Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 73 Bimbang


__ADS_3

POV Galih


Aku tidak pernah berpikir hidupku akan baik-baik saja setelah kepergian Sinar, bahkan berharap untuk hidup bahagia saja aku tidak berani. Hari-hariku terasa hampa dan selalu menyalahkan diriku sendiri, seakan hidup ini tidak ada arti apa-apa lagi tanpa Sinar yang selalu menyinari hari-hariku. Hingga suatu hari aku bertemu dengan Wangi. Perempuan cantik yang penuh energi. Awalnya aku kira dia hanyalah gadis ABG yang baru beranjak dewasa dengan penampilan yang bisa terbilang terlihat lebih muda dibanding dengan usianya. Dia selalu memberi kejutan kecil dengan tingkah lucunya dan terkadang dia juga bersikap lebih dewasa dari yang aku duga. Wangi lah yang menyadarkan aku jika hidup ini bukan milik kita sendiri. Semuanya dapat diambil kembali oleh Yang Maha Kuasa meski kita tak ingin sekalipun. Seperti Sinar yang mungkin jauh lebih bahagia setelah kembali pada Sang Penciptanya. Seperti Sinar yang selalu ingin aku bahagia, Wangpi pun ingin hidupku jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan Wangi lah yang mengembalikan senyum yang telah lama kulupakan. Seakan takdir berpihak kepadaku, ternyata Wangi adalah jodoh yang telah lama disiapkan oleh kedua orang tuaku jauh sebelum aku bertemu dengan Sinar. Aku bahagia karena Wangi adalah perempuan yang dipilih oleh orang tuaku untuk menjadi pasanganku kelak. Hari demi hari aku lewati bersamanya dengan penuh warna kebahagiaan hingga sebuah kabar tak terduga datang hari ini. Sebuah kabar yang membuatku tak bisa bernapas sejenak, jantungku berdebar hebat dan rasa takut yang dulu pernah aku rasakan kembali datang. Mungkinkah aku terlalu tamak dengan rasa bahagia yang selama ini aku rasakan? Hingga melupakan satu kebodohanku yang dulu pernah aku lakukan. Dulu... Disaat diriku merasa terpuruk dalam kehampaan setelah kepergian Sinar, setahun yang lalu aku mengajukan diri untuk bergabung sebagai pasukan khusus perdamaian di Lebanon. Aku sempat melupakannya karena terlalu lama tanpa adanya jawaban dan tidak mengira hal itu diluluskan tahun ini. Seakan mengalami de ja vu rasa takut itu datang kembali, meninggalkan orang terkasih untuk bertugas dalam waktu yang tidak dapat ditentukan lamanya dengan nyawa sebagai taruhannya membuat diriku takut jika kejadian waktu yang lalu terulang kembali. Apakah kali ini aku juga akan kehilangan Wangi? Memikirkannya saja membuatku tidak dapat bernapas dengan baik. Sesak, aku benar-benar takut meninggalkan harapan untuk Wangi disaat diriku mungkin tidak bisa mewujudkannya. Dia wanita yang baik, periang, disekelilingnya selalu ada hal yang menakjubkan. Bagaimana bisa aku menghancurkan keceriaan di hidupnya dengan kabar ini disaat hari pertunangan kami tinggal menghitung hari saja? Ya Tuhan... Apa yang harus aku lakukan? Wangi berhak untuk bahagia, mana mungkin aku tega merengget kebahagiaan itu? Sementara aku sendiri tidak bisa meniggalkannya hanya dengan sebuah janji sampai aku kembali nanti. Aku takut jika aku tidak dapat memenuhi semua janjiku seperti apa yang telah aku lakukan pada Sinar. Meski aku tahu ini adalah takdir dari-Mu yang musti aku lewati namun tetap saja perasaan takut kehilangan itu selalu ada. Kenapa dulu aku terlalu bodoh untuk melakukan tindakan semauku tanpa berpikir dua kali? Ya, menyesalpun tak ada gunanya sekarang. Sekarang yang harus aku pikirkan ialah bagaimana caranya aku harus menyampaikan semua ini pada Wangi? Aku tahu Wangi pasti tidak akan menghalangi langkahku dalam menjalankan tugasku sebagai abdi negara, tapi siapa yang tahu kecemasan apa yang ada di dalam hatinya? Aku hanya tidak ingin membuat wanita yang aku cintai sedih karena diriku. Cukup satu kali aku menyesali sebuah keputusan, tidak dua kali, biarlah aku yang menanggung sakitnya asal bukan dia. Wangi adalah napas baru untukku, aku akan sangat-sangat menyesal jika membuatnya sakit. Om Rendra sengaja tidak memberi tahu berita ini kepada putrinya karena beliau menyerahkan semua masalah ini kepadaku. Aku sendiri juga meminta om Rendra untuk tidak menyinggung hal ini pada Wangi karena nanti aku sendirilah yang akan mengatakan pada Wangi. Bagaimana pun ini masalahku, jalan hidupku yang akan berpengaruh bagi jalan hidup Wangi ke depan, jadi biarlah kami berdua yang akan menyelesaikannya.


Aku terhenyak ketika phonselku berdering. Aku melihat nama 'Papa' di sana. Aku yakin om Rendra sudah menyampaikan berita ini pada papa. Mau tidak mau aku harus menghadapi papa terlebih dahulu sebelum menghadapi Wangi.


"Hallo... Assalamualaikum pa." Ucapku ketika panggilan telpon aku angkat.


"Wa'alaikumsalam... Galih, kamu tahu kan kenapa papa telpon kamu sekarang ini?" Tanya papa setelah menerima salamku.


"Galih tahu pa." Jawabku.


"Galih, sebenarnya apa yang kamu pikirkan waktu itu? Kenapa kamu tidak pernah mengatakan tentang hal ini pada papa sebelumnya? Kamu tahu kan bagaimana terkejutnya papa ketika Rendra menyampaikan berita itu pada papa?!" Ujar papa yang terdengar marah dan juga khawatir. Ya aku akui aku salah karena dulu tidak pernah membicarakan hal ini pada orang tuaku.


"Maaf pa, waktu itu Galih tidak berpikir panjang." Sesalku.


"Papa ngerti kamu melakukannya karena ingin menghindar dari kesesihanmu dulu, tapi apa kamu lupa jika kamu masih punya orang tua yang juga mengkhawatirkanmu dan pedui padamu?" Kata-kata papa seakan menampar wajahku. Kenapa dulu aku begitu egois? Kenapa aku tidak memikirkan mama papa pada waktu itu dan membuat keputusanku sendiri?


Aku terdiam, tidak mampu menjawab ucapan papa karena apa yang dikatakan papa barusan adalah benar. Aku anak kurang ajar yang sempat melupakan orang tuanya dan mementingkan ego sendiri. Waktu itu aku hanya memikirkan kesedihanku sendiri tanpa berpikir jika mama dan papa mungkin juga sedih melihatku bersedih waktu itu.


"Nak... Apa kamu tidak bisa mundur dari tugas ini? Pertunangan kamu dan Wangi tinggal menghitung hari saja, bagaimana perasaan dia jika kamu meninggalkannya di hari pertunangan kalian?" Ucapan papa barusan semakin membuatku merasa bersalah pada Wangi meski tugas itu aku ajukan jauh sebelun aku bertemu dengan Wangi.

__ADS_1


"Maaf pa... Tidak ada alasan yang tepat untuk mundur dari tugas ini, tidak mungkin Galih mundur dengan alasan ingin bertunangan kan?" Jawabku apa adanya.


"Haahh..."


Terdengar papa menghela napasnya di seberang sana. Aku tahu apa yang dipikirkan papa. Papa pasti merasa tidak enak pada Wangi dan keluarganya karena pada awalnya memang keluarga kamilah yang menginginkan perjodohan ini. Tapi kami bisa apa?


"Pa... papa jangan terlalu khawatir, masalah ini biar Galih yang menyelesaikannya dengan Wangi karena ini masalah Galih, Galih lah yang memulainya jadi biar Galih yang mencari jalan keluarnya." Kataku untuk menenangkan sedikit hati papa.


"Baiklah, papa percaya apapun keputusan kamu tapi papa ingatkan sekali lagi... Jangan pernah mengambil langkah gegabah untuk kedua kalinya! Ingat Lih, apapun keputusan kamu jangan pernah menyakiti hati Wangi." Ucap papa yang sudah memperingatiku dari awal, tapi maaf pa... Aku tidak bisa janji, karena tidak menutup kemungkinan jika keputusanku nanti akan menghancurkan hati Wangi. Tapi aku pastikan Wangi tidak akan menyesal dikemudian hari setelah menerima keputusanku.


"Iya pa." Jawabku singkat karena aku memmang tidak ingin menjanjikan apapun. Karena sebuah janji terkadang bisa melukai.


"Iya pa, nanti Galih bicara sama Wangi." Jawabku.


"Ya sudah, papa tutup dulu telponnya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam..." Papa langsung memutus telponnya setelah mendengar balasan salamku. Sekarang tinggal masalah Wangi, nanti sepulang dia kerja kami harus bicara. Lebih baik aku membuat janji dulu dengannya lewat pesan.


^^^Galih:^^^


^^^Hai sayang... Pulang kamu kerja kita kencan sebentar yuk? Sekalian ada yang ingin aku bicarakan sama kamu.^^^

__ADS_1


Tidak butu waktu lama aku mendapat balasan dari Wangi.


Wangi:


Tumben pulang aku kerja ngajakin kencan duluan, kangen ya..?? Ya sudah, berhubung aku juga kangen sama kamu, jadi bolehlah...


Aku tersenyum membaca balasan dari Wangi, dia selalu punya cara untuk membuatku tersenyum, padahal aku tahu jika dia juga sibuk dengan pekerjaannya, bahkan sering aku melihat guratan lelah di wajahnya. Tapi dia selalu tersenyum dan membuatku juga tersenyum. Ya Tuhan... Siapkah jika aku kehilangan wanita sepertinya?


^^^Galih:^^^


^^^Iya sayang, hari ini aku kangen banget sama kamu.^^^


Wangi:


Okey, see you letter sayang...


Kulihat jam di tanganku menunjukkan pukul. 14.00 WIB. Tinggal dua jam setengah sebelum aku bertemu dengan Wangi. Aku hanya bisa berdo'a agar keputusanku kali ini bukanlah keputusan yang akan aku sesali di kemudian hari.


POV Galih off.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2