Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 69 Rencana PDKT Buat Si Uler Keket


__ADS_3

Wulan duduk dengan wajah mendadak bingung sambil melihat ke arah Wangi dan Erika secara bergantian.


"Kalian lagi ngomongin aku masalah apa? Ah pasti ini ulah kamu kan Er? Pasti kamu gibahin aku yang iya-iya, jangan percaya hasutan dia Wang." Cerocos Wulan sambil menduga-duga apa yang tengah menjadi bembicaraan antara Wangi dan Erika sambil menuding Erika sebagai biang keroknya.


"Enak saja! Emang kamu?! Biang rusuh." Sahut Erika tidak terima padahal apa yang dibilang Wulan tadi sebagian besar memang benar.


"Lebih baik biang rusuh daripada biang gosip, bisanya nyinyirin di belakang tapi gak mau ngomong di depan orangnya langsung." Wulan membalas dengan tepat sasaran lagi. Ya meski Wulan sikapnya ngeselin dan terkadang bikin Wangi naik darah namun dia bukan orang yang suka ngomongin orang di belakangnya. Wulan lebih suka menyerang langsung dengan omongannya di depan orang yang tidak dia sukainya. Intinya dia lebih suka berbicara jujur langsung jika suka ataupun tidak suka meski itu terdengar menyakitkan di telinga.


"Sudah, sudah! Kalian di sini mau makan atau mau adu mulut sih? Kalau mau adu mulut sana pergi ke parkiran sana, sekalian mau jambak-jambakan juga boleh." Ujar Wangi kesal mendengar kedua teman kampretnya itu cek cok melulu jika bertemu dan itu sangat mengganggu kesehatan telinganya.


"Kok di parkiran sih Wang?" Erika menjatuhkan pertanyaan unfaedahnya membuat Wangi memutar bola matanya.


"Sekalian bantu tukang parkir teriak-teriak pas ngatur parkiran!" Sahut Wangi jengah karena sudah dibuat geram sendiri.


"Pfftt... Hahaha..." Mendengar jawaban Wangi membuat Wulan terbahak-bahak.


"Ngapain situ ketawa?!" Seru Erika sewot dengan mata yang melotot ke arah Wulan.


"Habisnya pertanyaan bego kaya gitu kamu tanyain." Wulan geleng-geleng kepala dengan bibir yang masih tertawa melihat kebodohan Erika. Alhasil Wangi pun jadi iku geleng-geleng kepala juga.


"Ckckk... Kalian ini masih saja ribut kayak bocah saja." Gumam Wangi dengan menatap Erika dan Wulan dengan pandangan lelah. Lelah punya teman yang absurd seperti mereka. Lalu Wangi melanjutkan kembali makannya yang sempat terhenti karena mendengar percekcokkan tadi.


"Wang... Bantuin aku dong pleas..." Ujar Wulan tiba-tiba.


"Bantu apa? Tukar sift jaga? Ogah, aku capek kemarin baru juga selesai." Sahut Wangi tanpa mendengar apa permintaan Wulan terlebih dahulu dan langsung menerkanya sendiri.


"Bukan itu..." Sahut Wulan buru-buru.


"Lha terus apa?" Tanya Wangi kemudian.


"Itu... Bantu aku buat dekat dengan Jarno." Ujar Wulan seraya berbisik.


"Haa??!" Wangi sedikit terkejut dengan permintaan Wulan tersebut.


"Ayolah Wang... Kali ini saja ya? Ya?" Pintanya sambil memelas.


"Gimana caranya? Kenal sama Jarno saja enggak, kenapa gak minta tolong sama sepupumu saja sih? Kan mereka berteman." Wangi heran sendiri dengan pemikiran Wulan, kenapa harus minta tolong padanya yang tidak mengenal Jarno sama sekali padahal sudah ada Josep yang pasti bisa membantunya, secara Josep dan Jarno berteman.


"Iya sih... Tapi Jarno selalu beralasan jika diajak kak Josep buat ketemu aku, nah... Kata kak Josep pacar kamu yang namanya Galih itu adalah teman dekatnya Jarno dan dia lebih mendengarkan apa kata pacar kamu dibanding perkataannya sepupuku." Terang Wulan beserta sesi curhatnya.


"Itu berarti lelaki tersebut memang gak suka sama kamu, secara kamu kan uler Keket, deket-deket kamu jadinya gatel semua." Seloroh Erika begitu saja setelah mendengar ucapan Wulan tadi.

__ADS_1


"Sialan! Sirik saja lihat orang punya gebetan, kasihan situ gak ada." Balas Wulan dengan tak kalah mengejeknya.


"Enak aja... Siapa bilang gak ada?" Sahut Erika tak terima.


"Kata aku, weekk!!" Seru Wulan sambil menjulurkan lidahnya mengejek Erika.


"Ssttt... Sudah, sudah! Kalian gak capek apa ribut mulu dari tadi. Malu sama umur!" Wangi memijat pelipisnya yang terasa nyut-nyutan karena mendengar pertengkaran kedua temannya yang seperti bocah itu. Setelah benar-benar terdiam sejenak, barulah Wulan berkata kembali.


"Wang gimana? Mau ya? Pleas... Kali ini aja." Wulan kembali memohon.


Wangi menghela napasnya perlahan, ternyata Wulan masih saja kekeh dengan permintaannya.


"Huuhhhff... Okey katakanlah aku mau bantu kamu, terus caranya gimana? Gak mungkin kan aku langsung minta ke Galih buat ngajak Jarno ketemu sama kamu, tadi kata kamu Josep saja gagal." Ujar Wangi.


"Itu kan kak Josep, belum tentu Galih gagal juga kan... Karena dari yang aku dengar mereka bersahabat." Kata Wulan yang tetap pqntang mundur.


"Justru itu Galih paling malas buat ngurus urusan asmara orang lain termasuk temannya sendiri." Terang Wangi pada Wulan.


"Pleas Wang... Coba saja dulu, kan belum dicoba, ya?" Wulan kembali memohon seakan sudah putus asa.


"Huuuhhff... Iya deh ntar aku bilang ke Galih, tapi kita harus buat rencana gimana caranya agar Jarno bisa ketemu kamu secara natural. Tapi... caranya gimana?" Ujar Wangi sambil berpikir cara yang bagus namun terkesan alami untuk mempertemukan Wulan dengan Jarno.


"Ahaa!!" Wangi dan Wulan langsung berseru bersamaan sembari tersenyum cerah melirik saru sama lain setelah mendengar ucapan Erika.


"Tumben kamu pinter? Jarang-jarang tukang gosip bisa ngasih ide begini." Ujar Wulan memuju sekaligus menyindir dengan senyum pongahnya.


"Sialan!! Gini-gini masih bisa ngasih ide buat kamu." Erika kesal sendiri dengan memasang wajah kecutnya.


"Iya, iya makasih... Gitu saja ngambek, sekarang kelanjutan idenya gimana?" Ucap Wulan pada akhirnya.


"Gini ceritanya...." Ujar Erika yang kemudian menjelaskan bagaimana mereka akan melangsungkan skenario PDKT Wulan. Yang tadinya selalu adu mulut, akhirnya mereka kerja sama juga.


Sore harinya Galih menjemput Wangi ke Rumah Sakit seperti biasanya. Dia menunggu di dalam mobil di parkiran sambil bermain game yang ada di phonselnya. Tidak lama kemudian Wangi datang dan masuk ke dalam mobil.


"Hai sayang..." Sapa Wangi ketika melihat Galih.


"Hai... Gimana kerjaannya tadi? Capek banget ya?" Tanya Galih seraya merapikan anakbrambut Wangi yang terjuntai di pipinya dan menyelipkannya di telinga Wangi.


"Capek kerjaan biasalah... Tapi yang bikin aku tambah capek itu teman aku yang sedari pagi hingga siangvtadi ngerengek buat nolongin dia PDKT sama teman kamu." Ungkap Wangi dengan sesi curhatnya seusai kerja. Ya beginilah Wangi jika sudah ketemu Galih sepulang kerja, pasti dia menceritakan apa saja yang dia alami selama kerja, begitupun Galih akan bercerita tentang kegiatannya seharian di Batalyon.


"Teman aku? Siapa?" Tanya Galih penasaran sambil mulai menjalankan mobilnya untuk keluar meninggalkan parkiran Rumah Sakit.

__ADS_1


"Jarno." Mendengar jawaban singkat Wangi, Galih langsung melebarkan matanya tak percaya dan terkejut.


"Jarno? Serius kamu yang?" Wangi mengangguk sebagai jawabannya.


"Kok bisa? Maksud aku kok bisa mereka kenal? Jarno sendiri tidak cerita apa-apa sama aku tentanh dia berkenalan dengan perempuan." Ujar Galih yang masih penasaran tentang hal itu.


"Awal pertemuan mereka sih karena kebetulan, waktu itu tidak sengaja mobil teman aku Wulan sedang mogok di jalan dekat arah Batalyon dan lagi bingung banget katena bengkel langganannya susah dihubungi. Nahh... Disaat itulah Jarno yang sedang naik motor berhenti dan menawarkan bantuannya pada Wulan. Awalnya Wulan takut soalnya waktu itu jalanan sedang sepi dan sempat curiga sama niat baik Jarno. Soalnya waktu itu Jarno sedang berpakaian preman dan tidak membuka helmnya, Wulan gak tahu jika Jarno adalah anggota TNI di Batalyon. Namun setelah Jarno membuka helmnya dan meyakinkan Wulan akhirnya Wulan percaya, apalagi katanya dia sempat terpesona sama Jarno saat suadah melepas helmnya." Ujar Wangi menceritakan kisah Wulan.


"Tapi kamu gak akan terpesona sama Jarno kan kalau-kalau kalian bertemu?" Tanya Galih seakan mulai cemburu.


"Hahaa... Ya enggaklah, ngapain juga terpesona jika sudah punya kekasih yang tampan seperti ini?" Ucap Wangi seraya mencubit gemas pipi Galih. Ya ampun... Demi apa? Gara-gara ucapan Wangi barusan membuat Galih langsung blushing dan salah tingkah.


"Ekhmm terus kok teman kamu siapa? Wulan? bisa tahu jika aku dan Jarno saling kenal?" Tanya Galih sekalian mengalihkan salah tingkahnya.


"Ingat teman kamu yang di rujuk ke Rumah Sakit kami? Wulan juga tidak sengaja melihat Jarno dan Josep ada di sana pas mereka memakai seragamnya. Dan kebetulannya lagi Josep itu kakak sepupunya Wulan." Terang Wangi pada Galih yang manggut-manggut.


"Kok bisa kebetulan gitu ya? Kayak kita dulu hehe..." Ujar Galih ketika ingat awal-awal bertemu dan kenal dengan Wangi.


"Jodoh kali." Sahut Wangi.


"Trus rencananya gimana? Soalnya Jarno yang aku tahu lagi males dekat-dekat sama cewek, soalnya beberapa bulan lalu dia baru ditinggal nikah sama kekasihnya." Kata Galih yang sedikit sangsi jika Jarno mau diajak kenalan dengan Wulan.


"Wahh berat juga ya?" Sahut Wangi yang jadi ikut ragu bisa membantu Wulan.


"Kenapa gak minta bantuan Josep saja sih? Katanya mereka sepupuan." Ujar Galih.


"Nahh itu dia... Masalahnya Josep sudah pernah coba tapi belum apa-apa sudah Jarno tolak. Sayang, kata Josep kamu sahabatnya Jarno, mungkin kalau sama kamu pasti dia mau." Ujar Wangi mencoba merayu Galih.


"Sengebet itu ya Wulan sama Jarno?" Tanya Galih.


"He'em, kalau aku gak bantu dia, Wulan bakalan ngerusuh terus di tempat aku." Rengek Wangi sambil mengerucutkan bibirnya.


"Aku mau bantu sih, asal kalian punya rencana yang bagus." Kata Galih yang langsung membuat mata Wangi berbinar-binar.


"Ada! Kami sudah ada rencana bagus untuk itu." Wangi langsung menyahut dengan semangatnya.


"Okey, kalau gitu rencana kalian kapan?" Tanya Galih.


"Besok sepulang kerja." Jawab Wangi antusias.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2