
POV Wangi
Sepanjang perjalanan pulang kami berdua hanya diam. Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran Galih saat ini. Mungkin dia masih shock setelah mengetahui penyakit yang diderita oleh papanya sehingga terlalu banyak pikiran di benaknya saat ini dan memilih untuk diam. Atau mungkin dia sedang marah padaku? Secara aku termasuk di dalam tim dokter yang menangani operasi papanya namun tidak mengatakan apapun padanya. Tapi itu juga bukan salahku kan? Siapa yang tahu jika dia adalah putranya om Ridwan dan tante Ratna? Ahh... Mengapa aku baru sadar sekarang? Admaja. Ya, nama belakang mereka sama-sama Admaja tapi kenapa aku lupa akan hal itu?
Aku meliriknya sekilas, pandangannya hanya fokus ke arah jalan. Sungguh aku ini bukan tipe orang yang nyaman dengan kesunyian. Tapi aku juga bingung harus memulai dari mana untuk membuka mulutku yang sudah gatal ini.
"Ehm... Galih..."
Tidak ada jawaban dari dia. Apa suaraku tidak kedengeran dari jarak sedekat ini? Atau dia beneran marah padaku?
"Galih... Lih... Galih!"
Upss! Aku gak bentak dia kan? Tapi dia langsung bereaksi dan menengok ke arahku sekilas dengan wajah terkejutnya.
"Ha?! Eh, ada apa?" Tanyanya dengan muka yang kebingungan.
"Saya manggil kamu dari tadi tapi kamu diam saja, kamu marah sama saya?" Tanyaku.
"Marah?" Dia balik tanya seakan pertanyaanku barusan itu aneh. Dan akupun hanya mengangguk saja.
"Kenapa saya harus marah?" Tanyanya lagi.
"Mungkin karena saya tidak bilang apapun padamu tentang kondisi om Ridwan?" Tebakku.
"Itu kan bukan salahmu, kamu tidak tahu jika beliau adalah papa saya." Jawabnya.
"Tapi mengapa kamu mendiamkan saya sepanjang jalan dan diam saja ketika saya panggil?" Akhirnya berontak juga mulutku ini.
"Maaf, tadi saya benar-benar tidak mendengarnya. Tadi saya sedang...sedikit melamun." Terangnya dengan nada yang merasa tidak enak.
"Apa?! Kamu melamun disaat menyetir begini? Itu bahaya tau...?! Kamu bukan bawa nyawa kamu saja lho!"
Aku tahu dia sedang banyak pikiran saat ini. Tapi melamun disaat menyetir dan membawa nyawa orang lain bersamanya itu membuatku tidak habis pikir. Aku kira dia termasuk orang yang berpikir rasional dan tidak membawa perasaan pribadi di saat bekerja. Apakah Galih yang terlihat tangguh ini memiliki perasaan yang lemah begini?
"Maaf, saya tidak akan mengulanginya lagi." Katanya.
__ADS_1
"Itu harus!" Tegasku padanya.
"Saya tahu kamu sedang banyak pikiran, tapi saya juga tidak ingin mati konyol hanya karena perasaan pribadimu." Tambahku untuk mengingatkannya.
"Iya saya mengerti, sekali lagi saya minta maaf." Katanya lagi dengan nada penuh penyesalan.
"Baik, saya maafkan."
"Terimkasih." Dan Galih pun kembali diam tapi kali ini matanya lebih fokus daripada tadi saat dia masih melamun.
Ahh, kenapa saat ini aku malah seperti Elias ketika sedang memarahiku? Apa gara-gara efek setiap hari bersamanya ya? Coba saja jika yang menyetir di sampingku ini adalah Koko, mungkin sudah aku gablok pundaknya bertubi-tubi sambil memaki-makinya karena membahayakan nyawa orang lain. Tapi masalahnya itu di bukan Koko melainkan Galih, cowok kaku berwajah datar dan bernada dingin jika bicara. Apa sebenarnya papa sengaja menaruh Galih disisiku karena dia adalah anak dari sahabatnya? Argghh... Papa! Seharusnya tidak begini juga, seharusnya papa memilih orang yang paling tidak bisa tersenyum dan tidak kaku seperti dia, kan tidak semua tentara sekaku dia kan? Arghh... Masa bodohlah! Pokoknya nanti sesampainya di rumah aku harus minta penjelasan dari papa. Aku merasa papa punya suatu rencana tersembunyi, karena tidak mungkin papa tiba-tiba memberiku sopir pribadi yang notabene adalah bawahannya sendiri dan sekaligus anak sahabatnya tanpa ada maksud yang jelas kan? Dasar orang tua licik! Fix aku bakalan marah jika memang dugaanku benar.
Karena rasa lelah yang dibumbui dengan pikiran yang macam-macam, tanpa aku sadari mobil ini sudah berhenti di depan pintu pagar rumahku. Dan suara Galih yang menyadarkanku kali ini.
"Sudah sampai." Katanya memberi tahuku.
"Ah, iya." Jawabku sambil setengah celingukan seperti orang linglung.
Kulihat Galih akan mengikutiku untuk turun dari mobil namun segera aku cegah.
"Saya bisa jalan kaki ke asrama, lagi pula dekat hanya berbatas tembok rumah ini." Tolaknya.
"Tidak apa-apa bawa saja mobilnya, biarpun terlihat dekat saya tahu jalan menuju ke dalam sana begitu jauh." Pungkasku.
"Saya sudah terbiasa jalan." Galih masih tetap menolak tawaranku.
"Saya tahu kamu itu kuat, tapi tetap saja sekuat-kuatnya manusia masih punya rasa lelah dan saya bukan tipe orang yang suka mengabaikan keadaan orang yang bekerja dengan saya." Akupun tidak mau kalah ngotot dengannya.
"Tapi..."
"Saudara Galih, anda tahu kan saya ini seorang dokter? Saya tahu kamu sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja, wajah kamu sedikit pucat, jadi tolong kali ini jangan membantah saya. Lebih baik kamu segera pulang dan beristirahat, jangan lewatkan makan malam meski sudah terlambat. Dan ini..." Aku memberinya vitamin yang biasa aku bawa di dalam tas kerjaku.
Aku melihatnya mengerutkan dahinya, sepertinya dia bingung kenapa aku memberinya vitamin itu.
"Itu vitamin untuk daya tahan tubuh, minumlah setelah kamu makan malam ini dan segeralah istirahat sesudahnya." Terangku padanya. Dia ingin menjawab ucapanku namun langsung saja aku mendahuluinya berbicara.
__ADS_1
"Saya tidak butuh penolakan dan saya tidak suka dibantah." Tegasku pada Galih. Akhirnya dia menyerah juga, mungkin dia sudah lelah berdebat denganku.
"Terimakasih." Ujarnya.
"Sampai besok." Balasku dengan mengangguk dan langsung keluar dari dalam mobil.
Seperti biasa, Galih akan menungguku masuk ke dalam rumah sebelum dia benar-benar pergi, sama ketika dia menungguku masuk ke dalam Rumah Sakit ataupun kampus saat mengantarku setiap paginya. Terlepas dari sikap kakunya, dia mungkin akan menjadi pasangan yang begitu bertanggung jawab dan perhatian. Ahh! Ya ampun Wangi.... Apa yang sekarang kamu pikirkan? Tidak mungkin kan aku akan berpasangan dengan pria kaku seperti Galih itu?! Ya... Gara-gara terlalu lelah jadi memberikanku efek yang tidak masuk akal begini.
POV Wangi off
.
.
Wangi melepas sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu yang berada tepat di samping pintu rumahnya dan kemudian membuka pintu rumahnya sembari berseru memberi salam dengan suara lelahnya.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam... Kok kamu malam sekali pulangnya? Tidak terjadi apa-apa kan sama om Ridwan?" Tanya mama Rina yang tergopoh-gopoh menghampiri putrinya yang baru pulang kerja itu.
"Tenang ma, om Ridwan baik-baik saja, lagian ada dokter jaga selama 24 jam jika terjadi apa-apa." Jawabku sambil menghempaskan bokongku di sofa ruang tamu.
"Huff... Syukurlah kalau begitu. Tapi kamu kok malam begini pulangnya? Nih lihat muka kamu ini sudah gak karuan jeleknya, kantong mata kamu sudah benar-benar kaya panda, bibir juga pecah-pecah, rambut apa lagi ini? Berantakan begini. Kalau dokternya seperti ini yang ada pasiennya pada kabur." Cerocos mama Rina yang mulai menceramahi putri satu-satunya itu dengan omongan pedasnya.
"Udah deh ma, Wangi capek banget ini, jangan dihujat terus dong... Suka banget ngejulidin anak sendiri." Ujar Wangi dengan muka yang ditekuk.
"Habisnya kamu kucel banget, gimana ada cowok yang mau kalau kaya gini. Badan dirawat dong Wangi, jangan kerja mulu." Cerocos mamanya lagi.
"Iya, iya... Wangi sekarang beneran capek ma, ini tadi habis nungguin Galih ngejenguk orang tuanya." Terang Wangi.
"Galih sudah tahu?" Suara papanya, Rendra tiba-tiba datang dari ruang tengah.
"Iya, tapi penjelasannya nanti saja, Wangi beneran capek sekarang, dan Wangi juga menuntut penjelasan dari papa! Sekarang Wangi mau istirahat dulu." Ujar Wangi seraya bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamar tidurnya.
Rendra hanya bisa diam saja mendengar penuturan anak perempuannya itu. Dia sudah tahu cepat ataupun lambat dia harus memberi tahukan semuanya pada Wangi. Dan mungkin sekarang adalah waktunya.
__ADS_1
Bersambung....