Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 41 Undangan Makan Siang


__ADS_3

Malam hari di kediaman keluarga Rendra kini sedang bersiap untuk makan malam seperti biasanya. Mama Rina baru saja selesai menggoreng ayam dan memanaskan kuah soto, pas sekali dengan suasana malam yang dingin karena saat ini di luar sana sedang hujan rintik-rintik. Tak lama kemudian papa Rendra datang bersama Dino menuju meja makan.


"Hmm... Bau kuah sotonya wangi banget, jadi semakin lapar saja ma." Ujar Dino sambil mengendus-endus aroma soto ayam yang masih mengepul dari pancinya.


"Ngomong-ngomong soal wangi, Wangi dimana? Masih di kamar?" Tanya mama Rina.


"Tadi waktu Dino ngintip kamarnya sih masih di sana, lagi rebahan." Jawab Dino.


"Kok gak kamu bangunin sih Din? Kan waktunya makan malam, bangunin sana gih!" Titah mama Rina pada si bungsu Dino.


"Ogah ah ma, ntar Dino kena semprot, mbak Wangi kan paling gak suka kalau tidurnya diusik, ntar Dino malah kena timpukan bantal sama guling." Tolak Dino yang membuat papa mamanya geleng kepala.


"Tapi ini kan sudah waktunya makan malam, kasihan mbakmu kalau sampai kelewatan makan, magnya bisa kambuh." Ujar mamanya yang tetap memaksa untuk membangunkan Wangi dari tidurnya.


"Sudah gak usah takut... Ntar kalau mbakmu ngereok, bilang kalau ini perintah dari papa." Ucap papa Rendra yang ikut membujuk Dino, alhasil Dino pun menurutinya dengan berat hati.


"Iya deh... Tapi tambah uang jajan ya besok pa?" Tawar Dino.


"Astaga ini anak nurun siapa sih perhitungan banget disuruh orang tua." Rendra tidak habis pikir anaknya kecil-kecil sudah bisa tawar menawar.


"Pasti nurun kamu itu pa, kalau mama kan kalem." Sahut mama Rina percaya diri.


"Kok jadi papa yang disalahin? Mama lupa dulu pertama kali kita bertemu mama sedang manjat buah jambu air dan melempar bijinya ke papa, hmm?" Langsung deh mama Rina diam seribu bahasa setelah suaminya mengungkit aib masa mudanya. Dino yang sudah biasa mendengar adu mulut, olok mengolok antara kedua orang tuanya memilih minggir sejenak dan pergi ke kamar Wangi untuk membangunkannya sesuai perintah sang mama.


Dino mengetuk kamar kakaknya, namun tidak ada jawaban dari Wangi. Dino pun membuka pintu kamar Wangi yang memang sengaja tidak dikunci dengan perlahan. Ternyata benar, Wangi sudah ngorok pulas di atas tempat tidurnya.


"Yahh... Ngorok ni nenek lampir." Ujar Dino yang kadang suka memanggil Wangi dengan sebutan nenek lampir karena sering bikin orang lain jengkel kalau penyakit jahilnya kumat.


"Bangunin gak ya? Kalau dibangunin ntar aku dapat serangan jurus bantal guling dadakan, kalau gak dibangunin ntar mama yang ngomel dan aku gak jadi dapat uang saku tambahan dari papa. Gimana ya?" Gumam Dino bingung dengan pilihannya antara membangunkan Wangi atau tidak.


"Bangunin aja deh... Ntar sebelum kena timpuk langsung kabur saja, yang penting uang jajan nambah hehe..." Gumam Dino lagi dengan pikiran liciknya.


"Mbak...mbak Wangi bangun! Disuruh bangun tuh sama mama papa." Seru Dino sambil menggoyang-goyangkan kaki Wangi agar kakaknya itu bangun, namun tidak ada respon dari Wangi dan hanya menggeser posisi tidurnya saja. Tidak ingin menyerah, Dino berusaha membangunkan Wangi lagi.


"Mbak bangun! Disuruh makan itu sama mama, cepet bangun!" Kali ini sedikit ada respon dari Wangi.


"Hmm... Ngantuk!" Jawabnya dengan mata yang masih tertutup rapat.


Tidak ingin tambahan uang jajannya hilang, Dino memutar otaknya dengan dengan sedikit trik liciknya.


"Mbak Wangi cepat bangun! Di luar ada mas Galih tuh!!" Seru Dino sedikit lebih keras agar nama Galih bisa terdengar jelas di telinga Wangi. Dan benar saja, trik licik Dino itu sangatlah ampuh untuk membuat mata Wangi yang tadinya merem rapet menjadi terbuka lebar selebar lebarnya.


"Ha?! Sumpah demi apa?! Galih beneran kesini?" Wangi langsung terduduk dari tidurnya dan menanyakan tentang kedatangan Galih ke Dino dengan wajah yang cukup panik.


Dino meringis dengan wajah kaku sambil mundur pelan-pelan.


"Mama sama papa sudah nunggu di meja makan, mbak Wangi disuruh makan, tentang mas Galih... Aku bohoong...!" Sambil berseru seperti itu Dino langsung lari keluar dari kamar Wangi disaat Wangi hendak melayangkan salah satu bantalnya.

__ADS_1


"Dinooo!! Awas kamu ya!!" Teriak Wangi dari dalam kamarnya.


Sedetik kemudian pintu kamarnya terbuka lagi dengan Dino yang cuma menongolkan kepalanya dari balik pintu.


"Ini perintah papa, disuruh cepat bangun!" Seru Dino dari pintu kamar Wangi.


Buk!! Brakk!!


Bantal Wangi melayang ke arah Dino bersamaan dengan pintu yang ditutup keras oleh Dino.


"Aarrgghh!! Nyebeliiinn!!" Teriak Wangi lagi dari dalam kamarnya.


Dino kembali lagi ke meja makan dengan napas yang ngos-ngosan karena lari dari kamar Wangi.


"Kok kamu ngos-ngosan gitu Din? Kaya habis lihat hantu saja." Tanya mama Rina yang heran melihat gelagat putra bungsunya itu.


"Emang baru lihat hantu, hii serem ma ada nenek lampir." Jawab Dino asal yang mengatai Wangi sebagai nenek lampir.


"Ckck... Kamu itu mbakmu sendiri dikatain." Ujar mama Rina yang tahu persis siapa yang dimaksud Dino nenek lampir.


"Terus mbak Wangi-nya mana? Ngapain tadi itu sampai teriak-teriak? Malam-malam kedengeran tetangga nggak enak lho, kirain ada apa-apa." Tanya papa Rendra seraya memperingatkan putra bungsunya itu.


"Habis mbak Wangi sih kebo banget tidurnya, susah dibangunin, ya sudah Dino kibulin. Eee... Dianya ngamuk, ya Dino lari deh." Ungkap Dino dengan santainya.


"Memangnya apa yang kamu katakan pada mbakmu itu?" Tanya papanya kembali.


Mama Rina dan papa Rendra langsung geleng-geleng kepala mendengar pengakuan Dino tersebut, namun sedetik kemudian mama Rina langsung tersenyum ke arah suaminya dan berbisik lirih ke arahnya.


"Pa, sepertinya pengaruh Galih untuk Wangi lumayan besar, semoga saja rencana kita nanti mulus ya pa..." Bisik mama Rina pada suaminya.


"Semoga saja ya ma." Balas papa Rendra dengan berbisik pula.


"Mama sama papa ngomongin apa sih kok bisik-bisik gitu?" Tanya Dino penasaran.


"Bukan apa-apa, sudah kamu makan duluan saja, nanti mbakmu biar nyusul." Ujar mama Rina mengalihkan jawabannya.


"Iya cepet makan habis itu kerjain PR kamu, besok papa tambah uang jajanmu." Tambah papa Rendra yang langsung disambut dengan girang oleh Dino.


"Beneran pa? Asyiiikk...!" Seru Dino dengan girangnya. Dan tidak lama kemudian Wangi datang dengan wajah bantalnya.


"Ni dia bu Dokter akhirnya bangun juga, gak biasanya tadi habis magrib langsung tidur." Tegur mamanya.


"Ngantuk banget ma, badan Wangi pegel semua, capek." Jawab Wangi dengan malas-malasan.


"Tapi meski gitu perut gak boleh kosong kalau waktunya makan ya makan, ntar bisa lemes lho bangun tidur, apalagi kamu punya mag." Tutur mama Rina menasehati.


"Iya ma, Wangi ngerti kok... Lagian tadi Wangi sebelum tidur sudah makan martabak manis, jadi lumayan keganjal." Ungkap Wangi.

__ADS_1


"Lho... Mbak Wangi beli martabak manis kok gak bagi-bagi sih sama Dino? Mbak Wangi pelit!" Ujar Dino merajuk.


"Siapa yang beli? Galih kok yang beliin tadi." Sahut Wangi yang tidak sepenuhnya salah, meski dia yang memesan martabak manisnya tapi Galih kan yang membayarnya.


"Ciee... Mentang-mentang mas Galih yang beliin jadi gak mau bagi-bagi." Ledek Dino dengan mencebikkan bibirnya ke arah Wangi.


"Masih tuh di kamar ada dua potong, makan saja sana." Ujar Wangi menimpali sindiran Dino.


"Ih cuma dua potong, pelit!!" Sindir Dino lagi.


"Daripada enggak, kalau gak mau ya sudah." Balas Wangi yang tidak mau kalah dengan adik kecilnya itu.


"Sudah-sudah... Kalian itu kalau kumpul selalu saja ribut! Enggak yang gede, enggak yang kecil, gak ada yang mau ngalah. Sudah sekarang makan aja yang anteng." Tegur papa Rendra pada kedua anaknya yang selalu bikin sakit kepala kalau sudah adu mulut begini.


"Iya pa..." Jawab mereka bersamaan. Kalau papa Rendra sudah angkat bicara kedua bersaudara itu tidak bisa lagi membantahnya.


Disela-sela makan malam mereka sang papa menyelipkan obrolan pada mereka.


"Wangi, gimana kuliah dan kerjaan kamu? Lancar?" Tanya papanya.


Setelah menelan makanannya Wangi pun menjawab, "Sejauh ini lancar kok pa..."


"Terus kira-kira kapan kamu menyelesaikan Residen kamu?" Tanya papanya lagi.


"Kalau semuanya lancar, mungkin dua tahun lagi bisa selesai dan ambil wisuda." Jawab Wangi lalu melanjutkan kembali makannya.


"Baguslah kalau begitu, papa do'akan semuanya berjalan sesuai harapan kamu." Ucap papa Rendra.


"Amin..." Semuanya mengamini kecuali Dino yang sudah keburu lari ke kamar Wangi untuk mengambil martabak manis yang tersisa setelah menyelesaikan makan malamnya.


"Oh ya papa ingin tahu jadwal kamu piket dokter jaga kapan?" Tanya papanya lagi.


"Emm... dua hari lagi pa, memangnya kenapa pa?" Jawab Wangi seraya bertanya.


"Dua hari lagi hari Jum'at, baguslah berarti hari Sabtunya kamu libur, soalnya ada undangan makan siang di rumah om Ridwan papanya Galih." Ujar papa Rendra.


"Undangan makan siang?" Tanya Wangi membeo.


"Iya, sekalian syukuran rumah baru dan pindahan." Ujar papa Rendra berdalih, meski sebenarnya tujuannya mereka makan siang bersama lebih dari sekedar syukuran pindah rumah. Melainkan juga membicarakan tentang perjodohan antara Wangi dan Galih nantinya.


"Ohh iya, Wangi baru ingat kalau katanya mereka tinggal di Yogya untuk sementara waktu selama om Ridwan benar-benar pulih total." Ungkap Wangi setelah mengingat obrolannya dengan kedua orang tua Galih tadi pagi.


"Nah itu kamu sudah tahu, jadi hari Sabtu nanti kamu jangan bikin janji kemana-mana." Pesan papanya.


"Iya, iya pak Komandan..." Jawab Wangi.


Sementara itu Rendra dan Rina saling lirik satu sama lain dengan senyum di bibir mereka. Ada kelegaan di wajah mereka karena sudah berhasil mengajak putri mereka masuk kedalam rencana rahasia para orang tua. Mereka tinggal berdo'a saja semoga di hari H nanti Wangi tidak membuat ulah dan mempermalukan keluarganya. Untuk masalah Galih...katanya dia sudah mempersiapkan jawabannya atas permintaan Rendra beberapa hari yang lalu. Hanya saja semuanya akan terjawab disaat acara pertemuan keluarga berkedok syukuran pindah rumah Sabtu nanti.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2