
"Selamat ya teman-teman... Akhirnya kita lulus juga." Ucap Erika yang terlihat begitu bahagia.
"Iya sama-sama, akhirnya kita bisa lulus S-2 tepat waktu dan aku seneng bisa lulus bareng kalian berdua..." Wangi langsung memeluk Erika dan Wulan dengan rasa haru dan gembira.
"Iya, perjuangan kita selama ini ternyata gak sia-sia. Jadi ingat dulu kita sering adu mulut, cekcok gak penting sampai bisa deket kayak gini. Jadi terharu tauuu..." Ujar Wulan yang udah mewek duluan.
Saat ini Wangi berasama Wulan dan Erika baru saja melaksanakan acara wisuda atas kelulusan mereka setelah menyelesaikan pendidikan Strata Dua Spesialis Bedah Umum. Mereka sedang ngobrol-ngobrol sebentar sebelum menemui para keluarga mereka yang tadi menonton acara wisuda.
"Du du duuu... Si Uler Keket kita ternyata cengeng juga ya... Cup cup cup... Ntar make up kamu luntur lho... Ntar papamud Jarno lari gimana?" Ujar Erika yang masih saja suka menggoda Wulan.
"Iihh kok ngomongnya gitu? Wangi teman kamu itu lho... Nyebelin!!" Ehh... Si Wulan malah tambah mewek.
"Husstt!! Kamu itu Er, orang lagi hamil juga kamu godain, udah tahu bumil itu sensitif banget malah suka godain." Ujar Wangi yang langsung melotot ke arah Erika.
Ya, Wulan saat ini tengah hamil muda baru dua bulan. Anak siapa? Tentu saja anaknya Jarno. Kok bisa? Ya bisa dong... Setelah PDKT mereka dua tahun yang lalu sukses, Wulan dan Jarno semakin dekat dan memutuskan untuk berpacaran. Setelah satu tahun hubungan mereka semakin serius dan memutuskan untuk menikah. Dan dua bulan yang lalu Wulan memberi kabar pada Wangi dan juga Erika jika dirinya tengah hamil. Wulan terlihat bahagia dan menceritakan jika Jarno sang suami langsung menangis haru setelah mengetahui jika dirinya tengah hamil hasil buah cinta mereka.
"Iya iya maaf... Aku kan cuma bercanda, maaf ya bumil cantik jangan nangis ntar aku beliin makanan yang kamu suka deh..."Bujuk Erika.
"Beneran? Terserah aku ya? Gak boleh ditarik lagi!" Ujar Wulan pada Erika.
"Beneran... Eh tapi kok perasaan aku gak enak gini ya?" Sahut Erika yang tiba-tiba sedikit menyesal sudah berjanji pada Wulan.
"Pokoknya gak boleh ditarik lagi! Wangi tuh saksinya." Ujar Wulan memperingatkan Erika.
"Terserah deh... Pokok jangan yang macem-macem!" Balas Erika pada Wulan.
"Tenang saja, mudah kok... Aku cuma kepengen makan rujak buah." Ucap Wulan.
"Yaelahh... Itu sih gampang, ntar aku beliin sebanyak yang kamu mau." Sahut Erika dengan gampangnya.
"Ehh jangan beli...! Aku mau kamu yang bikin sendiri, kamu kan dulu pernah bikin sendiri dan enak banget, jadi kamu bikinin buat aku ya..." Kata Wulan sambil senyum-senyum seraya mengayun-ayunkan lengan Erika bak anak kecil yang merengek menginginkan sesuatu.
"Hahh?? Sekarang?!" Erika bertanya siapa tahu pendengarannya salah tapi Wulun justru mengangguk.
"Ya sudah, habis ini ke rumah aku hitung-hitung syukuran kelulusan kita, tapi ntar kita belanja dulu." Ucap Erika yang akhirnya menyanggupi permintaan Wulan.
"Ehh tapi aku mau buah mangganya yang ada di rumah Wangi, soalnya mangga di rumah Wangi pas banget lagi berbuah dan aku mau harus Dokter Sandy yang manjatnya langsung buat metik mangganya." Ujar Wulan dengan entengnya.
"What??!!" Erika langsung terkejut dan melotot ke arah Wulan dengan mulut yang menganga. Sementara Wangi yang mendengarnya langsung ngakak habis-habisan.
__ADS_1
"Huahahhahaa..." Wangi ngakak sabil memegangi perutnya yang terasa kaku.
"Kok cowok aku dibawa-bawa sih? Kenapa gak minta suami kamu sendiri sih yang manjat pohon mangganya? Nggak, nggak, nggak! Pokoknya enggak!" Tolak Erika mentah-mentah dan Wulan langsung kembali berkaca-kaca.
"Lihat tuh Wulan mau nangis lagi lho Er, Kamu mau dilihat banyak orang karena buat Wulan menangis? Jarno lagi di luar lho nungguin dia, kamu mau disalahin Jarno gara-gara bikin istri tercintanya menangis?" Wangi jadi ikut-ikutan ngerjain si Erika, kapan lagi dia bisa melakukan hal ini? Sementara dirinya akan pergi meninggalkan kedua sahabatnya itu dalam waktu yang cukup lama. Wangi pasti akan merindukan kebersamaan mereka seperti saat ini.
"Duhh Wang, kok kamu ikut-ikutan sih?" Protes Erika.
"Biar cepet kelar saja, ortu aku sudah nungguin tu... Ortumu sama Dokter Sandy juga nungguin kamu kan? Ayolah Er, biar cepat kelar." Bujuk Wangi pada Erika.
"Iya, iya, iya... Ntar aku minta ke mas Sandy deh." Akhirnya Erika terbujuk juga.
"Asyiiikkk...!!! I Love You Erika...!" Wulan langsung berseru senang dan memeluk Erika sambil menggoyang-goyangkan tubuh Erika.
"Ciiee... Mas Sandy..." Ledek Wangi sambil menaik turunkan alisnya dan tersenyum jahil pada Erika.
"Nggak ada teman yang sebaik aku tau..." Ujar Erika.
"Iya deh... Karena Erika sudah baik, rujakannya mending di rumah aku saja ketimbang bolak-balik, rumah Wulan juga dekat sama rumah aku, sekalian kita makan-makan, tadi sebelum datang kemari ibu sudah masak-masak." Ujar Wangi.
"Kebetulan aku juga kangen sama masakan ibu kamu Wang hehe..." Wulan tambah kegirangan mendengar tawaran Wangi, apalagi sejak dua tahun terakhir ini Wulan sering main atau nginep di rumah Wangi. Ditambah sejak Wulan dan Jarno menikah, pengantin baru itu mendapat rumah dinas yang kebetulan satu komplek dengan rumah Wangi, jadinya mereka tambah sering ketemu di rumah.
"Okelah, demi bumil kencan aku sama mas Sandy hari ini dibelokkan ke rumah Wangi." Ucap Erika pasrah. Dua lawan satu mana menang dia?
"Jadi saya diajak kesini cuma disuruh buat manjat pohon mangga?" Tanya Sandy yang merasa dibodohi oleh junior-juniornya.
"Sudahlah Dokter Sandy, sekali ini saja demi teman kita yang lagi ngidam, lagian kita kan teman hehe..." Bujuk Wangi.
"Iya yang... Ntar kalau gak dipenuhi inginnya Wulan malah nangis dan bikin ricuh. Pusing ntar jadinya." Mendengar permintaan Erika membuat Sandy tidak bisa menolaknya.
"Iya, apa sih yang nggak buat kamu." Sahut Sandy yang langsung membuat yang lainnya geleng-geleng kepala.
"Heemm... Kalau yang minta ayang sendiri langsung dijabani." Sindir Wangi sambil mencebikkan bibirnya.
"Makanya cepet cari pacar lagi sana jangan nungguin orang yang gak pasti." Setelah mengatakan itu Wulan yang ada di sebelah Erika langsun mencubit pinggang Erika.
"Auww...!! Sakit Wul..." Seru Erika sambil mengusap-usap pinggangnya yang terasa nyut-nyutan.
"Mulutmu itu lho Er... Bisa direm dikit gak sih??!" Seru Wulan setengah berbisik pada Erika.
__ADS_1
"Santai saja, aku gak apa-apa kok, Dokter Sandy mending cepetan manjat ntar keburu panas lho..." Ujar Wangi yang terlihat biasa-biasa saja.
"I..iya ini juga mau manjat." Sahut Sandy yang langsung memanjat pohon mangga. Sementara itu Jarno kemudian datang sambil membawa baskom untuk wadah mangga.
"Dokter Sandy! Mau dibantuin gak?" Seru Jarno dari bawah.
"Gak usah bang! Saya bisa kok sendiri!" Seru Sandy dari atas pohon menjawab tawaran Jarno.
"Iya gak usah beb... Biarin aja Dokter Sandy sendiri yang petik mangganya, debay kita maunya gitu... Kapan lagi lihat Dokter Sandy manjat pohon? Pfftt..." Ujar Wulan sambil bergelayut manja di lengan suaminya.
"Emang ya junior gak ada akhlak! Untung akunya baik." Gumam Sandy sambil menggerutu di atas pohon. Sedangkan Wangi sudah menahan tawanya, sementara Erika was-was jika pacar gantengnya itu jatuh dari atas pohon.
Sambil menunggu Dokter Sandy memetik mangga dari atas pohon bersama Jarno yang membantunya dari bawah pohon, para perempuan mengupas buah-buahan lain pelengkap bahan rujak buah dan membuat bumbunya. Tak lama kemudian Sandy dan Jarno datang dengan sebaskom mangga gadung muda dan beberapa mangga yang sudah matang.
"Nih mangganya, segini cukup kan? Ada yang udah matang juga." Tanya Sandy sambil memberikan sebaskom mangga yang ia petik tadi.
"Waahh... Ini banyak banget, makasih ya Dokter Sandy." Wulan langsung berbinar-binar matanya ketika melihat mangga yang banyaknya sebaskom penuh.
"Sama-sama, ya sudah kalau gitu aku sama bang Jarno mau ngobrol di depan." Sahut Sandy.
"Ya sudah sini aku cuci dulu lalu baru dikupas kulitnya." Wangi langsung mengambil beberapa mangga muda dari baskom, lalu mencucinya di washtaple dapurnya.
Setelah Wangi mencucinya, Erika langsung mengupasnya.
"Oh ya Wang, papa mama kamu ada di mana?" Tanya Wulan sambil celingukan mencari keberadaan orang tua Wangi.
"Ada di kamar lagi ganti baju mungkin, ada apa?" Jawab Wangi seraya bertanya pada Wulan.
"Gak apa-apa sih... Cuma aku mau nanya sama kamu sekali lagi Wang, kamu beneran mau ikut jadi sukarelawan di Lebanon?" Tanya Wulan.
"Iya Wang, kamu gak serius kan? Di sana itu bahaya lho... Apa orang tua kamu mengijinkan?" Erika ikut berujar, dia tampak sama khawatirnya dengan Wulan.
"Kalau itu masalah hati kamu yang masih tertinggal di hati Galih, mending pikirin dua kali deh Wang... Seharusnya kan Galih yang memperjuangkan kamu, bukannya kamu yang berjuang sendiri gini." Wulan kembali berujar menasehati Wangi.
"Aku kan sudah bilang kalau aku hanya ingin menambah pengalaman dan jika aku kebetulan bertemu Galih di sana, aku anggap itu bonus dari Tuhan buat aku, mungkin dengan begitu hati aku bisa tenang. Aku tahu kalian khawatir, tapi ini sudah keputusan aku. Makasih sudah khawatirin aku guyss... Soal mama papaku, nanti aku pasti bicara dengan mereka." Ucap Wangi sambil menggenggam kedua tangan Erika dan Wulan.
"Kalau itu sudah keputusan kamu, kami tidak bisa apa-apa lagi selain mendo'akan semoga kamu selalu baik-baik saja di sana." Ucap Erika.
"Terimakasih ya sayang-sayangku..." Ucap Wangi dan langsung memeluk kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
"Semoga Tuhan juga menjagamu di sana, Galih Admaja." Do'a Wangi dalam hatinya.
Bersambung...