
"Sekarang saya ingin bertanya, bagaimana keputusan kamu Galih?"
Galih tersentak sejenak dan terdiam, pertanyaan yang dilontarkan Komandannya itu sungguh tidak terduga. Untuk sesaat pikiran Galih berubah kosong, dia tidak tahu harus memberikan jawaban apa.
"Om, saya..." Ucapan Galih terhenti.
"Saya tahu ini begitu tiba-tiba untukmu dan saya yakin papa kamu belum mengatakan apapun tentang hal ini." Kata Rendra.
"Iya, kenapa papa tidak mengatakan apapun kepada saya?" Galih merasa kecewa kenapa papanya tidak mengatakan hal sepenting ini padanya? Suatu hal yang menyangkut kehidupannya.
"Jangan salahkan papamu, dia sengaja tidak mengatakan apapun kepadamu sebelum dia pulang dari Rumah Sakit. Hanya saja saya mengambil keputusan sendiri untuk memberitahukan kebenaran ini terlebih dahulu kepadamu sebelum papamu bicara dan sebelum Wangi mendengarnya langsung." Galih mengerutkan keningnya menatap Rendra seakan bertanya, kenapa? Dan seperti mengetahuinya Rendra langsung melanjutkan ucapannya.
"Papamu itu orang yang keras kepala, jika dia yang mengatakan ini semua kepada kalian berdua secara bersamaan yang ada malah ribut. Kamu pasti tahu sendiri bagaimana watak papamu itu, dan lagi Wangi, kamu pasti belum tahu betul bagaimana sifat Wangi karena kalian belum lama ini kenal. Anak itu sedikit susah diatur dan memiliki jiwa yang bebas, dia selalu berpikir dan bertindak sesuai apa yang dia inginkan, tapi dia anak yang cerdas, baik serta punya jiwa sosial yang tinggi. Jadi mungkin saja hal ini akan sulit untuk dia terima. Om hanya tidak ingin ada keributan saat waktu itu tiba." Kata Rendra menerangkan panjang lebar.
Galih masih terdiam, dia masih mencerna apa yang Rendra katakan kepadanya.
"Sekarang bagaimana pendapatmu Lih?" Tanya Rendra kembali.
"Om... Terus terang ini sungguh mengejutkan untuk saya, seandainya saya menerima perjodohan ini belum tentu Wangi juga menerimanya. Dan saya ingin bertanya pada om Rendra, apa om percaya kepada saya? Percaya jika anak perempuan om akan bahagia dengan saya?" Galih membalikan pertanyaan itu pada Rendra.
"Insya'allah saya percaya, kedua orang tua kamu adalah orang yang baik, saya percaya jika mereka mendidik kamu dengan cara yang baik pula. Dan selama ini saya juga selalu mengawasi kamu, saya tahu kamu adalah anak yang baik dan santun. Saya perlu orang seperti kamu untuk menjaga dan mendidik Wangi. Haa... Ibarat singa dia itu perlu dijinakkan, dan saya yakin dengan kesabaran serta ketegasanmu kamu pasti mampu menghadapi anak itu." Jawab Rendra seraya tertawa ringan mengingat bagaimana lincahnya Wangi saat berulah.
"Jika kamu benar-benar menerima keputusan kami para orang tua, saya ingin kamu berusaha menjinakkan Wangi andai anak itu tidak menerima keputusan kami." Lanjut Rendra.
__ADS_1
"Tapi ada satu hal yang belum om tahu tentang saya, saya pernah...."
"Patah hati." Rendra langsung memotong ucapan Galih yang membuat lelaki muda itu terkejut kembali.
"Om tahu?" Galih tidak menduga jika Rendra tahu mengenai hal menyakitkan itu.
"Kedua orang tua kamu sudah menceritakan semuanya. Saya turut sedih mendengar hal itu." Rendra menjeda ucapannya dan berkata kembali.
"Awalnya papamu sudah menyerah tentang perjodohan ini setelah mengetahui hubunganmu dengan kekasihmu dulu adalah hubungan yang serius. Meski Ridwan orangnya keras kepala, dia bukanlah orang yang suka memaksakan kehendaknya pada orang lain apalagi menyangkut kebahagiaan anaknya sendiri. Ridwan berpikir mungkin bukanlah jodoh dia berbesanan dengan saya. Namun setelah apa yang terjadi dengan hubungan kalian membuat Ridwan kembali berharap serta berpikir dia dan keluarga saya masih berjodoh, terlebih saat melihat istrinya bersedih karena kamu masih belum bisa melepas cinta kamu dulu." Galih terhenyak mendengar penuturan terakhir Rendra tentang mamanya. Dia tidak pernah memikirkan jika kesedihan hatinya karena kepergian Sinar berdampak pula pada hati mamanya. Galih paling tidak suka melihat mamanya bersedih apalagi menangis, terlebih penyebabnya adalah dirinya sendiri.
"Ya Tuhan... Saya tidak tahu jika mama memendam kesedihan itu selama ini karena saya om, saya benar-benar bukan anak yang baik, saya berdosa karena membuat mama saya menangis om...." Galih menunduk, menopang kepalanya dengan kedua tangannya. Air mata mengalir dari kedua sudut matanya. Dia menangis.
"Saya tahu kesedihan itu sangatlah berat bagimu, kehilangan orang terkasih memang sesakit itu. Namun kamu juga tidak bisa terlena dalam keterpurukan ini selamanya Galih, hidup kamu tidak berhenti di sini saja. Jangan lupa masih ada hari esok yang panjang menanti di depanmu. Kamu boleh memikirkan dia sesekali sebagai kenangan indah, tapi kamu juga jangan melupakan orang-orang yang mencintai kamu dan memikirkanmu selama ini." Tutur Rendra memberi pengertian pada Galih.
"Semuanya terserah kamu Galih, saya tidak akan meminta jawaban kamu sekarang. Paling tidak kamu masih bisa merenungkannya sebelum pertemuan keluarga nanti." Ucap Rendra dengan jawabannya.
Galih masih menunduk dan masih terisak lirih. Rendra yang melihatnya pun manjadi sedikit iba, kini dia melihat sendiri betapa rapuhnya seorang Galih yang selalu terlihat kaku dan dingin itu.
"Sekarang tenangkan hatimu terlebih dahulu, setelahnya pikirkan baik-baik pembicaraan kita malam ini, apapun keputusan kamu kami akan berusaha menerimanya." Kata Rendra sambil menepuk-nepuk bahu Galih agar lelaki itu sedikit merasa tenang.
Galih mengangguk, dia menyeka air matanya dengan tangannya kemudian melihat kearah Rendra yang duduk di hadapannya.
"Saya akan memikirkannya." Sahut Galih.
__ADS_1
"Kalau begitu saya balik duluan, sudah malam dan kamu juga jangan terlalu larut balik ke asrama." Ujar Rendra seraya bangkit dari duduknya.
"Baik om." Jawab Galih.
Flash Back Of....
.
.
Galih menyugar rambutnya dengan jari-jari tangannya. Masih terlihat dari raut wajahnya jika dia sangat lelah. Pembicaraannya dengan Rendra malam itu sungguh pembicaraan yang berat sehingga membuat dirinya susah tidur karena memikirkannya.
"Haahhh...." Dia menghela napas seakan merasa frustasi.
"Mungkinkah sudah saatnya aku berdamai dengan hatiku? Jika memang begitu, haruskah aku mencobanya? Sinar... Kamu tidak akan marah kan padaku? Aku selalu mencintaimu, membayangkan diriku bersama orang lain selain dirimu membuatku seoalah berkhianat padamu, tapi akan banyak orang yang bersedih jika aku seperti ini terus, terutama mamaku. Mendengar mama begitu sedih karenaku membuat hatiku sakit Sinar. Apa yang harus aku lakukan Sinar?"
Hati Galih terus-terusan bertanya apa yang seharusnya dia lakukan. Dia tidak ingin orang tuanya terutama Ratna mamanya bersedih memikirkannya. Dilain sisi dia juga tidak ingin terlalu lama terhanyut dalam kesedihan karena kepergian Sinar. Galih ingin semua orang tercintanya bahagia, terutama mamanya dan juga Sinar, meski wanita itu sudah tidak ada di dunia ini, Galih berharap Sinar selalu bahagia di sisi Sang Pencipta-nya agar rasa bersalah di dalam hatinya terkikis seiring berjalannya waktu.
Galih melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah terlalu lama dia melamun di teras Mushola itu.
"Tuhah.... Tolong bantu hamba agar tidak mengambil keputusan yang salah."
Setelah menggumamkan itu dalam hatinya Galih pun mulai berdiri dari duduknya dan beranjak pergi dari sana.
__ADS_1
Bersambung....