
Setelah perbincangan manis mereka di cafe, sesuai janjinya Galih langsung mengantarkan Wangi pulang ke rumahnya. Tangan Galih merapikan rambut Wangi yang berantakan setelah turun dari motornya.
"Maaf, gara-gara aku bonceng pakai motor rambut kamu jadi berantakan begini." Ujar Galih yang masih merapikan anak-anak rambut Wangi yang sedikit berantakan karena terkena helm dan tiupan angin saat di jalan tadi.
"Nggak apa-apa kok, sesekali naik motor seru juga, bisa kena udara segar langsung." Ujar Wangi yang agak speechless karena Galih tiba-tiba melakukan skinship dengan merapikan rambutnya yang berantakan.
Galih mendekat dan berbisik di telinga Wangi.
"Kamu suka udara segar langsung atau suka meluk aku secara langsung?" Wangi yang mendengarnya langsung mencubit pinggang Galih sampai lelaki itu mengaduh.
"Aduuhh... Kok aku dicubit sih?" Protes Galih sambil mengusap-usap pinggangnya yang baru dicubit Wangi.
"Siapa suruh kamu ngeselin seperti ini? Ini pasti ajarannya si Koko Riko, dia kan yang ngajarin kamu jadi jahil dan genit gini?" Tebak Wangi sambil memasang muka kesal yang menggemaskan.
"Kok nuduhnya gitu sih?"
"Nggak usah ngeles deh... Aku tahu akhir-akhir ini kamu suka ngobrol sama Riko jika ketemu di Rumah Sakit, pasti kamu diajarin Koko yang nggak-nggak kan?" Wangi masih saja curiga dan menuduh jika semua keisengan Galih itu adalah ajarnnya Riko, sahabat paling Wangi paling sableng.
"Kok kamu tahu aku sering ngobrol dengan Riko di Rumah Sakit? Tapi Riko tidak pernah ngajarin yang aneh-aneh kok, dia itu hanya teman yang enak diajak ngobrol dan berdiskusi. Itu saja." Ujar Galih yang membantah tuduan Wangi padanya.
"Terus yang barusan ini jangan bilang itu adalah sifat asli kamu, kok aku jadi merasa tertipu ya? Ujar Wangi mereka-reka.
Galih maju satu langkah dan langsung menyentil dahi Wangi.
"Jangan mikir yang aneh-aneh!" Ucap Galih sambil menyentil dahi Wangi.
"Auw!! Sakit! Kok aku disentil sih? Belum apa-apa sudah KDRT." Wangi mengaduh dan ngedumel sambil mengusap-usap dahinya yang nyut-nyutan.
"Brarti yang memulai KDRT ini adalah kami, ahh... pinggangku masih ngilu." Galih pura-pura mengusap-usap pinggangnya yang tadi telah dicubit oleh Wangi.
"Wahh... Aku benar-benar tertipu, ternyata kamu tidak se-cool dan sediam yang aku pikirkan. Fix ini pasti ajarannya si Koko." Kata Wangi yang tidak habis pikir dengan sikap Galih yang mulai berubah. Bagus sih kalau sekarang lebih melunak dan terbuka padanya, tapi kalau mendadak begini kan jadinya seram juga.
Galih mengulurkan tangannya lagi, kali ini dia mengusap kedua alis Wangi yang hampir menyatu karena mengerutkan dahinya.
"Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang tidak perlu, kecuali memikirkan bagaimana caranya mencintai aku dan bagaimana agar aku mencintai kamu." Kata Galih dengan lembut seraya menatap lekat mata Wangi.
"Lagi-lagi kamu melakukan skinship." Ucap Wangi sambil membalas tatapan mata Galih.
__ADS_1
"Aku kan sudah berjanji untuk belajar dan berusaha mencintai kamu Wangi... Dan semua tindakan serta kata-kata yang keluar dari bibirku merupakan bentuk dari usahaku untuk mencintaimu. Akupun berusaha untuk tidak menjadi orang yang kaku seperti yang kau katakan mulai sekarang. Jadi Wangi Prameswari, mulai detik ini kamu harus membiasakan dirimu dengan hal-hal manis seperti ini." Ucap Galih sambil menyelipkan anak rambut Wangi yang terurai di telinganya. Ucapan Galih barusan langsung membuat jantung Wangi berdegup cepat dan terpana tanpa suara menatap lekat Wanjah tampan lelaki di depannya.
Galih tersenyum geli melihat ekspresi wajah Wangi yang lucu di mata Galih. Kemudian dengan senyum yang masih terkembang Galih mendekatkan bibirnya di telinga Wangi yang sepertinya belum sadar dari keterpakuannya.
"Bernapaslah Wangi." Wangi langsung tersentak ketika Galih membisikkan kata itu di telinga Wangi.
"A, a, ap, apaan sih kamu?!" Wangi langsung mendorong tubuh Galih untuk menjauh darinya setelah dia tersadar dari lamunnya.
"Pfft..." Galih menahan tawanya agar tidak keluar.
"Jangan ketawa!" Seru Wangi dengan rasa malu yang tertahan.
"Aku tidak tertawa kok... Pfftt.." Sahut Galih mengelak.
"Tuh kan... Nyebelin deh! Hust, hust...! Cepat pulang sana!" Seru Wangi lagi seraya mengusir Galih untuk lekas pulang dengan wajah yang merah seperti tomat karena sedang malu.
"Kamu malu ya?" Galih justru menggoda Wangi lagi. Seperti menggoda Wangi akan menjadi hobby Galih mulai saat ini.
"Galih! Pulang gak?!" Seru Wangi yang sudah malu jadi semakin malu karena ulah Galih yang kini berubah menjadi lelaki menyebalkan di mata Wangi.
"Iya, iya aku pulang sekarang, besok pagi aku jemput seperti biasanya. Assalamu'alaikum pacar." Pamit Galih yang membuat Wangi menjadi tersipu lagi.
Setelah mendengar jawaban dari Wangi, Galih langsung naik ke atas motornya, menstaternya dan pergi dari depan halaman rumah Wangi.
"Aarrgghh...!!" Wangi menjerit dalam hatinya dengan hati yang berbunga-bunga.
"Ya ampun Wangi... Sepertinya kamu sudah gila!" Seru Wangi pada dirinya sendiri.
"Emang! Mbak Wangi kan sudah gila dari dulu, baru sadar?" Tiba-tiba Dino menyahut dari teras rumah mereka.
"Hei anak kecil, nyahut aja!" Semprot Wangi pada adik semata wayangnya yang tak kalah usilnya dengan dirinya.
"Habisnya mbak Wangi ngomong sendiri seperti orang G. I. L. A!" Sahut Dino yang sepertinya tidak punya rasa takut dengan semprotan Wangi barusan.
"Apa kamu bilang?? Sini kamu!" Wangi langsung berusaha menangkap Dino, namun Dino segera menghindar, alhasil terjadilah aksi kejar-kejaran layaknya Kucing dan Tikus.
"Yeee nggak kena!"
__ADS_1
"Dino! Sini gak kamu!"
"Ihh Ogah! Mama... Tolongin Dino... Ada nenek lampir ma...!" Teriak Dino yang langsung masuk ke dalam rumah sambil memanggil-manggil mamanya mencoba mencari perlindungan.
"Dino..." Teriak Wangi yang tetap mengejar Dino sampai adik badungnua itu tertangkap olehnya.
"Nah akhirnya ketangkap juga ini bocah." Wangi langsung menjewer telinga Dino sehingga adiknya itu mengaduh.
"Aduh, mbak Wangi sakit tauuu..." Seru Dino yang merasakan panas di telinganya.
"Makanya jangan asal kalau ngomong, suka ngatain aku lagi." Gerutu Wangi pada Dino.
"Mama...! Papa...!" Teriak Dino lagi.
"Ini apa-apaan kalian? Ribut saja kalau ketemu!" Mama Rina keluar dari dalam kamarnya karena mendengar suara dari ruang tamu dan mendapati kedua anaknya saling adu mulut satu sama lain.
"Ini ma... Mbak Wangi ngejewer telinga aku, kan sakit ma, hiks.." Dino mengadu ke mama Rina dengan ekspresi yang dibuat sesedih dan sesakit mungkin di hadapan mamanya, padahal Wangi menjewernya tidak terlalu keras.
"Bohong ma! Aku jewernya enggak separah itu kok." Wangi membantah tuduhan Dino terhadapnya.
"Dasar bocah licik!" Seru Wangi pada adiknya.
"Ada apa sih ribut saja dari tadi, sampai kedengeran lho dari dalam kamar mandi." Ucap papa Rendra yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ini lho pa... Wangi datang tiba-tiba sudah ribut saja dengan Dino." Ujar mama Rina pada papa Rendra. Dan papa Rendra pun hanya mampu geleng kepala melihat kedua anaknya yang masih suka ribut jika ketemu.
"Dino, masuk sana ke kamar kerjakan PR kamu." Perintah papanya yang langsung dituruti oleh Dino.
"Dan kamu Wangi, papa sama mama mau bicara." Titah papanya.
"Papa dan mama pasti penasaran sama keputusan Wangi kan? Tenang saja, sesuai keinginan kalian, Wangi iyes sama Galih." Ungkap Wangi pada papa dan mamanya.
"Serius kamu sayang?" Tanya Rendra dan Rina bersamaan.
"Dua rius!" Jawab Wangi tegas.
"Alhamdulillah...."
__ADS_1
Bersambung...