
Setelah hampir dua jam akhirnya operasi caesar yang mereka lakukan selesai. Operasi yang seharusnya selesai dalam waktu kurang lebih satu jam itu harus selesai lebih lama karena ada kendala waktu melakukannya. Setelah bayi berhasil dikeluarkan, sang ibu sempat mengalami gagal jantung karena tekanan darah yang sempat naik dan kehilangan banyak darah, namun syukurlah semua itu dapat dilewati karena peran Tuhan dan para dokter yang begitu sigap menanganinya sehingga bayi dan sang ibu dapat diselamatkan.
"Uhh ya ampun... Bayi yang tampan, tunggu sebentar di sini ya sayang... Mamamu mungkin sebentar lagi akan sadar." Bayi kecil dalam incubator yang masih merah itu menggeliat ketika Wangi mengajaknya bicara, seolah mengerti apa yang dikatakan Wangi padanya.
"Astaga! Apa kau mengerti dengan ucapanku? Oh.. Good boy!" Wangi begitu semangat dan tersenyum bahagia ketika melihat bayi mungil itu.
"Ternyata Dokter Wangi sangat suka sekali dengan anak kecil." Ucap Zahara ketika melihat Wangi yang sedang asyik memandangi bayi dalam incubator yang baru saja mereka selamatkan itu.
"Ralat! Bukan anak kecil tapi bayi." Ujar Wangi.
"Jadi kalau anak kecil tidak suka? Hanya bayi?" Tanya Zahara yang terlihat heran dengan pernyataan Wangi barusan.
"Bukannya tidak suka yang gimana-gimana, hanya saja bayi lebih menggemaskan dibanding anak kecil. Mereka terlihat imut dan menggemaskan sampai usia TK mungkin? Selebihnya mereka terkadang berubah menjadi makhluk kecil yang menyebalkan, meski tidak semua sih..." Ujar Wangi yang tiba-tiba teringat dengan Dino, adik semata wayangnya. Saat mamanya mengandung Dino, Wangi sangat antusias akan kelahiran aduknya itu. Wangi merasa akan mendapat teman baru meski usia mereka terpaut jarak yang jauh. Dino begitu menggemaskan dan begitu patuh keti dia masih balita namun semakin dia tumbuh, adiknya itu semakin menyebalkan dan selalu saja membuatnya marah karena keusilannya.
"Pfft.. Sepertinya itu pengalaman pribadi..." Tebak Zahara sambil tersenyum geli.
"Ya... Karena kami punya satu yang seperti itu di rumah." Jawab Wangi sambil tersenyum.
"Tapi terkadang anak-anak seperti itulah yang sering membuat rindu." Kata Zahara.
"Ya, itu benar. Terlebih disaat terpisah jauh seperti ini." Sahut Wangi yang tiba-tiba jadi merindukan adik tengilnya itu.
"Oh ya, sepertinya kita belum berkenalan secara resmi. Saya Wangi Prameswari, spesialis bedah umum dari Rumah Sakit Universitas Yokyakarta. Mohon bantuannya Dokter Zahara." Ucap Wangi seraya menyodorkan tangan kanannya.
"Saya Zahara Khumaira, spesialis kardiotoraks dari Rumah Sakit TNI Yogyakarta." Jawab Zahara sambil menyambut uluran tangan Wangi.
"Waahh... Ternyata kita sama-sama dari Yogya, tadinya aku kira anda adalah dokter kandungan karena anda lihai sekali menangani wanita hamil." Ujar Wangi.
"Haha kamu bisa saja, di sini sangat sulit mendapatkan dokter kandungan, hanya ada di Rumah Sakit kota yang jaraknya cukup jauh dari sini, itupun hanya ada dua dokter dari dua Rumah Sakit yang masih beroperasi dan jika tadi kita bawa ibu itu kesana mungkin mereka berdua (ibu dan bayi) tidak akan selamat. Untung di sini ada anda dan Dokter Lukman serta seorang bidan yang bisa membantu." Ucap Zahara.
"Dan untungnya lagi ada satu dokter anastesi yang ikut dalam rombongan kami." Tambah Wangi.
"Ya, ibu itu dan bayinya sungguh beruntung." Sahut Zahara.
"Oh ya, karena kita akan bekerja sama ke depannya, bagaimana kalau kita berbicara santai saja? Panggil saja aku Zahara." Ucap Zahara dengan senyumnya.
"Kalau begitu panggil aku Wangi." Balas Wangi yang juga tersungging senyum di bibirnya.
"Baiklah...Sudah disepakati, Wangi."
__ADS_1
Setelahnya mereka berdua tertawa bersama sampai Lukman datang menghampiri.
"Maaf karena telah menggangu keakraban kalian, hanya saja saya mau mengatakan jika sang ibu sudah sadar." Ucap Lukman.
"Hahh... Syukurlah, lalu bagaimana keadaannya?" Tanya Wangi.
"Sejauh ini baik-baik saja, alat vital dan lainnya normal, sekarang sedang bersama bidan Tiara dan suster Anne." Jawab Lukman.
"Dia wanita yang kuat." Sahut Zahara dengan senyum lebarnya.
"Hey boy! Sebentar lagi kamu bisa bertemu dengan mamamu, dia wanita yang hebat." Ujar Wangi pada bayi yang ada di incubator.
Akhirnya semua kecemasan di hari itu telah teratasi. Rimar si ibu bayi akhirnya dapat melihat bayinya meski masih belum bisa menggendongnya, karena bayi kecilnya yang terlahir prematur masih harus dirawat di dalam incubator. Namun terlihat jelas ada pancaran kebahagiaan di matanya saat memandang buah hatinya dan suaminya juga senan tiasa ikut menjaganya. Hingga saatnya malampun tiba... Seperti biasanya mereka akan makan malam bersama dan Wangi CS akan selalu berkumpul bersama. Namun saat itu Zahara datang dan ikut bergabung bersamanya.
"Permisi... Saya boleh gabung di sini?" Tanya Zahara sambil membawa nampan makanannya.
"Ck, makin tambah rusuh aja." Gumam Elias dengan decakannya yang masih bisa di sengar oleh lainnya.
"Dasar laki-laki dingin, tidak berubah dari dulu." Sahut Zahara.
"Lho... Kalian berdua sudah kenal dari dulu?" Tanya Wangi yang merasa heran dengan interaksi antara Elias dan Zahara.
"Wahh... Dunia ternyata sempit ya? Dan sepertinya kalian berdua cukup akrab." Ucap Lukman.
"Tidak!"
"Iya."
Elias menjawab tidak dan Zahara menjawab iya secara bersamaan.
"Woah... Ternyata kalian benar-benar akrab." Ujar Wangi sambil tersenyum melihat Elias dan Zahara yang ada di depannya bergantian.
"Aku kan sudah jawab tidak." Tegas Elias.
"Hei Elias! Kau benar-benar teman durhaka berhati dingin, dulu siapa yang pernah curhat soal cinta pertama yang... Ehmm..!"
"Ha.. haha... Sepertimya dia terlalu lelah sampai ngomongnya ngawur." Ujar Elias sambil membungkam mulut Zahara dengan tangannya.
"Saya rasa Dokter Wangi dan Dokter Lukman benar, mereka berdua sangat dekat sampai saling curhat segala." Ujar Anne yang langsung diangguki Lukman dan Wangi sambil menatap Elias dan Zahara yang berusaha melepas bungkaman tangan Elias.
__ADS_1
"Haha... Kalian tidak usah percaya, aow!!" Elias langsung melepas tangannya dari mulut Zahara setelah gigitan Zahara mengenai tangannya.
"Dasar cewek gila! Sakit tau?!" Seru Elias.
"Kamu yang sinting! Punya sodara gini amat." Sahut Zahara kesal.
"Saudara?!!" Seru Wangi, Lukman, Anne bersamaan.
"Yah... Meski berat harus aku akui kalau kami adalah saudara kembar." Ungkap Zahara yang membuat Elias langsung meraup wajahnya sendiri.
"Apa?! Kembar?!" Mereka bertiha kembali dikejutkan fakta yang barusan mereka dengar.
"Sejak kapan Dokter Elias kembar?" Lukman masih shock dengan apa yang dia dengar barusan.
"Tentu saja sejak lahir pe'a..!!" Wangi langsung menjitak kepala Lukman atas pertanyaannya yang konyol.
"Sudahlah itu tidak penting! Jadi... Apa Elias sudah menyatakan cintanya pada juniornya yang bernama Wang Wang?" Tanya Zahara antusias.
"Zahara pleas..." Ucap Elias.
"Emangnya ya dokter di tempat kita yang namanya Wang Wang?" Tanya Lukman dengan wajah bingungnya.
"Ehm... Mungkin bukan dokter di tempat kita, nama itu gak ada." Sahut Wangi dengan rasa was-was takut rahasianya bersama Elias terbongkar.
"Masa sih? Kata Elias gitu kok, ya kan El?" Tanya Zahara pada Elias.
"Gak usah ngasal deh... Aku gak pernah cerita kayak gitu ya sama kamu." Ujar Elias mengelak.
"Ihh wong kamu yang bilang gitu dulu." Sahut Zahara.
"Dibilangin kok ngeyel! Mending kamu makan aja dulu nih.. Makan yang banyak biar gak gampang sakit." Elias langsung menyuapkan sepotong ayam goreng yang sudah dicocol sambal ke mulut Zahara untuk membungkam mulut kembarannya itu. Sementara yang lainnya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua saudara kembar itu.
Setelah menyelesaikan makannya, Wangi memilih untuk masuk ke pusat medis terlebih dahulu untuk mengecek keadaan pasiennya. Disaat Wangi hendak masuk ke ruang medis sebuah tangan meraih pergelangan tanganbya dan menariknya ke tempat yang agak sepi.
"Galih?!"
"Wangi, kita harus bicara."
Bersambung....
__ADS_1