
Dua tahun kemudian...
Terlihat dua orang pemuda berseragam militer sedang bercengkrama dengan beberapa anak kecil di sebuah tanah lapang yang gersang di wilayah Lebanon bagian Selatan.
"Good morning..." Sapa salah satu dari tentara militer itu pada anak-anak di sana.
"Good morning..." Balas anak-anak itu serempak.
"Selamat pagi..." Sapa tentara militer yang satunya lagi dan kembali anak-anak tersebut menjawab dengan kalimat yang sama.
"Selamat pagi..." Seru anak-anak tersebut membeo dengan senyum ceria di wajah mereka semua.
"Hahaha... Kalian memang suka sekali meniru ucapan kami ya? Lihatlah Galih, mereka seperti burung beo yang suka meniru." Ujar Damar pada Galih sambil tertawa. Ya, kedua tentara militer tersebut adalah Galih dan Damar. Damar adalah teman yang dijumpai Galih ketika dia bergabung dengan Pasukan Garuda di Lebanon saat ini.
"Mereka adalah anak-anak yang seharusnya punya masa depan yang lebih menyenangkan dan lebih baik jika tidak terkurung di tanah tandus ini, jalan mereka masih jauh." Ucap Galih sambil melihat anak-anak itu dengan tatapan iba.
"Iya, tapi lihatlah mereka selalu ceria ketika melihat kedatangan kita seolah tidak ada beban atau ketakutan di mata mereka." Ujar Damar.
"Benar dan itu juga menjadi kekuatan kita untuk melindungi mereka di sini." Sahut Galih.
"Kalian semua sudah makan?" Tanya Galih.
"Sudah..." Jawab mereka serempak dengan menggunakan bahasa Indonesia. Pasti kalian heran kenapa mereka bisa menggunakan Bahasa Indonesia. Itu karena Pasukan Garuda selalu datang di tanah mereka dan para tentara militer Indonesia sering sekali mengajak mereka bicara dan mengajarkan mereka terutama anak-anak kecil untuk berbahasa Indonesia dengan kalimat-kalimat sederhana yang digunakan sehari-hari.
Pagi ini merupakan jadwal Galih dan juga Darma bersama beberapa kawan mereka untuk berpatroli rutin di pagi hari. Patroli ini wajib mereka lakukan di daerah sepanjang wilayah Adchit al Qusayr, Lebanon Selatan menggunakan kendaraan tempur lapis baja dengan persenjataan lengkap. Dan di saat berpatroli inilah mereka tak jarang berinteraksi dengan warga lokal. Meski sedikit menatap warga asing dengan waspada tapi syukurlah kontinen Garuda selalu disambut hangat oleh warga lokal setempat. Ya contohnya anak-anak kecil tadi yang menyapa dengan senyum gembira ketika Pasukan Garuda dari Indonesia datang untuk berpatroli.
"Anak-anak... Apakah kalian mau coklat?" Tanya Damar pada anak-anak itu dan langsung dijawab gembira oleh mereka.
"Mau...!" Seru mereka semua.
__ADS_1
"Kalau kalian mau, kalian harus berbaris sambil berhitung satu sampai sepuluh." Kata Damar agar mereka tidak berebut coklat ketika ia membagikannya. Mereka sungguh anak-anak yang patuh, merekapun langsung berbaris rapi dan mulai menghitung ketika ditunjuk oleh Damar dan Damar pun memberi mereka coklat sebagai hadiahnya. Melihat anak-anak itu Galih dan beberapa tentara lainnya pun ikut tersenyum. Mereka adalah anak-anak yang manis, hanya saja mereka kurang beruntung karena lahir dan hidup di tanah yang rawan akan terjadinya perang.
Selesai menerima coklat-coklat itu, anak-anak tersebut langsung pergi setelah mengucapkan terimakasih dengan menggunakan bahasa Indonesia yang telah diajarkan pada mereka sebelumnya.
"Ahh... Kalau melihat mereka aku jadi teringat anakku yang berada jauh di tanah air. Sekarang dia akan berusia dua tahun. Waktu aku tinggalkan dulu istriku baru saja hamil tiga bulan." Ucap Damar yang merasa rindu pada anak dan iatrinya di Indonesia.
"Kamu hebat bang, kamu bisa setegar ini meninggalkan anak dan istrimu demi tugas negara. Aku bangga padamu, anak dan istri abang pasti juga bangga." Ucap Galih mencoba menghibur kawannya itu meski sebenarnya hati Galih berkecamuk tatkala teringat saat dirinya meninggalkan Wangi yang menatap kecewa padanya.
"Sungguh beruntung kamu belum berkeluarga Lih, jadi tidak ada beban pikiran yang begitu dalam ketika meninggalkan anak istri di rumah dalam waktu yang lama." Kata Damar seraya menepuk bahu Galih.
"Abang salah, meski aku di sini berusaha untuk fokus bekerja tapi hati aku masih tertinggal di Yogyakarta." Batin Galih dengan tersenyum miris.
Dua tahun lalu Galih terpaksa memberi luka pada Wangi karena ketakutannya sendiri jika suatu saat dirinya tak mampu kembali, padahal hal itu belum tentu terjadi. Meski dirinya sudah move on pada masa lalunya namun rasa trauma di hati Galih yang takut kehilangan orang yang dia cintai untuk kedua kalinya masih melekat di benaknya. Maka dari itu dia terpaksa melepaskan Wangi agar wanita yang dia cintai itu tidak merasa terbebani untuk memikirkan dan menunggu dirinya yang belum pasti pulang dengan selamat. Bukan berarti Galih pesimis jika dirinya tidak bisa pulang dengan selamat, namun resiko itu selalu ada untuk abdi negara seperti dirinya yang selalu siap menghadapi maut kapanpun itu. Meski kematian Sinar dulu bukanlah seratus persen kesalahannya tapi jika Sinar tidak terikat pertunangan dengannya mungkin Sinar dapat bahagia dengan orang yang mencintainya disisa hidupnya. Hal itulah yang membuat Galih berpikir untuk membatalkan rencana pertunangannya dengan Wangi yang amat dia cintai. Galih sebenarnya berencana menyatakan cintanya pada Wangi di hari pertunangan mereka harus mengubur dalam-dalam impian itu. Galih kini hanya percaya jika memang Wangi adalah jodoh yang telah disiapkan Tuhan untuknya maka suatu hari nanti mereka akan dipersatukan dengan ikatan pernikahan. Namun jika bukan, Galih hanya berharap Wangi dapat menemukan kebahagiaannya meski bukan bersamanya.
"Ini sudah dua tahun berlalu sejak peristiwa itu, mungkin sekarang kamu sudah menyelesaikan Residen mu, maaf aku tidak bisa berada di sana untuk mengucapkan selamat. Wangi... Aku merindukanmu." Batin Galih dengan hati yang miris.
...****************...
"Nahh, anak mama sekarang sudah cantik paripurna." Ujar mama Rina yang tersenyum bangga melihat hasil karyanya di wajah Wangi.
Wangi yang sudah cantik terlihat makin cantik dengan riasan simple ala mama Rina dan rambut yang disanggul modern berpadu dengan kebaya kutu baru berwarna magenta.
"Waahh... Keahlian mama memang paling oke! Makasih ya ma sudah ngerias Wangi yang cantik ini jadi lebih cantik." Ucap Wangi yang memuji mamanya sekaligus memuji dirinya sendiri.
"Iya dong... Mama siapa dulu?" Sahut mama Rina yang begitu bangga dengan keahliannya.
"Ya sudah, sekarang ganti mama yang siap-siap, bentar lagi papamu pasti sudah nungguin." Ujar mamanya kemudian.
"Perlu Wangi bantu gak ma?" Wangi menawarkan bantuan.
__ADS_1
"Gak perlu! Yang ada malah lama dan hancur dandanan mama." Sahut mamanya yang langsung menolak bantuan putrinya itu.
"Gitu amat nggak percanya sama anak sendiri." Gumam Wangi sambil menggerutu namun tidak dihiraukan sama mama Rina karena jika menanggapi Wangi ntar makin lama urusannya.
Disaat menunggu mamanya berdandan, Wangi mendapat sebuah telepon dari Wulan. Semenjak PDKTnya Wulan dan Jarno berhasil, Wangi dan Wulan semakin dekat dan berteman baik.
"Hallo Wul... Ada apa?" Tanya Wangi setelah mengangkat telphonnya.
"Kamu sudah berangkat Wang?" Jawab Wulan dengan sebuah pertanyaan.
"Belum, ini masih di rumah, masih menunggu mamaku bersiap, bentar lagi juga berangkat." Jawab Wangi.
"Ohh... Kalau gitu tunggu aku di depan gedung wisuda ya? Ini aku juga mau otw, ntar kita masuknya barengan." Ujar Wulan.
"Okey, ntar yang nyampek duluan nunggu di depan gedung." Balas Wangi.
"Oh ya Wang, kamu serius mau ikut program dari Rumah Sakit sebagai dokter sukarelawan untuk dikirim di Lebanon? Memang orang tuamu sudah ngijinin?" Tanya Wulan kemudian.
"Ya seriuslah... Tapi ingat ya Wul! Kamu jangan bicarakan masalah ini jika ketemu dengan orang tuaku nanti." Ujar Wangi memperingati Wulan.
"Yang benar saja?! Kamu belum bicarakan masalah itu dengan mama papa kamu Wang? Gila kamu ya! Aku tahu kamu ke sana buat nyusul Galih kan? Ya kan?!" Seru Wulan di seberang sana.
"Siapa bilang?! Aku kesana karena aku ingin mendapat pengalaman yang lebih baru dan lebih menantang saja. Memang cowok di dunia ini cuma dia doang?" Ujar Wangi mengelak.
"Terserah kamu deh... Aku tahu cinta membuat kita gila, aku dulu juga gitu tapi ternyata ada yang lebih gila lagi daripada aku." Sindir Wulan.
"Aku bilang bukan kok... Kamu gak percayaan banget sih.." Ujar Wangi yang sebenarnya omongan Wulan tidak sepenuhnya salah.
"Iya, iya percaya... Pokoknya nanti tunggu aku di depan gedung wisuda. Baye... Aku tutup telphonnya." Sahut Wulan yang kemudian menutup telphonnya setelah mendapat balasan "iya" dari Wangi.
__ADS_1
"Duuhh... Gimana ya reaksi Galih jika melihat aku di sana? Awas saja, aku buat kamu gak bisa tenang mikirin aku, siapa suruh ninggalin aku begitu saja. Kamu pasti tidak tahu Galih, sebelum kenal sama kamu, aku ini gadis tomboy yang suka bikin pusing semua orang, ada yang bilang aku ini barbar, Wulan nyebut aku ini gila, Riko suka panggil aku cewek sinting, mama aku aja suka ngatain aku kaya monyet yang suka manjat pohon mangga. Jadi... Tunggu aku Galih Admaja."
Bersambung...