
Galih termangu melihat barak para relawan medis dari dalam jendela kamarnya. Dia masih shock dengan kedatangan Wangi diantara para rombongan relawan yang datang siang tadi. Seharusnya dia melihat daftar anggota relawan terlebih dahulu sebelum menyambut kedatangan mereka sehingga dia dapat mempersiapkan situasi seperti saat ini. Maksudnya adalah situasi hatinya saat ini. Baru kemarin dia mengatakan dalam hatinya jika dia sangat merindukan wanita yang mengembalikan tujuan hidupnya, wanita yang begitu dia cintai. Dan melihat Wangi tahu-tahu ada di depan matanya merupakan sesuatu yang seperti mimpi saja. Galih ingin menangis, ingin tersenyum, ingin memeluk Wangi sebagai bentuk kerinduannya selama ini. Namun dia hanya bisa diam terpaku tidak bisa melakukan semua yang dia inginkan saat ini, karena Galih begitu malu sekaligus merasa sangat bersalah. Pikiran Galih selama ini salah. Galih berpikir berpisah dengan Wangi adalah keputusan yang baik untuk wanita itu. Tapi Galih lupa jika Wangi adalah wanita kuat yang pemberani, dia akan melakukan apa saja yang ingin dia lakukan asal tidak merugikan orang lain, dia bisa menggertak bahkan membela diri jika seseorang berusaha menyakitinya. Dan apa Galih lupa siapa yang selama ini selalu memberinya motifasi disaat dirinya hampir kehilangan arah hidupnya? Galih menyesal, dirinya tidak habis pikir mengapa dia bisa melakukan hal yang sangat menyakitkan untuk Wangi yang dia cintai. Wangi bukan perempuan lemah seperti Sinar yang perlu selalu dia lindungi. Wangi bahkan berani mempertaruhkan keselamatannya untuk datang ke tempat bernahaya seperti ini. Galih sebenarnya sangat senang sampai jantungnya bertalu hebat melihat Wangi datang untuk menemuinya. Tapi apa benar Wangi datang sebagai relawan medis hanya demi untuk bisa bertemu dengannya?
"Apakah memang seperti itu? Apa Wangi jauh-jauh ke sini demi untuk bisa menemuiku? Tidak, tidak, tidak...! Wangi datang kemari untuk tujuan kemanusiaan, Wangi kan memang orang yang seperti itu. Dia adalah dokter yang perduli akan sesamanya, jadi aku tidak boleh terlalu percaya diri." Gumam Galih dalam hatinya.
"Haii...! Mikirin apa sih Lih?" Damar datang mengagetkan Galih dari lamunannya.
"Eh, bang! Bu..bukan apa-apa kok bang." Jawab Galih tergagap.
"Bukan apa-apa apanya? Wong aku lihat dari tadi kamu ngelamun sambil lihat ke luar jendela gitu, lihat apa sih?" Tanya Damar sambil ikut melihat ke luar jendela arah dimana pandangan Galih berada.
"Barak medis? Kenapa kamu lihatin ke sana terus? Kamu ingin memeriksakan kesehatan ke sana Lih? Tunggu saja sampai besok, mereka besok pagi akan memeriksa kesehatan semua anggota kita." Informasi yang dikatakan Damar barusan membuat Galih membelalakkan matanya.
"Pemeriksaan kesehatan? Bang Damar tahu dari mana?" Tanya Galih setengah tak percaya. Tapi jika itu benar maka dia kemungkinan akan bertatapan langsung dengan Wangi seperti yang telah terjadi siang tadi.
"Kenapa kamu kaget seperti itu? Bukannya hal yang bisa jika kita kedatangan relawan medis... Tapi aku tidak sengaja mendengarnya dari pak Komandan ketika beliau berbicara dengan ketua relawan medis." Jawab Damar.
"Ohh...begitu?" Sahut Galih dengan gelagat yang aneh di mata Damar.
"Kamu kenapa sih Lih? Semenjak kedatangan para relawan tadi sikap kamu berubah jadi aneh. Kamu lagi gak punya masalah kan?" Damar menjadi sedikit khawatir melihat kawannya itu bertingkah tidak seperti biasanya.
"Enggak kok bang, masalah apa sih? Masalah orang seperti kita yang jauh dari keluarga dan kerabat itu ya cuma satu. Kangen hehe..." Mendengan jawaban Galih itu membuat Damar geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Kangen Wangi maksud aku." Lanjut Galih dalam hatinya.
"Kalau itu sih tidak perlu ditanya lagi Lih... Ya sudah, mending kamu segera mandi sana mumpung kamar mandinya gak begitu antri, keburu orang-orang relawan mandi juga, sebaiknya kamu mandi duluan, keburu malam soalnya malam ini kita kan harus makan malam bersama para relawan sebagai bentuk penyambutan kita." Kata Damar mengingatkan.
"Iya bang, ini juga mau mandi." Sahut Galih.
"Ingat! Jangan ngelamun lagi ntar jauh dari jodoh lho..." Ujar Damar sedikit menggoda Galih yang kemudia pergi keluar entah kemana.
"Hahaa... Masak sih jauh? Lha orangnya sedekat ini." Sahut Galih bergumam lirih.
Setelah itu Galih pun menyambar handuknya sambil membawa perlengkapan mandinya dan keluar menuju kamar mandi. Ketika sampai di kamar mandi dia melihat kamar mandi yang biasa dia gunakandi tertutup pintunya dan terdengar suara kran air melaya dengan suara guyuran di dalam sana. Melihat sudah ada orang lain yang menggunakannya, akhirnya Galih menggunakan kamar mandi di sebelahnya yang masih kosong. Setelah menyelesaikan aktifitasnya di kamar mandi, Galih pun segera keluar namun tanpa diduga kamar mandi di sebelahnya juga terbuka bersamaan dengan keluarnya dirinya dari kamar mandi. Dan begitu Galih menengok ke arah kamar mandi sebelahnya, dia terkejut ketika orang yang keluar dari kamar mandi itu juga menengok ke arahnya dan mata merekapun kembali beradu.
"Wangi tung...gu." Ucapan Galih tertahan ketika seorang lelaki yang baru saja keluar dari kamar mandi yang berbeda langsung menghampiri Wangi dan mereka pun berjalan bersama menuju arah barak medis.
"Itu kan lelaki yang sama yang merangkul Wangi tadi siang? Lelaki itu terlihat tidak asing... Ah, aku ingat! Lelaki itu salah satu dokter di Rumah Sakit tempat Wangi bekerja tapi aku lupa namanya. El..? El.. hmm... El... Ya! Elias! Dokter Elias, dia senior Wangi. Apa hubungannya dokter itu dengan Wangi? Tidak mungkin mereka..."
Galih tidak mampu melanjutkan dugaan-dugaan yang ada di dalam hatinya. Tanpa dia sadari bahwa yang sesungguhnya tidak sanggup jika hatinya hancur adalah dirinya sendiri. Melihat Wangi akrab dengan pria lain membuat hatinya serasa ada yang retak.
Di sisi lain Wangi juga merasakan jantungnya bedegub begitu cepatnya.
"Dia sudah jauh Wangi, dia gak mbuntuti kita kok... Jadi kamu sudah bisa bernapas lagi." Ujar Elias yang melihat ketegangan di wajah Wangi.
__ADS_1
"Kak Elias pikir dari tadi saya gak bernapas gitu?! Mati dong saya?!" Sahut Wangi kesal.
Ya, semenjak mereka berdamai dengan hati masing-masing dan Elias sudah ada Wita yang mengisi hatinya, mereka berdua jadi lebih akrab tanpa kecanggungan lagi karena memang sudah tidak ada rasa di hati Elias untuk Wangi. Mereka berdua sepakat jika tidak ada orang lain akan berbicara secara santai. Elias akan menyebut nama saja jika memanggil Wangi dan sebaliknya karena Wangi adalah junior Elias, dia akan memanggil kakak atau kak Elias untuk Elias.
"Ya siapa tahu dari sana sampai jalan ke sini kamu tahan napas." Ujar Elias sarkas. Elias tetaplah Elias kalau tidak ngeselin jika sedang bicara.
"Sembarangan!!" Seru Wangi kesal namun lelaki menyebalkan itu malah tertawa. Tertawa mengejek maksudnya...
"Kan siapa tahu kamu tahan napas karena gak kuat nyium bau wangi dari badan Galih yang baru saja Wangi. Takut nyosor kan? Hahaha..."
"Sialan!! Pikir kakak aku ini cewek mesum apa?! Nyebelin dech!!" Sungut Wangi sambil mencak-mencak karena setengah dari omongan Elias ada benarnya. Kalau saja Wangi kilaf pasti dia bisa saja sudah nubruk Galih yang begitu hot setelah selesai mandi. Mata siapa yang nggak tersucikan melihat kesegaran alami itu, apalagi wanginya mana tahan. Dan satu hal lagi yang benar dari ucapan Elias. Wangi benar-benar nahan napasnya tadi.
"Pfftt... Hahaa... Sudah tubruk saja kalau gak kuat." Ejek Elias lagi.
"Dasar dokter sinting!!"
Wangi langsung menyabetkan handuknya ke arah Elias yang membuat dokter tampan itu lari menghindarinya. Dan tanpa mereka sadari sepasang mata memperhatikan mereka dari jauh.
Dari dalam hati Galih terdengar suara... 'Kretek, kretek...'
Bersambung...
__ADS_1