilih untuk pertungan nanti adalah warna lilac dan ungu, maka dari itu tak heran jika pakaian mereka untuk hari H nanti akan bernuansa ungu.
__ADS_1
"Wahh... Anak-anak mama memang nggak ada duanya, kalian terlihat sama-sama menawan, iya kan jeng Rina?" Puji mama Ratna begitu melihat keduanya keluar dari ruang pas pakaian.
"Iya, pakaian yang kita pilih kali ini memang cocok buat mereka berdua, gimana? Ada yang kurang pas gak buat kalian?" Sahut mama Rina sambil menanyakan kekurangan dari pakaian Galih dan Wangi.
"Kalau punya Galih sudah pas sih ma, gak tahu kalau punya Wangi." Jawab Galih.
"Punya Wangi juga sudah pas kok, gak perlu dirubah lagi, Wangi sudah suka." Jawab Wangi pula.
"Syukurlah jika mbak Wangi suka modelnya, kebetulan itu model terbaru yang desainer kami buat khusus buat mbak Wangi dan mas Galih." Ucap pemilik butik.
"Terimakasih, saya suka model dan warnanya." Ucap Wangi pada pemilik butik.
"Sama-sama, kami lebih senang jika pelanggan kami puas." Balas si tante pemiluk butik.
Setelah keriwehan di dalam butik tadi, akhirnya mereka semua pulang ke rumah dengan hati yang puas karena semuanya sesuai dengan apa yang mereka inginkan.
Hari pun kembali berlalu hingga acara pertunangan Galih dan Wangi tinggal seminggu lagi. Hari ini Galih sengaja pergi ke toko perhiasan untuk mengambil cincin pertungannya yang sudah jadi. Dengan senyum yang mengembang di bibirnya Galih melihat cincin pertunangannya dengan hati yang puas, terukir nama mereka berdua di sana. Setelahnya dia kembali lagi ke Batalyon karena memang tadi Galih sengaja keluar di waktu jam istirahatnya. Namun baru saja dia masuk ke dalam asramanya, Wahib datang menyuruh Galih untuk menemui sang Komandan. Kira-kira ada apa ya? Tidak ingin mereka-reka Galih pun segera menuju ke ruang kerja sang Komandan yang tak lain adalah papanya Wangi, calon mertuanya.
"Siap Komandan!" Ucap Galih ketika sudah berhadapan dengan Komandan Rendra.
"Galih, ada sebuah kabar berita dari kantor pusat. Saya tidak tahu ini akan menjadi kabar menyenangkan atau tidak buat kamu karena ini bisa menjadi dua-duanya. Ini adalah kabar yang dari dulu mungkin kamu nanti-nantikan." Ucap Komandan Rendra yang membuat Galih bertambah rasa penasarannya, apakah itu?
"Siap Komandan! Saya akan menerimanya." Ucap Galih dengan tegas, namun melihat ekspresi di wajah Komandan Rendra membuat hati Galih ikut was-was dan dia ber harap itu bukanlah kabar yang buruk untuknya.
"Huuhhff..." Komandan Rendra membuang napas panjang sebelum berbicara lagi.
"Sertu Galih Admaja, pengajuan kamu untuk pasukan perdamaian ke Lebanon setahun yang lalu diluluskan tahun ini, seminggu lagi kamu akan bersiap untuk pemberangkatan." Kata Komandan Rendra dengan sekali tarikan napas.
Deg!!
Jantung Galih seakan berhenti berdetak saat itu juga.
Bersambung....
__ADS_1