
Laras memutar bola matanya jengah mendengar Josep balik menanyakan hal yang sama dengan yang ia tanyakan tadi.
"Aku tanya duluan, kenapa kamu bisa ada di sini dan dengan wanita ini pula? Padahal tadi di telpon kamu bilang sedang ada kegiatan khusus di Batalyon. Sejak kapan kamu pandai berbohong?" Laras terlihat emosi sedangkan Josep masih bingung harus menjelaskannya bagaimana kepada Laras.
"Sayang... Aku tidak bohong, memang tadi di Batalyon masih ada kegiatan dan baru saja selesai tiga puluh menit yang lalu." Josep berusaha menjelaskan kesalah pahaman mereka.
"Mana aku tahu kamu bohong atau tidak? Apalagi setelah itu kamu tidak menghubungiku sama sekali dan sekarang kamu kepergok bersama wanita itu!" Josep menyugar rambutnya dengan tangannya yang sebenarnya tidak dapat disugar karena terlalu cepak. Dia bingung harus mengatakan apa lagi untuk mengakhiri kesalah pahaman ini, karena Josep tahu betul jika Laras sudah marah susah sekali untuk membujuknya.
"Maaf menyela pertengkaran kalian karena ini sudah membawa-bawa aku di sini jadi aku perlu ikut campur untuk meluruskannya." Wulan yang merasa jika namanya sudah dibawa-bawa dalam pertengkaran sepasang kekasih itu tentu saja tidak akan tinggal diam. Apalagi sudah ramai-ramai di tempat umum seperti ini, yang ada nanti nama baiknya akan tercoreng karena masalah yang sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan seperti ini. Dan menurut Wulan dia harus meluruskannya sekarang juga agar tidak ada kesalah pahaman lagi antara dirinya, Josep dan Laras kekasih Josep.
"Ohh... Sekarang kamu akan mencoba membela diri? Atau kamu akan mengakui jika kalian berdua memanga ada hubungan spesial ha?!" Tuduh Laras dengan kata-kata sarkasnya.
Wulan menarik napasnya dalam-dalam, dia mualai jengah dengan Laras yang sepertinya tidak dapat diajak bicara baik-baik dan hanya mengeluarkan kata-kata kasar.
"Sebelumnya kamu bisa diam gak sih? Kalau ada orang ngomong baik-baik itu dengarkan baik-baik juga jangan asal tuduh bisa gak sih?!" Gertak Wulan yang ikut emosi juga.
"Kok kamu jadi nyolot?!" Seru Laras marah.
"Kamu nggak ngaca? Kamu duluan yang ngomong kasar ke aku sedari awal." Sahut Wulan tidak mau kalah.
"Lihat itu wanita selingkuhan kamu berani ngebentak dan ngatain aku tapi kamu diam saja!" Ujar Laras pada Josep dengan menunjuk ke arah Wulan yang berdiri di sebelah Josep.
"Laras aku tahu kamu sekarang sedang marah tapi menuduh dan berkata kasar duluan pada Wulan tanpa tahu fakta yang pasti juga salah." Mendengar ucapan Josep yang terkesan lebih membela Wulan membuat dada Laras semakin sesak, air matanya luruh tak terbendung lagi.
"Ja jadi se sekarang kamu lebih mebela wanita itu dibanding aku tunangan kamu sendiri? hiks.." Ucap Laras terbata sembari sesenggukan oleh tangisnya.
"Haahh... Bukan begitu maksud aku sayang..." Josep bingung harus bicara apa lagi.
"Apa?! Kamu sudah tidak bisa mengelak lagi kan?" Laras memang keras kepala, emosinya lebih kuat daripada akal sehatnya.
"Kamu tidak bisa asal tuduh begitu saja, bahkan sebelum mendengar hal yang sebenarnya." Wulan langsung menanggapi dengan sinis atas tuduhan yang menurutnya tidak mendasar sama sekali.
"Hallah... Kamu tidak us.." Ucapan Laras terhenti.
"STOP!! Kalian semua bisa diam dulu gak sih? Kalian lupa di sini ini tempat umum? Kalian tidak malu apa?" Akhirnya mau tidak mau Wangi ikut campur juga dan berusaha menengahi perang mulut ketiga orang di hadapannya itu.
"Tapi Wang mereka itu..." Lagi-lagi ucapan Laras terhenti dan langsung dipotong oleh Wangi.
"Sudah cukup Laras! Kalau kamu terbawa emosi terus kamu tidak akan mendapat apa-apa, kamu tidak mendapat kejelasan dari mereka, kamu juga tidak mendapat ketenangan yang ada hati kamu bertambah sakit." Tegas Wangi pada Laras.
"Tuh dengar kata teman kamu!" Sahut Wulan menimpali.
"Kamu juga!" Seru Wangi pada Wulan.
"Kok jadi aku kena lagi?" Tanya Wulan bingung sendiri karena merasa dirinya tidak salah apapun.
__ADS_1
"Kamu lupa gara-gara siapa Laras marah dengan Josep seperti ini? Lagian orang lagi emosi malah kamu sulut pakai api. Dan kalian bertiga, bisa gak sih duduk dan bicarakan masalah kalian baik-baik? Kayak gak punya etika dan gak sekolah saja, gak malu apa dilihatin orang? Duduk!!" Gertak Wangi yang anehnya langsung dituruti oleh ketiga orang yang lagi berseteru itu. Ketiganya langsung duduk di tempat duduk yang tadi ditempati oleh Wangi dan Laras. Dan kini Wangi menjadi penengah bak seorang mediator bagi Laras, Josep dan Wulan.
"Sekarang tolong sebagai kekasih Laras jelaskan semua yang memang harus dijelaskan!" Ujar Wangi pada Josep dan lelaki itu langsung mengangguk. Josep pun mulai menceritakan hal yang sebenarnya.
"Jadi pertama-tama saya mau kasih tahu jika saya dan Wulan mempunyai hubungan spesial." Mendengar pengakuan dari Josep tersebut membuat Laras terkejut dan langsung naik pitam.
"Lihat Wang, benar kan kataku? Dia bahkan sudah mengakuinya!" Seru Laras dengan mata yang berkaca-kaca, sementara Wulan hanya bisa membuang napas lelah sambil memutar bola matanya melihat reaksi Laras.
"Tenang Ras... Josep belum selesai bicara, kita dengarkan dulu." Bujuk Wangi pada Laras.
"Itu semua sudah jelas Wang..." Mendengar rengekan Laras itu membuat Wulan merasa tambah jengah dan langsung menggebrak meja.
Brakk!!
Dan semuanya langsung terdiam karena terkejut.
"Berisik!! Jadi cewek jangan ngerengek doang! Dengerin dulu orang ngomong! Kakak juga kelamaan ngejelasinnya!" Sontak ucapan Wulang membuat Laras dan Wangi melongo dengan mata membulat.
"Kakak??" Seru Wangi dan Laras bersamaan.
"Iya, dia adik sepupu saya, maka dari itu saya bilang kalau kami punya hubungan spesial yaitu hubungan persaudaraan." Ungkap Josep menjelaskan.
"Tapi di chat itu kalian terlihat mesra banget." Ucap Laras seakan meminta penjelasan.
"Ohh... Itu karena dia cucu perempuan satu-satunya di keluarga kami, saudara dan sepupu-sepupu aku yang lainnya semuanya lelaki jadinya dia lebih manja dan lebih dimanja. Jadi papi Wulan itu adalah adik bungsu ibu aku." Pungkas Jesep menjelaskan.
"Kalian tidak bohong kan?" Tanya Laras yang masih menaruh curiga membuat Wulan berdecak.
"Tsck... Nih kalau nggak percaya!" Wulan langsung mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto keluarga dimana di sana terlihat Wulan perempuan sendiri di kerumuni oleh lima laki-laki termasuk Josep dengan busana batik yang semuanya senada.
Laras dan Wangi melihat foto yang ditunjukkan oleh Wulan dan mulai percaya jika penjelasan Josep itu benar.
"Sekarang percaya kan?" Ujar Wulan yang kemudian menyimpan kembali ponselnya di dalam pouch yang dia bawa.
"Kok kamu gak bilang apa-apa ke aku sih Jos?" Tanya Laras.
"Kan kamu enggak tanya yang... Ya aku pikir gak perlu dijelaskan juga soalnya tidak ada yang penting juga." Jawab Josep.
Wangi yang mendengarnya langsung tepok jidat, sedangkan Wulan menghela napas dengan memutar bola matanya.
"Sekarang sudah clear ya... Intinya kalian berdua itu miss komunikasi, lelaki itu terkadang gak peka dan kamu Laras, apa-apa itu harus ditanyain dulu biar jelas, Josep kan bukan cenayang yang selalu tahu apa isi pikiran kamu." Pungkas Wangi menasehati Laras.
"Betul itu!" Wulan menimpali yang justru mendapat pelototan dari Wangi.
"Apa??" Sahut Wulan dengan ucapan tanpa suara hanya gerakan bibir saja dan Wangi hanya memutar bola matanya jengah.
__ADS_1
"Sayang... Aku minta maaf ya karena aku belum pernah ngenalin saudara-saudara aku soalnya mereka tinggalnya jauh-jauh, hanya Wulan dan keluarganya yang tinggal di Yogya, itupun kami jarang sekali bertemu karena kesibukan masing-masing. Niatku maunya nanti pas acara resmi pertunangan kita kamu akan aku kenalin ke mereka semua, tapi kejadiannya malah seperti ini, maaf ya..." Ucap Josep tulus sambil menggenggam erat jemari Laras.
"Kamu... Mau ngelamar aku secara resmi?" Tanya Laras tak menduga mendapat kejutan seperti ini.
Josep mengangguk sembari tersenyum lembut ke arah Laras.
"Iya, maka dari itu beberapa hari ini aku mengontak Wulan dan juga yang lainnya. Berhubung Wulan yang paling dekat di sini, jadi aku meminta bantuan dia buat bilang ke om dan tante aku (papa mama Wulan) untuk mengatur semuanya." Mendengar penjelasan Josep, Wulan ikut mengangguk sedangkan Laras menjadi berkaca-kaca antara terharu dan merasa bersalah karena sudah menuduh kekasih dan sepupunya yang tidak-tidak.
"Hiks... Ak aku minta maaf ya sudah menuduh kamu yang bukan-bukan tanpa alasan yang jelas." Ungkap Laras pada Josep dengan kata yang terbata-bata dan isakan tangis yang keluar begitu saja.
"Iya sayang... Aku juga minta maaf karena sudah buat kamu salah paham." Balas Josep sambil mengecup mesra jemari Laras yang ia genggam.
"Ehhm..." Wulan berdeham melihat adegan sepasang sejoli itu yang sudah baikan.
"Emm... Wulan, aku juga minta maaf sama kamu karena terbawa emosi akunya malah marah-marah ke kamu karena salah paham dan awal pertemuan kita jadi buruk begini. Maafin aku ya..." Ucap Laras tulus pada Wulan.
"Iya sama-sama, aku juga minta maaf tadi udah ngebentak kamu juga." Jawab Wulan sembari tersenyum.
"Terimakasih ya..." Balas Laras yang langsung melepaskan genggaman tangan Josep dan beralih meraih tangan Wulan saking lega dan bahagianya masalah mereka sudah selesai.
"Nah... Kalau begini kan enak gak perlu ngedrama lagi. Aku tadi berasa lihat sinetron, kalau dibikinin judul jadinya 'Kekasihku Selingkuhan Dokter Ganjen' hahaha..." Seloroh Wangi sembari terbahak.
"Sialan!" Seru Wulan sambil melotot ke arah Wangi.
"Andai Josep bukan sepupu akupun aku gak mau ya sama dia, bukan tipe aku!" Ujar Wulan sewot.
"Dia itu tipenya seperti Jarno." Timpal Josep.
"Jarno? Jarno teman kamu dan Galih?" Tanya Wangi pada Josep.
"Lho... Kok Dokter kenal dengan Galih? Tunggu dulu... Dokter ini teman Laras yang membantu Laras waktu terjatuh dulu kan? Waktu itu sama Galih juga kan?" Wangi mengangguk.
"Ohh jadi cowok kamu yang selama ini anter jemput itu namanya Galih to??" Timpal Wulan dan Wangi kembali mengangguk.
"Iya, perkenalkan nama saya Wangi Prameswari, Galih itu pacar saya, dia terkadang bercerita tentang teman-temannya satu kompi di Batalyon." Ungkap Wangi sembari memperkenalkan diri.
"Berarti kamu pernah ketemu Jarno dong? Giman ganteng kan?" Ujar Wulan dengan mata berbinar dan nada yang girang.
"Gantengan juga Galih." Jawab Wangi asal seraya menggoda Wulan, padahal dia belum pernah sekalipun bertemu dengan Jarno. Tapi bagaimanapun yang namanya kekasih gantengnya itu nomor satu kan...
"Helleeh... Percaya deh yang namanya kecap gak ada yang nomor dua." Sahut Wulan sambil mencibirkan bibirnya. Sementara Laras dan Josep yang melihatnya hanya tertawa saja melihat tingkah mereka.
"Tunggu... Selama ini kan Galih ditugaskan sama Komandan kami untuk mengawal putrinya yang dokter itu. Berarti Dokter Wangi ini adalah...." Ucapan Josep tertahan di tenggorokan.
"Ssttt... Rahasia!" Sahut Wangi sambil tersenyum smirk.
__ADS_1
Bersambung....