
Elias baru saja kembali ke Rumah Sakit setelah acara makan malam dadakannya bersama Wita dan Koas cantik itupun kini sudah pulang ke kostannya. Elias sedikit menyesali kenapa dia tadi harus mengajak Wita untuk ikut makan malam berasamanya karena wanita itu selain banyak bertanya dari rasa keingintahuannya, Wita ternyata wanita yang cukup peka dengan perasaannya terhadap Wangi.
"Tadi kenapa aku secara spontan mengajaknya makan malam sih? Ngotot pula, padahal sudah jelas tadi dia menolak, tidak biasanya aku bersikap seperti ini dengan orang yang baru aku kenal. Arghh!! Sudah gila aku!" Rutuk Elias dalam hatinya disepanjang jalannya menuju poli bedah umum.
Tiba-tiba ada yang merangkul pundak Elias dari belakang dan ternyata itu adalah Sandy.
"Hai bro! Kenapa mukamu? Kusut banget." Cerocos Sandy begitu saja, Elias pun langsung melirik Sandy dengan tatapan tajam dari sudut matanya.
"Huihh! Jangan ngelirik kayak gitu dong...Serem tau!" Seru Sandy yang langsung melepaskan rangkulan di pundak Elias.
"San, kamu pernah gak tiba-tiba ngajak perempuan pergi gitu saja tanpa kamu pikirkan?" Pertanyaan Elias langsung membuat dahi Sandy mengerut.
"Ya enggaklah, aku selalu berpikir dulu kalau mau ngajak cewek pergi, ganteng-ganteng gini masak sembarangan bawa cewek kesana kemari. Kamu...gak begitu kan El? Astaga!! Jangan bilang kamu..." Sandy langsung membekap mulutnya sendiri tanpa meneruskan kalimatnya dengan pikiran yang sulit dijelaskan.
"Gak usah lebay dan gak usah mikir yang iya-iya deh..." Ujar Elias yang tahu pasti apa yang ada dipikiran Sandy. Itu anak ganteng-ganteng tapi pikirannya suka gesrek padahal dia salah satu calon dokter spesialis bedah umum terbaik selain Elias.
"Apaan sih? Lha wong aku cuma mau bilang jangan-jangan kamu lagi suka sama seseorang, iya kan? Benar kan? Kamu sudah move on dari Dokter Wangi?" Ujar Sandy memberondong banyak pertanyaan untuk Elias.
"Sudah aku bilang gak usah mikir yang macam-macam! Lagian ngapain kamu masih di sini? Bukan jadwal kamu jaga malam juga." Ujar Elias yang sudah mulai jengah jika sahabatnya itu terlihat tanda-tanda ingin tahunya. Bukannya Elias tidak ingin cerita hanya saja waktunya kurang tepat, mood Elias saat ini sedikit kurang bagus.
"Busyeett... Sewot banget kamu hari ini, lagi datang bulan bro? Tadinya aku sudah mau pulang, tapi tiba-tiba ada pasien anak kecil yang tangannya sobek karena habis jatuh, karena kamu tidak ada jadinya aku yang gantiin." Ucap Sandy menjelaskan.
"Bukannya ada Dokter Erika yang lagi tugas juga malam ini? Kanapa gak dia saja?" Ujar Elias bertanya.
__ADS_1
"Ya tadi ngobatinnya juga sama dia." Sahut Sandy.
"Halahh... Bilang saja kamu sekalian ngecengin Dokter Erika." Seloroh Elias yang kini gantian mengejek Sandy.
"Ehh emang kelihatan ya?" Tanya Sandy begitu saja tanpa malu.
Elias memutar bola matanya jengah... "Kamu pikir aku gak tahu jika kamu suka sama Dokter Erika?" Tanya Elias balik.
"Ya mau gimana lagi? Maunya naksir Dokter Wangi tapi takut kena amukan kamu, apalagi sekarang dia sudah ada pawangnya hahaa..." Sahut Sandy seraya tertawa membuat Elias ingin sekali membenturkan kepala Sandy ke dinding tembok Rumah Sakit sekarang juga. Elias sempat heran kenapa bisa punya sahabat gesrek seperti Sandy padahal kalau sedang di luar sana sahabatnya itu selalu bersikap kalem sok berkarisma, namun jika hanya berdua saja dengannya maka Sandy tidak segan memperlihatkan sifat aslinya.
"Ckckk... Aku jadi kasihan dengan Dokter Erika." Kata Elias sambil berdecak dan geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol sahabatnya itu.
Tak lama setelah itu Elias mendapatkan telepon dari ruang jaga perawat jika pasiennya yang bernama Dani sudah siuman pasca operasi tadi. Elias pun langsung bergegas pergi meninggalkan Sandy begitu saja menuju ruang perawatan pasien.
Setibanya di ruang perawatan pasien Dani, Elias langsung memeriksa keadaannya. Terlihat di sana Dani masih belum sepenuhnya sadar karena masih ada efek anastesia yang tersisa.
"Dani Anggoro." Jawab Dani dengan suara yang masih lemas.
"Usia?" Tanya Elias lagi.
"Dua puluh tujuh." Jawab Dani pelan.
"Apa yang anda rasakan sekarang?" Tanya Elias kemudian.
__ADS_1
"Lemas, kaki saya tidak bisa digerakkan dan pinggang saya sedikit nyeri." Jawab Dani dengan ringisannya. Obat biusnya sudah mulai habis jadi rasa nyeri itu akan mulai muncul perlahan.
"Tentu saja anda merasa seperti itu karena kaki anda baru dioperasi karena patah tulang dan sementara tidak dapat digunakan. Lalu pinggang anda juga baru saja dioperasi karena luka sobekannya terlalu dalam dan besar. Rasa nyeri yang anda rasakan itu menandakan anda baik-baik saja karena tidak ada bagian tubuh anda yang mati rasa." Jelas Elias menerangkan.
"Tapi saya tidak lumpuh kan Dok? Kaki saya tidak dapat digerakkan!" Seru Dani setengah berteriak. Ada rasa takut di raut wajahnya.
"Tenang saja, kaki anda baru saja mendapat operasi pemasangan pen dan sekarang sedang di gips jadi maklum jika tidak dapat digerakkan. Butuh waktu yang lumayan lama untuk pemulihannya dan nantinya anda akan dapat berjalan lagi." Ucap Elias kembali menerangkan dan menenangkan agar Dani tidak panik. Sedangkan dalam hati Elias berharap Dani tidak mengenalinya, bagaimanapun penampilan Elias waktu dalu dan sekarang sangatlah jauh berbeda. Tidak menutup kemungkinan Dani teman SMA nya dulu yang suka membully Elias masih dapat mengenalinya. Ya benar, Dani adalah salah satu masa lalu yang ingin Elias lupakan tapi Elias sampai saat ini tetap tidak dapat melupakan musuh bebuyutannya itu. Bagaimanapun gara-gara Dani, Elias dapat mengenal Wangi. Cinta pertamanya yang terlewatkan.
"Semoga Dani tidak dapat mengenaliku yang sekarang ini." Gumam Elias dalam hatinya.
Dani menghela napas panjang, dia merasa lega setelah apa yang dijelaskan oleh Elias.
"Anda diperbolehkan minum setelah buang gas, kalau begitu anda istirahat lagi, saya permisi dulu." Elias hendak memutar tubuhnya untuk berbalik keluar meninggalkan ruangan tersebut namun tertahan oleh ucapan Dani.
"Kenapa?" Tanya Dani ambigu dengan nada lemahnya.
Elias menghentikan langkahnya seketika tanpa menengok ke belakang.
"Kenapa kamu mau menolong saya Elias?" Ucap Dani yang membuat Elias langsung memejamkan matanya seakan menahan sesuatu yang ingin keluar dari dalam dirinya lalu perlahan dia berbalik menatap lurus pada Dani yang sedanga terbaring lemah.
"Karena saya seorang dokter. Tidak ada seorang dokter pun yang akan membiarkan seorang pasien yang membutuhkan pertolongannya dan seorang dokter akan tetap menolong tanpa melihat status pasiennya baik itu orang jahat atau baik, kaya atau miskin, bahkan musuh bebuyutannya pun." Jawaban dari Elias itu sangat menohok hati Dani. Ada penyesalan di hatinya.
"Maafkan semua kesalahanku di masa lalu El, aku tidak berharap untuk kamu maafkan karena memang kelakuanku dulu sungguh tidak manusiawi tapi tetap aku berhutang maaf padamu. Maafkan aku dan terimakasih atas semua pertolonganmu." Dani mengucapkan maaf dengan setulus hati pada Elias, dia benar-benar menyesali perbuatannya dulu pada Elias.
__ADS_1
"Sudahlah Dan, jangan bahas itu sekarang, lebih baik gunakan waktumu untuk istirahat, aku masih ada banyak pekerjaan. Permisi." Ucap Elias yang kemudian langsung berlalu begitu saja dari hadapan Dani meninggalkan Dani dengan rasa penyesalan dan bersalahnya pada Elias.
Bersambung....