
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, kini sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Tiga puluh menit yang lalu Wangi sudah menghubungi Galih untuk menjemputnya. Dan seperti biasanya Galih selalu tepat waktu, ia kini sudah menunggu Wangi di parkiran mobil Rumah Sakit. Selang beberapa saat Wangi sudah menghampirinya dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Kamu terlihat lelah sekali." Ucap Galih ketika melihat guratan lelah di wajah Wangi.
"Banget! Soalnya hari ini jadwal saya full banget. Ehh tunggu deh..." Seperti mengingat-ingat sesuatu, Wangi mencegah Galih yang hendak melajukan mobilnya dan seketika ia membuka tasnya, dia mengorek-ngorek isi tasnya seakan mencari-cari sesuatu.
"Ada apa?" Tanya Galih.
"Charger saya sepertinya ketinggalan di ruangan saya deh... Sorry, saya ambil sebentar di dalam, gak lama kok." Galih mengangguk dan Wangi pun langsung turun kembali dari mobilnya, dengan berlari kecil ia kembali masuk ke dalam Rumah Sakit untuk mengambil barangnya yang ketinggalan di ruangan dokter.
Di saat Galih menunggu Wangi, dari dalam mobil dia tidak sengaja melihat seseorang yang dia kenal sedang memasuki lobby Rumah Sakit.
"Itu seperti pak Jalal sekretarisnya papa, ada apa ya ke Rumah Sakit ini? Siapa yang sakit?" Gumam Galih, dan karena dia penasaran, Galih pun segera turun dari mobil dan berlari mengikuti pak Jalal yang masuk ke dalam Rumah Sakit. Beruntungnya dia karena pak Jalal masih berada di lobby seperti sedang menunggu seseorang. Galih pun mendekatinya.
"Pak Jalal?" Sapa Galih dengan ragu-ragu.
"Mas Galih?" Pak Jalal seketika terkejut yang melihat Galih sudah ada di hadapannya.
"Pak Jalal sedang apa di sini? Siapa yang sakit?" Tanya Galih dengan rasa penasarannya. Bukan apa-apa, hanya saja ini masih jam kantor, kenapa sekretaris papanya berada di sini? Dan anehnya lagi, kantor papanya itu bukannya di Yogya melainkan di Jakarta. Lalu kenapa pak Jalal saat ini berada di Yogya? Apa mungkin ada saudara atau keluarganya yang di rawat di Rumah Sakit ini? Itulah sekiranya yang ada di pikiran Galih.
"Ah emm... Itu..." Terlihat jelas di mata Galih bahwa pak Jalal itu seperti sedang kebingungan untuk menjawab pertanyaannya.
"Ah mas Galih sendiri kok berada di sini?" Alih-alih menjawab pertanyaan Galih, pak Jalal justru menanyakan balik pertanyaan Galih itu.
"Saya sedang bertugas dan sedang menunggu seseorang di sini." Jawab Galih.
"Berarti mas Galih belum tahu jika bapak sedang dirawat di sini, untung aku belum bicara yang macam-macam." Gumam pak Jalal dalam hati.
"Pak..pak... Pak Jalal." Galih menepuk pelan bahu pak Jalal yang sedari tadi tidak menghiraukan panggilannya.
"Ah iya mas? Mas Galih tadi bilang apa?" Ujar pak Jalal segera setelah tersadar dari lamunnya.
__ADS_1
"Pak Jalal kenapa ada di sini? Siapa yang sakit pak?" Tanya Galih lagi.
"Itu saya sedang menjenguk sau..." Belum sempat pak Jalal menyelesaikan ucapannya, seseorang dari arah belakang Galih memanggil namanya.
"Pak Jalal sudah sampai kok gak langsung ke atas?" Kata orang tersebut yang belum menyadari kehadiran Galih di sana.
Galih langsung terhenyak setelah mendengar suara wanita yang amat ia kenal dan ia rindukan. Mamanya.
Galih pun membalikkan badannya pelan mengarah sesorang yang berada di belakangnya. Dan benar, itu adalah mamanya. Seketika Ratna sang mama terkejut melihat putra semata wayangnya yang sudah lama tidak dijumpainya itu berada tepat di hadapannya.
"Galih?"
"Mama?"
Mata Ratna seketika berkaca-kaca, ada perasaan haru dan rindu yang sudah lama dia tahan untuk sang putra yang lama tidak dia jumpainya. Tanpa pikir panjang Ratna langsung melangkahkan kakinya menuju Galih dan menghamburkan pelukan rindunya pada putra semata wayangnya itu.
"Galih... Ini benar kamu nak? Mama kangen banget sama Galih, kamu sehat kan nak? Kamu baik-baik saja kan nak?" Begitu banyak pertanyaan yang memberondong Galih dari mamanya sembari wanita paruh baya itu memindai dan meneliti Galih dari ujung kaki hingga ujung kepalanya, kemudian kembali memeluknya erat.
Mendengar pertanyaan Galih tersebut, Ratna dan pak Jalal langsung saling lirik-lirikan seakan bingung harus menjawab apa dan bagaimana harus menjelaskannya pada Galih.
"Kok mama tidak menjawab? Pak Jalal juga dari tadi belum menjawab pertanyaan saya. Ma, mama gak ada yang disembunyikan dari Galih kan?" Ujar Galih yang seakan tahu apa yang sedang mama dan sekretaris papanya itu sembunyikan. Namun belum sempat Galih mendengar jawaban mereka, lagi-lagi ada suara yang memecahkan ketegangan mereka.
"Galih, kok kamu turun? Aku kira kamu nunggu di mobil. Lho... tante? Kita ketemu lagi." Sapa Wangi yang tiba-tiba datang sekembalinya dia dari ruangannya.
"Wangi kamu kenal dengan mama saya?" Tanya Galih yang semakin heran dibuatnya.
"Tante Ratna ini mama kamu? Berati om Ridwan itu papa kamu dong?" Ujar Wangi yang terkejut dengan kebetulan itu.
Galih mengangguk.
"Kebetulan tante Ratna ini istrinya sahabat papa yang kebetulan sedang dirawat di Rumah Sakit kami, di pagi hari tadi juga habis mengoperasi om Ridwan." Ungkap Wangi dengan polosnya tanpa mengetahui apapun dan itu sukses membuat Ratna dan juga pak Jalal tidak dapat mengatakan apapun, akhirnya mereka pun pasrah.
__ADS_1
"Papa sakit? Kok mama gak kasih kabar apapun ke aku sih ma? Dioperasi pula?!" Keterkejutan Galih itu seketika menyadarkan Wangi bahwa apa yang dia katakan baru saja itu mungkin salah, setelah dia mengetahui jika Galih yang ternyata adalah anak dari sahabat papanya tersebut tidak mengetahui perihal penyakit orang tuanya.
"Emm tante... Maaf, Wangi salah omong ya?" Pungkas Wangi yang merasa tak enak hati dengan suasana saat itu.
Ratna menggeleng pelan.
"Kamu tidak salah sayang, mungkin ini saatnya Galih tahu yang sebenarnya." Sahut Ratna dengan senyum menyesalnya.
"Galih sayang, papa kamu terkena kanker usus stadium tiga, dan pagi tadi baru saja dioperasi. Maaf mama tidak kasih tahu ke kamu, bukan maksud mama juga begitu namun itu permintaan papamu. Kamu tahu sendiri kan papamu seperti apa? Dia tidak mau terlihat lemah di depan anaknya." Ungkap Ratna sembari menggenggam erat tangan Galih.
"Apa Komandan Rendra papanya Wangi tahu tentang ini?" Tanya Galih dan mamanya pun mengangguk.
Galih memejamkan matanya sejenak, dia sangat menyesal mengapa dia menjadi orang terakhir yang mengetahui kondisi kesehatan papanya.
"Terus keadaan papa bagaimana?" Tanya Galih setelah menenangkan hatinya.
"Papamu sudah tidak apa-apa, satu setengah jam yang lalu baru sadar dan kini tinggal menunggu pemulihannya saja." Tutur mama Ratna.
"Syukurlah... Aku ingin melihat papa ma." Ujar Galih kemudian.
Wangi tersenyum dan menganggukkan kepalanya setelah Ratna memandang ke arahnya.
"Tentu sayang, ayo!" Ajak Ratna menggandeng lengan putranya.
"Wangi..." Ucapan Galih terhenti dan Wangi pun langsung mengerti.
"Saya tidak apa-apa kok jika pulang agak nanti." Pungkas Wangi seakan tahu apa yang Galih resahkan.
"Terimakasih." Balas Galih dengan wajah datarnya.
Bersambung....
__ADS_1