Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 83 Zahara


__ADS_3

"Ya ampun... Galih!!"


Melihat pakaian Galih yang merah berlumuran darah, tanpa pikir panjang Wangi langsung berlari menghampiri Galih. Terlihat jelas rasa khawatir di wajahnya.


"Galih!!" Seru Wangi ketika hampir sampai di tempat Galih.


"Galih, apa yang terjadi? Bagaimana kamu bisa terluka? Darah... Kamu mengeluarkan banyak darah!" Seru Wangi begitu panik ketika melihat begitu banyak darah di pakaian Galih.


"Heii...Tenanglah, aku tidak apa-apa." Ujar Galih.


"Gimana bisa tenang? Kamu terluka begini! Ayo! Aku akan mengobatimu sekarang juga!" Wangi yang tanpa melihat sekitarnya dan hanya fokus kepada Galih langsung menggandeng mantan kekasihnya itu begitu saja menuju ruang kesehatan.


"Wangi tunggu! Aku benar-benar tidak apa-apa, yang harus kamu tolong itu adalah..."


"Sudah diam saja! Seorang pasien harus menurut pada dokternya!" Wangi langsung memotong ucapan Galih tanpa memberi waktu untuk Galih menjelaskannya.


Tapi tiba-tiba Elias menghadang langkah Wangi ketika menarik paksa tangan Galih.


"Toling Dokter Elias minggir! Anda menghalangi jalan saya!" Wangi langsung ngegas ketika Elias mencoba menghentikan jalannya.


"Tapi sebelum itu sebaiknya kamu lihat dulu ke arah sana!" Tunjuk Elias pada seorang wanita yang tengah terbaring kesakitan di atas brankar tempat tidur pasien.


"Lho... Kok ada pasien di sana? Kapan datangnya?" Tanya Wangi yang tiba-tiba bingung.


"Itu tadi yang mau aku katakan padamu, yang butuh pertolongan itu bukan aku melainkan wanita hamil itu... Dan ini bukan darahku, ini darah wanita itu yang tidak sengaja mengenai pakaianku ketika aku menggendongnya tadi." Akhirnya Galih mampu menjelaskan keadaan yang sebenarnya pada Wangi.


Wangi yang mendengarnya langsung dibuat kaku dan langsung melepaskan cengkeraman tangannya dari pergelangan tangan Galih. Malu. Hanya satu kata itu yang terlintas di kepala Wangi. Dan tanpa sepatah katapun dia langsung meninggalkan Galih dan Elias yang sudah menahan tawanya. Wangi bergegas menghampiri Wanita hamil itu yang sudah ditangani oleh Lukman dan suster Anne.


"Apa yang terjadi?" Tanya Wangi begitu melihat wanita hamil itu mengerang kesakitan dengan darah yang keluar dari area selangkangannya.


"Dia mengalami kram di bagian perutnya saat menaiki anak tangga di rumahnya, dia kehilangan keseimbangan ketika menahan rasa sakitnya dan terjatuh." Jawab suster Anne dengan nada yang begitu cepat. Angi yang memahaminya langsung mengangguk.


"Dia mengalami pendarahan hebat karena benturan keras ketika terjatuh." Tambah Lukman.

__ADS_1


"Berapa usia kehamilannya?" Tanya Wangi pada Lukman.


"Delapan bulan... Enghh..."


Wangi seketika terkejut ketika wanita hamil itulah yang malah menjawab pertanyaannya dan terkejutnya lagi dia menjawabnya menggunakan bahasa Indonesia.


"Kau bisa bahasa Indonesia? Ah... Lupakan! Itu nanti saja dijelaskan, sekarang apa yang kamu rasakan?"


"Sa... Sakiitt... Perutku seperti diremas-re..mas... Unghh..." Jawabnya sambil menahan rasa sakit di perutnya.


"Tenanglah, kami akan segera menolongmu. Luk, kita harus melakukan USG lebih dulu sebelum melakukan tindakan." Ujar Wangi.


"Seseorang sedang mengambil alatnya, jadi tunggu saja." Ujar Lukman sambil memasangkan alat bantu pernapasan dan infus di tubuh pasien. Sedangkan suster Anne sedang membantu membersihkan noda darah di kaki pasien, untung darahnya sudah tidak keluar.


"Tapi kenapa lama sekali?" Keluh Wangi.


"Anda ternyata tidak sabaran ya Dokter Wangi, ini saya sudah membawa alat USG nya." Wangi menatap heran pada seorang wanita berseragam militer dengan baret biru laut yang baru saja datang membawa alat USG.


Seperti tahu apa yang ada di pikiran Wangi, wanita cantik berseragam militer itu tersenyum dan berkata...


"Bagaimana tekanan darahnya?" Tanya tentara wanita itu seperti seorang Dokter saja.


"Normal." Jawab Lukman.


"Bagus. Sekarang kita periksa keadaan bayinya. Anda bisa membantu saya kan Dokter Wangi?" Tanya tentara wanita itu sambil menyodorkan botol gel untuk mengoles perut wanita hamil itu.


"Ten, tentu." Jawab Wangi yang sempat terbata langsung mengambil botol gel dari tangan tentara wanita yang belum dia kenal itu.


Wangi langsung meyibak pakaian wanita Lebanon yang hamil itu hingga batas dada dan hanya memperlihatkan perut buncit wanita tersebut. Wangi pun langsung mengolesi perut wanita itu dengan gel khusus untuk USG. Setelahnya tentara wanita itu langsung memeriksa perut wanita hamil itu dengan alat USG yang tadi dia ambil dari ruang perlengkapan alat-alat medis.Tentara wanita itu terlihat sangat terampil melakukan pemeriksaan bagai seorang Dokter yang sudah mahir. Siapakah sebenarnya tentara wanita tersebut?


"Bayinya sungsang san terlilit tali pusar, kita harus mengeluarkannya sekarang juga karena sangat berbahaya jika dia tetap berada di dalam perit ibunya, apalagi air ketubannya sudah mulai keruh. Siapkan operasi sekarang juga!" Perintah tentara wanita itu setelah menjelaskan keadaan pasien yang dia lihat dari monitor ketika USG.


"Tunggu! Apa kamu sudah yakin tentang itu?" Tanya Wangi.

__ADS_1


"Kamu juga sudah lihat sendiri tadi hasilnya." Jawab tentara wanita tersebut.


"Ya aku tahu tapi ini sangat beresiko, jika ada masalah di tengah operasi kita harus memilih antara bayi atau ibunya yang harus diselamatkan." Ujar Wangi dengan sangat serius pada wanita berseragam itu.


"Ya aku tahu maka dari itu kita harus tanyakan apa pilihan dia." Kata tentara wanita itu sambil melihat ke arah wanita hamil tersebut.


"Selamatkan anakku saja, aku mohon..." Ujar wanita hamil itu dengan sangat lemah.


"See?? Dia sudah menentukan pilihannya." Ujar tentara wanita itu dengan sangat tenang.


"Tenanglah... Meski saya berpakaian seperti ini, saya juga dokter, sama seperti kamu." Ujar tentara wanita tersebut yang ternyata adalah seorang Dokter Militer dengan senyum di bibirnya. Mendengar pengakuan tersebut membuat Wangi terkejut sekaligus lega.


"Siapkan ruang operasi darurat sekarang juga! Siapkan juga dua kantong darah untuk jaga-jaga." Perintah Dokter Militer yang belum diketahui namanya itu. Tapi Wangi sempat melirik sekilas nama yang ada di dada baju sebelah kanan. Zahara.


"Ruang operasi sudah siap." Elias tiba-tiba datang dan memberi tahu bahwa ruang operasi yang diminta tadi sudah siap.


"Dokter Elias akan membantu juga?" Tanya Wangi pada Elias.


"Buat apa? Kan sudah ada kamu dan Lukman, Dokter Zahara juga sudah membantu. Aku hanya membantu menyiapkan ruang operasi saja." Jawab Elias dengan santainya.


"Ckk... Dasar lelaki dingin tak punya hati!" Wangi berdecak kesal sambil bergumam mengutuk Elias.


"Dok, kita tidak ada waktu lagi!" Lukman mengingatkan.


"Baik, bawa dia ke ruang operasi sekarang!" Perintah Zahara.


Kemudian Lukman yang dibantu oleh relawan medis laki-laki lainnya mendorong brankar tempat tidur pasien wanita tadi ke ruang operasi.


"Saya akan memimpin operasi ini, sebelumnya kita berdo'a terlebih dahulu sesui keyakinan masing-masing. Berdo'a mulai." Ucap Zahara memimpin do'a sebelum operasi dimulai.


Setelahnya Lukman menyuntikkan anastesi untuk membius total pasien.


"Tenanglah... Kami akan berusaha menyelamatkan kalian berdua." Ucap Wangi memberi suport wanita hamil tersebut seraya menggenggam tangan wanita tersebut hingga tubuh bagian bawah wanita itu mati rasa karena pengaruh anastesi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2