
Wangi dan Galih saat ini sedang berada di atas bangunan benteng tempat favorit mereka untuk menikmati pemandangan kota Lebanon yang terlihat kecil di bawah sana. Gemerlap Bintang yang berkilau bak permata di atas sana menambah kesan romantis malam itu.
"Bintang dibawah langit Lebanon, indah banget... Tak terasa ini adalah malam terakhir aku bisa menikmati Bintang di sini. Bersamamu..." Ucap Wangi sambil menengadahkan kepalanya ke atas menikmati indahnya Bintang malam itu.
"Hemm... Aku bakalan kangen banget sama kamu nantinya." Sahut Galih seraya mendekat dan memeluk tubuh Wangi dari belakang.
"Oh, harus itu! Kamu harus kangen sama aku, biar kamu ada kepikiran buat cepet-cepet balik ke Indo." Ujar Wangi menimpali.
"Haha... Ya pastilah aku bakalan balik ke tanah air, balik ke kamu tentunya sayang..." Sahut Galih sambil mengecup sayang puncak kepala Wangi.
"Ya siapa tahu kamu berubah pikiran lagi dan malah betah di sini." Ujar Wangi setengah menyindir.
"Ya enggaklah sayang... Mana bisa aku jauh-jauhan lagi sama kamu, dua tahun jauh sama kamu aja sudah bikin aku tersiksa banget, besok aja pasti aku sudah kangen banget waktu kamu tinggal." Kata Galih meyakinkan Wangi.
"Hillih... Gombal." Cibir Wangi.
"Ya gak apa-apa to gombalin pacar sendiri... Tapi beneran lho sayang, besok aku pasti sudah kangen banget sama kamu." Ucap Galih yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Dua bulan gak akan lama, dua tahun aja aku bisa kuat masak dua bulan gak bisa?" Ucap Wangi.
"Bagiku dua bulan itu sama lamanya dengan dua tahun. Maaf ya sayang... Dua tahun yang lalu aku buat keputusan yang membuatmu sedih dan aku nyesel banget ngelakuin itu karena akulah yang justru tersiksa jauh tanpa bertukar kabar sekalipun dengan kamu." Kata Galih benar-benar menyesali perbuatan sembrononya itu.
"Iya, sudah bagus kamu menyesalinya. Sebenarnya aku itu gak papa kamu ninggalin aku buat tugas. Tapi yang membuatku sakit hati itu kenapa kamu ninggalin aku pas hari pertunangan kita sudah ditetapkan. Malah bilang putus segala... Seharusnya kamu jujur aja waktu itu, kan kita bisa majuin tanggalnya sebelum kamu berangkat." Balas Wangi yang kini mengomeli Galih.
"Maaf yang... Waktu itu aku gak berpikir panjang, aku takutnya kamu gak mau nungguin aku dan malah menderita." Kata Galih yang masih menyesali kebodohannya.
"Mangkanya apa-apa itu diomongin dulu, jangan dipendem sendiri. Yang jalanin hubungan itu kan bukan cuma kamu sendiri, ada aku juga yang jadi partner kamu Lih... Kalau gini kan kita bakalan lama lagi nikahnya. Harus ngulang acara tunangan dari awal." Sungut Wangi rada kesal.
"Kenapa harus ngulang? Kita tunangan saja di sini." Bisik Galih tepat di telinga Wangi.
__ADS_1
"Hah?! Maksudnya...??" Tanya Wangi tak mengerti dan langsung berbalik melepaskan pelukan Galih. Memandang penasaran wajah lelaki itu.
Galihpun tersenyum sambil tangannya merogoh untuk mengambil sesuatu dari saku celananya. Dia pun mundur satu langkah ke belakang dan berjongkok dengan satu kakinya yang bersimpuh. Kemudian dia menyodorkan kotak kecil yang dia ambil dari saku celananya dan membukanya. Sungguh terkejutnya Wangi melihat apa yang ada di dalam kotak kecil berwarna merah itu. Sebuah cincin cantik dengan permata putih yang bersinar indah di sana.
"Wangi Prameswari will you marry me?" Sontak jantung Wangi berdegub kencang, dia tak percaya Galih akan melakukan hal seromantis ini. Melamarnya di bawah gemerlapnya Bintang di bawah langit Lebanon yang indah.
"Ka, kamu serius Lih??" Tanya Wangi untuk memastikan kesungguhan Galih.
"Aku nggak pernah gak serius sama kamu Wangi... Dua tahun berpisah sama kamu itu menyadarkan aku, jika hanya kamulah rumah aku untuk kembali. Jadi, Wangi Prameswari... Maukah kamu menikah denganku??" Tanya Galih sekali lagi. Dia sungguh berharap-harap cemas, kalau-kalau Wangi akan menolaknya karena satu kesalan fatal yang pernah ia perbuat.
Air mata Wangi luruh begitu saja, dengan satu tarikan nafas yang kemudian ia hembuskan perlahan. Wangi menjawab....
"Ya, aku mau."
Jawaban Wangi itu langsung membuat bibir Galih terangkat sempurna. Senyumnya mengembang dengan raut kebahagiaan yang tampak jelas di wajahnya. Galih pun langsung berdiri dan menyematkan cincin itu ke jari manis Wangi.
"Terimakasih sayang... Terimakasih." Ucap Galih sembari tersenyum dan memeluk Wangi yang membalas pelukan itu.
"Ihh... Kamu gak sabaran banget!" Sahut Wangi sambil mencubit perut Galih yang keras karena rutin berolahraga.
"Hahaha... Tapi kamu gak sabar juga kan..??" Balas Galih sambil tersenyum tengil.
"Iihh... Tau' ahh!!" Seru Wangi yang langsung menyembunyikan wajahnya ke dalam dada bidang Galih karena malu. Dan Galih pun langsung tertawa lepas melihat keimutan kekasihnya itu sambil memeluk erat tubuh ramping Wangi.
Prok, prok, prokk...!!
Suara tepukkan tangan seketika mengagetkan mereka berdua yang langsung melepaskan pelukan. Ternyata itu adalah Romero dan Zahara biang keladinya.
"Ada yang baru dilamar nih..." Goda Romero.
__ADS_1
"Eh, kalian lihat ya? Sejak kapan?" Tanya Galih, sedangkan Wangi hanya mesam-mesem malu-malu.
"Sejak kamu bilang, 'Wangi Prameswari, will you merry me?'..." Jawab Romero sambil menirukan ucapan dan gaya Galih melamar Wangi.
"Selamat ya Wangi... Aku ikut seneng buat kalian." Ucap Zahara sembari memeluk Wangi.
"Makasih ya Ra..." Balas Wangi.
"Eh Lih, kamu kok duluan sih ngelamar Wangi di tempat ini? Tadinya aku mau ngelakuin hal yang sama di tempat ini dengan Zahara. Eh... Malah keduluan kamu." Ujar Romero setengah protes pada Galih.
"Salah sendiri kurang sat set...! Mending kamu lamar Zahara di bawah pohon gede sana noh..!" Sahut Galih.
"Lha kok malah di bawah pohon gede? Yang ada ntar malah kesambet sama penunggu di sana!" Ujar Romero rada kesel dengan usulan Galih.
"Ya kan waktu itu kalian juga pas baikan kan di sana... Sudah terlanjur penghuninya jadi saksi sejak awal, jadi sekalian aja." Sahut Galih dengan jahilnya.
"Sembarangan...! Ntar yang ada yang jawab bukan Zahara malah jin penunggu di sana." Seru Romero tambah kesal, membuat Galih langsung ngakak.
"Ckk... Gak usah ikut-ikutan sok romantis, kalau mau ngelamar langsung ngehadap ke papa aku!" Ucap Zahara yang bikin Romero tambah meriang.
"Pfft... Huahahaha..." Sontak Galih dan Wangi ngakak berjamaah.
"Yaelahh... Gini banget perjuangan cinta aku." Keluh Romero dengan wajah pasrahnya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...