
Malam ini keluarga Rendra akan memenuhi undangan makan malam dari keluarga Admaja. Mama Rina sudah siap dengan dress batik dibawah lutut bercorak parang berwarna marun, sedangkan papa Rendra mengenakan hem batik lengan panjang yang senada dengan mama Rina, begitu pula dengan Dino yang mengenakan batik senada dengan papa mamanya namun berlengan pendek yang dipadukan dengan celana semi jeans berwarna hitam selutut yang membuatnya terlihat imut meski sedikit formal. Sebenarna acaranya santai-santai saja tapi sepertinya akan ada pembicaraan yang penting dari kedua belah pihak keluarga, jadi mereka memutuskan untuk berpakaian lebih formal namun tetap terkesan santai, lagian ini juga acara makan malam kedua keluarga setelah undangan makan siang sebulan yang lalu. Ya, tidak terasa hubungan Wangi dan Galih sudah berlalu sebulan ini. Lalu setelah mereka semua siap untuk pergi, sang putri barbar belum juga keluar dari kamarnya.
"Pa, Wangi-nya mana? Kok gak kelihatan?" Tanya mama Rina pada suaminya.
"Lho... Bukannya tadi sama mama? Kok malah tanya papa?" Sahut papa Rendra yang bertanya balik.
"Tadi mama cuma ngasih dress yang mau dia pakai saja ke kamarnya, habis itu mama balik lagi ke kamar mama buat siap-siap. Setelahnya mama tidak tahu apa-apa." Jawab sang mama.
"Din, kamu pasti tahu kan mbakmu ada dimana?" Tanya papa Rendra pada Dino karena terkadang Dino itu diam-diam selalu tahu gerak-gerik orang yang ada di rumah seperti kejadian sebelum-sebelumnya.
"Lha kok malah tanya Dino? Mana Dino tahu?" Sahut Dino sambil mengangkat kedua bahunya.
"Karena sebelum-sebelumnya kamu selalu tahu kemana mbakmu itu pergi." Ujar papa Rendra yang diangguku mama Rina.
"Tapi kali ini Dino beneran nggak tahu pa... Mungkin saja masih di dalam kamarnya." Ujar Dino yang sepertinya memang benar-benar tidak tahu kemana perginya kakaknya itu.
"Enggak mungkin Wangi ada di sana, lha wong mama tadi sudah cari di kamarnya tapi tidak ada." Sahut mama Rina yakin.
"Atau mungkin sudah nunggu di teras rumah seperti kemarin itu, coba Din kamu lihat ke depan siapa tahu mbakmu sudah stand bye di sana." Titah sang papa yang langsung dijalankan oleh Dino. Namun tidak lama kemudian Dino kembali dengan menggelengkan kepalanya.
"Mbak Wangi-nya nggak ada pa." Ujar Dino.
"Terus itu anak kemana? Itu anak sudah gede, sudah mau nikah masih saja bikin bingung dan khawatir orang tua. Sudah jam segini lagi, keluarga Admaja pasti sudah menunggu." Gerutu mama Rina yang geram dengan kelakuan putri semata wayangnya itu.
Ceklek..!!
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dari arah kamar Wangi dan keluarlah Wangi dengan balutan dress batik selutut tanpa lengan dengan krah leher model Shanghai sangat cantik dengan rambut yang dihias menggunakan sugar bermotif bunga berwarna marun senada dengan warna batiknya.
"Lho... Kok kamu keluar dari kamar?" Tanya mama Rina yang merasa heran Wangi keluar dari kamarnya karena dia tadi sudah memastikan jika putrinya itu tidak berada di dalam kamarnya.
"Kan dari tadi Wangi memang ada di kamar ma." Sahut Wangi dengan wajah tanpa dosanya.
__ADS_1
"Enggak mungkin! Mama yakin tadi mama sudah ngecek kamu di kamar dan mama tidak melihat kamu di dalam sana." Mama Rina kekeh pada keyakinannya bahwa dia benar-benar tidak melihat Wangi di kamarnya tadi.
"Owhh... Tadi Wangi lihat kok pas mama masuk celingak-celinguk di dalam kamar Wangi seperti nyari sesuatu." Kata Wangi dengan santainya.
"Ya nyari kamu itu! Tapi mama tidak lihat kamu, terus kok kamu bisa lihat mama? Kamu nggak ngilmu yang macem-macem kan Wang?" Tanya mama Rina curiga, putrinya yang tak terlihat tadi kok bisa melihat dia saat itu.
"Mama sembarangan deh kalau ngomong, gini-gini Wangi masih takut sama Tuhan, masa dibilang ngilmu?" Ujar Sangi seraya mengerucutkan mulutnya.
"Ngilmu menghilang tapi gak bisa balik hahaha..." Seloroh Dino nengejek kakaknya yang langsung mendapat jitakan dari Wangi di kepalanya.
"Aduhh sakit!!" Seru Dino yang hanya mendapat juluran lidah dari Wangi.
"Sudah-sudah kok malah berantem gini? Terus tadi kamu ada dimana waktu mama nyari di dalam kamar?" Kali ini papanya yang bertanya.
"Hehe... Di atas lemari baju pa." Jawab Wangi dengan cengiran tanpa dosanya. Mendengar jawaban Wangi mama dan papanya langsung tepok jidat, sedangkan Dino malah tertawa terbahak-bahak.
"Terus kamu ngapain di atas lemari Wangi...? Mau latihan jadi monyet? Anak perempuan kok hobby-nya manjat?! Nggak pohon mangga, nggak lemari, besok apa lagi Wangi Prameswari?" Omel mama Rina yang tidak habis pikir punya anak gadis satu-satunya tingkahnya hiperaktif.
"Nyari ini ma di dalam kardus yang aku taruh di atas lemari." Jawab Wangi sambil menunjuk sunggar bermotif bunga yang terselip di sisi rambut sebelah kirinya.
"Ya ampun Wangi... Kenapa aksesoris rambut kamu simpan di dalam kardus? Di atas lemari pula. Bukannya disimpan di atas meja rias, ckckk..." Mama Rina berdecak sambil geleng-geleng kepala tidak mengerti apa sesungguhnya yang ada di dalam otak cerdas putrinya itu.
"Ya Wangi pikir akan gak berguna untuk dipakai jadi Wangi singkirkan." Kilah Wangi begitu saja.
"Mama belikan itu ya buat dipakai bukan untuk disingkirkan, ada-ada saja kamu." Sahut mama Rina yang masih saja mengomel.
"Sudah mama ngomelnya nanti saja, ini sudah jam berapa? Nanti kita benar-benar terlambat lho..." Ujar papa Rendra sambil menunjuk jam tangannya.
"Aduh! Gara-gara Wangi mama sampai lupa, ya sudah ayo kita berangkat sekarang!" Mama Rina langsung tepok jidat setelah mengingat kalau mereka harus cepat-cepat berangkat menuju rumah Ridwan Admaja.
"Lhaa... Aku lagi yang salah." Gerutu Wangi yang tidak digubris oleh mama papanya, hanya Dino yang masih terkikik melihat tontonan gratis tadi. Melihat kakak perempuannya yang kena semprot sang mama menjadi hiburan tersendiri buat Dino.
__ADS_1
Setelah kurang lebih dua puluh lima menit perjalanan akhirnya rombongan Wangi sampai juga di rumah kediaman keluarga Admaja. Mereka disambut dengan hangat oleh sang pemilik rumah yaitu Ridwan Admaja beserta istrinya Ratna dan juga tidak ketinggalan Galih Admaja. Khusus malam ini Galih akan menginap di rumah orang tuanya dan tidak kembali ke asramanya, tentu saja dia sudah mengantongi ijin sang Komandan Rendra calon mertuanya.
"Assalamu'alaikum..." Papa Rendra memberi salam yang langsung dibalas oleh sang tuan rumah.
"Wa'alaikumsalam... Monggo silahkan masuk, silahkan duduk anggap saja rumah sendiri." Ucap Ratna mempersilahkan tamunya.
"Terimakasih jeng Ratna, bagaimana kabar jeng Ratna dan mas Ridwan? Sehat to?" Sahut Rina sembari menanyakan kabar calon besannya itu yang disertai dengan cipika-cipiki kebiasaan para perempuan.
"Alhamdulillah jeng, kami sekeluarga sehat, mas Ridwan semakin hari juga semakin pulih kesehatannya." Jawab Ratna dengan senyum terpancar di wajahnya.
"Iya dek Rina, saya sudah merasa jauh lebih sehat. Lihat! Saya sudah tidak pakai kursi roda lagi, meski diganti pakai tongkat buat membantu jalan tapi ini lebih baik daripada harus duduk di atas kursi roda." Ungkap Ridwan yang bangga karna sudah tidak pakai kursi roda lagi.
"Syukurlah kalau gitu, aku jadi ikut senang melihatnya." Kata Rendra sambil menepuk-nepuk pundak Ridwan sahabat karibnya tersebut.
"Duuhh... Wangi tambah hari tambah cantik saja ya, gimana Galih tidak berkedip sekalipun dari tadi." Ujar Ratna yang sedikit menggoda dua anak muda yang tengah hangat-hangatnya menjalin asmara.
"Ahh tante bisa aja..." Sahut Wangi malu-malu.
"Memang benar cantik kok, iya kan Galih?" Goda sang mama Ratna lagi.
"Iya, cantik." Sahut Galih yang tidak melepaskan pandangannya pada Wangi.
"Tuhh... Galih juga setuju." Ujar Ratna menimpali.
"Cantik tapi suka manjat lem..." Wangi langsung membungkam mulut Dino dengan sepotong kue bolu yang paling besar sebelum adik usilnya itu membuka mulutnya lebih lebar lagi untuk mengungkap aibnya itu dihadapan kekasih dan keluarganya.
"Hehe... Maaf tante, sepertinya Dino suka banget dengan kue bolunya." Ujar Wangi sambil meringis canggung, sementara Dino hampir tersedak karena kue bolu yang tiba-tiba dijejalkan ke dalam mulutnya.
"Ya ampun Dino manis sekali... Makan saja sayang, di dalam masih banyak kok." Dino hanya mampu menganggukkan kepalanya tanpa dapat menjawab dengan kue bolu yang penuh di dalam mulutnya.
Bersambung...
__ADS_1