
Di sore hari di ruang kerja Profesor Wigih terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok..tok..tok...
"Masuk." Sahut Profesor Wigih dan masuklah Elias dengan wajah kusutnya.
"Oh ternyata Dokter Elias, ada keperluan apa?" Tanya Profesor Wigih seraya menatap sekilas wajah Elias dan kemudian melanjutkan kembali menatap kumpulan berkas yang ada di atas mejanya.
Elias tanpa menjawabnya dengan wajah kusut dan lelahnya merebahkan tubuhnya di sofa ruangan tersebut.
"Nggak jawab malah rebahan ni anak? Ada apa sih?" Profesor Wigih mulai berbicara santai ketika melihat gelagat Elias yang sudah males-malesan.
"Bang, abang tadi sengaja kan?" Kini giliran Elias yang anehnya juga ikutan berbicara dengan santai layaknya orang yang sudah kenal akrab begitu dekat.
"Maksud kamu apa El?" Profesor Wigih berbalik tanya seolah tidak tahu apa yang dimaksudkan Elias.
"Udah deh bang, jangan pura-pura lupa deh... Ntar lupa sama istri sendiri tahu rasa!" Ujar Elias menyumpahi.
"Eh amit-amit! Bisa dicekik aku sama Jully, baru juga kemarin pulang honeymoon, gak lucu deh..masa sepupu sendiri disumpahi kaya gitu?" Gerutu Profesor muda itu yang ternyata adalah kakak sepupu dari Elias.
"Lha itu sudah tahu kita sepupuan tapi mempersulit saudara sendiri." Ujar Elias menyerang balik kakak sepupunya tersebut.
"Beda dong... Disini kita bekerja harus profesional, gak boleh memandang teman, sahabat atau saudara, apapun tugas yang diberikan harus dikerjakan karena sudah menjadi kewajiban kita." Sahut Profesor Wigih dengan ceramah dadakannya.
"Tapi gak ngerjain aku juga tau bang... Masa aku disuruh hendel anak Koas juga, itu kan bukan kerjaan aku." Protes Elias.
"Ya... Hitung-hitung latihanlah El, bentar lagi kamu lulus Residen, ntar juga kerjaan kamu termasuk ngurusin para Koas dan Residen baru. Abang ngasih kamu kepercayaan itu karena abang tahu kamu mampu dan dapat diandalkan, ini juga akan masuk dalam pertimbangan para dokter senior yang menilai kinerja kamu selama di sini jadi nikmati saja." Kata Profesor Wigih.
"Ya lain kali jangan bohong dong bang, katanya selesai operasi langsung datang, ee...giliran semua sudah beres baru nongol, ngerjain itu namanya." Ujar Elias yang masih saja menggerutu.
"Namanya juga guru ngasih ujian masa ngasih bocoran soalnya? Yang ada muridnya dapat nilai seratus semuanya. Lagian memangnya kamu gak sering ngerjain Wangi? Abang tahu lho..." Nah kan... Elias langsung diam, kicep sendiri kan dia. Emang dari dulu Elias tidak pernah menang jika beradu argumen dengan kakak sepupunya itu. Tentu saja kakak sepupunya itu tak pernah kalah, kalau tidak mana mungkin Wigih mendapat title Profesor diusia yang terbilang muda.
"Kenapa diam? Abang benar kan?" Ledek Profesor Wigih dengan senyum mengejeknya.
"Au' ah bang, bukannya nyemangatin malah ngeledek!" Kalau gini Elias sudah terlihat seperti adik kecil yang lagi merajuk dengan muka yang ditekuk sehingga terlihat lucu, berbanding terbalik dengan image-nya yang selalu terlihat cool.
"Makanya jangan sok killer sama calon gebetan, yang ada ntar malah kabur, contoh ni abang sama Jully dari teman SMA lanjut ke teman halal. Mau abang bantu?" Goda Profesor Elias sambil tersenyum jahil dengan menaik turunkan alisnya.
"Ih ogah! Yang ada malah ruwet! Aku lebih percaya sama mbak Jully ketimbang sama abang." Sahut Elias menolak mentah-mentah tawaran sepupunya.
"Hahahaa... Segitu gak percayanya kamu sama aku El?" Profesor Wigih justru terbahak mendengar jawaban Elias, dimatanya adik sepupunya itu dari dulu selalu terlihat lucu dan menggemaskan jika sedang merajuk, makanya dia suka sekali menggodanya.
"Udah deh bang aku cabut saja!" Elias langsung beranjak dari duduknya dan hendak keluar dari ruangan Profesor Wigih.
__ADS_1
"Eh tunggu!" Cegah Profesor Wigih.
"Apa lagi bang?"
"Abang cuma mau bilang... Kalau Dokter Wangi tidak mau sama kamu, Koas baru bernama Perwita itu juga lumayan, dia mahasiswa terbaik di angkatannya. Siapa tahu dia lebih cocok sama kamu." Elias langsung melototi sepupunya itu setelah apa yang dia dengar.
"Jangan ngasal deh bang... Awas aku aduin ke mbak Jully kalau abang suka lirik-lirik cewek di Rumah Sakit." Setelah mengatakan itu Elias langsung melesat keluar meninggalkan Profesor Wigih yang sudah misuh-misuh sendiri di dalam ruangannya. Puas deh Elias ngerjain balik kakak sepupunya itu.
Sementara itu di salah satu ruang inap VIP dimana Ridwan papanya Galih dirawat, Ratna sang istri sedang mengemas beberapa barang dan pakain suaminya ke dalam tas pakaian. Karena ada kabar baik jika besok Ridwan sudah diijinkan untuk pulang karena melihat tubuhnya yang sudah mulai pulih total dan hanya diperlukan rawat jalan serta kontrol dua minggu sekali.
"Alhamdulillah ya pa... Papa sudah diijinkan untuk pulang besok, mama mau telpon Galih dulu." Namun belum sempat Ratna menelpon Galih, putra kesayangannya itu sudah terlebih dahulu membuka pintu kamar rawat papanya sembari mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum...."
"Wa'alaikumsalam..." Jawab Ratna dan Ridwan bersamaan.
"Lho sayang... Baru saja mama mau telpon kamunya sudah nongol duluan." Ujar Ratna pada anaknya.
"Memangnya ada apa ma? Mama sama papa butuh sesuatu?" Tanaya Galih.
"Enggak... Bukan itu sayang, mama cuma mau kasih tahu kalau besok pagi papamu sudah bisa pulang." Kata Ratna dengan wajah yang sumringah dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Beneran pa?" Tanya Galih pada Ridwan seakan tidak percaya ucapan mamanya. Ridwan pun mengangguk sambil tersenyum.
"Belum pa, masih ada waktu sampai.... Lima belas sampai dua puluh menitanlah, ntar juga Wangi hubungi aku kalau sudah minta dijemput." Jawab Galih seraya melihat waktu di jam tangannya.
"Ooh..." Balas Ridwan.
"Besok papa keluar dari Rumah Sakit jam berapa?" Tanya Galih.
"Belum tahu, kemungkinan sekitar jam sembilanan nunggu pemeriksaan terakhir sebelum pulang, gitu kata dokternya." Galih mengangguk mengerti.
"Terus... Papa dan mama mau langsung balik ke Semarang atau pulang ke Jakarta?" Tanya Galih lagi.
Ridwan dan Ratna langsung bertatapan mendengar pertanyaan putranya.
"Sementara mama sama papa menetap dulu di Yogyakarta." Jawab Ratna yang membuat terkejut Galih.
"Hah?! Trus kalian mau tinggal dimana? Galih belum punya rumah sendiri lho ma, pa. Galih saja masih tinggal di asrama, kalian mau menyewa hotel? Atau... Jangan bilang kalian mau tinggal di rumah om Rendra." Tebak Galih asal.
"Ya enggaklah, ngawur saja kamu, kamu pikir papamu ini gak mampu beli rumah sendiri?" Ujar Ridwan yang agak sewot menanggapi spekulasi asal anaknya.
"Maksud papa... Jangan bilang papa sudah beli rumah di Yogya." Ridwan dan istrinya langsung diam dan hanya saling lirik-lirikan saja yang menandakan bahwa tebakan Galih itu benar.
__ADS_1
Galih langsung meraup wajahnya sendiri dengan telapak tangannya. Dia merasa speechless dengan apa yang dilakukan orang tuanya.
"Kenapa musti harus beli rumah di Yogya segala sih pa? Kan kalian bisa pulang ke Semarang, ada rumah juga di sana, trus rumah dan kerjaan di Jakarta gimana kalau papa dan mama tinggal di sini?" Ujar Galih tidak habis pikir dengan pemikiran kedua orang tuanya.
"Kamu tenang saja, soal rumah di Semarang kan sudah ada yang ngurusin semenjak kamu tugas di sini, ada kang Somat dan keluarganya yang ngurus rumah sama ngurus kebun kita di sana. Kalau masalah rumah di Jakarta kan ada bi Sumi dan suaminya yang ngurus serta ngejaga. Lalu soal kerjaan masih bisa dihendel sama pak Jalal sekretaris papa yang handal, sisanya bisa papa lakuin dari jauh lewat email. Jadinya kamu gak usah khawatir lagian papa sementara ini disuruh bed rest dulu sama dokter." Terang Ridwan yang terlihat sudah tidak sabar untuk keluar dari Rumah Sakit, karena sekeluarnya dia dari situ Ridwan akan melakukan rencananya yang jauh-jauh hari sudah ia persiapkan dengan sang istri, apalagi kalau bukan rencana pembicaraan tentang perjodohan antara Galih dan Wangi.
"Terserah papa mama lah..." Galih pun pasrah pada kehendak kedua orang tuanya yang sudah tidak dapat diganggu gugat lagi.
"Soalnya kami ini masih ingin deket-deket kamu, kalau kami balik ke Jakarta pasti sulit kan kalau mau ketemu kamu, kalau kami tinggal di sini kami masih bisa sering-sering ketemu kamu, anak mama sama papa kan cuma kamu Lih..." Ujar mamanya dengan memasang wajah sedih yang membuat Galih jadi tak enak hati.
"Toh nanti rumah yang disini bakalan buat kamu kalau kamu sudah nikah, jadi gak bakalan kosong jika kami sudah balik ke Jakarta." Lanjut papanya.
"Papa ngelanturnya kejauhan, belum tentu selamanya Galih dinas disini, belum tentu juga nikahnya disini." Ucap Galih mencoba menimpali ucapan papanya.
"Ya siapa tahu jodoh kamu orang sini, jodoh itu gak ada yang tahu, tahu-tahu orang yang selama ini di dekat kita, iya kan pa?" Kata mama Ratna balas menimpali.
"Betul kata mama kamu." Sahut Ridwan membela istrinya. Sementara Galih sudah mulai mengerti dimana arah pembicaraan mama papanya itu. Ini pasti tentang rencana perjodohannya dengan Wangi. Cepat atau lambat mereka akan membicarakannya setelah papanya keluar dari Rumah Sakit. Ini membuat kepala Galih pening, dia masih bingung bagaimana harus menghadapinya jika waktu itu tiba.
Trilling...
Suara notifikasi pesan di phonselnya membuyarkan pikiran kacau Galih saat ini. Dia lekas membukanya yang ternyata itu pesan dari Wangi yang mengatakan jika lima menit lagi dia akan selesai. Tadi sebelumnya Galih sudah mengrim pesan kepada Wangi jika dia tiba lebih awal di Rumah Sakit untuk menjenguk orang tuanya dulu.
"Ma, pa... Galih mau ngater Wangi pulang dulu, sudah ditunggu." Pamit Galih.
"Ya sudah, hati-hati... Salam buat Wangi. Oh ya, nanti kamu balik ke sini lagi kan?" Tanya mamanya.
"Sepertinya gak bisa deh ma, Galih kena piket malam ini, besok saja Galih jemput pas papa keluar dari sini." Jawab Galih yang sebenarnya itu hanya alasan untuk menghindari orang tuanya dari pembicaraan soal pernikahan.
"Oh gitu... Ya sudah kamu hati-hati di jalan, jagain Wangi." Pesan mamanya, Galih pun hanya mengangguk dan lekas keluar dari ruang inap papanya.
Dalam perjalanannya menuju lobby Rumah Sakit buat menunggu Wangi tanpa sengaja
Galih berpapasan dengan seseorang yang dia kenal.
"Wita?"
"Mas Galih?"
"Kamu kok bisa di sini?" Tanya Galih yang ternyata orang yang dia kenal itu adalah Wita yang tak lain dan tak bukan merupakan adik kandung dari mendiang Sinar mantan tunangannya.
"Lho Galih? Kita malah ketemu di sini, tadinya saya mau nunggu kamu di lobby lho." Sapa Wangi yang tiba-tiba muncul menghampiri mereka.
"Wangi?"
__ADS_1
Bersambung...