Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 99 Pasien Tak Terduga


__ADS_3

Pagi hari di Rumah Sakit Medis Indobatt, Wangi sedang mengecek rekam medis kesehatan para anggota Pasukan Garuda karena besok adalah jadwal cek kesehatan rutin para tentara tersebut. Di sana juga ada Zahara, Elias dan juga Lukman, sedangkan dokter lain ada yang sedang mengecek persediaan obat-obatan bersama para perawat dan ada yang bertugas menangani pemeriksaan pasien yang datang hari ini.


Wangi melirik ke arah Zahara yang duduk di kursi sebelahnya, kemudian dia menyondongkan badannya mendekat ke arah Zahara dan berbisik.


"Ra, tadi malam kamu bisa tidur gak?" Tanya Wangi.


"Bisa, kenapa?" Jawab Zahara dan diapun bertanya balik pada Wangi.


"Aku gak bisa tidur soalnya kepikiran tentang kejadian tadi malam di kota." Jawab Wangi.


"Sstt...! Itu bukan urusan kita, lagian kita tidak akan berurusan dengan mereka, jadi mending gak usah kamu pikirkan." Kata Zahara.


"Tapi entah kenapa perasaan aku nggak enak Ra, seperti sesuatu akan terjadi." Sahut Wangi.


"Jangan mikir yang aneh-aneh, karena sesuatu yang terjadi itu berasal dari pikiran." Ujar Zahara mengingatkan Wangi.


"Ya semoga itu cuma perasaanku saja." Kata Wangi kemudian.


"Kalian berdua ada apa sih? Bisik-bisik dari tadi." Tanya Lukman curiga karena melihat Wangi dan Zahara yang sedari tadi sedang berbicara berbisik satu sama lain.


"Bukan apa-apa, masalah wanita, laki-laki gak perlu tahu." Sahut Wangi begitu agar Lukman tidak bertanya lagi.


"Paling juga bicarain kencan ganda kalian tadi malam." Ujar Elias yang ikut menyahut.


"Hahh?! Tadi malam kalian berdua keluar buat kencan?" Nah kan... Lukman jadi keppo gara-gara mulut lemesnya Elias.


"Apaan sih kalian sirik karena gak ada pasangan kan..." Ledek Wangi.


"Aku ada." Jawab Elias.


"Tapi di Indo, kecuali kak El punya cewek lain di sini." Sahut Wangi.


"Mana ada?" Elias membela diri.


"Ya siapa tahu? Kalau ada awas saja aku aduin ke Wita!" Balas Wangi dengan gertaan kecilnya.


"Itu gak akan terjadi." Kata Elias memastikan ucapannya.


"Bagus deh..." Ujar Wangi.


"Yahh... Lain kali ajak-ajak dong Wang, aku kan juga pengen jalan ke kota." Ucap Lukman setengah merengek.


"Ye... Ngapain ajak-ajak kamu? Kamu kan jonges, ntar step lihat kami pacaran." Ledek Wangi.


"Kan aku bisa ajak Anne." Sahut Lukman.


"Memangnya Anne mau? Situ aja belum jelas statusnya." Kini gantian Zahara yang meledek Lukman.

__ADS_1


"Yahh... Kalian kok sadis gitu sih sama teman sendiri. Senior, senior gak pengen jalan ke kota?" Tanya Lukman pada Elias.


"Enggak, buat apa? Mending video call'an sama ayang di kamar." Jawab Elias cuek sambil tetap memeriksa berkas-berkas medis di hadapannya.


"Pfft... Ngenes banget kamu Luk." Ucap Zahara dengan menahan tawanya.


"Kamu sih... Kurang sat set! Pfftt..." Tambah Wangi yang juga ikut menertawakan Lukman.


"Ckk.. Seneng banget lihat teman merana." Gerutu Lukman sementara yang lainnya pada cekikikan melihat ekspresi wajah Lukman yang terlihat lucu.


Tidak lama kemudian mereka mendengar ada suara sirene ambulans yang bersiap pergi untuk menjemput pasien.


"Ada yang memanggil ambulans?" Tanya Wangi.


"Mungkin, semoga tidak ada pasien gawat yang datang hari ini." Ucap Lukman.


"Tapi kalau mereka sampai meminta ambulans untuk menjemput, kemungkinan itu pasien urgent." Elias menimpali.


"Kita bisa melihatnya nanti jika mereka sudah datang." Ucap Zahara.


"Tapi... Perasaanku kok gak enak ya?" Ujar Wangi dengan raut wajah yang khawatir.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya suara sirene ambulans mulai terdengar lagi. Itu pertanda ambulans yang pergi menjemput pasien telah kembali.


"Akhirnya datang juga. Apa kalian mau melihat siapa pasien dan apa penyakitnya?" Tanya Lukman.


"Aku juga." Zahara pun demikian.


"Lagian Dokter Gibran pasti sudah menanganinya dengan baik." Wangi dan Zahara mengangguk setuju dengan ucapan Elias. Dokter Gibran yang tengah bertugas di UGD pasti sudah menanganinya dengan baik. Apalagi dia adalah dokter senior.


"Baiklah, kalau begitu biar aku saja, siapa tahu beliau sedang membutuhkan bantuan." Kata Lukman yang beranjak dari kursinya setelah membereskan meja kerjanya.


"Baiklah, nanti ceritakan pada kami yang terjadi." Ucap Zahara dan Lukman pun hanya menyahut "Oke" lalu keluar dari ruang dokter.


Tidak berselang lama ada notifikasi masuk ke ponsel Wangi. Setelah dilihat itu dari Lukman yang mengirim sebuah video padanya.


"Ngapain si Lukman ngirim video ke aku?" Gumam Wangi. Ia pun tanpa pikir panjang langsung membuka video tersebut. Terlihat di dalam video itu seorang lelaki penuh luka di tubuh dan wajahnya sedang teriak-teriak mengamuk.


"Kamu lihat apa sih berisik banget? Di luar juga, kelihatannya ada ribut-ribut." Tanya Zahara.


"Itu suara pasien yang mengamuk." Jawab Wangi.


"Mengamuk?" Tanya Zahara membeo.


"Ini, Lukman mengirimkan videonya." Jawab Wangi sembari menyodorkan phonselnya pada Zahara. Elias yang penasaranpun juga ikut melihatnya.


"Dia mengamuk karena apa?" Tanya Elias.

__ADS_1


"Entahlah, Lukman tidak memberitahu." Jawab Wangi sambil menggelengkan kepalanya.


Zahara mengernyitkan matanya ketika melihat pasien lelaki itu. Seakan mengingat-ingat sesuatu.


"Wang, kok aku pernah lihat baju yang dipakai pasien ini deh." Kata Zahara.


"Baju seperti itu kan banyak orang yang pakai." Sahut Elias.


"Enggak, bukan hanya baju tapi wajah dan potongan rambut orang itu sepertinya aku pernah lihat. Tapi dimana ya?" Ujar Zahari sambil mengingat-ingatnya kembali.


"Sebentar... Aku juga merasa tidak asing dengan orang ini. Orang ini kan..." Wangi menghentikan ucapannya dan justru saling tatap-tatapan dengan Zahara seakan mereka berdua sedang berkomunikasi lewat mata. Lalu tak lama kemudian mereka berdua bergegas bangkit dari duduk mereka dan buru-buru keluar meninggalkan Elias sendiri dengan tatapan tak mengerti.


"Heii... Kalian mau kemana?!" Teriak Elias namun baik Wangi maupun Zahara tidak ada yang menoleh ataupun menjawab. Mereka berdua pergi begitu saja tanpa menghiraukan teriakan tanya dari Elias.


"Sambil berlari kecil Zahara menyempatkan menanyakan sesuatu pada Wangi...


"Kamu pasti tahu kan yang aku pikirkan?" Tanya Zahara.


"Tentu saja, karena kita meliahtnya bersama tadi malam." Jawab Wangi.


"Tapi kita akan memastikannya setelah melihat langsung." Lanjut Wangi yang hanya diangguki oleh Zahara.


Mereka berdua berlari menuju ruang UGD. Mereka langsung masuk dan menuju tempat pasien itu dirawat. Ada sesuatu yang harus mereka berdua pastikan dari pasien tersebut.


Setelah melihatnya langsung, Zahara dan Wangi pun terkejut. Mereka berdua kembali saling bertatapan.


"Eh kalian akhirnya datang juga, kalian penasarankan?" Tanya Lukman ketika melihat kehadiran Wangi dan Zahara.


"Pasien itu kenapa?" Tanya Zahara.


"Kata orang yang ikut bersamanya pasien itu dipukuli oleh seseorang tadi malam di kota. Orang yang menemukannya kebetulan tetangganya yang sedang mengirim buah-buahan ke kota yang hendak pulang, lalu dia membawanya pulang untuk dirawat di rumah. Tapi sepanjang malam dia menggigil dan mengamuk pagi ini, makanya mereka membawanya ke sini." Kata Lukman menjelaskan.


"Dan ternyata dia juga seorang pecandu narkoba." Lanjut Lukaman.


Wangi dan Zahara hanya diam dan saling melirik satu sama lain. Wangi pun berbisik pada Zahara.


"Ternyata inilah yang membuat hatiku tak tenang pagi ini. Dia, sudah pasti orang yang kita lihat sedang dikeroyok tadi malam." Bisik Wangi.


"Semoga tidak ada hal lain lagi yang terjadi setelah ini." Gumam Zahara.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2