Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 49 Surat Terakhir Sang Mantan #2


__ADS_3

"Bacalah mas..." Pinta Wita.


"Surat terakhir dari Sinar? Kira-kira apa isinya? Tiba-tiba aku merasa gemetaran seperti ini, semoga ini tidak sesuai dengan yang aku pikirkan." Gumamku dalam hati.


Akupun segera membukanya dengan tangan yang sedikit bergetar.


Dear Galih ku yang hebat...


Bagaimana kabarmu sayang? Tahukah kamu jika setiap hari aku selalu merindukanmu, apakah itu juga berlaku untukmu? Aku harap demikian. Galih... Aku senang kamu telah dapat mewujudkan cita-citamu. Terus terang aku sedikit sedih dan was-was ketika kamu pergi melaksanakan tugas negaramu, tapi aku sekaligus bangga karena kamu dapat berdiri hebat demi membela negara kita. Aku tahu suatu hari kamu pasti pulang meski orang-orang tak yakin akan hal itu. Galih... Kamu tahu kan jika aku selalu ingin melihat kamu bahagia? Jadi apapun yang terjadi padaku atau pada hubungan kita kelak, jangan sampai kamu menyalahkan dirimu sendiri. Galih... Jika kamu sempat membaca surat dariku ini, itu berarti aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Jauh sebelum kamu melamarku, aku sudah didiaknosa oleh dokter terkena penyakit Liver stadium tiga. Tidak ada orang yang mengetahui hal ini, kecuali aku dan dokter saja, bahkan bapak ibu dan juga Wita pun tidak mengetahuinya. Maaf, karena aku tidak mengatakan hal ini kepadamu. Aku tidak ingin orang-orang yang aku cintai jadi khawatir karena diriku. Buatku kenangan kita berdua selama ini sungguh berarti dan aku sangat bahagia bersamamu Galih, walau hanya sesaat aku tidak menyesalinya. Hanya saja aku khawatir setelah kepergianku kamu merasa sedih dan menyalahkan dirimu sendiri, karena aku tahu kamu adalah orang yang seperti itu. Aku mohon kamu jangan pernah merasa demikian. Setelah kepergianku aku harap kamu akan menemukan seseorang yang mampu membuatmu bahagia karena aku selalu ingin melihat kamu bahagia meski tidak denganku. Siapun dia jagalah dia seperti kamu menjagaku dulu. Selamat tinggal Galih ku yang hebat, jaga dirimu baik-baik dan jangan pernah terluka lagi.


Yang selalu mencintaimu... Sinar.


Tanpa aku sadari air mataku jatuh begitu saja. Aku tidak habis pikir kenapa Sinar tidak pernah menunjukkan rasa sakitnya padaku karena dia selalu memperlihatkan senyum tenangnya kepadaku. Dia sungguh pandai menyembunyikan sakitnya dengan apik, bahkan dengan bodohnya aku tidak menyadari itu.


"Mas... Saya tahu bagaimana perasaan mas Galih saat ini setelah membaca surat dari mbak Sinar, karena saya juga merasakannya. Saya merasa bodoh karena tidak pernah menyadari rasa sakitnya selama itu." Ucap Wita dengan raut wajah yang begitu sedih, air matanya pun ikut luruh.


"Tapi Wit, bapak dan ibu kamu tidak pernah memberi tahu saya mengenai surat ini. Yang saya tahu Sinar meninggal karena stres yang begitu hebat sehingga bermasalah dengan Livernya. Dan itu semua karena dia memikirkan saya yang tak kunjung ada kabarnya." Tuturku yang menuntut penjelasan mengenai hal ini.

__ADS_1


"Tentang hal itu saya mewakili bapak dan ibu saya untuk meminta maaf pada mas Galih. Inilah salah satunya alasan kenapa saya ingin sekali bertemu dan berbicara dengan mas Galih. Surat ini baru saya temukan di laci kamar mbak Sinar ketika saya sedang membersihkan kamarnya satu bulan yang lalu. Dan saya juga menemukan hasil tes pemeriksaan kesehatan mbak Sinar bersamaan dengan suratnya. Tanggal tes tersebut menyebutkan dua tahun sebelum jadwal kepergian tugas mas Galih ke Papua." Terang Wita padaku, dan itu sungguh membuatku terkejut.


"Sudah selama itu dia menyembunyikan penyakitnya pada kita?" Kataku tidak percaya.


"Iya dan sayangnya itu adalah pilihan mbak Sinar sendiri." Aku percaya dengan ucapan Wita, karena meski terlihat kalem Sinar adalah perempuan yang keras kepala.


Kami terdiam sejenak hingga pesanan kami datang namun tidak kami hiraukan sama sekali. Aku masih menatap surat Sinar yang masih dalam genggamanku dengan sirat mata yang sedikit kecewa, tapi aku sadar apa gunanya kekecewaan ini jika pilihan tersebut adalah kehendak Sinar sendiri. Suara Wita kembali menyadarkan pikiranku yang kemana-mana.


"Mas Galih, saya minta maaf karena sempat merasa kecewa dengan mas dan saya juga minta maaf atas nama mbak Sinar, mungkin tanpa sengaja mbak Sinar sudah melukai hati mas Galih. Dan seperti kata mbak Sinar didalam suratnya, mas Galih jangan pernah merasa bersalah dan mulai sekarang mas Galih bisa meraih kebahagiaan mas sendiri. Temukan seseorang yang mampu membuat mas Galih bahagia. Itu permintaan terakhir mbak Sinar mas..." Ucapan Wita terdengar seperti jawaban segala kebimbangan di hatiku selama ini. Rasa gamang di hatiku seolah perlahan menghilang. Aku yakin Sinar sekarang bahagia di tempat barunya tanpa merasakan lagi rasa sakit yang selama ini ia rasakan sendiri. Dan aku akan selalu mengenang Sinar sebagai sebagian kenangan terindah di dalam hidupku. Sinar... Kini aku benar-benar melepasmu.


"Wita... Mulai sekarang saya benar-benar melepaskan Sinar dan berharap dia akan selalu bahagia di sisi penciptanya." Ucapku dengan tulus dan sungguh-sungguh.


...****************...


Kembali ke saat ini, Galih masih rebahan di atas ranjangnya, melamunkan kejadian beberapa hari ke belakang yang cukup menguras pikirannya. Karena kecamasan hatinya sudah terjawab, kini Galih mulai bisa tersenyum hangat seperti dulu lagi. Dia mengeluarkan surat Sinar yang kemarin ia dapatkan dari Wita dan mengeluarkan pemantik korek api dari dalam laci tempat tidurnya.


"Maaf Sinar... Aku tidak bisa menyimpan sesuatu darimu lagi, kini ada hati yang harus aku jaga. Aku yakin kamu pasti mengerti, kenangan kita cukup aku simpan di hati saja." Setelah mengucapkan kata-kata itu Galih langsung menyalakan pematik korek apinya dan membakar surat dari Sinar tersebut.

__ADS_1


"Kadang aku berpikir jika awal pertemuanku yang tidak sengaja hingga perjodohanku dengan Wangi yang mengejutkan kami adalah jalan yang sudah diatur oleh Tuhan. Atau mungkin itu salah satu do'a Sinar untukku? Entahlah... Yang pasti untuk saat ini aku bersyukur telah dipertemukan oleh Wangi, seseorang yang mampu membangkitkan semangat hidupku lagi. Bisakah aku disebut sebagai orang yang sangat beruntung?" Oceh Galih dalam hatinya seraya tersenyum membayangkan pertemuan pertamanya dengan Wangi yang kini baru disadari Galih merupakan hal yang sungguh konyol.


"Haii!! Senyum-senyum sendiri... Sehat kamu Lih?" Tiba-tiba Jarno datang mengagetkan Galih dan membuyarkan segala lamunannya.


"Bikin kaget saja kamu!" Gertak Galih seraya melemparkan salah satu bantalnya ke arah Jarno.


"Habisnya kamu senyam-senyum sendiri... Bayangin apa kamu? Bayangin hal yang jorok ya..." Goda Jarno dengan senyum smirk-nya.


"Memangnya kamu?! Ngasal saja!" Seru Galih yang langsung mengundang gelak tawa Jarno.


"Haha... Lha terus kamu sedang memikirkan apa? Jangan bilang kamu sedang jatuh cinta dengan seorang wanita." Tebak Jarno yang langsung mendapat senyuman misterius dari Galih.


"Hmm... Mungkin?" Jarno langsung melotot mendengar jawaban Galih. Galih yang selama ini ia ketahui tidak akan mempan jika terkena rayuan wanita manapun walaupun wanita itu secantik Merilyn Monroe.


"Kamu serius Lih??" Tanya Jarno seakan tak percaya.


"Entahlah..." Setelah menjawab secara ambigu pertanyaan Jarno, Galih langsung memiringkan badannya memunggungi Jarno dan langsung memejamkan matanya dengan bibir tersenyum.

__ADS_1


"Lih, jangan pura-pura tidur kamu! Jawab dulu pertanyaanku, Lih... Galih!!"


Bersambung...


__ADS_2