
"Za... Hmm..hmmm...!!" Wangi terkejut dan meronta-ronta ingin melepaskan bungkaman tersebut, tapi itu terlalu kuat.
"Sstt...!! Diam!" Seru si pembungkam dengan nada setengah berbisik.
"Lho kok suaranya aku kenal?" Batin Wangi.
"Sstt... Ini aku, Galih." Ternyata orang yang membungkam mulut Wangi itu adalah Galih. Tapi mengapa?
"Galih? Kamu ngapain sih ngelakuin ini ke aku?! Nagapain juga kita harus sembunyi begini?!" Tanya Wangi kesal, pasalnya baru saja mulutnya dibungkam terus sekarang diajak sembunyi di balik tembok. Ngapain coba?
"Sstt...! Jangan keras-keras nanti mereka berdua kedengeran." Ujar Galih yang membuat Wangi semakin kebingungan.
"Mereka??" Tanya Wangi membeo.
"Lihat di sana! Zahara tidak sendiri." Tunjuk Galih ke arah Zahara yang berdiri di bawah pohon. Dan benar saja kata Galih, ternyata Zahara di sana tidak sendirian melainkan ada orang lain bersamanya. Waktu itu Wangi tidak melihatnya dengan jelas karena terhalang oleh badan pohon yang begitu besar. Dan di sana terlihat Zahara terlihat sedang berbicara dengan sangat serius dengan orang itu, bahkan sesekali terlihat keduanya dengan ekspresi seperti orang yang sedang bertengkar.
"Itu kan... Romero? Zahara dan Romero?" Gumam Wangi ketika dia melihat siapa lawan bicara Zahara itu.
"Iya, mangkanya aku langsung cegah kamu buat teriak manggil dia soalnya sepertinya saat ini mereka tidak bisa untuk diganggu." Sahut Galih. Tapi disaat seperti itu Wangi justru menatap curiga pada Galih.
"Kenapa ngeli..hatin aku kayak gitu sih? Aku ganteng ya?" Tanya Galih sambil mesam mesem gak jelas.
"Huwekk!! PD banget om?" Wangi langsung muntah angin karena kenarsisan Galih.
"Meski bener juga sih..." Lanjut Wangi dalam hati.
"Aku tuh cuma curiga aja, kok timingnya pas banget ya kamu ada di sini pas aku mau nyamperin Zahara??" Ujar Wangi dengan menyipitkan matanya curiga.
"Itu..."
"Kamu pasti ngikutin aku kan dari tadi? Ngaku saja deh..." Kali ini Wangi yang kelewat PD sampai dia memotong kalimat Galih yang belum sempat diucapkannya.
"Huwekk! PD banget neng?? Wong aku baru saja kembali desa bersama Dokter Elias, tuh baru parkir mobil." Jawab Galih sambil niruin kata-kata Wangi tadi sehingga menambah rasa sebal plus malu pada Wangi.
"Ihh nyebelin!" Ujar Wangi dengan geram dengan gerakan yang seolah ingin mencakar Galih.
"Sstt..!! Jangan berisik! Nanti ketahuan." Ucap Galih sambil mengarahkan jari telunjuknya pada mulut Wangi.
"Ihh jangan sentuh-sentuh!" Wangi langsung menepis jari Galih begitu saja.
"Lagian sejak kapan kamu punya hobby ngintip sambil nguping pembicaraan orang lain?" Tanya Wangi dengan sarkas.
"Sejak kenal kamu." Sahut Galih begitu saja.
"Idihh... Suka ngasal." Bales Wangi dengan sewotnya.
__ADS_1
"Sudah gak usah cerewet! Aku tahu kamu juga keppo." Kali ini Wangi tidak bisa membalasnya karena memang benar dia sedikit penasaran dengan hubungan Zahara dan Romero. Karena sejak dirinya melihat Zahara dan Romero di pos jaga keamanan Rumah Sakit malam itu ada yang berbeda dengan sikap mereka berdua ketika bertemu pandang.
Akhirnya Galih dan Wangi berujung dengan megamati alias ngintip plus nguping berdua di balik tembok. Ini sebenarnya sedikit konyol, mereka berdua terlihat seperti orang yang penasaran dengan kehidupan tetangga sebelahnya.
"Mereka kelihatannya lagi cek cok deh... Gak dengar soalnya." Ujar Wangi dengan mata yang tetap fokus melihat ke arah target.
"Cek cok rumah tangga?" Sahut Galih asal bicara.
"Lha?? Emang mereka itu pacaran? Sudah menikah?" Tanya Wangi menimpali.
"Ya belumlah... Mereka juga gak pacaran, tapi ada hubungan." Terang Galih.
"Kok kamu tahu? Kamu pasti nguping kayak gini deh.." Tebak Wangi.
"Iya." Jawab Galih singkat.
"Sumpah demi apa?? Kok kamu sekarang jadi orang tukang keppo ya?!" Ujar Wangi dengan tatapan tak percaya dengan sikap Galih yang menurutnya berubah seratus delapan puluh derajat, dari orang yang cuek berubah jadi orang yang ngurusin urusan orang lain.
"Bukan salah aku kali Wang, soalnya setiap mereka bicara serius seperti itu gak sengaja aku pas ada di sana tanpa mereka sadari. Jadi otomatis aku sedikit tahu masalah mereka." Terang Galih.
"Owh...gitu, tapi btw suara mereka gak kedengeran, tapi itu kenapa Zahara hampir nangis? Eh eh... Mereka pelukan! Lih, Lih lihat itu kan?" Seru Wangi dengan mata yang tetap fokus pada Zahara dan Romero.
"Iya... Seru kan lihat yang begituan?" Tanya Galih dengan sedikit meledek
"Seneng lihat mereka bahagia?" Tanya Galih lagi.
"Iya dong..." Jawab Wangi semangat sambil tetap melihat ke arah Zahara yang kini sedang dipeluk Romero.
"Mau dipeluk juga?" Galih kali ini mencoba menanyakan pertanyaan jebakan. Dan... Wangi kejebak! Haha...
"Mau dong... Ha?! Ehh?!! Nggak, gak!!" Seru Wangi sambil mencak-mencak.
"Pfftt... Katanya tadi mau?" Ledek Galih.
"Kamu sengaja ngejebak aku!" Ujar Wangi dengan menatap sengit wajah Galih.
"Ya udah yuk!" Tanpa aba-aba Galih langsung menarik lembut tangan Wangi untuk ikut bersamanya.
"Eh mau kemana?" Tanya Wangi bingung.
"Pergi dari sini." Jawab Galih.
"Tapi Zahara..."
"Sudah... Enggak kedengeran juga, mending ikut aku sebentar, kamu pasti suka." Kata Galih sambil tersenyum pada Wangi.
__ADS_1
"Tapi kita mau kemana?" Galih diam tak menjawab.
"Ihh... Galih!" Seru Wangi.
Galih tidak menjawab pertanyaan Wangi dan lelaki itu tetap menarik lembut tangan Wangi untuk ikut bersamanya. Meski terlihat ogah-ogahan tapi Wangi tetap pasrah untuk ikut dengannya. Mereka melewti jalan yang menanjak hingga mereka sampai pada sebuah tempat yang mirip seperti sebuah benteng.
"Wahh... Ternyata di sini ada tempat seperti ini ya..." Kata Wangi dengan takjub.
"Bagus kan?" Tanya Galih sambil tersenyum.
"Indah banget, semua yang ada di bawah bisa kelihatan dari sini." Ucap Wangi sambil menikmati pemandangan markas Indobatt yang luas dan pohon-pohon serta jalanan berpasir dari atas sana.
"Dan kamu bisa menikmati langit senja yang berubah jingga dari sini." Ujar Galih menambahi.
"Iya, sanset-nya indah banget." Sahut Wangi sambil menatap langit senja dengan pemandangan Matahari yang mulai tenggelam dengan senyuman.
"Cantik..." Gumam Galih sambil memandang wajah Wangi yang sedang tersenyum di sampingnya.
"Iya, cantik langitnya." Sahut Wangi begitu saja tanpa tahu siapa yang dimaksud cantik oleh Galih.
"Bukan langitnya, tapi kamu." Sahut Galih menimpali. Mendengar ucapan Galih itu Wangi langsung menoleh ke arah Galih yang berdiri tepat di sampingnya. Dia terpaku sesaat menatap wajah Galih yang sedang tersenyum padanya. Wajah tampan Galih yang terkena sinar Matahari sore teelihat semakin tampan. Deg! Jantung Wangi tiba-tiba berdebar. Setelah tersadar dia langsung mengalihkan pandangannya kembali ke depan.
"Apaan sih?! Gak usah ngegombal, gak mempan ke aku." Ujar Wangi dengan sewot tapi nampak jelas ada semu merah di pipinya.
"Pfftt... Gak mempan tapi merona." Goda Galih sambil menahan tawanya.
"Apaan sih?! Ngeselin banget!" Wangi yang kesal dengan godaan Galih langsung memukul-mukul lengan lelaki itu.
"Aduh, aduh! Sakit sayang... Kok malah dipukul sih?" Seru Galih dengan manja padahal pukulan tak bertenaga Wangi itu bukanlah apa-apa baginya, hanya terasa seperti dipijat saja.
"Jangan panggil aku kayak gitu! Aku itu bukan apa-apa kamu ya!" Seru Wangi kesal dengan wajah yang garang.
"Iya, sekarang masih belum tapi nanti pasti ada apa-apanya." Balas Galih dengan santainya sambil menampakkan senyum tengilnya yang bikin Wangi kesal dibuatnya.
"Aku belum maafin kamu ya!" Ujar Wangi sewot.
"Iya aku tahu. Dulu kita terhubung karena perjodohan dari orang tua kita, tapi sekarang aku akan mendapatkan kembali hati dan kepercayaan kamu dengan usaha dan keinginanku sendiri. Kamu kan sudah janji ngasih aku kesempatan, jadi tolong jangan menghindar dariku Wangi. Asal kamu tahu, rasa sesal melepasmu dulu masih menyiksaku hingga saat ini. Aku akan menunggumu selama kamu mau." Kata Galih yang membuat Wangi terdiam dan hanya menatap lurus pada senja yang menyaksikan betapa rapuhnya hatinya saat itu. Dia sebenarnya ingin berbaik dan memeluk lelaki yang ia cintainya itu, dia sebenarnya sudah tidak marah, hanya kesal mengapa lelaki yang dia cintainya itu sungguhlah bodoh. Tapi untuk saat ini Wangi hanya ingin tahu sampai mana Galih bisa tahan menghadapinya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1