Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 27 Apakah Aku Sudah Terlambat?


__ADS_3

"Ya Tuhan... Bagaimana bisa aku mengabaikan perasaanku jika kamu seperti ini Wangi?" Gumam Elias sambil menutupi matanya dengan sebelah lengannya ketika pintu ruangan itu telah tertutup kembali.


Selang beberapa saat pintu ruang istirahat tersebut terbuka kembali.


"Kenapa kembali? Apa ada yang ketinggalan Dokter Wangi?" Ucap Elias tanpa menyingkirkan lengannya yang menutupi matanya ketika mendengar suara pintu terbuka kembali.


"Wahh... Ternyata Dokter Wangi benar-benar datang merawatmu ya kawan?" Suara Dokter Sandy yang terdengar menyahutinya membuat Elias langsung membuka mata dan menyingkirkan lengan tangannya.


"Sandy?!" Seru Elias dengan keterkejutannya.


"Iya ini aku, kenapa? Kaya kecewa banget karena buka Wangi yang datang." Ejek Sandy pada sahabatnya itu.


"Sialan!" Umpat Elias.


"Mendengar umpatanmu itu sepertinya Wangi berhasil merawatmu dengan baik." Ejek Sandy dengan sindirannya sembari tersenyum smirk.


"Banyak bacot kamu!" Ujar Elias geram sembari memiringkan tubuhnya memunggungi Sandy.


"Wahh... Sepertinya kamu benar-benar sudah sembuh El, memang benar jika dirawat oleh tangan orang terkasih itu obat manapun tidak akan ada bandingnya." Sandy masih terus saja berceloteh menggoda Elias yang kini sudah mulai risih dan membuat kepalanya semakin berdenyut labih keras.


"San, mending kamu pergi saja deh... Yang ada kepalaku tambah sakit jika mendengar ocehanmu yang unfaedah itu." Gerutu Elias mencoba mengusir dokter somplak yang sialnya adalah sahabat satu-satunya itu. Elias tidak habis pikir bagaimana bisa gadis-gadis di luar sana sangat mengidolakan Sandy tanpa tahu sifat aslinya yang menyebalkan itu.


"Ckck... Kamu itu terlalu dingin dengan sahabatmu ini yang sudah membantumu, seharusnya kamu berterimakasih dong sama aku." Kata Sandy dengan pongahnya sambil melipat kedua lengan tangannya di depan dadanya.


"Hah?! Buat apa? Justru kamu tuh berisik banget di depan orang sakit, ganggu!" Ujar Elias yang masih berharap Sandy bergegas pergi dari hadapannya agar dia dapat melanjutkan tidurnya.


"Tentu saja kamu harus melakukan itu, kalau bukan karena aku mana mungkin Wangi akan datang memberikan perawatan eksklusifnya padamu kawan." Ungkap Sandy dengan bangganya.


"Maksudmu apa?" Elias yang penasaran langsung membalikkan tubuhnya menghadap Sandy.


"Ahh akhirnya kamu melihatku juga..."


"Ck... Maksudmu apa tadi?" Elias segera memotong ucapan Sandy sebelum lelaki itu berbicara hal yang lain lagi.


"huufft..." Sandy membuang napasnya sesaat tanda dia menyerah pada Elias.


"Tadi pagi aku yang mengatakannya pada Wangi jika kamu sakit dan aku juga memintanya untuk mengecek keadaanmu." Ungkap Sandy.


Mendengar pengakuan Sandy membuat Elias tertegun sesaat dan langsung meraup wajahnya dengan tangannya sendiri. Elias sedikit kecewa karena perhatian sesaat Wangi tadi karena permintaan Sandy dan murni sebagai dokter terhadap pasiennya.

__ADS_1


Akhirnya Elias turun dari tempat tidurnya, membereskan beberapa barangnya yang ada di sana. Sandy yang melihatnya setengah kebingungan dengan sikap Elias.


"Kamu mau kemana?" Tanya Sandy penasaran.


"Pulang." Jawab Elias singkat.


"Lha kok pulang? Kan kamu masih sakit?" Ujar Sandy yang merasa heran kenapa tiba-tiba Elias mendadak ingin pulang.


"Kalau di sini terus yang ada aku malah tambah parah dengerin bualan kamu." Ucap Elias sarkas.


"Yaelah bro... Gitu aja ngambek." Sahut Sandy.


"Aku cuma mau istirahat di rumah saja." Ujar Elias.


"Ya sudah biar aku antar deh, jangan nyetir sendiri, mobil kamu biar di sini saja." Tawar Sandy pada Elias.


"Gak perlu, aku sudah pesan taxi online." Tolak Elias.


"Kapan?" Tanya Sandy yang merasa heran pada Elias yang tiba-tiba sudah pesan taxi saja.


"Barusan." Jawab Elias sekenanya, sementara Sandy hanya bisa melongo saja.


"Aku bisa bawa sendiri, emang kamu gak kerja apa?" Ucap Elias.


"Udah santai saja, masalah kerjaan sudah dihendel sama junior, yang penting anter kamu dulu takutnya belum setengah jalan udah ambruk." Sandy berdalih.


"Aku gak separah itu kali." Sahut Elias seraya memutar bola matanya jengah.


"Udah gak usah bawel, yuk!" Sandy segera menuntun tangan Elias untuk segera keluar dari ruang istirahat tersebut, dan Elias hanya mampu berdecak saja menanggapi sahabat gesreknya itu.


Di sepanjang lorong Rumah Sakit mereka berjalan, kedua dokter tampan idola para hawa itu menjadi pusat perhatian. Dan itu membuat Elias menjadi risih akan tatapan serta pertanyaan orang-orang yang mereka kenal. "Ada apa Dok? Kenapa Dok? Dokter sakit?" Kira-kira seperti itulah pertanyaan orang-orang tersebut dan itu membuat kepala Elias bertambah pusing, kepalanya berdenyut namun dia harus tetap tersenyum menanggapi perhatian orang-orang meski senyuman itu terlihat canggung karena dipaksakan.


"San, bisa gak kalau tangan kamu itu gak usah megangin aku kaya gini? Aku masih bisa jalan mesti tanpa kamu tuntun." Elias merasa jengah dan juga malu, karena perhatian orang-orang tadi sedikit banyak karena ulah Sandy yang memperlakukan dirinya seperti kakek tua yang susah berjalan.


"Ya kan aku takutnya kamu tiba-tiba lemes trus jatuh." Sandy berdalih memberi alasan yang terdengar membagongkan di telinga Elias.


"Gak usah lebay, aku yang malu disini, aku gak mau orang-orang berpikiran kita ini LGBT." Ujar Elias asal namun ampuh membuat Sandy langsung melepaskan tangannya dari lengan Elias.


"Astaghfirullah... Najis! Aku masih normal kali El." Seru Sandy spontan.

__ADS_1


"Apa lagi aku, makanya jauh-jauh sana huss..huss..!" Elias mengibas-ngibaskan tangannya ke arah Sandy agar lelaki itu sedikit menjauh darinya.


"Sialan!" Umpat Sandy yang ditanggapi cuek oleh Elias.


Hingga akhirnya mereka berdua telah sampai di depan Rumah Sakit. Namun tanpa sengaja mata Sandy mengarah ke arah parkiran dan melihat Galih yang memasuki mobil Wangi. Sontak Sandy menepuk-nepuk pundak Elias tanpa mengalihkan pandangannya dari mobil Wangi yang di masuki oleh Galih. Ternyata Elias pun sedari tadi melihat apa yang dilihat Sandy.


"El, El... Lihat itu! Itu kan mobilnya Wangi, jadi dia yang selama ini mengantar jemput Wangi." Ujar Sandy tanpa sedikitpun melepas pandangannya pada mobil Wangi yang hendak keluar dari parkiran Rumah Sakit.


"Mengantar jemput Wangi?" Tanya Elias membeo.


"Lho... Memangnya kamu tidak tahu? Teman-teman yang lain saja pada tahu, sudah jadi rumor kali jika Wangi sekarang ini ada pawangnya." Ujar Sandy memberi info.


"Aku pernah lihat sekali waktu dia sedang diantar, aku pikir itu adalah saudaranya." Kata Elias tetap berpikir positif.


"Kali ini pasti kamu belum tahu, lelaki itu tadi pagi ikut Wangi ke dalam, entah ada urusan apa tapi kenapa hingga sekarang dia baru keluar ya?" Ucapan Sandy kali ini membuat dahi Elias berkerut seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu.


"Ya sudahlah kawan, tidak usah mikir yang macam-macam, mungkin benar kata kamu mungkin dia itu saudaranya, jadi gak usah cemburu gitu ya..." Sandy mencoba sedikit menghibur sahabatnya itu agar tidak berspekulasi macam-macam apalagi Elias saat ini sedang sakit. Bahaya kan jika tiba-tiba tambah parah karena stres mikirin yang tidak-tidak.


"Ck.. Ngaco! Siapa juga yang cemburu." Elias mengelak.


Din..din...!


Tiba-tiba sebuah mobil mendekat ke arah mereka sambil membunyikan klakson. Kaca jendela bagian depannya terbuka dan seorang lelaki menyapa mereka dari dalam mobil.


"Selamat siang, dengan mas Elias?" Sapa orang tersebut.


"Oh iya saya pak, sebentar ya pak?" Jawab Elias.


"Sudah dulu ya bro, aku pulang dulu, itu taxi aku sudah datang, thanks ya..." Ucap Elias berpamitan sambil mengambil tas ranselnya dari tangan Sandy.


"Okey hati-hati, met sembuh ya...Ntar malam aku mampir deh ke rumah." Balas Sandy yang dibalas lambaian tangan oleh Elias yang langsung berjalan menuju taxi dan masuk ke dalamnya begitu saja.


"Sudah pak, silahkan jalan." Ucap Elias pada supir taxi tersebut.


"Baik mas." Jawab sopir tersebut.


Begitu taxi berjalan Elias langsung memejamkan matanya, dia masih merasakan kepalanya yang berdenyut pening. Apalagi ucapan Sandy tadi ternyata mempengaruhi pikirannya saat ini.


"Ahh... Apakah aku sudah terlambat?" Gumam Elias dalam hatinya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2