Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 117 Mode Omelan On!


__ADS_3

"Aarrggghhh....!!" Teriak Galih ketika lukanya sengaja dipencet Wangi agak keras.


"Katanya luka kecil, kenapa teriakannya kenceng banget? Bahkan satu Rumah Sakit ini bakalan kedengeran." Sindir Wangi sarkas.


"Itu karena kamu memencetnya begitu keras." Sahut Galih membela diri.


"Keras?? Seperi ini?" Wangi mengulanginya lagi namun tidak sekeras tadi.


"Argh!!"


"Seperti ini?"


"Aoww!! Sudah sayang... aku ngaku salah, jangan dipencet terus, sakit..." Galih akhirnya menyerah dan memohon pada Wangi karena kekasihnya itu terus-terusan mengerjainya, membuatnya meringis kesakitan.


"Seharusnya jangan sok keren dan sok kuat dari awal. Luka sedalam ini dan harus dijahit kamu bilang luka kecil?! Masih untung tanganmu tidak putus! Atau kamu menunggu sampai putus baru kamu tahu jika luka seperti ini juga berbahaya?! Bagaimana jika belati itu beracun atau sudah karatan? Kamu mungkin sudah tidak bisa bangun lagi dari tempat tidur Rumah Sakit ini!" Wangi masih terus saja mengomel namun tangannya tetap gesit mengobati dan menjahit telapak tangan Galih yang terluka.


"Sayang... Kamu nyumpahin aku mati?" Tanya Galih sedikit shock.


"Iya!! Kamu lebih senang seperti itu kan? Kamu kan jagonya ninggalin orang sesuka hati. Kali ini jika kamu benar-benar tidak selamat, aku akan berpikir memacari orang lain!" Sahut Wangi dengan sangat kesal sekaligus menyindir Galih yang dulu seenaknya memutuskan untuk pergi dan meninggalkan dirinya.


"Ya ampun sayang... Tega banget ngomongnya." Ujar Galih memelas.

__ADS_1


"Tega mana sama kamu?!" Kalau sudah begitu Galih langsung kicep dan tidak mampu melawan Wangi.


"Memangnya kalau aku pergi, kamu mau macarin siapa yang?" Entah kenapa pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Galih yang terkenal memiliki otak paling waras diantara rekan-rekannya.


"Dokter Elias, maybe??" Jawab Wangi asal.


"Enak aja! Jangan bawa-bawa aku ya..! Aku sudah punya Wita tau!!" Seru Elias langsung ketika namanya tiba-tiba disebut. Sedari tadi pria itu sudah ada di sana membantu mengobati luka-luka kecil pada tentara yang terluka. Sebenarnya di dalam sana banyak orang yang melihat pertarungan kecil dua sejoli "GaWang" tersebut. Namun mereka semua memilih untuk tutup mulut tidak mau ikut campur dan hanya menontonnya saja. Lumayan kan ada live drama gratis, hehehe... Hingga nama Elias disebut, barulah dokter ganteng itu buka suara.


"Pfftt... Kamu sudah ditolak yang... Arrgghh!!" Berniat mengejek Wangi tapi itu adalah kesalahan, Wangi kembali menyentuh luka Galih yang sensitif.


"Ampun sayang... Aku nyerah, sekarang terserah kamu saja, aku nurut." Ujar Galih sambil meringis. Sebenarnya yang dipencet Wangi itu adalah luka memar di bagian bahunya yang kini tengah diobati, sedangakan luka di telapak tangannya sudah selesai dijahit dan tidak terasa sakit karena bius lokal. Bahu Galih terluka saat dirinya tak sengaja terbentur meja bar di Lamona ketika melawan Joshua. Ngomong-ngomong soal Joshua, dia kini sudah diamankan oleh tentara militer AS dan akan diproses hukum di sana karena dia masih warga negara sana serta posisinya sebagai buronan militer.


"Kamu sudah bilang begitu berarti ucapanmu tidak boleh ditarik lagi lho ya... Semua yang ada di sini adalah saksinya! Ya kaannn...??!!" Seru Wangi meminta dukungan dan alhasil semua berseru meng-iyakan.


"Teman kalian siapa sih??" Ujar Galih tak percaya dia tengah dikhianati, haha... Dan semuanyapun tertawa menertawakan kesialan Galih.


"Ehm... Dan pertama yang harus kamu lakukan adalah... Jangan coba-coba kamu keluar dari tempat ini sebelum dapat ijin dari aku!" Perintah Wangi dengan sangat tegas.


"Tapi aku harus melapor..."


"Sstt...!! Wangi memotong ucapan Galih.

__ADS_1


"Di sini Dokter lebih berkuasa atas pasiennya, jika pasien itu tidak boleh keluar ya tidak bisa keluar! Bahkan Presiden pun tidak bisa membantah diaknosa Dokter pada pasiennya. Jadi tuan pasien... Jangan coba-coba kabur! Atau..." Wangi menjeda ucapannya dan mengambil pisau bedahnya dan memainkannya di telapak tangannya sendiri. membuat Galih menelan ludahnya sendiri dengam susah payah.


"Dan mengenai laporan... Romero sudah mewakilkannya, jadi anda tidak usah khawatir tuan pasien..." Lanjut Wangi sambil membereska peralatan medisnya dibantu oleh suster Anne.


"Ah... Ngomong-ngomong soal Romero, dia sekarang ada dimana?" Tanya Galih yang dibalas Wangi dengan mengangkat bahunya.


...****************...


Sementara itu di tempat lain, Zahara yang baru saja menangani pasien over dosis kini tengah berdiri tepat di depan Romero dengan wajah garangnya.


"Kok dia kelihatan marah gitu sih? Aku kan sudah kembali dengan selamat... Jangan bilang aku bakalan diomeli kayak Galih." Batin Romero menerka-nerka.


"Sayang, aku kang..."


"Jelasin semuanya!"


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2