Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 118 Romi Terancam Punah


__ADS_3

"Yaelah... Padahal tadinya aku mau bilang kangen tapi kenapa situasinya jadi seperti ini sih?" Batin Romero sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Sayang aku kan baru samp..."


"Jelasin semuanya!" Zahara kembali memotong ucapan Romero, dia tahu betul jika lelaki itu pasti akan menghindar untuk menjelaskan keadaan yang terjadi sebelumnya.


"Oke, oke... Aku bakal jelasin semu.a.nya! Apapun yang akan kamu tanyakan bakalan aku jawab! Tapi beri aku pelukan dulu dong... Aku kan kangen... Daya aku terkuras total nih, perlu di charg..." Ujar Romero dengan menjanya seperti anak kecil yang sedang merengek ke ibunya.


"Manja..!" Cibir Zahara.


"Tapi sayang kan? Peluukk..." Sahut Romero sambil merentangkan kedua tangannya dan pada akhirnya tingkah manja Romero itu meluluhkan hati Zahara.


"Ckk..." Zahara berdecak kecil lalu tersenyum dan menghambur masuk ke dalam pelukan Romero.


"Pokoknya setelah ini kamu harus ceritain semuanya ke aku!" Titah Zahara yang kini berada di dalam pelukan Romero.


"Iya sayang...." Sahut Romero yang semakin mengeratkan pelukannya.


Setelah puas dengan pelukan, mereka pun duduk di bawah pohon besar yang rindang dengan kepala Zahara bersandar di bahu Romero.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Zahara mengawali introgasinya.


"Kamu pasti sudah tahu jika salah satu pasien yang kami bawa adalah gadis bernama Erisha, dia adik perempuan Ali." Kata Romero.


"Jadi benar Erisha yang itu? Kalian benar-benar datang menyelamatkannya?!" Tanya Zahara yang sudah jelas apa jawabannya.


"Kamu kan sudah lihat sendiri tadi...." Ujar Romero.


"Tapi Ali tidak tahu jika adiknya sudah kalian selamatkan, karena tadi Erisha juga belum sadar dan Ali masih di ruang rawatnya. Tapi mungkin dia kini sudah tahu karena Erisha mungkin sekarang sudah sadar dan mencari kakaknya." Kata Zahara kemudian.


"Hmm..." Romero hanya berdeham saja dan mengangguk pelan.

__ADS_1


"Aku harap setelah ini mereka bisa hidup normal kembali dan bahagia meski butuh waktu karena trauma yang mereka alami." Ujar Zahara dengan harapan yang tulus untuk Ali dan Erisha.


"Oh ya... Terus bagaimana dengan orang-orang yang menyebabkan kekacauan itu?" Tanya Zahara kemudian.


"Alhamdulillah sudah kami tangkap semuanya termasuk Joshua." Jawab Romero.


"Joshua..??" Zahara membeo dengan mengerutkan keningnya.


"Joshuo Franklin. Dialah boss para mafia itu. Dia mantan prajurit AS yang juga tengah ditugaskan di sini tapi dia melarikan diri. Untuk itulah markas AS meminta bantuan kita untuk menangkapnya, karena statusnya yang burunon militer." Jelas Romero membuat Zahara langsung menegakkan tubuhnya dari sandaran bahu Romero.


"Hahh?!! Serius dia prajurit AS?!" Tanya Zahara tak pernah menduga hal itu.


"Iya, serius. Dia dulunya tergabung dalam pasukan khusus militer AS, teman lama Galih." Zahara kembali membulatkan matanya karena terkejut oleh keterangan Romero.


"Teman Galih?!" Seru Zahara tak percaya.


"Mereka pernah bertemu dalam latihan persahabatan di Indonesia, lalu berteman. Akupun juga sempat mengenalnya walau hanya sebentar." Lagi-lagi Zahara membulatkan matanya atas pengakuan Romero.


"Aku kan tadi sudah bilang jika dia pernah bertugas di sini. Kami pernah bertemu beberapa kali di perbatasan Blue Line sekitar dua tahun yang lalu." Romero kembali menerangkan.


"Waahh... Aku benar-benar speechless lho... Tak kusangka dalang dari kekacauan di dalam negara ini adalah pasukan khusus yang dimintai tolong untuk menjaga perdamaian di sini." Ujar Zahara sambil geleng-geleng kepala.


"Oh ya... Soal satu wanita lagi yang kalian bawa itu siapa? Bagaimana dia sampai begitu parah keadaannya. Dia hampir mati karena OD (Over Dosis) jika terlambat satu menit saja." Tanya Zahara yang menasaran dengan satu wanita yang masuk sebagai pasien darurat tadi.


"Kami menemukannya di salah satu kamar dimana di sana ada dua orang lelaki yang sengaja mencekokinya obat halusinogen. Bahkan salah satu dari lelaki tersebut sudah setengah telanjang. Selebihnya kami belum tahu pasti peran apa yang dia mainkan di sana." Mendengar hal itu Zahara langsung menutup mulutnya yang mengnga karena terkejut.


"Mereka benar-benar bi***b!! Apa mereka ingin membunuh wanita itu?!" Seru Zahara yang tiba-tiba tersulut emosi.


"Tenang sayang, tenang... Lagian mereka semua sudah ditangkap diwaktu yang tepat kok." Ujar Romero berusaha menenangkan Zahara.


"Itu nggak akan cukup!! Kalau aku yang ada di sana, aku pasti sudah potong-potong itu tongkat komandonya untuk dijadikan makanan Chesy!" Seru Zahara sambil memeragakan cara memotong.

__ADS_1


"Hahh?! Buat makanan Chesy..?" Tanya Romero yang tiba-tiba panas dingin sendiri mendengar hal itu. Membayangkan Chesy anjing pelacak milik pasukan Indobbat memakan benda 'itu' saja membuat Romero mual.


"Ehh jangan! Bisa-bisa Chesy muntah karena keracunan! Mending di buang ke Blue Line aja buat makanan semut-semut merah di sana." Ujar Zahara meralat ucapannya.


"Eh..?? Kenapa kamu jadi pucat gitu sih?" Tanya Zahara pada Romero lalu pandangannya turun ke bawah.


"Trus itu juga kenapa tangan kamu nutupin 'itu'?" Lanjut Zahara, namun hanya dijawab gelengan kepala oleh Romero.


"Di sana tongkat komando kamu gak bikin ulah kan??!" Tanya Zahara yang tiba-tiba curiga dengan tingkah aneh Romero.


"Nggak yang! Sumpah enggak!!" Jawab Romero cepat sambil menggelangkan kepalanya.


"Trus ngapain pegang-pegang itu?!" Tanya Zahara ketus.


"Aku cuma ngerasa linu saja dengerin ucapan sadis kamu barusan." Jawab Romero jujur.


"Beneran..??" Tanya Zahara memastikan sambil menatap lekat ke mata Romero.


"Beneran sayang... Ngapain aku bohong ke kamu? Yang rugi ntar aku sendiri." Sahut Romero menegaskan jawabannya.


"Awas aja kalau sampai macam-macam di luar sana! Aku bikin rujak tongkat komando kamu!!" Ancam Zahara yang membuat Romero meringis ngeri. Tambah linu kan tongkat komandonya...


"Amit-amit... Untung saja 'Romi' tadi gak bereaksi waktu digoda Lorena. Bisa-bisa 'Romi' terancam punah." Gumam Romero dalam hatinya sambil bergidik ngeri membayangkan yang iya-iya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2