
Wangi dan Zahara berlari kembali menuju Rumah Sakit dan langsung menuju ke ruang UGD. Setibanya di sana sudah ada Dokter Gibran yang dibantu oleh Dokter Lukman serta dua orang perawat yang membantu menangani pasien Ali.
"Apa yang terjadi Dok?" Tanya Zahara setelah sampai di sana.
"Pasien tiba-tiba kejang dan mengeluarkan busa, perutnya juga membengkak. Untungnya kejangnya sudah diatasi tapi sepertinya ada yang tidak beres dengan perutnya. Kita akan melakukan rontgen sekarang juga. Tolong siapkan alatnya sus." Kata Dokter Gibran dan menyuruh suster Myta yang pada saat itu membantunya.
"Baik Dok, akan saya siapkan segera." Jawab suster Myta yang kemudian bergegas menuju ruang rontgen untuk memberitahu staff yang berada di sana.
"Bagaimana perutnya bisa membengkak seperti ini? Apa karena penganiayaan yang dialaminya?" Tanya Wangi.
"Bisa jadi, tapi lebih pastinya setelah kita mengetahui hasil rontgen keluar." Jawab Dokter Gibran.
"Sebaiknya kita bawa ke ruang rontgen sekarang Dok." Ujar Lukman.
"Iya, tolong bawa pasien ke ruang rontgen." Pinta Dokter Gibran pada perawat pria yang ada di sana.
"Saya akan bantu dorong." Kata Lukman ketika perawat tersebut hendak mendorong brankar tempat tidur pasien ke ruang rontgen.
"Semoga tidak ada masalah serius yang terjadi setelah ini." Ucap Wangi lirih pada Zahara setelah melihat brankar Ali keluar dari ruang UGD bersamaan dengan Dokter Gibran dan Lukman.
"Ya, semoga." Sahut Zahara.
Setelah menunggu kurang lebih tiga puluh menit, pasien kembali dibawa keluar dari ruanh rontgen dan dikembalikan ke ruang UGD.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Zahara ketika melihat Dokter Lukman keluar dari ruang rontgen setelah pasien.
"Kalian berdua disuruh masuk oleh Dokter Gibran, kita akan membicarakannya di dalam dan sebentar lagi Dokter lainnya juga akan datang." Kata Lukman.
"Memang ada sesuatu yang gawat sama pasien tadi sampai kita harus melakukan rapat darurat seperti ini?" Tanya Wangi begitu penasaran dan sedikit cemas.
"Maka dari itu Dokter Gibran akan jelasin di dalam setelah yang lainnya datang. Mending kalian tunggu di dalam saja." Ujar Lukman yang enggan menjawab rasa ingin tahu kedua rekannya itu.
__ADS_1
Tidak mau berdebat unfaedah dengan Lukman, Wangi dan Zahara memilih untuk masuk ke ruang rontgen dan mendengarkan penjelasan dari Dokter Gibran. Lalu tidak lama kemudian Elias, Dokter Rio dan Dokter Muara datang bergabung bersama mereka.
"Sepertinya semuanya sudah datang, saya akan langsung saja." Kata Dokter Gibran membuka rapatnya.
"Beberapa waktu yang lalu pasien yang saya tangani mengalami kejang-kejang. Sebagai info, pasien ini terluka parah setelah mengalami penganiayaan dan di dalam darahnya terdapat zat narkotika. Sudah dipastikan jika pasien ini adalah pengguna narkoba atau sejenisnya namun untungnya penggunaannya tidak terlalu besar. Lalu ketika mengalami kejang tadi ditemukan juga ada pembengkaan pada perut atas sebelah kiri. Dugaan awal mungkin karena efek penganiayaan yang terjadi pada pasien karena banyak ditemukan luka lebam pada sekujur tubuhnya termasuk perut. Karena tidak ingin menduga-duga kami melakukan rontgen pada pasien dan hasilnya sungguh tidak terduga. Kami menemukan sebuah benda asing di dalam tubuhnya, entah apa itu karena ukurannya lumayan besar. Dan kemungkinan itulah yang menyebabkan kondisi pasien yang tiba-tiba kejang dengan tubuh bagian perut yang membengkak. Kalian bisa melihat ini. Ini adalah hasil rontgen tadi." Dokter Gibran menjelaskan secara terperinci dengan menunjukkan hasil rontgen tadi.
"Itu lumayan besar, kira-kira apa itu?" Tanya Dokter Rio yang mengamati foto hasil rontgen yang berada di monitor depannya.
"Saya rasa... Kata besar tidak cocok digunakan, lebih tepatnya banyak." Kata Elias dengan mata yang juga menatap tajam ke arah monitor hasil rontgen pasien Ali tersebut.
"Banyak?" Tanya Wangi sambil memicingkan matanya ke arah Elias.
"Tolong diperbesar gambarnya." Pinta Elias lalu Dokter Gibran memperbesar gambar yang ada di monitor.
"Kalian bisa lihat jika benda itu tidak menggumpal utuh jadi satu, tetapi renggang dengan jarak yang sempit jadi jika kita tidak melihatnya dengan teliti itu terlihat seperti satu benda yang besar." Ucap Elias menerangkan sambil menunjuk ke arah monitor.
"Iya juga ya... Itu bukan satu melainkan beberapa tapi kita belum bisa memastikan jumlahnya karena tidak begitu jelas. Bisa dua, tiga atau empat. Satu ukuran benda itu saja kita belum bisa memastikan." Ucap Wangi yang juga ikut memastikannya.
"Kalau begitu kita akan lakukan operasi segera, karena saya dan dokter Rio hanyalah dokter umum jadi kita memerlukan dokter bedah disini. Antara Dokter Lukman, Dokter Zahara, Dokter Elias dan juga Dokter Wangi siapa yang bersedia melakukannya?" Tanya Dokter Gibran.
"Karena yang lebih senior dibanding saya atau Dokter Luman, saya rasa Dokter Zahara dan Dokter Elias lebih pantas melakukannya." Kata Wangi.
"Saya setuju." Sahut Lukman menimpali.
"Baik kami berdua akan melakukannya tapi saya minta Dokter Wangi dan Dokter Lukman juga ikut sebagai asisten, ini juga bisa menambah pengalaman dokter bedah baru seperti kalian dan ditambah dua orang perawat sudah cukup." Ucap Elias.
"Baik Dok." Jawab Wangi dan Lukman hampir bersamaan.
"Kalau begitu saya akan menyiapkan anastesi di ruang operasi sekalian saya akan minta perawat untuk menyiapkan ruang operasi." Kata Dokter Muara selaku dokter anastesia.
"Terimakasih Dok." Ucap Elias. Selanjutnya Dokter Muara langung keluar dari ruang rontgen untuk menyiapkan keperluan operasi.
__ADS_1
"Kalau begitu kami akan melihat dulu kondisi pasien sebelum kami bawa ke meja operasi." Ucap Zahara.
"Baiklah, kita akhiri rapat ini sekarang." Kata Dokter Gibran.
Dan akhirnya mereka semua pergi melakukan pekerjaan masing-masing. Lalu setelah pengecekan kesehatan pada pasien, tim dokter operasi yang dipimpin oleh Zahara memasuki ruang operasi.
Sementara itu dilain tempat diwaktu yang sama, Galih dan Romero sedang berada di ruangan sang Komandan.
"Kenapa kalian tidak melaporkannya dari awal?" Tanya Komandan kepada Galih dan Romero.
"Maaf Komandan, awalnya kami ragu untuk melaprkannya karena merasa jika ini buka wewenang kita untuk ikut campur dengan masalah intern warga setempat, namun semakin ke sini kami semakin curiga ada hal yang tidak beres dan kami juga tidak memiliki cukup bukti untuk melaporkannya, terlebih ternya tato kalajengking yang saya lihat pada lengan penjahat pada waktu itu ternya dilihat juga oleh Serka Romero di lengan anggota opsir polisi. Kami juga tidak tahu apakah kepala opsir tersebut juga terlibat atau tidak." Terang Galih.
"Menurut cerita kalian tempat itu berada dipinggiran kota bukan di pusat kota. Dengan kata lain yang terlibat hanyalah kepolisian dari wilayah setempat itu saja. Kepolisian pusat mungkin saja tidak tahu. Gangster seperti itu tidak mungkin melakukan hal mencolok di pusat kota meski target mereka orang-orang kota dan penduduk yang mengalami krisis akibat perang. Dan satu hal lagi, ini...!" Sang Komandan meletakkan dua buah map di depan Galih dan Romero di atas meja kerjanya.
"Apa itu Komandan?" Tanya Romero.
"Lihat saja." Jawab Komandan, lalu Galih dan Romero mengambil masing-masing satu untuk mereka lihat.
Galih dan Romero membuka map berwarna hijau itu lalu melihat isinya. Beberapa detik kemudian mereka terlihat terkejut.
"Ini..." Ujar Galih yang langsung dipotong oleh Komandan.
"Itu adalah laporan sekaligus permintaan. Satu dari Kepala Kepolisian Negara Lebanon dan satunya lagi dari Kemiliteran AS. Kepala Kepolisian Lebanon mendapat laporan jika ada gangster yang meresahkan di wilayah yang kalian sebutkan namun mereka sulit menangkapnya karena para gangster itu bukan penjahat biasa melainkan sekelas mafia dengan anak buah yang terlatih dan bersenjata lengkap. Lalu Kemiliteran AS meminta kita untuk bekerjasama menangkap seorang buronan militer jika melihatnya di kawasan Lebanon karena informasi terkini orang tersebut berada di Lebanon Selatan." Ucap Komandan.
"Joshua Franklin? Dia kan anggota pasukan khusus militer AS." Ujar Galih.
"Kamu mengenalnya?" Tanya Komandan yang juga ingin ditanyakan Romero.
.
.
__ADS_1
Bersambung....