Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 48 Surat Terakhir Sang Mantan


__ADS_3

Galih baru saja memasuki barak tempat tidurnya dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang kasurnya. Dia masih teringat tentang kejadian saat sedang bersama Wangi tadi di cafe dan di depan rumah Wangi. Galih masih tidak percaya jika dia akan mengambil keputusan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan dalam hidupnya. Galih selalu berfikir setelah kepergian Sinar hidupnya tidak akan secerah dulu lagi. Terlebih rasa bersalah dalam hatinya yang selalu menghantuinya setiap saat membuat dirinya berfikir tidak akan adil jika dia bahagia sendiri sementara Sinar tidak. Sampai dia mendengar jika kedua orang tuanya sudah menentukan jodoh untuk dirinya di masa depan, hingga dia bertemu Wangi. Perempuan ceria yang kelewat aktif, sosok yang sangat berbanding terbalik dengan Sinar yang lembut dan kalem. Namun sikap Wangi yang seperti itulah menjadikan dirinya terlihat apa adanya. Wangi dapat menempatkan dirinya dalam situasi apapun dengan caranya sendiri. Wangi selalu memperlihatkan hal-hal diluar dugaan disaat Galih tidak bisa berpikir dengan benar. Tentu saja dengan cara Wangi sendiri. Dari Wangi, Galih belajar banyak mulai dari belajar untuk mengikhlaskan seseorang hingga memaafkan dirinya sendiri. Namun demi ketenangan hatinya dan sebelum dirinya memutuskan jawaban apa untuk perjodohannya dengan Wangi, sebelumnya Galih menyempatkan diri menemui Wita untuk berbicara. Galih menemui Wita setelah dirinya mengantar Wangi pulang pas di hari insiden es dawet kala itu. Galih menemui Wita bukan karena dia ingin tetap terikat dengan masa lalunya bersama Sinar, justru dia ingin melepaskan Sinar dengan perasaan yang damai. Waktu itu Galih hanya bertemu dengan orang tua Sinar disaat dia terakhir kali berkunjung ke Semarang dan Galih tidak pernah bertemu dengan Wita karena adik kandung Sinar tersebut sedang berkuliah di Surabaya. Selain kedua orang tuanya, Sinar juga sangat dekat dengan adik semata wayangnya itu. Waktu di Semarang Galih sudah mengucapkan permintaan maaf serta rasa penyesalannya kepada kedua orang tua Sinar, namun belum dengan Wita. Wita adalah orang yang paling dekat dengan Sinar, tidak menutup kemungkinan Wita akan menyimpan kemarahan di hatinya karena kematian kakak satu-satunya tersebut. Oleh karena itu Galih ingin berbicara baik-baik dengan Wita agar tidak ada kebencian atau masalah dilain hari. Terlebih dia tidak ingin membahayakan Wangi karena memikirkan masalahnya di jalanan seperti yang terakhir kali ia lakukan. Dan juga Galih ingin menjaga hati Wangi jika memang suatu saat dia benar-benar berjodoh dengan Dokter cantik itu. Jadi agar tidak ada kesalah pahaman dikemudian hari, Galih memberanikan diri untuk bertemu dan berbicara dengan Wita.


.


.


Flash back setelah Galih kena gendam karena es dawet.


POV Galih...


Aku baru saja menurunkan Wangi di depan rumahnya, setelah memastikan dia benar-benar masuk ke dalam rumahnya barulah aku pergi dari sana. Namun kali ini aku tidak pergi untuk pulang ke asramaku seperti biasanya, melainkan aku balik lagi ke Rumah Sakit. Bukan, bukan untuk melihat papaku yang masih di rawat di sana atau menemani mamaku yang merawat papa di sana, melainkan untuk menemui Wita. Terus terang apa yang telah dikatakan Wangi tadi kepadaku telah menyadarkan pikiranku. Aku memang sangat kehilangan Sinar, bahkan aku sempat terpuruk karena kedukaan ini. Namun bagaimana bisa aku merubah takdir Tuhan? Sebesar apapun aku menyesalinya dan menyalahkan diriku sendiri tidak akan mungkin bisa mengembalikan Sinar kembali di sisiku. Aku sudah mengecewakan Sinar, perempuan yang aku cintai dan aku tidak ingin mengecewakan orang-orang yang aku cintai lainnya seperti kedua orang tuaku dan juga... Wangi mungkin? Ahh, aku belum bisa mengatakan jika aku mencintai Wangi, karena aku rasa hal itu masih jauh. Hanya saja...membayangkan kekecewaan yang terlihat di mata Wangi sedikit membuatku merasa hancur. Entah mengapa aku merasa takut jika hal itu benar-benar terjadi. Satu-satunya jawaban adalah bertemu Wita agar aku bisa memutuskan langkah hidupku kedepannya.


Ah, tanpa terasa mobil ini sudah berhenti di area parkiran Rumah Sakit. Semoga saja Wita masih berada di dalam sana. Hari ini aku harap masalah di dalam diriku dapat terselesaikan.


Setelah memarkirkan mobil, aku segera masuk ke dalam lobby Rumah Sakit. Sangat beruntung karena tanpa sengaja saat ini aku langsung melihat Wita yang berjalan berlawanan arah denganku sehingga kita dapat melihat satu sama lain.


"Wita..." Sapaku padanya.


"Mas Galih? Kok mas Galih masih ada di sini? Bukannya tadi sudah pulang bersama Dokter Wangi?" Ujarnya yang terkejut melihatku kembali ke Rumah sakit ini.


"Saya sengaja kembali lagi ke sini untuk bertemu kamu." Kataku jujur, ya memang itu kan tujuanku kembali ke sini.


"Bertemu dengan saya? Mas Galih ada perlu dengan saya?" Tanyanya seakan dia tidak percaya jika aku sengaja ingin menemuinya, aku pun mengangguk.


"Iya, ada sesuatu yang harus saya bicarakan dengan kamu Wita, apa kamu ada waktu?" Kataku padanya.

__ADS_1


"Ee... Baiklah, kebetulan saya sudah selesai dan mau pulang." Syukurlah Wita menyanggupi permintaanku.


"Terimakasih, kalau begitu kita cari tempat untuk bicara." Ajakku pada Wita dan dia mengangguk setuju. Lalu aku menggiring Wita ke arah parkiran dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil.


"Masuklah..."


Wita masuk sesuai perintahku. Dia mengamati isi di sekeliling mobil.


"Wahh... Mas Galih sekarang sudah punya mobil sendiri ya... Mobilnya bagus. Mas Galih sudah sukses ya sekarang." Katanya sambil melihat-lihat isi dalam mobil dengan takjub. Akupun hanya tersenyum.


"Ini bukan mobil saya, ini mobil atasan saya, saya hanya dipercaya untuk membawa dan merawatnya saja, jika diperlukan saya akan menjadi sopir juga." Ujarku yang memang demikian adanya. Hanya saja aku tidak perlu bilang jika atasan yang aku maksudkan adalah Wangi, karena aku pikir itu bukan urusan Wita untuk mengetahuinya.


"Owhh begitu... Terus sekarang kita mau kemana?" Sepertinya Wita merasa tidak enak karena tebakannya meleset dan langsung mengalihkan pembicaraan.


"Di dekat area tempat tinggalmu saja, agar kamu tidak kejauhan nanti pulangnya." Jawabku.


"Okey, tidak masalah." Jawabku.


Aku pun langsung melajukan mobil ini ke arah alamat yang ditunjukkan oleh Wita. Di dalam mobil kami hanya mengobrol ringan saja. Wita hanya membicarakan betapa beratnya hari pertama dia sebagai Kos tanpa menyinggung satupun soal Sinar. Dan aku hanya menanggapi seadanya saja hingga kami sampai di cafe yang dimaksud Wita tadi. Kami berdua masuk ke dalam cafe dan memilih tempat untuk kami duduk. Seorang pelayan cafe datang membawa buku menu dan pergi setelah menuliskan beberapa pesanan kami. Dan sekaranglah waktunya aku berbicara serius dengan Wita.


"Wita, ada sesuatu yang ingin saya katakan kepada kamu." Kataku dengan serius.


"Saya juga sebenarnya ada hal yang ingin saya sampaikan kepada mas Galih." Ungkapnya padaku yang membuatku menjadi penasaran, tapi satu hal yang pasti itu adalah pasti tentang Sinar.


"Apa itu?" Tanyaku.

__ADS_1


"Nanti saja, biar mas Galih saja yang duluan bicara, kan mas Galih yang mengajak saya kesini." Ujarnya. Aku mengangguk mengerti.


"Sebenarnya saya menemui untuk meminta maaf." Ucapku tulus padanya.


"Maaf untuk?" Tanyanya seakan tidak mengerti arti permintaan maafku padanya.


"Saya minta maaf karena saya yang terlalu lama pergi tanpa kabar membuat kamu dan keluargamu kehilangan Sinar untuk selamanya." Kataku tulus atas penyesalan yang aku rasakan selama ini.


"Saya yakin kamu mempunyai rasa amarah pada saya karena saya kamu harus kehilangan saudara satu-satunya. Wita, saya tulus meminta maaf kepada kamu. Saya sempat datang ke rumah kalian di Semarang, sekalian berziarah ke makam Sinar. Namun saya tidak pernah bertemu kamu dan hanya bertemu dengan kedua orang tuamu saja. Dan karena kebetulan kita bertemu di sini, saya ingin mengucapkan maaf saya kepada kamu. Meski kamu tidak memaafkan saya, tidak apa-apa saya terima itu. Hanya saja saya tetap berkewajiban memohon maaf kepadamu." Ungkapku pada Wita dengan hati yang benar-benar tulus.


"Huuhh..." Wita menghela napasnya setelah mendengar ucapanku.


"Saya memang marah dengan mas Galih." Sesuai dugaanku, Wita memang memendam amarahnya padaku. Kemudian dia membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.


"Tapi itu dulu ketika saya belum mengetahui apapun dan sebelum saya menemukan ini." Ucapannya sedikit membuatku terkejut, lalu dia menaruh sesuatu yang diambilnya tadi dari dalam tas dan menyodorkannya kepadaku.


"Ini apa?" Tanyaku yang mendadak jadi bingung sendiri.


"Itu surat terakhir dari mbak Sinar buat mas Galih." Ungkap Wita yang membuatku sangat terkejut.


"Surat terakhir Sinar?"


Wita mengangguk...


"Bacalah mas..." Pintanya.

__ADS_1


Akupun segera membukanya dengan tangan yang sedikit bergetar. Dan isi surat dari Sinar sungguh membuatku benar-benar terkejut.


Bersambung....


__ADS_2