Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 34 Gara-Gara Soto Daging


__ADS_3

Setelah keriwehan beberapa menit yang lalu di sinilah mereka berdua, Galih dan Wangi tengah duduk bersebelahan di salah satu bangku taman yang ada di Rumah Sakit. Mereka saling membisu satu sama lain, hanya ada kesunyian yang tersisa di sela angin malam yang menerpa kulit mereka. Itu benar-benar canggung hingga salah satu diantara mereka bicara.


"Maaf." Kepala Galih langsung menengok ke arah Wangi tanpa suara ketika perempuan itu tiba-tiba berucap maaf. Namun Wangi terlihat menunduk malu tidak mampu menatap ke arah Galih yang berada di sampingnya.


Melihat Galih tidak mengatakan apapun dan hanya menatap ke arahnya, Wangi memberanikan diri menegakkan kepalanya dan membalas tatapan Galih yang seakan menunggu penjelasan Wangi tentang kata maaf yang ia lontarkan barusan.


"Maaf karena sudah merepotkanmu hari ini dan... Terimakasih karena sudah mau menolong saya tadi, kalau bukan karena kamu saya tidak tahu harus bagaimana tadi." Kata Wangi dengan pipi yang merona menahan malunya.


"Ohh... Tidak apa-apa saya mengerti kamu tadi dalam situasi yang tidak kamu duga, untung saja saya tadi tidak jadi masuk ke dalam toilet wanita, pftt..." Ujar Galih sambil menahan tawanya dan seperdetik kemudian mereka tertawa bersama. Ya untung saja tadi saat Galih ingin mengantar permbalut wanita untuk Wangi dia menjumpai seorang wanita yang kebetulan ingin masuk ke dalam toilet, akhirnya Galih meminta tolong kepada wanita tersebut untuk membawakannya pada Wangi. Di situlah Galih merasa lega karena tidak harus mengendap-endap masuk ke dalam toilet wanita seperti orang mesum.


Sejenak Galih memperhatikan Wangi yang sedang tertawa bersamanya.


"Baru kali ini aku melihat Wangi tertawa lepas seperti ini karena biasanya dia terlihat jutek, cuek, kadang serius tapi wajah tengilnya ketika pertama kali kami bertemu dulu sangat terlihat lucu dan kali ini dia terlihat cantik ketika tertawa lepas seperti ini." Ucap Galih dalam hatinya.


Ternyata bukan hanya Galih saja yang mempunyai pemikiran demikian, Wangi juga merasakan hal yang sama.


"Ternyata pria dingin dan kaku ini bisa tertawa dengan lepas juga ya... Ganteng. Kalau seperti ini pasti para wanita yang melihatnya akan langsung jatuh cinta. Ahh apa sih aku?! Bukan berarti aku jatuh cinta padanya kan?" Wangi langsung menggeleng-gelengkan kepalanya ketika pemikiran gila itu terlintas dibenaknya.


"Kamu kenapa? Kamu pusing?" Tanya Galih sedikit panik ketika melihat Wangi menggelengkan kepalanya.


"Ha?! Ah gak, enggak kok aku baik-baik saja cuma tadi ada nyamuk yang lewat depan wajah saya." Ujar Wangi mengelak.


"Oh kirain kamu pusing karena biasanya wanita suka pusing jika datang bulan untuk pertama kalinya." Ucap Galih.


"Kok kamu bisa tahu segitunya?" Tanya Wangi heran, bagaimana bisa Galih mengetahui hal seperti ini? Jarang lelaki yang tahu kan?


"Oh itu... Saya cuma tidak sengaja membacanya di internet." Jawab Galih yang berubah sedikit tegang, dia bukan membacanya di internet melainkan Sinar dulu suka merasa pusing jika sedang datang bulan dan Galih masih mengingatnya dengan jelas sampai saat ini.


"Owhh... Begitu ya." Untung saja Wangi mempercayainya dan tidak menanyakannya lebih jauh lagi.


Kruccuuukk....


Mereka berdua kembali terpaku ketika tiba-tiba mendengar suara yang berasal dari perut Wangi.


"Pfftt... Hahaa... Pfftt..." Galih seketika tidak mampu menahan tawanya lagi dan membuat Wangi kembali merasakan malu. Entah mengapa hari ini waktu tidak memihak Wangi, entah sial, entah malu, entah mungkin dia beruntung namun seakan waktu hari ini sedang mempermainkannya.


"Mau cari makan sekarang? Kebetulan saya juga belum makan malam." Ucap Galih to the point.

__ADS_1


Wangi mengangguk dengan wajah yang terlihat sudah seperti tomat karena malu sembari mengucap maaf untuk sekian kalinya.


"Maaf, gara-gara saya kamu harus melewatkan makan malam juga." Ucap Wangi merasa sangat menyesal sudah membuat anak orang kesusahan karena dirinya.


"Tidak apa-apa, itu bukan masalah bagiku. Kalau begitu bagaimana jika sekarang kita beli makanan dulu?" Balas Galih sambil menawarkan untuk makan malam terlebih dahulu dan Wangi pun mengangguk setuju dengan tersenyum malu.


Setelah itu mereka berdua beranjak pergi dari taman tersebut melangkah melewati lorong-lorong koridor Rumah Sakit untuk menuju ke luar.


"Kita cari makannya dekat-dekat sini saja ya? Soalnya saya tidak bisa terlalu lama meninggalkan Rumah Sakit." Ungkap Wangi pada Galih.


"Iya saya mengerti, lagian di dekat sini banyak tempat makan yang bersih dan nyaman." Kata Galih.


"Iya soalnya biasa dibuat untuk jujukan pegawai dan pengunjung Rumah Sakit jika mereka mencari makanan seperti kita. Sebenarnya ada kantin Rumah Sakit tapi saya terlalu bosan untuk makan di sana." Ujar Wangi.


"Emm... Kamu ingin makan apa? Oh ya kita jalan kaki saja gak apa-apa kan?" Tanya Galih.


"Ya gak apalah, lagian cuma dekat kok masa mau naik mobil? Haha... Lucu juga kamu." Jawab Wangi sembari terkekeh geli dengan pertanyaan Galih yang menurutnya lucu.


"Ehmm..." Galih berdeham untuk menutupi kebodohannya itu sementara Wangi hanya meliriknya sambil mengulum senyum.


"Saya ingin makan yang hangat-hangat berkuah, di sebelah mini market sana ada yang jualan soto daging, lumayan enak dan dagingnya empuk sekali, tapi kalau kamu ingin makan yang lainnya disana juga menyediakan pilihan menu selain soto daging." Ucap Wangi untuk menjawab pertanyaan Galih yang tadi belum sempat dia jawab karena pertanyaan konyol Galih sebelumnya.


"Okey kalau begitu tidak ada masalah kan? Yuk cuss ke TKP!" Kali ini Galih yang terkekeh melihat keunikan Wangi. Wangi yang seakan tidak perduli dengan image nya melangkahkan kakinya sedikit lebih cepat, memimpin jalan di depan Galih karena rasa lapar di perutnya itu lebih penting daripada memikirkan rasa malu yang tidak akan membuatnya berubah kenyang. Galih yang masih tersenyum sambil geleng-geleng kepala dengan sabarnya mengikuti Wangi di belakangnya.


Sesampainya di rumah makan, keduanya memesan menu yang sama yaitu soto daging dengan tambah perkedel kentang dan sate jeroan yang terlihat begitu nikmat. Disaat Galih dan Wangi dengan lahap menikmati soto dagingnya, dilain tempat Elias kini sedang memarkirkan mobilnya di parkiran Rumah Sakit. Sebenarnya Elias tidak ada pekerjaan atau panggilan darurat dari Rumah Sakit yang mengharuskan dia untuk datang. Hanya saja hari ini dia ingin saja datang karena seharian tadi pikirannya selalu tertuju pada Wangi. Dia mengkhawatirkan junior tersayangnya itu karena mungkin saja Wangi akan melewatkan makan malamnya seperti siang tadi jika perempuan itu sudah terlalu fokus pada pekerjaannya. Maka dari itu sekarang Elias datang dengan menenteng tote bag yang berisikan makanan dan juga cemilan ringan untuk dia kasih ke Wangi. Dengan tersenyum dia melangkah memasuki Rumah Sakit dan pemandangan yang sangat jarang itu tidak lepas dari pandangan pegawai Rumah Sakit yang berada di sana. Mulai melewati lobby hingga menuju ruangan untuk dokter bedah umum Elias masih mengembangkan senyumnya sambil menyapa beberapa orang pegawai yang berpapasan dengannya, membuat beberapa pegawai yang mengenalnya merinding melihat perubahan pada diri Elias.


"Dokter Elias salah makan ya? Tidak biasa dia senyum-senyum girang kaya gitu, hii... Kok aku jadi merinding ya?" Ujar salah satu perawat wanita yang beberapa saat yang lalu berpapasan dengan Elias.


"Huss! Ngaco! Mungkin perasaan hatinya lagi baik kali, lagi senang gitu, dah abaikan saja... Malah bagus kan kapan lagi bisa lihat senyum menawannya Dokter Elias?" Ujar perawat wanita lainnya.


"Iya juga sih... Bisa-bisa kebayang terus, soalnya ganteng banget." Balas perawat lainnya sambil tersenyum-senyum sendiri.


Kini Elias yang sudah berada di depan pintu ruangan kedokteran bedah umum langsung membuka handle pintu ruangan tersebut.


"Selamat malam semuanya..." Sapa Elias pada dokter jaga yang ada di sana ketika memasuki ruangan.


"Lho... Dokter Elias? Kok Dokter ada di sini? Ini kan bukan jadwalnya Dokter buat jaga?" Tanya Farel yang merasa heran saja menemui Elias di luar jadwal kerja lelaki itu.

__ADS_1


"Apa ada yang darurat ya Dok? Perasaan tidak ada pasien darurat deh..." Ujar Lukman menimpali sambil mengingat-ingat beberapa pasien yang mereka tangani.


"Memang tidak ada, hanya saja kebetulan saya lewat di sekitar sini sekalian bawain makanan buat kalian, kerja malam kan kadang suka lapar." Ujar Elias membuat alasan agar tidak terlalu kentara jika dia memang sengaja datang untuk Wangi.


Lukam dan Farel saling melirik satu sama lain. Bisa ditebak apa yang ada di benak mereka saat ini. Kebetulan yang tidak masuk akal dan kebaikan yang mencurigakan. Kira-kira itu yang mereka pikirkan saat ini.


Elias mengedarkan pandangan di sekeliling ruangan dan berhenti di meja kerja Wangi. Dia masih melihat buku, laptop dan juga tas Wangi berada di tempatnya namun sang pemilik tidak ada di sana membuat Elias mengerutkan keningnya.


"By the way... Dokter Wangi kemana ya? Apa sedang mengecek keadaan pasien?" Tanya Elias akhirnya.


Belum sempat Lukman maupu Farel menjawab pertanyaan Elias, salah satu dokter senior yang bernama Wigih datang dan menjawab pertanyaan Elias. Kebetulan Wigih mendengar pertanyaan Elias ketika dia hendak memasuki ruangan yang pintunya dibiarkan terbuka.


"Kalau kamu mencari Dokter Wangi tadi saya lihat sedang makan berdua dengan temannya di warung soto daging dekat mini market." Ungkap Wigih, dokter sekaligus professor termuda di bagian bedah umum yang tak kalah tampan dari Elias namun sayang dia baru saja menikah sebulan yang lalu dan baru saja pulang dari honeymoon-nya beberapa hari yang lalu.


"Ah selamat malam Profesor Wigih, anda masih bertugas?" Elias langsung menyapa profesornya itu ketika melihatnya datang tiba-tiba dari arah belakangnya.


"Iya, tadi sore ada operasi tapi saya belum bisa pulang karena harus memantau pasien saya dan kebetulan saya tidak sengaja mendengar obrolan kalian ketika hendak kembali ke ruangan saya, maaf jika tadi saya menyela." Ungkap Professor Wigih.


"Ah tidak apa-apa kok Prof, terimakasih infonya." Balas Elias dengan tersenyum ramah.


"Sama-sama, kalau Dokter Elias ingin menemui Dokter Wangi sekarang saja, mungkin beliau masih di sana. Oh mungkin lebih baik nanti saja, karena sepertinya Dokter Wangi sedang berkencan." Ujar Professor Wigih yang membuat jantung Elias seakan berhenti berdetak.


"Haha... Saya bercanda, mungkin saja lelaki itu saudara atau hanya temannya saja. Kalau begitu saya balik ke ruangan saya dulu untuk berkemas pulang, istri saya menunggu sendiri di rumah." Dengan santainya Professor Wigih mengatakan hal itu, sambil menepuk pundak Elias lalu melangkah pergi.


Elias hanya terpaku di tempat, sementara Lukman dan Farel kembali saling menatap satu sama lain, menerka-nerka apa yang saat ini Elias pikirkan sampai tidak mampu menjawab lelucon Professornya barusan.


"Saya balik dulu ya." Pamit Elias tiba-tiba.


"Lho... Dokter tidak menunggu Dokter Wangi dulu? Atau mau nyamperin dia ke tempat makan yang dimaksudkan Professor Wigih tadi?" Celetuk Lukman yang langsung dapat pelototan dari Farel.


"Emm... Lihat nanti saja." Jawab Elias. "Kalau begitu saya pergi dulu." Lanjutnya.


"Oh iya Dok silahkan, terimakasih makanannya." Balas Farel dan dibalas juga dengan anggukan oleh Elias.


Elias melangkah pergi dari sana dengan perasaan yang tidak menentu. Meski ucapan Professor Wigih hanyalah sebuah candaan namun bagi Elias terdengar seolah itu adalah hal yang sebenarnya. Senyum yang menguar dari bibirnya yang tadi terlihat ketika dia datang kini pudar ketika dia keluar dari Rumah Sakit. Tanpa diduga dari kejauhan Elias melihat Wangi berjalan berdampingan dengan Galih yang sepertinya hendak kembali ke Rumah Sakit. Elias langsung mempercepat langkahnya keluar dari halaman Rumah Sakit dan langsung menuju ke parkiran mobilnya.


Elias langsung masuk ke dalam mobilnya, dia tidak ingin Wangi melihat wajah bodohnya saat ini. Dari dalam mobilnya Elias melihat Wangi berjalan berdua dengan Galih dengan sesekali terlihat senyum di bibirnya. Tentu saja hal itu membuat Elias sedikit frustasi.

__ADS_1


"Wangi... Apakah aku benar-benar sudah terlambat?" Gumamnya sendiri.


Bersambung...


__ADS_2