Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 124 Piknik


__ADS_3

Beberapa minggu telah berlalu di markas besar Indobbat. Untungnya tidak ada masalah berat apapun di sana, suasana di Rumah Sakit juga tenang-tenang saja, hanua beberapa pasien yang tidak terlalu serius yang datang dan pergi setiap harinya. Waktu kepulangan para sukrelawan pun semakin dekat, seminggu lagi mereka akan pulang ke tanah air. Oleh sebab itu, seperti yang telah dijanjikan Mariam sebelumnya, dia akan mengajak Wangi dan teman-temannya untuk berlibur sejenak di villa rahasia peninggalan orang tuanya. Dan saat inilah waktu yang dijanjikan.


"Wahh... Ternyata kamu memiliki tempat seindah dan sedamai ini ya Mar..." Ujar Anne yang takjub melihat villa dan perkebunan milik Mariam.


"Katamu ini hanyalah villa kecil dan lahan yang cukup untuk berkebun. Ini sih bukan kecil lagi... rumah ini cukup besar untuk ditinggali orang satu kompi pasukan Indobbat." Kata Lukman sambil melihat-lihat bangunan di depannya yang cukup besar dengan tiga lantai.


"Hu'uh, kebunnya aja luas banget! Gak kebayang gimana capeknya ngurus tanaman dan manen hasilnya kalau sebanyak ini?" Tambah Shaka yang tak kalah takjubnya, sementata Mariam hanya tersenyum geli melihat ekspresi para doktet dan perawat muda tersebut.


"Ahh... Berasa di surga... Lihat pohon plum yang siap panen di sana rasanya kepengen manjat aja. Makan langsung di atas pohonnya pasti tambah asyik, lama nih gak manjat pohon." Ujar Wangi yang sudah ngiler lihat pohon buah plum yang buahnya rimbun dan siap panen itu.


"Ckckck... Dimanapun tempatnya monyet pasti punya insting buat manjat kalau lihat pohon buah." Celetuk Lukman yang langsung digeplak kepalanya sama Wangi.


"Kowe madakne aku karo munyuk Luk?!" Seru Wangi sambil melotot pada Lukman, sampai-sampai bahasa Jawanya keluar yang artinya 'Kamu samain aku sama monyet Luk?!'


"Busyet Wang... Tenagamu itu tenaga Badak ya, sakit woy...! Keluh Lukman sambil meringis mengusap kepalanya yang tadi digeplak sama Wangi.


"Ohh... Sekara kamu bilang aku kayak Badak? Sini kamu...!!" Wangi yang geram langsung menyingsingkan lengan bajunya siap-siap mau menghajar Lukman namun Lukman langsung lari. Dia tidak ingin menjadi korban kebringasan Wangi untuk kedua kalinya. Dan akhirnya terjadilah aksi kejar-kejaran seperti di film India.


"Ampun Wang... Aku salah ngomong, kamu itu kayak putri Solo, cuma lama aja gak tinggal di istana. Ann... Tolongin dong...!!" Seru Lukman sambil menghindar dari serangan Wangi dan bersembunyi di belakang tubuh Anne.


"Jangan bawa-bawa Anne!" Balas Wangi sengit.


"Aku gak ikut campur ya..." Sahut Anne yang jadi pusing sendiri dengan tingkah kedua temannya.


"Kok kamu gitu sih yang... Katanya sayang?" Rengek Lukman.

__ADS_1


"Idiih... Emang situ sapa?" Sahut Anne yang langsung membuat semuanya di sana kur tertawa.


"Pfftt... Huahahhaa... Kasihan banget gak diakui haha..." Wangi langsung tertawa kencang saking puasnya. Sudah gak perlu lagi dia untuk menyiksa Lukman secara fisik karena serangan secara mental itu lebih menyakitkan.


"Udah, udah... Kalian berdua ini, kayak bocah saja berantem terus." Lerai Elias.


"Selamat pagi semuanya... Selamat datang di kediaman nona Mariam." Sapa seorang bapak setengah baya dan seorang wanita yang kemungkinan itu adalah istrinya.


"Ah, perkenalkan... Dia adalah tuan Azam dan nyonya Elijah. Mereka adalah suami istri yang saya percayakan untuk mengurus tempat ini." Kata Mariam memperkenalkan pengurus villa dan perkebunannya.


"Salam kenal tuan, nyonya... Kami teman-teman Mariam dari Rumah Sakit Indobatt." Ucap Elias mewakili teman-temannya dan mereka pun memperkenalkan diri satu-satu.


"Oh, sepertinya ada yang datang..." Celetuk Wangi ketika melihat ada sebuah mobil mendekat ke arah perkebunan itu. Dan ketika mobil itu berhenti, turunlah Zahara dan Romero yang diikuti oleh Galih, Soledat dan juga gadis kecil yang digandeng oleh Soledat. Bahkan Ali dan juga Erisha pun ada di sana.


"Oh, itu... Saya juga mengundang mereka, katanya mereka tidak bisa datang. Tapi ini adalah kejutan hehe..." Ujar Mariam yang sangat senang bisa berkumpul dengan banyak orang-orang yang memiliki sejarah baik di dalam hidupnya.


"Ya ampun... Apakah Sonia kita yang cantik ini merindukanku?" Kata Wangi sambil mengusap-usap kepala Sonia, adik perempuan soledat dan dengan polosnya gadis itu mengangguk.


"Aku kangen sekali dengan Dokter Wangi..." Kata Sonia yang langsung memeluk Wangi dan Wangi pun balas memeluknya. Waulaupun bukan Wangi yang menangani Sonia waktu awal di satang ke Rumah Sakit, namun saat dia dirawat, Wangi sering sekali mengunjunginya dan mengajaknya bermain ketika Soledat tidak ada untuk mengurusnya.


"Tapi aku juga merindukan Dokter Elias..." Ucapnya sambil malu-malu melirik ke arah Elias.


"Pfft... Aku tidak tahu ternyata ada juga anak-anak yang mengidolakanmu kak, biasanya mereka akan nangis duluan lihat wajah dingin kak Eli." Ledek Wangi yang membuat Soledat menahan tawanya dan Elias yang melotot ke arah Wangi.


"Dokter Elias kan ganteng..." Kata Sonia dengan polosnya.

__ADS_1


"Wahh... Sekarang kamu tambah tinggi ya?" Ujar Elias mengabaikan ledekan Wangi.


"Aku kan bukan anak-anak lagi, aku sudah tiga belas tahun tau..." Kata Soledat dengan pipi yang menggembung lucu karena sesikit kesal karena Elias memperlakukan seperti anak kecil.


"Jangan lupa El... Wita menantimu di Yogya." Tambah Galih yang malah menggodanya.


"Edian..! Kalian pikir aku lelaki apaan?!" Umpat Elias yang membuat semuanya jasi tertawa. Dan begitulah liburan mereka diawali, penuh dengan canda tawa menikmati segarnya udara di sana sambil memanen buah-buahan di kebun.


"Galih... Kita kencan yuk, mumpung di sini." Ajak Wangi yang saat ini mereka sedang berada diantara pohon buah Plum dan Apel.


"Ini kan kita sedang rame-rame..." Ujar Galih.


"Tau gak biar cuma ada kita berdua yang ngerasa romantisnya?" Tanya Wangi yang membuat dahi Galih berkerut dan menggeleng pelan.


"Kencannya di atas pohon sambil makan buah Plum di atas sana. Lumayan cabang pohonnya besar dan banyak yang matang-matang di atas sana." Jawab Wangi dengan wajah kocaknya membuat Galih tak habis pikir lalu diapun tertawa.


"Kamu ngegemisssin banget sih..." Kata Galih sambil mencubit gemas kedua pipi Wangi.


"Yuk..!!" Lanjut Galih kemudian.


"Yess..!!" Seru Wangi girang.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2