Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 97 Makanya Jangan Nakal!!


__ADS_3

"Itu salah paham." Ujar Romero.


"Iya, itu salah paham." Galih membenarkan.


Itulah yang keluar dari mulut Galih dan Romero ketika tiba di Rumah Sakit, tepatnya saat ini mereka sedang berada di pantry Rumah Sakit.


"Itu sepupunya Galih." Romero berusaha melempar kesalahan pada Galih.


"Sejak kapan kamu punya seorang sepupu? Setahuku papamu anak tunggal dan sepupu dari mamamu lelaki semua." Tanya Wangi dengan tatapan dingin pada Galih.


Glek!


Galih hanya bisa menelan ludahnya dengan sulit dan tidak mampu menjawab apapun.


"Kenapa kamu tidak bilang jika sepupumu lelaki semua?" Bisik Romero pada Galih.


"Siapa suruh kau melemparkan getahnya semuanya padaku." Sahut Galih dengan berbisik pula.


"Ha.ha.ha.. Sebenarnya dia sepupuku dan temannya." Ujar Romero dengan tawa canggungnya yang berharap intuk mencairkan suasana, namun tentu saja itu gagal. Para wanita mereka tetap menghunuskan tatapan tajam ke arah mereka.


"Oh ya? Aku tidak tahu jika dia juga pernah jadi relawan di sini juga." Ujar Zahara dengan nada sinisnya sambil melihat foto di mana kedua perembuan di dalamnya mengenakan baju relawan bertuliskan UNIFIL.


"Itu karena mereka datang dua tahun yang lalu dan pergi sebelum kamu datang." Jawab Romero yang masih merasa tegang.


"Lalu siapa diantara mereka yang sepupumu? Kalian berdua harus menjawabnya secara bersamaan, kiri atau kanan? Satu.. Dua.. Tiga!" Perintah Zahara.


"Kiri."


"Kanan."


Jawab mereka bersamaan. Kiri untuk Galih dan kanan untuk Romero.


"Kanan!"


"Kiri!"


Merasa jawaban mereka tidak sinkron, merekapun mengulangi jawabannya. Tapi sialnya lagi-lagi jawaban mereka tidak sama. Galih dan Romero menjawab kebalikan dari jawaban pertama mereka secara bersama.


"Mati aku!" Batin kedua laki-laki itu.


"Jadi, yang mana diantara mereka yang sepupu Romero?" Tanya Wangi dengan hati yang sudah merasa sangat dongkol.


Galih dan Romero memilih diam, mereka bingngung harus menjawab apa.


"Aah~Kalian tidak bisa menjawabnya?" Sindir Zahara.

__ADS_1


"Itu semua ide Galih." Romero berusaha membersihkan namanya. Dan tentu saja Galih tidak terima.


"Hei! Kenapa jadi aku? Aku tidak akan terlibat jika bukan karena kamu yang memaksaku." Galih pun memojokkan Romero.


Tanpa bicara apapun, Wangi yang sudah sangat dongkol memilih keluar dari pantry dengan wajah marahnya. Galih yang melihat Wangi merasa ketakutan bila wanita yang dia cintai itu benar-benar marah. Dia pun ingin menyusul Wangi namun gertakan Zahara menghentikannya.


"Mau kemana?!" Seru Zahara ketika melihat Romero akan pergi ketika melihat Galih yang akan pergi mengejar Wangi. Tapi saking kagetnya dengan suara intimidasi Zahara, mereka berdua menghentikan pergerakannya.


"Ke...lu.ar?" Jawab Galih dengan nada gugupnya yang terdengar seperti robot.


"Tetap di sini!" Gertak Zahara.


"Oh kalau begitu aku akan keluar." Ujar Romero dengan percaya dirinya.


"Kau yang tetap di sini!" Seru Zahara yang lebih tepatnya ditujukan pada Romero.


"Haha... Kau baik-baik saja di sini ya bro! Aku akan keluar dulu." Galih langsung melesat keluar setelah mengatakan itu dan menepuk pundak Romero agar temannya itu bisa bersabar untuk keluar hidup-hidup dari sana.


Dan kini hanya tinggal Zahara dan Romero di dalam pantry yang penuh dengan hawa panas itu.


"Ya Tuhan... Lindungilah hamba." Do'a Romero dalam hatinya.


.


.


"Lho... Mas Galih cari siapa cilungukan gitu?" Tanya Anne yang tidak sengaja berpapasan dengan Galih ketika dia baru saja keluar dari ruangan pasien.


"Di dalam tidak ada, mungkin di ruangannya." Jawab Anne.


"Kenapa? Kamu bikin masalah lagi?" Celetuk Elias yang entah dari mana datangnya namun tiba-tiba sudah ada di belakang Galih. Galih langsung memutar badannya ke belakang dan melihat Elias di sana.


"Tidak, ah iya, ah tidak! Ini hanya salah paham saja." Jawab Galih yang sudah mulai panik.


"Huuuhh..." Elias menghela napasnya melihat drama romansa koleganya yang sedang memasuki babak konflik.


"Sepuluh menit lalu aku melihat dia keluar dari Rumah Sakit." Ujar Elias kemudian.


"Terimakasih, nanti aku traktir!" Seru Galih sambil berbalik dan mulai berlari.


"Tidak perlu, bukankah di sini semuanya gratis? Lagian tidak ada cafe di sini." Gumam Elias berbicara pada dirinya sendiri untuk menjawab Galih yang sudah pergi.


"Tapi Dok, saya dengar ada cafe yang mirip bar di kota ini." Celetuk Anne yang tak sengaja mendengar gumaman Elias.


"Oh ya? Tapi aku tidak minat jika harus pergi dengan Galih, aku tidak suka berkencan dengan pria." Setelah berkata ambigu seperti itu Elias pun pergi begitu saja meninggalkan Anne yang terbengong setelah mendengar kata-kata absurd Elias.

__ADS_1


.


.


Meninggalkan cerita di Rumah Sakit, Galih yang berlari kesana kemari mencari Wangi masih belum menemukan wanita itu. Kemudian dia yang lelah berhenti sejenak untuk menata napasnya yang sudah kembang kempis. Lalu semenit kemudian dia teringat suatu tempat yang nungkin akan didatangi Wangi. Galih pun kembali berlari ke arah tempat itu. Dan benar saja, sesampainya di sana dia melihat Wangi yang berdiri membelakanginya. Dia berada di bangunan benteng yang sering mereka datangi bersama untuk melihat pemandangan sekitarnya.


"Ternyata kamu di sini, aku mencarimu kemana mana." Ucap Galih sambil ngos-ngosan.


Wangi tidak meresponnya, dia tetap memandang lurus pada pemandangan di depannya. Angin yang bertiup sesekali menggoyangkan rambut panjangnya yang terurai.


"Kamu masih marah? Itu hanya salah paham, aku..."


"Tidak." Sahut Wangi memotong ucapan Galih.


"Tidak apa-apa, lagian itu hak kamu, waktu itu kan kita sudah putus jadi itu hak kamu jika ingin mengenal dan mendekati wanita lain." Lanjut Wangi dengan pandangan mata yang sama tanpa menoleh ke arah Galih.


Galih yang sudah merasa takut jika Wangi mungkin akan meninggalkannya, dia pun langsung memutar tubuh Wangi untuk menghadap ke arahnya.


"Lihat aku Wangi! Tidak ada yang berubah dengan hatiku selama kita berpisah, kamu hanya salah paham mengenai hal tadi. Mungkin salah satu dari wanita itu menyukaiku, tapi itu hak dia, dan yang terpenting aku tidak menerima perasaan itu. Mereka orang yang baik, jadi aku juga berlaku baik karena di sini mereka adalah kolega kami yang berada di perahu yang sama dalam tugas. Itu saja dan tidak lebih." Kata Galih untuk meyakinkan Wangi bahwa semua yang dipikirkan wanita itu tentangnya salah.


"Aku percaya." Jawab Wangi.


"Ah, aku yakin kamu masih marah. Tolong maafkan aku, kau tahu kan aku tidak bermaksud begitu." Ucap Galih dengan jantung yang sudah berdegub ketakutan.


"Iya, aku tahu." Jawab Wangi lagi dengan santai.


"Oh ya ampun sayang... Tolong jangan marah gitu dong... Aku benar-benar takut kalau kamu marah begini." Galih kembali berasumsi jika Wangi benar-benar marah saat itu. Sikap santai Wangi lah yang membuatnya semakin takut.


"Ck.. Aku bilang aku tidak marah dan aku percaya. Kamu mau aku benar-benar marah ha?!" Kali ini Wangi benar-benar kesal, padahal tadi dia sudah tidak marah dengan Galih dan percaya jika lelaki itu tidak mungkin berpaling darinya begitu saja hanya karena godaan kecil dari seorang wanita muda.


"Eng, engkak sayang... Aku gak mau kamu marah. Aku cuma takut tadi." Jawab Galih tergagap.


"Makanya lain kali jangan nakal lagi!" Sahut Wangi dengan wajah cemberut.


"Iya, iya... Enggak lagi." Jawab Galih sambil memeluk Wangi dan perasaan legapun langsung datang di hatinya.


"Aku lapar, karena tadi kesal sekarang aku lapar. Kamu harus tanggung jawab." Ujar Wangi dengan nada manjanya.


"Haha... Iya, iya... Aku akan tanggung jawab, yuk ke cafetaria, aku akan masak untukmu." Galih langsung menggandeng tangan Wangi menuju cafetaria markas Indobatt dimana mereka dan semua anggota selalu makan.


Sesampainya di sana, suatu pemandangan tak biasa sudah lebih dulu mereka lihat. Di sana sudah ada Zahara yang duduk di salah satu kursi cafetaria dimana Romero sedang menyiapkan makanan dengan apron yang terpasang di tubuhnya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2