
Acara rencana perjodohan antara Jarno dan Wulan berjalan lancar dan berakhir Jarno yang terpaksa harus pulang bersama Wulan. lha kok bisa? Tentu saja bisa dengan sedikit trik licik dari Wangi yang sudah direncanakan sebelumnya. Jadi ceritanya tadi begini....
Kembali ke cerita sebelumnya di saat mereka masih berada di Mall untuk lanjut makan malam setelah ngopi bersama. Karena ulah Jarno yang salah menendang kaki Wulan dan membuat kakinya ngilu saat berjalan, maka dari itu Jarno harus bertanggung jawab dong... Mau gak mau dia harus membantu Wulan untuk berjalan. Dengan sedikit trik, Wulan mengeluarkan jurus uler Keketnya. Dia sedikit melebih-lebihkan rasa sakitnya, dan bodohnya Jarno yang merasa bersalah percaya akan hal itu. Wangi yang menyadari hal itu hanya mampu menahan tawanya agar tidak meledak. Sebenarnya ini bukan termasuk dari rencana mereka namun dengan adanya kejadiaan tak terduga itu justru mempermudah jalannya rencana mereka. Dan selanjutnya adalah rencana yang sebenarnya, yaitu ban mobil Wulan yang sengaja Wangi gemboskan, lalu menyuruh Jarno untuk mengganti ban mobil Wulan. Dengan berdalih Wangi ada hal penting mendesak yang mengharuskan dia harus segera pulang akhirnya meninggalkan Wulan bersama Jarno. Sedangkan Galih harus mengantar Wangi pulang.
"Jar, kami tinggal dulu ya... Ati-ati bawa anak gadis orang!" Pamit Galih dengan mewanti-wanti Jarno untuk hati-hati menjaga Wulan dengan sedikit menahan tawanya. Baru kali ini Galih melihat Jarno tidak berkutik untuk melawan selain di hadapan Komandannya.
"Lih... Kamu yakin ninggalin aku berdua saja dengan dia? Kamu gak bisa apa nungguin aku sebentar saja mengganti ban?" Bisik Jarno pada Galih.
"Memangnya kamu mau melakukan apa kalau aku tinggal berdua saja dengan Wulan?" Galih justru balik bertanya.
"Ya nggak berbuat apa-apa, kamu pikir aku akan melakukan apa?" Ujar Jarno yang sedikit kesal.
"Ya mana aku tahu." Sahut Galih acuh.
"Sialan!!" Umpat Jarno.
"Maaf Jar, aku harus mengantar Wangi pulang sekarang kalau tidak mau kena gorok pak Komandan." Kata Galih beralasan. Sebenarnya Galih ingin ketawa melihat kegelisahan Jarno tapi gak bisa.
"Sayang... kita balik sekarang yuk! Papa sudah nunggu tuh!" Seru Wangi yang dengan lancarnya melaksanakan aksinya.
"Mas Jarno tolong jaga teman saya ya... Maaf sudah ngerepoti dan terimakasih." Ucap Wangi yang sangat lancar bersandiwara.
"Iya tenang saja, saya akan jagain." Jawab Jarno yang tidak bisa berkutik di hadapan putri sang Komandan. Jarno hanya cari aman tidak mau cari gara-gara dengan putri Komandannya.
"Wul, aku balik duluan ya..." Pamit Wangi pada Wulan.
"Iya hati-hati, thanks ya Wang..." Balas Wulan.
"Jangan lupa pepet terus..." Bisik Wangi sebelum ia meninggalkan Wulan bersama Jarno.
"Beres..." Sahut Wulan dengan berbisik pula.
Akhirnya Galih dan Wangi benar-benar meninggalkan Wulan berdua saja dengan Jarno di parkiran Mall.
Di perjalanan Wangi dan Galih langsung ngakak melihat ekspresi Jarno yang gugup campur bingung.
"Haha... Ya ampun yang... Muka Jarno kayak tertekan gitu ya pas kita tinggal sendiri dengan Wulan. Padahal Wulan itu cantik lho... Masak Jarno gak tertarik sama sekali sih?" Ujar Wangi mengungkapkan kegelisahannya.
"Pfftt... Kamu gak perlu khawatir seperti itu sayang... Jarno itu memang suka gugup jika bertemu dengan wanita, apalagi wanita yang mendekati kriterianya." Ungkap Galih dengan mata yang tetap fokus mengarah ke jalanan.
"Jadi maksud kamu... Wulan termasuk kriteria wanita idamannya Jarno gitu?" Tanya Wangi.
__ADS_1
"Iya." Jawab galih seraya menganggukkan kepalanya.
"Kamu yakin? Tahu dari mana?" Tanya Wangi lagi untuk meyakinkan dirinya.
"Kamu lupa kalau aku ini teman baiknya? Tentu saja aku tahu dan yakin akan hal itu. Dari gelagat Jarno saja sudah terlihat jelas, dia cenderung salah tingkah saat ngobrol dengan Wulan tadi." Jawab Galih.
"Jadi tadi itu kamu serius kalau Jarno suka perempuan yang putih mulus mata sipit kayak wanita-wanita Korea?" Galih langsung mengangguk untuk menjawab pertanyaan Wangi.
"Woaahh... Daebak!! Wulan bakal dapat tangkapan besar nih!" Seru Wangi dengan semangatnya.
"Bahasa apaan itu yang? Ada-ada aja..." Tanya Galih sambil geleng-geleng kepala dengan kekehan kecil di bibirnya.
"Hehe... Cuma iseng saja ngikuti eonni-eonni Korea di drakor waktu berseru gembira gitu." Jawab Wangi dengan cengirannya.
"Kamu ternyata suka nonton drakor juga? Memang ada waktu?" Tanya Galih penasaran.
"Dulu sebelum sama kamu kalau lagi ada waktu luang atau libur aku suka nonton, tapi semenjak sama kamu jadi gak pernah." Jawab Wangi apa adanya.
"Kok gitu?" Galih menengok sebentar ke arah Wangi dengan sedikit memicingkan mata penasarannya.
"Karena wajah kamu lebih ngangenin daripada melihat wajah-wajah oppa-oppa Korea." Jawab Wangi jujur setengah malu-malu dan berasama itu dibarengi gelak tawa Galih.
"Hahaa... Ya ampun sayang... Kamu kok jadi tambah pinter?" Ujar Galih yang masih tertawa renyah.
"Pinter ngerayu! Hahahaa..." Galih jadi tertawa melihat Wangi yang terkadang terlihat polos.
"Iihh... Kamu ya!" Wangi langsung mencubit gemas pinggang Galih.
"Aduhh yang geli! jangan gitu, lagi nyetir nih..." Cubitan Wangi yang tidak begitu keras malah terkesan terasa geli buat Galih, alhasil Galih dibuat merinding sendiri.
"Habisnya kamu jahil sih! Semakin kenal sama kamu, aku semakin tahu jika aslinya kamu itu suka usil banget." Ujar Wangi dengan mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha... Masak sih? Perasaan kamu kali hahaa..." Galih malah tertawa mendengar ucapan Wangi yang memang ada benarnya itu.
"Hallah... Gak usah ngeles gitu deh... Oh ya sayang, btw Wulan sama Jarno kira-kira gimana ya nasip mereka?" Wangi tiba-tiba jadi kepikiran dengan Wulan dan Jarno.
"Kamu tenang saja... Seperti yang aku katakan tadi, Jarno itu suka gugup kalau berhadapan dengan wanita. Walau terlihat kekar begitu tapi dia paling ati-ati sama wanita soalnya saudara-saudaranya semuanya perempuan, takut kuwalat katanya. Apalagi barusan dia diputus dan ditinggal nikah sama pacarnya, dia jadi sedikit menghindar jika ada teman kami yang berusaha mengenalkan dia dengan seorang wanita. Ya... Semoga saja teman kamu Wulan itu memang orang yang baik buat Jarno." Ungkap Galih menceritakan bagaimana sifat dan kisah Jarno yang sebenarnya.
"Amin... Semoga ya sayang." Balas Wangi yang mengamini ucapan Galih. Meski Wulan dulu suka bikin kesal dirinya, tapi Wangi tidak mempermasalahkannya setelah mengenal lebih dekat dengan Wulan. Wulan begitu karena memang orangnya suka berkata apa adanya yang ingin dia katakan meskipun menyakitkan, namun dia teman yang cukup adil untuk bersaing dan berani mengakui kekalahannya dengan percaya diri.
Sementara itu Wulan masih menunggu Jarno yang sedang mengganti ban mobilnya di parkiran Mall.
__ADS_1
"Duhh... Sebenarnya kasihan juga ya sampai keringetan begitu." Gumam Wulan dalam hatinya.
"Tapi bagaimana lagi? Namanya juga usaha." Lanjutnya sambil mengamati peluh yang menetes di dahi Jarno.
Melihat Jarno yang kesusahan demi lancarnya skenario PDKT yang dia buat berasama Wangi dan Erika membuat Wulan sedikit kasihan pada Jarno. Wulan kemudian mengambil selembar tissue dari dalam tasnya lalu mendekat ke arah Jarno.
"Maaf, permisi ya?" Ucap Wulan meminta ijin pada Jarno, tapi sebelum ijin itu disetujui dia langsung mengelap peluh Jarno yang menetes di dahi lelaki tampan itu. Dan itu sontak membuat Jarno langsung menegang saking terkejutnya.
"Maaf, karena saya kamu harus kerepotan begini sampai keringetan lagi." Ujar Wulan yang masih tetap mengelap keringat yang ada di dahi Jarno tanpa melihat bagaimana ekspresi Jarno yang kaku saat ini. Lelaki itu hanya mampu diam tidak bisa mengelak lagi. Entah mengapa dia tidak bisa mengelak dari sikap Wulan yang tiba-tiba itu.
"Erhm... Ti, tidak apa-apa biar saya sendiri." Ucap Jarno dengan terbata yang langsung mengambil tissue dari tangan Wulan.
"Eh maaf, saya sudah lancang ya? Tadi saya spontan saja ngelakuin itu." Kilah Wulan yang langsung menjauhkan tangannya.
"Iya saya ngerti, tidak apa-apa kok. Lagian ini sudah beres kok." Ujar Jarno dengan senyuman yang langsung membuat Wulan meleleh.
"Ya Tuhan... Nikmat mana yang Engkau dustakan? Senyumnya itu lho... Bikin adem." Batin Wulan yang diam-diam memuji Jarno.
Jarno langsun menyimpan ban yang kempes tadi dan alat-alat perbengkelan ke dalam bagasi mobil Wulan dan kembali mendekat ke arah Wulan.
"Semuanya sudah saya simpan di bagasi, kita pulang sekarang?" Ujar Jarno pada Wulan.
"Iya, terimakasih ya... Yuk kita pul..." Wulan menghentikan ucapannya ketika melihat tangan Jarno yang kotor karena memasang ban tadi.
"Eh tunggu sebentar!" Wulan segera merogoh isi tasnya lagi dan mengambil tissue basah dari sana.
"Sebentar, tangan kamu kotor gara-gara saya, maaf..." Tanpa ba bi bu Wulan kembali lagi mengelap tangan Jarno tanpa memberi kesempatan lelaki itu untuk menolak. Dan Jarno pun kembali membeku. Ada desiran aneh di hatinya, jantungnya pun kembali berdebar aneh.
"E ehh... Gak, gak apa-apa kok... Tadinya saya mau cuci tangan di washtaple yang ada di sana." Jarno menunjuk sebuah washtaple yang terpasang di sudut parkiran tersebut yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Hahh?!" Wulan langsung melihat ke arah telunjuk Jarno mengarah dengan setengah kaget dibuatnya.
"Hehe... Kok bisa ya tiba-tiba ada washtaple di situ?" Wulan langsung menggigit bibir bawahnya sambil nyengir siking malu dan salah tingkah sendiri.
"Pfftt... Dari tadi memang ada di sana kok." Jawab Jarno dengan menahan tawanya melihat sikap lucu Wulan barusan.
"Saya cuci tangan di sana dulu ya.. Pfftt..." Ujar Jarno yang masih berusaha menahan tawanya agar tidak keluar.
"I, iya..." Jawab Wulan yang jadi berubah gugup.
"Goblok, goblok, goblok!! Kok bisa sih aku gak lihat ada washtaple di sana? Kan malu jadinya... Hiks.. Wangi..." Wulan merutuki kebodohannya dalam hati.
__ADS_1
"Pfftt... Ternyata dia lucu juga." Gumam Jarno saat melangkah menuju washtaple dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
Bersambung....