Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 45 Jawaban Wangi


__ADS_3

"Saya..." Wangi menjeda ucapannya.


"Maaf, saya rasa saya perlu bicara terlebih dahulu dengan Galih sebelum menjawabnya. Berdua saja." Jawaban Wangi tersebut lantas membuat semua orang tua ketar-ketir hatinya. Tapi mau bagaimana lagi? Itu adalah keputusan dari Wangi dan semua orang harus menghormatinya.


"Baik, ayo kita bicara." Ucap Galih.


"Emm... Baiklah, kami akan meninggalkan kalian berdua di sini. Kalian bicaralah dengan nyaman." Kata Ridwan pada Galih dan Wangi.


"Tidak perlu, kami akan keluar untuk bicara, bisa kan Galih?" Pinta Wangi pada Galih.


"Tentu saja." Galih mengangguk dan menyetujui parmintaan Wangi.


"Baiklah jika itu lebih nyawan untuk kalian tapi Galih, tolong jaga anak saya dengan baik." Ujar Rendra sebelum Galih membawa Wangi pergi untuk bicara.


"Tentu saja om, saya akan menjaga Wangi dengan baik." Jawab Galih.


"Saya percaya dengan kamu." Balas Rendra seraya menepuk pundak Galih.


"Kalau gitu kami pamit dulu pa, ma, om, tante." Pamit Wangi sambil menyalami para orang tua bergantian.


"Baiklah, nanti kalau sudah selesai langsung pulang ke rumah, kita bertemu di rumah, kami akan mendengarkan jawaban kamu setelah kamu siap." Pesan Rendra pada Wangi.


"Iya pa." Jawab Wangi.


Setelah perpamitan Galih dan Wangi pergi meninggalkan kediaman keluarga Admaja dengan motor Galih.


Setelah sekitar dua puluh menit Galih memarkirkan motornya di depan sebuah cafe. Suasana di sana cukup tenang dan lumayan nyaman untuk bicara.


"Maaf, saya harus membawa kamu dengan memakai sepeda motor, mobil kamu saya tinggalkan di asrama Batalyon karena saya pikir kita tidak akan keluar begini." Ujar Galih setelah mereka duduk, dia merasa tidak enak pada Wangi dan takut jika perempuan itu tidak nyaman ketika dia bonceng.


"Saya tidak masalah, lagian ini tidak kita rencanakan." Jawab Wangi.

__ADS_1


"Iya, hanya saja saya yang merasa tidak enak, seharusnya tadi saya memakai mobil papa tapi saya nanti harus balik ke asrama setelah ini, jadi tidak mungkin saya bawa mobil papa." Terang Galih yang tetap merasa tidak enak pada Wangi.


"Tenang saja... Saya biasa kok dibonceng pakai motor, kadang saya nebeng Riko pakai motornya." Ujar Wangi agar Galih tidak merasa tidak nyaman karenanya.


"Owh begitu..." Sahut Galih merasa sedikit lebih lega.


"Oh ya, mau pesan apa? Biar saya pesankan." Kata Galih menawarkan.


"Emm apa ya? Matcha Latte saja." Jawab Wangi kemudian.


"Baik, tunggu sebentar ya..." Kemudian Galih beranjak dari tempat duduknya menuju counter minuman dan memesan minuman di sana. Setelah membayarnya Galih kembali lagi ke tempatnya dimana Wangi duduk menunggunya.


"Tunggu sebentar, nanti pelayan mengantarkannya." Wangi mengangguk mendengar ucapan Galih.


Suasana diantara mereka menjadi sedikit canggung, mereka berdua terdiam sejenak sampai akhirnya Galih membuka suaranya.


"Wangi... Kalau kamu ingin bicara sekarang, saya siap mendengarkannya, apapun keputusan kamu nanti saya akan menerimanya." Ucap Galih yang sebenarnya sedikit gugup dengan jawaban apa yang akan dia dengar dari Wangi. Dia tidak tahu mengapa dia bisa segugup ini padahal dia tidak berharap banyak untuk Wangi bisa menerimanya. Tapi entah mengapa dilubuk hatinya yang terdalam Galih juga berharap jika Wangi bisa menerimanya. Bukan apa-apa, cuma selama ini hanya Wangi wanita yang bisa dibilang lebih dekat atau bisa dibilang juga hanya Wangi wanita yang dekat dengannya akhir-akhir ini dan Galih cukup nyaman berteman dengan Wangi. Mungkin saja Wangi benar-benar jodoh yang dikirim Tuhan untuk mengisi hari-harinya yang telah lama kosong setelah kepergian Sinar.


"Silahkan." Sahut Galih yang balas menatap Wangi, menunggu perempuan di hadapannya mengutarakan pertanyaannya.


"Galih, apa kamu yakin untuk menerima perjodohan ini? Jika itu karena papa saya, saya akan menjelaskannya pada papa jadi kamu tidak perlu merasa terbebani dan tidak enak pada keluarga saya." Kata Wangi yang merasa kemungkinan Galih menerimanya karena terpaksa atau karena merasa terimidasi oleh perintah papanya yang notabene adalah Komandan Galih sendiri.


Galih menghela napasnya sejenak sebelum menjawab pertanyaan Wangi.


"Itu adalah keputusan saya sendiri tanpa ada paksaan dari pihak manapun, baik dari papa saya atau papa kamu." Jawab Galih serius sambil menatap Wangi dengan lekat.


"Kenapa?" Tanya Wangi penasaran mengapa Galih dengan mudah mau menerima keputusan para orang tua.


"Karena itu kamu." Jawab Galih yang terdengar ambigu di telinga Wangi.


"Karena saya? Kamu... Suka sama saya?" Tanya Wangi ragu-ragu dengan degub jantung yang tiba-tiba bertalu-talu.

__ADS_1


Galih tersenyum...


"Bukan, em.. maksud saya entahlah, sejauh ini saya merasa nyaman di dekat kamu dan menjadi teman kamu, kalau dibilang suka sebagai teman saya suka, tapi kalau dibilang suka dengan arti yang berbeda saya belum bisa menjawabnya karena perasaan saya terhadap kamu masih terasa ambigu." Jawab Galih dengan jujur.


"Apa karena kamu belum bisa melupakan mantan tunangan kamu?" Tanya Wangi dengan telak.


Galih mengangguk lalu kemudian menggelengkan kepala juga, membuat Wangi semakin bingung.


Tak lama kemudian pesanan mereka datang, secangkir Matcha Latte untuk Wangi dan secangkir Espresso untuk Galih.


Galih menyeruput Espresso-nya sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Dulu setiap saat saya selalu mengingatnya karena dengan mengingatnya itu berarti saya tidak akan pernah lupa jika saya bersalah padanya. Tapi semenjak mengenal kamu, saya mulai sadar jika apa yang dia dan saya alami adalah suratan takdir yang sudah digariskan Tuhan. Kamu membuat saya lebih membuka hati dan lebih menerima takdir Tuhan ini. Sedikit demi sedikit saya mampu melepas bayangan Sinar dari dalam benak saya. Seperti kata kamu, bukan berarti saya melupakannya tapi saya akan menyimpannya sebagai kenangan terindah layaknya sebuah album. Wangi... Kamulah yang menyadarkan saya tentang arti hidup ini." Terang Galih dengan gamblangnya tanpa ditutup-tutupi.


"Jadi kamu tidak terpaksa karena papa saya?" Tanya Wangi dan Galih pun menggelengkan kepalanya.


"Tidak sama sekali, tapi untuk saat ini saya belum bisa mencintai kamu dan saya yakin kamu juga tidak mencintai saya. Hanya saja jika kamu menerima saya sebagai calon suami kamu kelak, maka saya akan berusaha sebisa mungkin untuk belajar mencintai kamu." Jawaban Galih itu menambah getaran di hati Wangi.


"Ayolah jantung, diamlah sebentar!" Rutuk Wangi dalam hatinya.


"Kamu yakin?" Tanya Wangi sekali lagi.


"Saya yakin." Jawab Galih tegas.


Wangi terdiam sejenak dan hanya menatap Galih yang duduk di hadapannya.


"Galih... Kenapa kamu segitu yakinnya jika aku tidak mencintai kamu? Justru disini akulah yang tidak yakin jika aku tidak mencintai kamu, karena getaran di hatiku selalu datang jika aku bersamamu atau mengingatmu. Jadi apa mungkin aku kini sudah mencintaimu lebih dulu?" Kata hati Wangi yang mulai sadar jika benih-benih cinta untuk Galih mulai tumbuh sejak dia dan lelaki itu selalu bersama setiap harinya. Galih yang terkadang membuatnya jengkel karena diamnya, Galih yang selalu membuatnya khawatir ketika lelaki itu tidak memperhatikan kesehatan dirinya sendiri, Galih yang membuatnya resah ketika bertemu wanita lain dan Galih yang hatinya lemah dibalik sikap tenang dan tegasnya. Tanpa sadar Wangi selalu mperhatikan lelaki yang kini ada di hadapannya itu. Galih yang tidak peka.


Wangi menghela napasnya begitu panjang seolah dirinya sudah lelah. Kemudian dia mengambil cangkir Matcha Latte-nya dan meminumnya lalu meletakkannya kembali di atas meja. Wangi menatap Galih kembali dan berkata...


"Baiklah, saya juga menyetujuinya, saya menerima kamu sebagai calon suami saya."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2