Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 24 Info Dari Dino


__ADS_3

Keesokan harinya, Wangi bangun tidur seperti biasanya. Sehabis sholat subuh dia tidak tidur lagi melainkan mengecek pekerjaannya sebelum menyiapkannya untuk dibawa ke tempat kerjanya. Setelah puas dengan apa yang ia kerjakan dan membereskannya kembali masuk ke dalam tas ranselnya, Wangi bersiap untuk mandi. Pagi ini ia bertekat untuk meminta penjelasan kepada papanya tentang Galih. Namun apa yang dia dapat sekarang? Setelah Wangi sudah siap dengan penampilan kerjanya, sambil menyampirkan jas dokternya di lengan kirinya dia menuju meja makan untuk sarapan pagi bersama seperti biasanya. Tapi di meja makan dia tidak menemukan papanya. Dia beranggapan mungkin papanya masih siap-siap di dalam kamarnya.


"Papa mana ma? Masih di kamar?" Sambil mendudukkan diri di meja makan Wangi bertanya kepada mamanya perihal keberadaan papanya.


"Papa sudah berangkat pagi-pagi sekali tadi, katanya ada sesuatu yang penting di Batalyon." Jawab mama Rina.


"Hah?! Kok sudah berangkat sih?" Gagal deh Wangi untuk mendapat penjelasan dari papanya.


"Ini saja Dino disuruh nebeng saja di mobil mbak Wangi." Celetuk Dino disela-sela makannya.


"Lha... Kok gitu? Mbak berangkatnya agak siang lho Din, paling jam setengah delapanan baru berangkat, ntar kamu bisa terlambat kalau ikut mbak." Terang Wangi pada Dino.


"Nggak apa-apa kok, soalnya pagi ini gurunya ada rapat jadi disuruh masuk jam delapan." Ungkapnya.


"Pantesan pagi ini kamu makannya nyantai banget, ya sudah nanti bareng mbak saja." Dino dengan mulut yang penuh makanan mengacungkan jempol tangannya ke arah Wangi yang duduk di hadapannya tanda setuju.


"Ma, papa cerita sesuatu gak tentang Galih?" Rina langsung menghentikan suapan sendoknya yang akan masuk ke dalam mulutnya ketika Wangi tiba-tiba menanyakan tentang Galih.


"Cerita gimana maksud kamu?" Tanyanya balik pada Wangi.


"Ya misalnya kenapa papa nyuruh Galih buat jagain Wangi pulang pergi kerja atau ngampus gitu." Ujar Wangi.


"Ohh... Kata papa Galih itu baik anaknya, kerjanya juga bagus, terus kata papa kalau ada apa-apa sama kamu ntar enak minta pertanggung jawabannya ke om Ridwan." Jawab mamanya memberi alasan untuk menjawab pertanyaan Wangi.


"Ihh papa ada-ada saja deh, masa kalau ada apa-apanya ke Wangi minta tanggung jawabnya ke om Ridwan? Kan yang bersangkutan Galih." Ujar Wangi yang heran dengan pemikiran papanya. Sementara mamanya hanya bisa menaikkan kedua bahunya tanda dia tidak mengerti sambil melanjutkan sarapannya.


"Cuma itu ma? Gak ada yang lainnya?" Tanya Wangi kembali.


"Iya, cuma itu." Jawab mamanya tanpa melihat ke arah Wangi dan fokus ke makanan di hadapannya saja.


"Berarti sejak awal mama sudah tahu kalau Galih anak teman papa?" Tanya Wangi lagi seperti sedang mengintrogasi saja.


"Ehm..." Mama Rina berdeham sebentar sebelum menjawab pertanyaan putrinya yang penuh selidik itu.


"Ya iyalah mama tahu, lagian mana mungkin mama setuju saja dengan ide papamu kalau orang yang ditugaskan gak jelas." Jawab mama Rina meyakinkan Wangi, berharap putri cerewetnya itu tidak menanyakan hal-hal yang aneh-aneh lagi.


Mama Rina melirik Wangi dari ekor matanya dan mendapatkan putri sulungnya itu sedang mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ya sudah cepat selesaikan makannya, jangan bicara terus, gak baik." Ujarnya pada Wangi.


"Iya ma." Sahut Wangi yang melanjutkan kembali sarapannya tanpa bertanya-tanya lagi pada mamanya.


"Huff... Habis saja aku sport jantung! Sudah tahu kalau anak perempuannya itu ingin tahunya gede apalagi yang menyangkut dirinya sendiri, ehh ini papa malah melarikan diri. Kan jadi mama dong yang kalang kabut dibuatnya." Gerutu mama Rina pada suaminya dalam hati yang ternyata memang sengaja pagi ini menghindari putri sulungnya itu.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan sarapannya, mama Rina langsung membereskannya kembali dan membawa piring-piring dan gelas kotor ke wastafel dapurnya. Sementara Wangi dan Dino bersiap-siap menunggu jemputan dari Galih dengan duduk di teras depan rumah mereka. Sambil menunggu Galih, Wangi memeriksa kembali jadwalnya hari ini yang dia catat di dalam phonselnya.


"Mbak, mbak Wangi." Panggil Dino.


"Hemm..." Wangi hanya membalasnya dengan berdeham saja.


"Mbak Wangi dengerin Dino sebentar dong!" Seru Dino yang membuat Wangi melirik ke arah adiknya dengan malas.


"Ada apa? Mau minta tambah uang jajan lagi?" Terka Wangi.


"Bukan... Tapi kalau mau ditambahin Dino gak nolak kok hehe..." Ujar Dino sambil cengengesan.


"Kamu itu kecil-kecil sudah mata duitan. Emang kamu mau ngomong apa?" Tanya Wangi kepada adik semata wayangnya itu.


"Mbak Wangi suka ya sama mas Galih?" Tanya Dino yang seperti main tebak-tebakan itu.


"Ihh kamu itu kecil-kecil sudah mata duitan nanyanya gitu pula, siapa sih yang ngajarin?" Ujar Wangi sambil melipat kedua tangannya ke depan dada dengan mata menjurus menatap Dino.


"Nggak penting itu mbak, pokoknya mbak Wangi jawab dulu deh pertanyaan Dino keburu mas Galih nya datang." Sergah Dino kepada kakak perempuannya itu.


"Biasa saja kali, memangnya ada apa sih?" Tanya Wangi yang penasaran karena adik kecilnya itu tiba-tiba menanyakan hal yang bukan urusan anak kecil.


Dino sambil celingak-celinguk menengok ke dalam rumah sebelum menjawab pertanyaan Wangi.


"Huss! Ngaco kamu, ya gak mungkinlah." Sahut Wangi dengan setengah tidak percaya pada ucapan tiba-tiba adiknya itu tentang dirinya dan Galih.


"Ihh beneran mbak, Dino denger sendiri kok." Ujar Dino dengan percaya dirinya.


"Masa sih?" Wangi masih tidak yakin dengan perkataan Dino yang terkadang ngawur dan asal bicara itu.


"Dulu sebelum mas Galih ditugaskan papa, malam sebelumnya Dino terbangun mau ke kamar mandi tapi tidak sengaja dengar obrolan mama dan papa di meja makan soal mbak Wangi yang mau dijodohin sama anak temannya papa. Lalu keesokan paginya mas Galih sudah datang buat sopirin mbak Wangi." Terang Dino pada kakaknya.


"Kamu salah denger kali Din, kamu kan habis kebangun dari tidur, paling nyawa kamu masih belum jangkap." Ujar Wangi.


"Beneran mbak, Dino gak salah dengar." Tegas Dino pada kakaknya.


Wangi terdiam sejenak lalu kembali bertanya pada Dino.


"Memang papa bilang ya kalau Galih orang yang dimaksud itu?" Tanya Wangi yang jadi penasaran dengan keterangan adiknya.


"Nggak sih, papa gak nyebutin namanya." Ujar Dino.


"Sudah deh, bisa saja bukan Galih melainkan orang lain, anak teman papa kan banyak. Lagian sampai sekarang papa dan mama gak bilang apa-apa sama mbak." Ucap Wangi agar adiknya itu tidak membahasnya lagi.

__ADS_1


"Lagian papa ngapain sih pakai acara jodoh-jodohin aku." Gerutu Wangi dengan hati yang agak dongkol.


"Soalnya mbak Wangi gak laku-laku haha..." Sahut Dino meledek kakaknya.


"Sialan! Bocil minta dihajar ya? Sini!" Wangi langsung berdiri dari tempat duduknya dan hendak meraih telinga Dino untuk dijewernya, namun sebuah klakson mobil menghentikannya.


Din.. din..!!


Ternyata Galih yang mereka tunggu sedari tadi sudah datang. Setelah menghentikan mobilnya, pria tampan berkulit sawo matang itu keluar dari mobil.


"Assalamu'alaikum... Selamat pagi, maaf sudah nunggu lama ya?" Tanya Galih yang tidak lupa memberi salam sebelumnya.


"Wa'alaikumsalam..." Jawab Wangi dam Dino bersamaan.


"Tidak kok, saya saja yang kepagian hari ini. Kita berangkat sekarang saja ya, soalnya harus nganter Dino dulu ke sekolah." Ujar Wangi.


"Baik kalau gitu sekarang saja biar gak telat." Sahut Galih sembari membukakan pintu belakang mobil untuk Dino. Namun sebelum Dino melangkah ke arah mobil, Wangi langsung mencekal lengan adiknya dan membisikkan sesuatu di telinga Dino.


"Awas! Kamu jangan sampai bicara hal yang tadi kita bicarakan di dalam mobil, pokoknya jangan bilang macam-macam sama Galih!" Ancam Wangi yang langsung diacungi jempol sama Dino.


"Yang penting ada sesajennya?" Ujar Dino sambil menaik turunkan kedua alisnya dengan senyum liciknya.


"Busyet dah! Kaya tuyul saja kamu minta sesajen, siapa sih yang ngajarin?" Wangi tidak habis pikir dengan kelakuan adiknya itu.


"Mas Riko." Jawab Dino enteng.


"Sialan Koko ngajarin adikku aneh-aneh! Gampanglah di dalam mobil saja, itu sudah ditungguin Galih, cepet masuk!" Perintah Wangi sambil menyuruh Dino segera masuk ke dalam mobil.


"Ma... Wangi berangkat dulu ya..." Seru Wangi dari luar rumahnya.


"Iya hati-hati." Balas mamanya dari dalam rumah.


Wangi pun masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan oleh Galih untuknya. Sekilas Wangi melirik ke arah Galih sebelum masuk ke dalam mobil.


"Terimakasih." Ucap Wangi sebelum Galih menutup kembali pintu mobilnya.


"Sama-sama." Balas Galih sedetik sebelum ia menutup pintu mobil.


Mereka pun terdiam sepanjang perjalanan hingga menurunkan Dino di depan halaman sekolahnya. Setelah mobil berjalan kembali, Wangi melirik ke arah Galih, dia menggit-gigit sendiri bibir bawahnya seakan ingin mengatakan sesuatu pada Galih namun enggan mengucapkannya.


"Galih..."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2