
Galih langsung melangkahkan kakinya menuju meja resepsionis yang ada di lobby Rumah Sakit dan menanyakan tentang keberadaan Wangi.
"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang resepsionis wanita yang bertugas saat itu kepada Galih.
"Iya mbak, saya ingin menanyakan tentang Dokter Wangi Prameswari, dokter Residen dari specialist bedah umum apa masih berada di tempat?" Tanya Galih dengan hati yang harap-harap cemas.
"Sebentar saya cek dulu ya mas, tolong ditunggu sebentar." Ucap resepsionis tersebut. Terlihat sang resepsionis menelpon yang sepertinya ditujukan ke bagian ruang bedah umum. Sesaat kemudia dia mengakhiri panggilan telponnya dan kembali beralih pada Galih.
"Maaf, Dokter Wangi saat ini tidak bisa ditemui karena sedang melakukan operasi, mohon kembali lagi nanti." Ucap resepsionis pada Galih.
Galih menghembuskan napas lega, paling tidak kini Wangi dalam keadaan baik-baik saja dan memang sedang sibuk dengan tugasnya.
"Kira-kira operasinya lama atau tidak ya mbak?" Tanya Galih lagi.
"Maaf saya tidak dapat memastikannya." Jawab mbak resepsionis.
"Mmm... Baik kalau gitu terimakasih ya mbak." Ucap Galih yang disahuti kata "Sama-sama" oleh mbak resepsionis tersebut. Galih akhirnya kembali keluar dan memutuskan untuk menunggu Wangi di kursi taman yang ada di halaman Rumah Sakit.
Dilain sisi operasi yang dilakukan Wangi, Elias dan Dokter Juna akhirnya selesai dengan lancar.
"Ini tinggal dijahit saja, Dokter Elias saya serahkan pada anda." Kata Dokter Juna.
"Baik Dok." Jawab Elias yang segera mengambil alih untuk proses penjahitan terakhir.
"Terimakasih, kerja bagus semuanya." Ucap Dokter Juna seraya tersenyum dibalik masker operasinya lalu kemudian dia keluar dari ruang operasi.
Setelah Dokter Juna keluar yang tersisa hanyalah Elias, Wangi, Dokter Anne dan dua orang perawat. Terlihat saat ini Elias dengan fokus menjahit luka bekas pembedahan yang dibantu oleh Wangi sebagai asisten. Setelah beberapa menit kemudian semuanya akhirnya benar-benar selesai.
"Alhamdulillah semuanya selesai dengan baik dan lancar. Kerja bagus semuanya." Ucap Elias kepada seluruh tim operasi yang ada di dalam.
Ketiga dokter yaitu Dokter Anne, Elias dan Wangi keluar ruang operasi menyisakan para perawat untuk membereskan ruang operasi serta pemindahan pasien ke ruang perawatan.
"Ughh... Capek banget!" Wangi merentangkan kedua tangannya, menariknya ke samping dan ke atas untuk melemaskan otot-otot tangannya yang kaku selepas melakukan operasi.
__ADS_1
"Dokter Wangi..." Wangi memutar tubuhnya ke belakang mendengar suara Elias yang memanggilnya.
"Iya dok?" Jawab Wangi.
"Setelah ini kamu bisa pulang, kemungkinan pasien di UGD sudah ditangani oleh dokter lainnya dan sudah dipindahkan ke ruang perawatan." Kata Elias.
"Tidak apa-apa Dok, saya akan ikut mengeceknya juga, lagipula tadi saya kan ada di sana, tidak enak kalau langaung pulang tanpa pengecekan terlebih dahulu. Oh ya saya juga akan ikut menunggu pasien barusan sampai sadar." Mendengar itu Elias langsung memotong ucapan Wangi.
"Tidak usah! Ah, maksud saya urusan pasien yang baru kita operasi biar saya saja yang tangani, nanti saya yang observasi pasca operasi, hari ini kebetulan jadwal saya bertugas malam. Kamu cek pasien lainnya saja lalu pulang, ini sudah malam dan lewat jam pulang." Ucap Elias yang berharap Wangi untuk segera pulang. Ada apa ya?
Seperti mengingat sesuatu, Wangi langsung memperlihatkan raut wajah terkejut.
"Ya ampun! Aku lupa ngasih tahu ke Galih." Rutuk Wangi dalam hati.
"Ah terimakasih Dok sudah mengingatkan, kalau begitu saya akan pulang setelah mengecek para pasien di UGD, lalu pasien barusan saya serahkan lanjutannya ke Dokter Elias. Permisi Dok..."
"Iya sama-sama." Jawab Elias.
Setelah melihat Wangi berjalan meninggalkannya dengan terburu-buru, barulah Elias dapat menghembuskan napas lega.
Sementara itu Wangi yang sudah mengganti jubah operasinya dengan pakaian kerjanya semula sudah mendapat informasi dari pihak UGD jika para pasien korban reruntuhan gedung telah dipindahkan ke ruang perawatan dan sudah ditangani oleh dokter-dokter yang bertugas lainnya. Akhirnya Wangi dapat bernapas lega, dia melihat waktu yang ada di jam tangannya. Sudah lewat pukul tujuh malam. Wangi pun bergegas kembali ke ruangannya sambil berusaha menelpon Galih. Didering yang pertama panggilan itu langsung diangkat, terdengar suara Galih di seberang sana.
"Hallo sayang... Kamu sudah selesai operasinya? Aku khawatir banget karena aku tidak bisa menghubungimu sama sekali, chat aku juga tidak kamu jawab. Oh ya, aku sudah di luar dari tadi, kamu sudah mau pulang kan?" Ucap Galih secara memberondong setelah panggilan telpon tersambung membuat Wangi tidak ada kesempatan untuk bicara. Wangi sempat heran jika Galih bisa secerewet ini, namun sedetik kemudian Wangi menyunggingkan senyumannya.
"Ya ampun Galih... Satu-satu dong bicaranya, aku sudah selesai, ini aku sedang beresin tas aku, btw tahu dari mana kalau hari ini aku ada operasi dadakan? Maaf ya gak sempat kasih tahu kamu soalnya tadi itu urgent banget." Ungkap Wangi menjelaskan.
"Iya tidak apa-apa, tadi aku sempat tanyakan ke resepsionis depan." Jawab Galih.
"Ya sudah, sebentar lagi aku turun, bye sayang..." Kata Wangi yang kemudian menutup panggilannya.
"Cieee... sayang-sayangan nih? Beneran kan kamu pacaran sama anak donatur Rumah Sakit ini?" Tiba-tiba Erika masuk ke ruangan mereka sebelum Wangi menutup telponnya.
"Sstt... Jangan keras-keras! Ntar kalau ada yang dengar gak enak, lagian kok kamu masih di sini sih Er?" Wangi sempat terkejut ada orang lain yang masuk ruangan tiba-tiba, untung saja itu adalah Erika sahabatnya sendiri dan bukan orang lain.
__ADS_1
"Aku baru selesai mengecek keadaan pasien, hari ini jadwalku tugas jaga. Eh tapi benar kan ucapanku tadi?" Jawab Erika yang ternyata masih pendesak pengakuan Wangi tentang hubungannya dengan Galih.
"Kalau tahu mending diam saja deh... Awas kalau sampai bocor berarti kamu!" Ancam Wangi pada Erika.
"Aku nggak seember itu kali Wang..." Sahut Erika kesal.
"Iya, iya..ya sudah aku balik duluan, sudah ditunggu mas pacar, bye Erika." Wangi langsung mengambil tasnya buru-buru untuk pergi.
"Ciee... Yang sudah gak jomblo lagi." Goda Erika sebelum Wangi membuka hendle pintu ruangan mereka.
"Ciee... Yang tugas jaga bareng Dokter Elias..." Balas Wangi dengan tersenyum smirk ke arah Erika sebelum membuka hendle pintu dan langsung keluar setelah melihat wajah terkejutnya Erika.
"Haa?! Dokter Elias jadwal tugas jaga malam ini juga? Mampus aku! Alamat gak bisa santai." Gerutu Erika dengan raut wajah paniknya.
Wangi terkekeh puas melihat wajah panik Erika dan berjalan terburu-buru sambil mengecek hand phone-nya. Dan ternyata benar banyak sekali panggilan tak terjawab dari Galih dan pesan masuk yang belum sempat Wangi buka. Tidak ingin Galih menunggunya terlalu lama, Wangi segera masuk ke dalam lift yang kebetulan baru saja terbuka. Wangi sempat berpikir akan turun menggunakan tangga jika lift itu tidak segera terbuka. Wangi langsung keluar setelah lift itu terbuka dan ia segera berjalan cepat menuju pintu keluar Rumah Sakit. Namun langkah kaki Wangi terhendi di lobby Rumah Sakit ketika melihat Galih yang sudah ada di sana menunggunya. Wangi pun tersenyum ketika pandangan mereka bertemu.
"Kok kamu ada di sini? Kirain nunggu di mobil seperti biasanya." Tanya Wangi yang melihat Galih tumben-tumbennya menunggu dia di lobby Rumah Sakit.
"Gerah nunggu di mobil lama-lama." Jawab Galih.
"Bukan karena cemas karena aku kan? Maaf ya sayang... Kamu jadi lama nungguin aku." Ujar Wangi yang merasa menyesal membuat Galih menunggu lama.
"Gak apa-apa, aku cuma pengen ketemu sama kamu aja, udah kangen." Ucap Galih sambil tersenyum menggoda.
"Apaan sih? Yuk pulang!" Sahut Wangi malu-malu.
"Ya sudah yuk..." Galih menggangdeng tangan Wangi dan menuntunnya keluar dari Rumah Sakit.
Dari kejahuan tanpa sengaja Elias melihat itu semua dengan pandangan yang sulit diartikan. Dilain sisi juga Wita tengah melihat Elias dengan wajah datarnya dari arah samping belakangnya.
"Dokter Elias lihat apaan sih? Wajahnya gitu amat? Kayak... Sedih?" Gumam Wita. Wita pun melihat ke arah pandang Elias.
"Dokter Wangi dan mas Galih? Kenapa Dokter Elias melihat mereka segitunya ya?" Tanya Wita dalam hati.
__ADS_1
Bersambung....