
Siang itu keadaan di UGD benar-benar kacau, banyak korban terluka yang kesemuanya adalah para tukang bangunan yang sedang membangun sebuah gedung perkantoran. Insiden tersebut terjadi ketika sebuah tiang beton penyangga tiba-tiba runtuh yang mengakibatkan seluruh bangunan yang masih 40% jadi itu ikut runtuh juga. Alhasil para pekerja yang berada di atas maupun di bawah bangunan mengalami luka-luka karena terkena reruntuhan ataupun jatuh dari atas bangunan. Syukurlah tidak ada korban jiwa di sini, hanya saja beberapa orang mengalami luka yang cukup berat. Wangi dan dokter-dokter lainnya yang dibantu oleh para perawat mondar-mandir dari satu brankar ke brankar lainnya untuk memeriksa dan mengobati para korban luka. Kurang lebih ada lima belas orang yang terluka dan dua diantaranya mengalami luka berat. Wangi hanya menangani orang-orang yang mengalami luka yang tidak cukup serius, luka ringan ditangani oleh dokter Residen tingkat satu dan dua yang dibantu oleh beberapa Koas, sedangkan yang berat ditangani oleh dokter senior dan dokter Residen tingkat akhir termasuk Elias. Disela kesibukan mereka tiba-tiba masuk lagi seorang pasien darurat yang mengalami luka cukup parah, ada luka sobek di pelipis kepalanya, pinggang sebelah kirinya robek dan kaki kirinya yang sepertinya patah. Seorang lelaki muda yang ternyata juga salah saru dari pekerja, dia baru saja bisa dievakuasi setelah terhimpit reruntuhan bangunan. Rintihan kesakitan terus terdengar dari mulutnya.
"Dok tolong ini emergency! Dia sudah kehabisan banyak darah, namun dia masih sadar." Ucap seorang perugas medis yang membawa korban tersebut.
"Kalian yang sudah selesai tolong bersihkan lukanya dan hentikan pendarahannya, setelah ini saya akan ke sana." Perintah Dokter Maulana salah satu dokter bedah umum senior yang kini sedang sibuk menangani salah satu pasien.
"Baik Dok!" Jawab Elias yang kebetulan baru saja selesai menangani pasiennya.
Elias yang diikuti oleh seorang perawat lekas mendekati pasien darurat tersebut. Tanpa pikir panjang dia langsung menangani apa yang telah disuruh oleh Dokter Maulana.
"Tahan dulu ya pak... Saya akan menghentikan pendarahannya dulu, sus tolong kapas dan kasa yang agak banyak." Ucap Elias sembari tetap fokus pada pekerjaannya.
"Baik Dok." Jawab perawat tersebut sambil bergerak cepat melakukan apa yang diminta Elias.
"Aduuhh... Sakit... Sakit..." Rintih pasien tersebut menahan rasa sakit diseluruh tubuhnya dengan mata yang terpejam.
"Tahan ya pak... Bapak harus tetap sadar, jangan tidur ya pak..." Turur Elias pada pasiennya.
"Ini dok!" Perawat tersebut kembali dengan membawa apa yang diminta Elias.
"Tolong bantu saya sus! Kita harus segera menghentikan pendarahannya, kalau tidak bapak ini akan semakin lemas." Ucap Elias dengan nada seriusnya.
__ADS_1
"Baik Dok!" Jawab perawat tersebut dan dengan cekatan membantu Elias.
"Ada yang bisa saya bantu Dok?" Wangi datang menawarkan bantuannya disaat waktu yang tepat Elias memerlukan bantuan.
"Tepat sekali kamu datang, saya minta toling untuk kamu lihat keadaan pelipisnya, tadi suster Dewi sudah membersihkannya dan menutup lukanya sementara, tapi sepertinya harus dijahit, darahnya juga melai merembes keluar sementara saya harus menghentikan pendarahan di pinggangnya." Perkataan Elias langsung dimengerti oleh Wangi, ia pun langsung memerikasa keadaan pelipis si korban dan ternyata benar itu luka robek dan perlu beberapa jahitan.
"Ini sudah pasti perlu beberapa jahitan Dok, dan sepertinya kita perlu ke meja operasi mengingat perut pinggangnya juga robek, sebaiknya pelipisnya dijahit bersamaan waktu operasi karena diperlukan anesthesia juga. Tidak mungkin saya membiusnya local, itu akan memerlukan waktu dalam menjahitnya dan akan menghambat operasi juga. Jadi sementara saya akan menghentikan pendarahan dan menutup sementara lukanya." Ucap Wangi yang disetujui oleh Elias.
"Kamu benar, kita harus segera menyiapkan meja operasi tapi kita harus meminta ijin Dokter Maulana dulu." Ucap Elias.
"Saya ijinkan, sus tolong segera siapkan meja operasi dan hubungi dokter anesthesia!" Tiba-tiba Dokter Maulana datang dan menjawab ucapan Elias.
"Dokter Elias dan Dokter Wangi ikut saya di ruang operasi ya! Dokter Elias hari ini kamu akan jadi asisten saya di dalam." Perintah Dokter Maulana.
Setelahnya Dokter Maulana keluar dari ruang UGD untuk mempersiapkan operasi yang kemudian diikuti oleh Elias dan Wangi. Elias melirik sebentar ke arah pasiennya tersebut sebelum perawat UGD mendorong brankarnya menuju ruang operasi.
"Dani... Kenapa nasibnya berubah seperti itu?" Ucap Elias dalam hati setelah menatap sejenak pada pasiennya. Ternyata Elias mengenal si pasien korban gedung runtuh itu. Jadi siapakah pasien yang bernama Dani tersebut?
Dalam hati Wangi pun merasa pernah melihat pasien tersebut entah dimana.
"Pasien tadi siapa ya? Rasa-rasanya kok pernah lihat, tapi dimana ya? Ah, atau perasaanku saja kali...Di dunia ini kan kata orang kita punya tujuh kembaran, mungkin orang itu mirip seseorang yang aku kenal saja." Gumam Wangi dalam hati yang akhirnya masa bodoh dengan apa yang dia pikirkan.
__ADS_1
Di ruang operasi...
"Sebelumnya kami sudah melakukan rontgen pada tubuh pasien untuk melihat ada luka dalam atau tidak. Untung robekannya tidak mengenai organ dalam meskipun luka cukup dalam dan besar, hanya saja kaki kirinya mengalami patah tulang. Jadi setelah kita selesai akan dilanjutkan oleh bedah ortopedi yang dipimpin oleh Dokter Juna." Jelas Dikter Maulana yang dijawab oleh semua tim operasi di sana.
"Kalau begitu kita berdo'a dulu sebelum kita mulai bekerja. Berdo'a mulai" Dokter Maulana memimpin do'a sebelum operasi dimulai.
"Anesthesia sudah bekerja Dok, sialhkan dimulai." Ucap Dokter Anne selaku dokter anesthesia memberi tahu.
"Baik terimakasih Dokter Anne. Mess!" Dokter Maulana memulai operasinya dengan bantuan Elias dan Wangi sebagai asisten satu dan dua menjadikan operasai pertama berjalan lancar yang kemudian dilanjutkan dengan operasi penyatuan tulang oleh Dokter Juna bagian ortopedi. Disana Elias dan Wangi masih berada di dalam ruangan untuk membantu proses penjahitan sementara Dokter Maulana telah keluar ruangan terlebih dahulu.
Dilain tempat, Galih merasa gelisah karena pesan dan panggilan yang dia kirim untuk Wangi tidak ada balasan maupun respon sama sekali. Beberapa kali Galih menelponnya tapi tidak ada jawaban dari Wangi. Saat ini Galih sudah berada di parkiran Rumah Sakit Universitas. Dia masih berada di dalam mobil, kebiasaan Galih yang tidak pernah turun dari mobil karena Wangi akan keluar setelah mengetahui jika dia sudah datang menjemputnya. Tapi Wangi tidak membalas atau menjawab telponnya meski sudah berkali-kali Galih menghubunginya, bahkan sebelum Galih berangkat dia sudah terlebih dulu mengirimkan pesan, akan tetapi hingga Galih sampai di Rumah Sakitpun pesan itu belum dijawab bahkan dibuka sama sekali.
"Kenapa Wangi susah sekali dihubungi ya? Apa dia sibuk? Atau ada pekerjaan yang belum selesai dia kerjakan?" Galih bertanya-tanya sendiri sambil tetap menatap ke arah layar phonselnya berharap ada balasan atau telpon dari Wangi.
"Tidak biasanya Wangi tidak memberi kabar jika dia akan pulang terlambat, biasanya dia akan memberi tahuku lebih dulu. Tapi ini kenapa tidakbada kabar ya?" Galih masih bergumam pada dirinya sendiri, mereka-reka apa yang terjadi pada Wangi.
"Apa perlu aku tanyakan ke dalam ya?" Ujar Galih pada dirinya sendiri.
"Ahh sebaiknya aku tunggu sedikit lebih lama lagi, jika Wangi belum juga memberi kabar aku akan tanyakan ke dalam." Galih melihat jam yang ada di phonselnya dan memutuskan untuk menunggu lebih lama lagibdi dalam mobil, berharap Wangi segera mengabarinya. Namun sudah satu jam lebih Galih menunggu tetap saja tidak ada kabar dari Wangi dan Galih memutuskan untuk menanyakannya di dalam Rumah Sakit.
"Ah, sebaiknya aku turun dan menanyakannya ke dalam, karena hatiku tidak tenang."
__ADS_1
Bersambung...