Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 87 Roti Sobek Pagi Hari


__ADS_3

Sejak kata-kata yang diucapkan Wangi pada malam itu, Galih terus berusaha mendapatkan perhatian Wangi kembali. Mulai dari dia membantu pekerjaan medis di rumah-rumah penduduk sekitar dengan alasan mengawal sampai jaga di post penjagaan Rumah Sakit Indobatt walaupun itu bukan giliran dia jaga. Meski Wangi menanggapinya seolah dia tidak ada di sana tapi Galih tetap tidak putus asa.


Malam itu di kamar asrama relawan, Wangi dan Anne yang kebetulan satu kamar masih terjaga. Anne sedang mengutak atik phonselnya sedangkan Wangi tak jauh beda, dia sekarang tengah menelpon keluarganya di Indonesia.


"Iya ma... Wangi di sini makannya teratur kok, semua kegiatan di sini sudah terjadwal jadi mama papa gak perlu khawatir." Ucap Wangi yang sepertinya sedang berbicara dengan mamanya.


"Kamu jaga diri baik-baik lho sayang... Kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu jangan segan hubungi mama papa di sini." Ucap mamanya dari seberang sana.


"Pasti ma, teman-teman di sini baik-baik semua, mereka juga saling bantu satu sama lain. Mama gak usah khawatir, mama jaga kesehatan ya... Maaf bangunin mama malam-malam, di sana pasti sudah hampir jam dua belas malam soalnya sempat telponnya sekarang." Ucap Wangi yang merasa tidak enak karena harus mengusik jam tidur mamanya.


"Gak apa-apa, lagian mama juga belum tidur soalnya nunggu papa belum pulang dari Batalyon, katanya ada pertemuan penting di sana." Terang mamanya.


"Ohh... Ya sudah kalau gitu ma, Wangi tutup dulu telponnya, salam buat papa kalau sudah pulang nanti. Assalamu'alaikum..." Pamit Wangi dan menutup panggilannya setelah mamanya membalas salamnya.


"Dokter Wangi baru telpon keluarga di Yogya ya?" Tanya Anne setelah melihat Wangi menyelesaikan panggilan telponnya.


"Iya, kamu gak telpon keluarga kamu?" Jawab Wangi seraya menanyakan balik ke Anne.


"Jam segini disana mereka sudah tidur Dok, jadi saya WhatsApp saja." Jawab Anne.


"Iya juga sih, di Indo kan sudah malam banget, beda waktu lima jam." Sahut Wangi.


"Btw... Kalau lagi gak bertugas jangan panggil Dokter dong... Panggil Wangi saja, kita seumuran kan?" Ujar Wangi.


"Emang gak papa gitu?" Tanya Anne.


"Ya gak papalah, lagian selama enam bulan ke depan kita bakalan hidup bareng satu atap, terlalu formal gak sih harus manggil Dok and Sus stiap kali ketemu?" Ujar Wangi mengutarakan apa yang ada dipikirannya.


"Iya juga sih... Kalau gitu panggil aku Anne saja." Kata Anne yang langsung disetujui Wangi dengan tersenyum senang.


"Okey, deal!" Sahut Wangi sambil mengaitkan tangannya dengan Anne layaknya orang bersalaman.


"Oh ya Wang, gimana tuh hubungan kamu sama Galih? Kalian beneran gak mau balikan?" Tanya Anne yang sedikit kepo.


"Kok nanyanya gitu?" Ujar Wangi sambil mengerutkan dahinya.


"Ya bukannya gitu... Maaf kalau tersinggung, soalnya tiap hari dia ngintilin kamu kemana-mana." Jawab Anne.


"Emang ketara banget ya kalau dia ngikutin aku terus?" Tanya Wangi kemudian.

__ADS_1


"Banget! Soalnya nih yang aku dengar kalau selama ini Galih itu orangnya paling menjaga jarak aman pada wanita." Jawab Anne.


"Kok kamu tahu? Tahu dari mana?" Tanya Wangi lagi.


"Orang-orang di sini banyak yang bilang begitu, soalnya dulu Galih itu salah satu yang terpopuler di Indobatt ini. Mulai dari Kowad, wanita pribumi sampai relawan wanita yang pernah datang kemari sempat dibuatnya kesengsem tapi katanya mereka langsung patah hati karena sikap dinginnya itu." Terang Anne pada Wangi.


"Sampai segitunya??" Anne langsung mengangguk dengan percaya dirinya.


"Memang sih, aku akui wajah Galih itu wajah Sultan." Gumam Wangi dalam hatinya.


"Lagian kalian berdua dulu itu pasangan terhits yang kondang se-Rumah Sakit Universitas, jadi pas dengar kalian putus waktu itu serasa gak percaya aja." Ungkap Anne sampai menggebu-gebu.


"Iuhh... Lebay deh..!" Sahut Wangi yang merasa geli mendengarnya.


"Serius!"


"Iya, iya... Tidur aku." Ujar Wangi sambil merapatkan selimutnya hingga dagu.


"Lho kok sudah mau tidur? Ini masih sore lagi, masih setengah delapan." Ujar Anne.


"Hari ini aku capek banget, besok musti bangun pagi." Sahut Wangi dengan mata terpejam. Ya memang benar kalau saat ini Wangi lelah sekali karena seharian banyak kerjaan yang mereka lakukan. Tidak heran jika dia sudah merasa mengantuk di jam yang belum terlalu malam.


...****************...


Di sana masih terlalu pagi, masih jam setengah enam pagi. Terdengar suara ramai sepatu yang dihentakkan dan seruan lagu yang dinyanyikan begitu keras dan semangat terdengar di sekitar area lapangan markas Indobatt. Hal itu mencuri perhatian para relawan yang jarang menyaksikan sesuatu seperti itu di temapat mereka kecuali di TV ataupun di internet. Dan yang paling antusias melihat itu adalah para hawa sementara para lelaki paking hanya melihat sekilas dari balik jendela kamarnya lalu kembali lagi bergelung di dalam selimutnya.


Wangi yang tadinya sudah bangun dan berencana tidur lagi sebentar setelah shalat subuh akhirnya mengurungkan niatnya karena suara gaduh itu yang disertai suara Anne yang menyuruhnya bangun sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.


"Wang bangun Wang! Ada pemandangan bagus! Cepetan bangun! Keburu habis!" Ujar Anne yang masih terus mengusik tidur Wangi.


"Apaan sih? Males, masih ngantuk." Sahut Wangi dengan mata yang masih terpejam.


"Tak jamin ngantukmu langsung hilang setelah melihat ini." Kata Anne dengan girangnya.


"Ahh... Kelamaan!" Badan Anne yang lumayan bongsor meski tidak gemuk tapi cukup kuat untuk menarik Wangi yang bertubuh mungil hingga dia terduduk.


"Maksa banget sih An... Memangnya ada apa? Suara berisik apa ini?" Tanya Wangi sambil mengucek matanya.


"Tuh lihat sendiri..." Tunjuk Anne mengarah ke luar jendela. Wangi pun melihat ke arah luar jendela, terlihat jelas para anggota pasukan Garuda sedang lari pagi mengitari halaman markas dan sekitarnya sambil menyanyikan lagu sebagai penyemangat mereka.

__ADS_1


......................


Prada Pratu lari pagi,


Sersan Dua Sersan Satu mengikiti,


Letnan Dua Letnan Satu mengawasi,


Sersan Dua Sersan Satu minum kopi...


......................


Tapi bukan bukan lagu yel yel itu yang membuat Wangi yang tadinya matanya sepet karena masih ngantuk hingga terbuka lebar fan berbinar-binar.


"Wahh... Itu otot semua?" Tanya Wangi sambil turun dari tempat tidurnya dan bergabung dengan Anne yang sudah berada di balik jendela yang terbuka dengan mata yang tidak berkedip sekalipun.


"Bukan Wang, itu namanya roti sobek berlapis margarin." Jawab Anne dengan air liur yang hampir menetes.


"Kok margarin?" Tanya Wangi sambil tetap fokus melihat para prajurit yang sedang berlari pagi tanpa baju di atasnya alias bertelanjang dada dan hanya memakai celana seragamnya saja.


"Kamu gak luhat kulit mereka yang mengkilat karena keringat? Eksotis banget kan..?" Sahut Anne yang ternyata penggemar lelaki kekar tapi gak mekar.


"Ckck... Perumpamaan kamu gitu banget ya, aku kira cuma aku yang aneh, ternyata kamu yang terlihat kalem ternyata rada-rada orangnya." Ujar Wangi sambil geleng-geleng kepala.


"Udah nikmatin aja... Lumayan pagi-pagi dapat sarapan roti sobek margarin buat pembukanya hehe..." Sahut Anne yang malah terlihat seperti cewek m***m saat ini.


"Hadewh... Punya teman kok mesti sama edannya kayak aku, rekam aja kali ya? Lumayan bisa dilihat jika lagi gabut." Gumam Wangi dengan mata yang masih tetap menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang begitu sempurna sambil meraih ponselnya yang berada di atas nakas tak jauh dari jendela kamarnya.


Hingga sebuah pesan masuk ketika Wangi sedang asyik-asyiknya merekam para pria-pria berotot yang sedang berlari penuh peluh di tubuhnya.


Galih:


Asyik ya lihatin cowok-cowok bertelanjang dada? Gimana kalau aku ikutan sekalian di sana?


Deg!!


"Mati aku!"


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2