
Malam itu para relawan sangat sibuk di kamar asrama mereka masing-masing untuk mengemasi barang-barang mereka selama mereka tinggal di sana karena esok hari mereka akan meninggalkan markas Indobatt UNIFIL di Lebanon untuk kembali ke tanah air. Wangi dan Anne pun terlihat sibuk mengemasi baju dan barang-barang mereka di kamar.
"Nggak terasa ya An kita di sini sudah enam bulan." Ujar Wangi sambil memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.
"He'em, bakalan sedih banget pastinya ninggalin ini semua. Mana udah mulai biasa lagi hidup di sini." Sahut Anne yang juga masih sibuk dengan barang-barangnya.
"Ya kamu tinggal aja di sini lebih lama..." Ujar Wangi menggoda Anne.
"Ya emoh to... Mosok aku ditinggal?!" Sahut Anne cepat dengan logat Jawanya yang kental.
"Pfft... Tadi katanya sudah mulai biasa tinggal di sini...?" Goda Wangi sambil terkekeh.
"Ya gak ditinggal juga kali... Aku kan juga kangen sama bapak ibuku di kampung. Maksudku itu kenangannya Wang... Orang-orang di sini itu pada baik semua membuat kita betah di sini meski jauh dari rumah dan saudara." Jelas Anne dan Wangi pun mengangguk setuju.
"Lagian apa kamu gak sedih ninggalin Galih lagi di sini?" Tanya Anne balik.
"Sedih tapi gak terlalu sih... Kan bentar lagi juga bakalan nyusul balik ke Indo. Tinggal dua bulanan kalau gak salah." Jawab Wangi.
"Hillih... Ntar tarik-tarikan tangan kayak di film India gak rela jauh-jauhan. Ntar mau pulang mewek..." Sahut Anne meledek.
"Yee... Gak segitunya kali An... Drama banget khayalan kamu." Balas Wangi.
"Ya siapa tahu kamu sedih banget Wang, sudah susah-susah ketemu ehh...ditinggal lagi." Ujar Anne.
"Sedih pasti, tapi sekarang kan sudah jelas kapan dia pulangnya. Masalah kami yang dulu-dulu juga sudah selesai. Tinggal nunggu lanjutannya saja waktu dia pulang nanti." Sahut Wangi dan Anne manggut-manggut mengerti.
"Syukurlah kalau kamu gak bakalan galau lagi seperti dulu." Ujar Anne.
"Emang dulu aku segalau itu ya?" Tanya Wangi pada Anne.
__ADS_1
"Sepertinya gitu sih... Soalnya perubahan sikap kamu itu kelihatan banget Wang. Yang dulunya selalu ceria tiba-tiba berubah jadi flat kayak mukanya Dokter Elias. Malah kita pikir kamu itu sudah terkontaminasi sama Dokter Elias gegara sering kerja bareng dan berantem sama dia." Kata Anne menjelaskan.
"Terkontaminasi?? Kayak kak Elias itu virus aja... Emang separah itu ya?" Tanya Wangi sekali lagi.
"Lumayan sih... Untung cuma di awal-awal aja pas kalian putus, hampir setengah tahun deh kayaknya kamu seperti itu." Kata Anne mengingat-ingat.
"Hehh?? Lama juga ya..." Gumam Wangi sambil menggaruk tengkuknya yang benar-benar gatal.
"Ya... Untungnya setelah itu kamu mulai sadar dan kembali ke wujud semula." Ujar Anne kemudian.
"Wujud semula? Emang kamu pikir aku ini apaan?! Putri duyung?" Sahut Wangi.
"Bukan! Dugong." Jawab Anne.
"Sialan...!" Umpat Wangi sambil melempar kaos kaki yang tidak jadi ia masukkan ke dalam koper.
"Enak aja... Ini bersih tahu!" Sahut Wangi sambil memasukkan kembali kaos kaki itu ke dalam kopernya.
"Eh, btw... Zahara balik juga gak ya?" Tanya Anne.
"Katanya bakalan balik bareng rombongannya Galih dan Romero." Jawab Wangi dan Anne kembali manggut-manggut tanda mengerti.
"Dari tadi kamu manggut-manggut terus An, mirip burung Kakak Muda." Celetuk Wangi.
"Kakak Tua begeee...!" Seru Anne yang langsung membuat Wangi tertawa terpingkal-pingkal.
Dan obrolan unfaedah mereka itu berakhir ketika suara dering phonsel Wangi berbunyi.
Galih is calling...
__ADS_1
Bibir Wangi tersenyum dan langsung memencet tanda hijau di phonselnya.
"Hallo Lih..." Sapa Wangi ketika sudah tersambung.
"Iya ini lagi beres-beres... Ah, tunggu sebentar kalau gitu, bentar lagi juga selesai." Kata Wangi menanggapi Galih di seberang sana.
"Oke, tunggu sepuluh menit lagi ya... Bye..." Ujar Wangi yang kemudian menutup sambungan telponnya.
"Kamu mau ketemu sama Galih?" Tanya Anne yang tidak sengaja mendengar percakapan Wangi dan Galih meski yang dia dengar hanya suara Wangi saja.
"Iya, cuma sebentar saja kok... Mau pamitan sekaligus sayang-sayangan hehe..." Jawab Wangi sambil cengengesan.
"Iya deh yang mau LDRan lagi..." Ledek Anne.
"Mangkanya cepet sana jadian! Kasihan Lukman kelamaan dianggurin, ntar karaten!" Sahut Wangi balas meledek.
"Lho... Kok jadi bawa-bawa Lukman??" Tanya Anne pura-pura gak ngerti.
"Gak usah pura-pura bege! Udah gede juga... Masa mau dijelasin lagi? Dah ah, aku mau kencan dulu sama mas pacar." Balas Wangi yang membuat Anne gak bisa bales lagi karena Wangi sudah ngacir duluan setelah selesai membereskan semua pakaian dan barang-barangnya yang akan dia bawa pulang.
"Nasib jomblo dah.... Apa mending aku terima aja ya si Lukman ya?" Gumam Anne jadi bimbang sendiri.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1