Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 58 Rahasia Wita dan Elias


__ADS_3

"Dok, saya mau turun sekarang." Ujar Wita yang ingin secepatnya melarikan diri dari sana.


"Berhenti!" Seru Elias menghentikan Wita yang hendak berbalik meninggalkan rooftop tersebut.


"Tapi Dok saya harus..." Wita mencoba menolaknya namun ucapannya langsung dipotong oleh Elias.


"Diam di sini!" Seru Elias dengan tegas, terlihat ada amarah di wajahnya.


"Nanti saya kena tegur oleh Dokter Pembimbing saya Dok..." Wita tetap kekeh melawan Elias dan berusaha untuk keluar dari sana karena Wita yakin urusannya nanti pasti panjang, selain itu dia takut juga dengan amukannya Elias saat ini.


"Saya bilang untuk diam di sini dulu!" Elias sangatlah geram kenapa gadis di depannya itu begitu sulit untuk diajak bicaradan kenapa selalu membantah kata-katanya.


"Saya mau bicara sebentar, tidak akan lama." Ujar Elias ketika melihat Wita akan membalas ucapannya.


"Haahh..." Wita menghela napas panjang lalu mengangguk pasrah.


"Kalau Dokter mau bertanya soal yang tadi...Saya benar-benar tidak sengaja mendengarnya Dok. Sumpah!!" Kata Wita dengan serius karena dia memang benar-benar tidak melakukannya dengan sengaja.


"Sejak kapan?" Tanya Elias.


"Maksud Dokter?" Tanya Wita yang kurang paham maksud pertanyaan ambigu Elias, sejak kapan Wita mulai ada di situ atau sejak kapan Wita mendengar bembicaraan antara Elias dan Wangi?


"Sejak kapan kamu mendengar pembicaraan saya dengan Dokter Wangi?" Jawab Elias menerangkan.


"Owhh... Itu sejak...da dari awal Dok." Jawab Wita yang entah kenap tiba-tiba menjadi tergagap.


Elias langsung mengusap wajahnya sendiri dengan tangannya dan menggerakkan kepalanya ke kanan kiri, atas bawah seperti orang yang bingung harus berbuat apa. Atau bisa dibilang Elias jadi salah tingkah sendiri, dia merasa sedikit malu karena rahasianya diketahui oleh orang lain. Apalagi orang lain tersebut adalah seorang Koas baru yang baru ia kenal beberapa hari ini.


"Dok... Saya benar-benar tidak sengaja, waktu itu saya sedang minum kopi di sini dan tiba-tiba anda datang bersama Dokter Wangi, lalu saya tidak sengaja mendengar semuanya, maaf Dok saya hanya terjebak tidak bisa keluar karena kalian." Wita berusaha menceritakan apa yang terjadi padanya sebelum Elias dan Wangi datang sehingga dia tidak dapat menghindari kejadian tadi.

__ADS_1


"Terus kenapa dari awal kamu tidak menyapa kami saja lalu pergi dan kenapa malah sembunyi di sela-sela pot tanaman seperti tikus?" Kalau begini Elias malah seperti sedang mengomeli seorang anak yang nakal.


"Ya... Itu dia Dok, saya juga menyesal kenapa saya malah sembunyi ya?" Sahut Wita sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.


"Haahhh..." Elias menghela napas panjang, mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur. Jalan satu-satunya adalah meminta Wita untuk mengunci mulutnya rapat-rapat sehingga kejadian hari ini tidak tersebar dan menjadi bahan rumor terhangat di Rumah Sakit.


"Lupakan! Anggap kejadian yang kamu lihat dan dengar hari ini antara saya dan Dokter Wangi tidak pernah terjadi. Kamu hanya sedang minum kopi di sini dan tidak melihat apapun!" Perintah Elias laksana seorang senior yang ditakuti juniornya.


"Tentu saja Dok! Saya di sini tidak mendengar dan melihat apapun." Wita langsung menyahuti Elias dengan tegas, berharap dia lekas pergi dari situ segera.


"Kalau ada yang menyebarkan rumor tentang hal ini di Rumah Sakit berarti itu ulah kamu, karena di sini hanya ada kita bertiga. Dan jika itu terjadi saya akan mempersulit kamu di sini." Elias sengaja menakut-nakuti Wita dengan sedikit ancaman.


"Tenang saja Dok, saya pandai mengunci mulut saya, kalau perlu mulut saya saya gembok dan gemboknya akan saya buang ke tengah laut hehe..." Sahut Wita dibarengi dengan candaan untuk mencairkan suasana tapi sepertinya candaan itu tidak lucu bagi Elias. Dokter tampan itu hanya memasang wajah datarnya.


"Haha... Tidak lucu ya Dok?" Sudah tahu itu tidak lucu sama sekali, Wita malah menanyakan hal itu.


"Ini bukan candaan Koas Prawita." Ucap Elias dengan nada datarnya yang menekan lawan bicaranya.


"Haahh... Sudahlah, mau bagaimana lagi? Saya harap kamu memegang ucapanmu dan sebaiknya rahasiakan soal ini dari Dokter Wangi, sebaiknya kita turun sekarang, nanti saya yang akan bicara dengan Dokter Pembimbing kamu jika kamu baru saja menolong saya mengantar seorang pasien yang tersesat." Kata Elias yang akhirnya mengakhiri sesi intrograsi itu dan Wita bisa bernapas dengan lega.


"Iya Dok, terimakasih." Jawab Wita sembari tersenyum lega.


"Ah syukurlah... Untuk saat ini aku selamat, hanya perlu menjaga mulutku untuk tetap terkunci." Batin Wita.


Setelah itu Elias keluar dari rooftop terlebih dahulu yang kemudian diikuti oleh Wita dari belakang. Mereka menuju ruang dimana Wita sedang melakukan prakter kerja lapangannya dan menjelaskan kepada Dokter Pembimbing Wita atas keterlambatannya. Syukur sekali semuanya selesai tanpa ada masalah dan Wita bisa melakukan kembali praktek kerjanya. Sementara itu Elias kembali lagi ke ruang kerja dokter bedah umum untuk mengambil tasnya dan untung saja Wangi sedang tidak ada di sana jadi suasana yang bakalan canggung itu tidak perlu terjadi diantara mereka berdua. Elias pun keluar setelah mengambil tasnya dan pulang untuk istirahat sambil menjernihkan pikirannya yang sedang tidak baik-baik saja serta menata kembali hatinya yang telah patah.


Sementara itu Wangi jadi tidak bisa berkonsentrasi dalam pekerjaannya. Dia masih memikirkan soal pengakuan cinta Elias.


"Duuhh... Kok bisa jadi gini sih? Kenapa harus ngaku sih? Lebih baik aku tidak tahu saja selamanya, kan jadi canggung nantinya." Gerutu Wangi dalam hatinya.

__ADS_1


"Dok...Dokter... Dokter Wangi!" Panggil seorang perawat setengah berseru karena Wangi tidak mendengar panggilannya, pikirannya masih memikirkan kejadian di rooftop.


"Ah eh... Iya?" Jawab Wangi setelah pikirannya kembali waras.


"Luka pasien sudah saya bersihkan, tinggal dijahit saja." Kata si perawat tersebut.


"Oh iya, terimakasih sus." Jawab Wangi yang kemudian kembali memfokuskan pikirannya untuk merawat pasiennya. Dia kini fokus menjahit seorang pasien yang terluka di lengannya. Dibantu oleh seorang perawat tadi akhirnya Wangi dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.


"Sudah selesai ya pak... Ini nanti akan terasa sedikit ngilu setelah biusnya hilang, nanti saya kasih pereda rasa nyeri, sementara lukanya jangan sampai terkena air dan setelah ini boleh pulang, dua hari sekali perbannya harus diganti tapi bapak tidak boleh menggantinya sendiri takutnya nanti inveksi, minta tolong perawat atau tenaga medis ya pak... Tidak harus kesini lagi, jika ada perawat di dekat rumah boleh, di Puskesmas boleh, minta tolong Mantri atau Bidan setempat juga boleh, asal jangan diganti sendiri ya pak." Kata Wangi memberikan penjelasan panjang lebar kepada pasiennya.


"Baik Dok, terimakasih banyak." Ucap si pasien.


"Sama-sama, jangan lupa diambil dulu obatnya di apoteker depan." Balas Wangi kemudian pamit undur diri setelah mendapat anggukan mengerti oleh si pasien.


Tidak terasa hari sudah siang, sudah hampir waktu istirahat makan siang. Ketika hendak kembali ke ruangannya tiba-tiba phonsel di saku jas Wangi bergetar, setelah ia lihat ternyata itu dari Galih. Wangi tersenyum dan mengangkat panggilan dari Galih.


"Assalamu'alaikum sayang..."


"Wa'alaikumsalam.... Sayang kamu lagi sibuk nggak?" Tanya Galih dari seberang sana.


"Enggak, baru saja mau istirahat siang, ada apa?" Jawab Wangi.


"Kebetulan, aku ada di bawah, kita makan siang bareng yuk?" Balas Galih yang membuat Wangi terkejut tiba-tiba Galih sudah berada di Rumah Sakit.


"Serius??" Tanya Wangi memastikan.


"Serius... Makanya aku tunggu di bawah sekarang juga ya." Ucap Galih meyakinkan Wangi.


"Okey, kalau gitu tunggu sebentar ya sayang." Jawab Wangi seraya menutup panggilan teleponnya dan segera berbalik arah menuju lift untuk menemui kekasihnya itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2