
Tiga puluh menit sebelum Wangi melihatnya, Zahara datang ke bawah pohon besar atas permintaan Romero yang mengajaknya bertemu untuk bicara...
"Kenapa kamu ingin bertemu denganku?" Tanya Zahara dengan nada ketusnya, tidak seperti biasa dia besikap ramah pada orang lain.
"Ada yang harus aku bicarakan padamu." Jawab Romero.
"Bicara apa? Jika itu tidak penting mending aku pergi saja." Ujar Zahara dengan wajah kesalnya.
"Ini penting, ini soal kita." Jawab Romero.
"Soal kita? Apa bersikap layaknya orang lain yang tidak saling kenal kurang bagimu? Apa sekarang kamu memintaku untuk keluar dari misi ini dan kembali ke Indonesia?" Ujar Zahara dengan asal menebak tentang apa yang akan dibicarakan Romero padanya.
"Tidak, bukan itu, kamu salah. Justru aku tidak ingin kamu menjauh lagi dariku." Jawab Romero yang membuat Zahara membelalakkan matanya.
"Apa?! Kamu jang...
"Aku salah! Aku yang salah, aku pria egois yang tanpa pikir pangjang telah melukai hatimu. Aku minta maaf, meski kamu tak kan memaafkanku aku bisa mengerti karena aku yang salah. Tapi kali ini aku akan berjuang, berjuang untuk mendapat maaf darimu, berjuang untuk hubungan kita. Zahara aku mencintaimu, hidupku hampa meski melihatmu setiap hari namun tidak bisa mendekatimu. Jadi Zahara, beri aku kesempatan selali lagi. Aku akan berjuang menjadi lelaki yang pantas untuk bersanding denganmu. Apa kamu mau memberi kesempatan itu?"
"Hiks... Huaaa... Kenapa kamu baru bilang sekarang?! Huaa...hiks..." Pecah sudah tangis Zahara karena selama ini dia sudah menahan rasa sedih dan sakit hatinya. Romero pun mendekat dan langsung memeluk Zahara dengan erat. Mata lelaki berlesung pipi itupun ikut berkaca-kaca. Dalam hatinya dia merutuki kebodohannya yang harus menjauhi wanita yang amat dia cintai itu.
"Sstt... Jangan menangis, aku yang salah, jangan menangis, jangan menangisi lelaki sepertiku. Tapi mulai sekarang aku berjanji agar air matamu tidak keluar lagi untukku." Ucap Romero sambil mendekap tubuh Zahara yang bergetar. Dia memeluk Zahara dengan sesekali mencium pucuk kepala wanita itu.
"Hiks.. Kamu tidak bisa menarik lagi kata-katamu, jika kamu melakukan itu...hiks.. Akan kubunuh kamu!" Gertak Zahara dalam tangisnya.
"Pfftt... Aku suka sisimu yang galak ini. Aku janji sayang, kali ini aku tidak akan mundur." Ucap Romero sambil melepas pelukannya, menatap wajah cantik Zahara yang sembab dan menyeka air mata wanita yang dia cintai itu dengan ibu jarinya.
"Jadi..?? Aku dimaafkan?" Tanya Romero sembari menatap Zahara.
"Belum." Jawab Zahara tegas.
"Buktikan dulu omonganmu baru kumaafkan." Lanjut Zahara dengan wajah cemberutnya yang cantik meski baru saja menangis.
"Haha... Iya, iya sayang..." Romero kembali memeluk Zahara lagi.
"Aku akan melakukannya untukmu." Tambahnya.
"Eh, sebentar..." Zahara buru-buru melepaskan pelukan Romero dan menongok kanan kiri.
"Ada apa?" Tanya Romero bingung.
"Aku ngerasa kayak ada yang melihat kita dari tadi. Kamu ngerasa tidak?" Tanya Zahara.
"Masa sih? Gak ada siapa-siapa di sini selain kita." Kata Romero sambil melihat ke sekeliling mereka.
"Tapi aku ngerasa ada yang ngelihatin deh..." Ujar Zahara.
__ADS_1
"Perasaan kamu aja..." Kata Romero meyakinkan.
"Iya kali ya?" Sahut Zahara sambil nyengir.
"Kamu sudah tenang kan? Kita balik yuk! Nanti malam kita ketemu lagi. Malam ini aku akan jaga di pos medis." Ucap Romero.
"Okey, akan aku tunggu." Jawab Zahara sambil tersenyum.
...****************...
Kembali ke saat ini...
"Bagaimana keadaan kedua pasien malaria?" Tanya Dokter Rio yang saat ini tengah makan malam di dapur Rumah Sakit bersama Lukman, Wangi dan Zahara. Mereka tidak makan malam di kantin markas karena sedang memantau keadaan pasien.
"Alhamdulillah keadaan keduanya mulai stabil. Jika mereka berdua bisa melewati malam ini dengan keadaan stabil, besok pagi kita pindahkan ke ruang perawatan." Jawab Lukman.
"Saat ini siapa yang jaga?" Tanya Dokter Rio lagi.
"Saat ini Dokter Elias sedang mengecek keadaan mereka." Jawab Wangi. Dokter Rio pun manggut-manggut mengerti.
"Dokter Wangi mau tidur di Rumah Sakit juga?" Tanya Dokter Rio.
"Ah tidak, tidak Dok. Saya cuma ingin tahu keadaan pasien, habis makan saya akan kembali ke asrama." Jawab Wangi.
"Iya, mending Dokter istirahat saja di asrama, di sini sudah ada saya, Dokter Lukaman dan Dokter Elias, nanti Dokter Gibran juga ada di sini karena sedang tugas jaga. Jadi tidak perlu khawatir. Besok pagi kegiatan kita akan melelahkan karena harus pergi ke desa-desa untuk memberi vaksin dan obat cacing pada anak-anak. Jadi mending habis ini langsung istirahat." Ucap Dokter Rio memberi informasi.
Tak lama kemudian pintu pantry terbuka dan ternyata itu Elias yang datang.
"Nah ini Dokter Elias, makan malam dulu Dok, tinggal Dokter saja yang belum makan." Ujar Dokter Rio ketika melihat Elias masuk ke dalam pantry.
"Iya Dok, terimakasih." Jawab Elias sambil mengambil tempat duduk di sana.
"Lho... Dokter Rio mau kemana?" Tanya Elias ketika meluhat Dokter Rio beranjak dari tempat duduknya.
"Saya sudah selesai, saya mau cari angin dulu sebentar sekalian telpon keluarga di rumah." Jawab Dokter Rio.
"Owh... Silahkan kalau gitu Dok." Ucap Elias sambil tersenyum ramah.
"Kalian santai saja... Saya pergi dulu." Dokter Rio kemudian keluar dari pantry sehabis berkata begitu.
"Ra, buatin yang anget-anget dong... Teh hangat juga boleh, aku butuh kehangatan nih..." Perintah Elias pada Zahara.
"Adanya kompor yang habis dipakai, masih anget mau?" Sahut Zahara kesal karena datang-datang udah nyuruh-nyuruh. Malu kan di hadapan Wangi dan Lukman, masa anggota TNI medis pasukan Garuda dibuat malu di depan para sukarelawan? Emang ya apesnya Zahara punya kembaran yang super ngeselin.
"Idih malah sewot. Kekurangan zat besi kamu?" Ujar Elias yang super ngeselin.
__ADS_1
"Kamu itu ngeselin tahu bang!" Meski gitu Zahara tetap saja berdiri dan membuatkan teh hangat untuk saudara kembarnya itu.
"Senior, kalian berdua beneran kembar?" Tanya Lukman pada Elias.
"Perlu tes DNA?" Bukan Elias kalau gak bikin darah tinggi ngomongnya.
"Nggak! Dia cuma numpang lahirnya bareng aku." Jawab Zahara ketus.
"Yaelah adik sendiri saja diajak perang mulu, pantesan dulu aku sering disiksa sama kamu kak." Ujar Wangi mengenang masa lalu.
"Kamu dulu di siksa sama setan ini Wang?" Tanya Zahara gak percaya sambil nunjuk ke Elias.
"Disiksa batin tepatnya." Sahut Wangi.
"Ya ampun dek... Itu kan dulu, dendam amat." Ujar Elias sambil menyendok nasi gorengnya.
"Yaelah... Dulu kayak anjing ma kucing sampai tiap hari kuping saya gatel dengerin Wangi mengeluh sambil memaki. Ehh... Sekarang malah adek kakak'an." Seloroh Lukman.
"Beneran itu?" Tanya Zahara sedikit penasaran.
"Beneran Dok, kami pikir dulunya senior Elias dan Wangi bakal jadian karena seringnya berantem tapi juga sering jalan bareng." Seloroh Lukman yang malah menguak masa lalu.
Ckck... Ternyata kalian berdua seakrab itu ya? Ke sini saja barengan. Bang, kamu gak lagi naksir Wangi kan?"
"Uhuk..uhuk..!!"
Elias langsung tersedak nasi goreng mendengar pertanyaan Zahara barusan dan Wangi hanya melengos saja.
"Ya ampun... Hati-hati dong bang, nih minum!" Zahara langsung menyodorkan teh hangat yang baru saja ia buat untuk Elias.
"Kamu kenapa sih kak? Hari ini ngeselin banget, berantem sama Wita?" Tanya Wangi untuk mengalihkan pembicaraan mengenai dirinya dan Elias.
"Oh iya, aku belum dikenalin lho sama pacar abang yang namanya Wita itu." Ujar Zahara.
"Gimana mau ngenalin? Kamunya saja sudah satu tahun gak pulang ke Indonesia." Ujar Elias dengan mulut pedasnya.
"Kamu sendiri Wang, tadi sore ngapain ngumpet di balik tembok dekat parkiran mobil sama Galih?" Celetuk Elias setelah batuknya reda.
"Eh? Kapan?!"
Tak disangka Zahara ikut menjawab berbarengan dengan Wangi karena mereka berdua sama-sama kaget karena takut apa yang mereka lakukan tadi sore diketahui orang lain meski dalam konteks yang berbeda.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...