
"Wahh... Banyak sekali Bintang di langit sana!" Seru Wangi dengan senyum yang merekah dan wajah yang terlihat kagum.
Saat ini Galih mengajak Wangi kembali naik ke atas bangunan yang menyerupai benteng yang mereka datangi tadi sore.
"Kamu suka?" Tanya Galih dengan senyuman ketika melihat wajah ceria sang terkasih.
Wangi pun mengangguk tanpa melepaskan pandangan di langit sana yang penuh dengan cahaya Bintang.
"Suka, suka banget!" Sahut Wangi kemudian.
"Daripada Bintang, aku lebih suka melihat hal yang lainnya." Kata Galih.
Wangi pun langsung menengok ke arah Galih yang berdiri di sampingnya.
"Apa?" Tanya Wangi penasaran.
"Aku lebih suka melihat kamu yang tersenyum ceria seperti ini. Karena bagiku senyummu itu terlihat jauh lebih terang dari Bintang manapun." Jawab Galih tersenyum lembut sambil menatap wajah ayu Wangi.
"Dasar tukang gombal!" Sahut Wangi sambil memalingkan wajahnya yang tersipu itu.
"Pfft... Kamu cantik kalau tersipu seperti itu." Ujar Galih mencoba menggoda Wangi yang terlihat manis jika sedang malu-malu seperti itu.
"Dari lahir aku sudah cantik." Sahut Wangi jutek.
"Iya, tahu kok sayang..." Sahut Galih balik.
"Jangan panggil aku sayang!" Seru Wangi dengan kesal.
"Iya sayang, iya..." Galih justru tambah menggodanya.
"Galiihh..!!" Teriak Wangi begitu kesalnya karena digoda Galih, terlebih dia juga malu jika digoda terus. Selain itu jantungnya pun tidak bisa diajak kompromi.
"Pfftt... Haha.. Jangan ngambek gitu dong, nanti tambah cantik, akunya yang susah." Galih malah tambah menjadi-jadi.
"Dasar wong edan! Aku mau balik sekarang!"
Melihat Wangi yang sepertinya benar-benar marah, Galih langsung kalang kabut.
"Ei.. Jangan marah dong yang, aku kan cuma bercanda. Ta, tapi beneran kamu beneran cantik, tapi jangan ngambek juga..." Rengek Galih sambil memegangi kedua tangan Wangi.
"Tapi aku beneran harus balik Galih... Besok pagi ada kegiatan di desa setempat dan aku musti istirahat sekarang." Ujar Wangi yang sudah tidak terlihat marah lagi.
"Sebentar saja, aku masing kangen." Ucap Galih yang langsung memeluk erat tubuh Wangi, dan wanita itu tidak menolak.
"Sebentar saja... Rasa lelahku seharian ini terasa menghilang setelah bisa melihat dan memelukmu seperti ini." Ucap Galih seraya memejamkan matanya sambil memeluk Wangi. Tidak lama kemudian Wangi pun membalas pelukan itu dan memejamkan matanya. Nyaman. Itulah yang mereka rasakan satu sama lain saat ini.
Setelah dirasa cukup merekapun melepas pelukannya.
"Mau balik ke asrama sekarang?" Tanya Galih dan Wangi pun mengangguk.
"Yuk, aku antar." Kata Galih sambil meraih tangan Wangi untuk digandengnya.
"Oh ya, Zahara sudah tahu kalau tadi sore kita sempat mempergokinya berpelukan dengan Romero." Ujar Wangi.
"Terus?" Tanya Galih.
__ADS_1
"Dia sudah mengakui semuanya." Jawab Wangi.
"Romero juga sudah mengatakannya padaku." Ujar Galih.
"Sungguh? Bagaimana bisa?" Tanya Wangi penasaran.
"Itu karena lipstik milik Zahara tidak sengaja menempel di baju Romero." Jawab Galih.
"Pfftt... Haha... Dasar Zahara ceroboh. Eh, tapi sebentar...!" Wangi langsung menghentikan tawanya dan langsung memeriksa baju Galih bagian depan.
"Tidak ada." Gumamnya, lalu Wangi merapa bibirnya sendiri.
"Ah, syukurlah aku tidak memakai lipstik." Ujar Wangi pada dirinya sendiri.
"Kamu kenapa sih yang? Pfft.. Kamu takut lipstik kamu juga menempel di baju aku?" Tanya Galih sambil menahan tawanya. Kekasihnya itu benar-benar lucu.
"Aku tidak memakai lipstik!" Sahut Wangi menegaskan dengan nada ketusnya.
"Pfft... Meski pakaipun tidak masalah bagiku, tapi kamu harus pakai yang tidak mudah menempel." Ujar Galih setengah berbisik di akhir kalimatnya.
"Apaan sih?! Nggak jelas banget!" Wangi langung berjalan cepat mendahului Galih yang kini sedang tertawa di belakangnya.
.
.
Keesokan paginya... Wangi dengan beberapa dokter dan perawat lainnya tengah bersiap-siap melakukan kunjungan di desa setempat guna memeriksa kesehatan anak-anak di sana dan memberikan vaksin juga obat cacing bagi mereka.
Setelah briefing dan berdo'a mereka semua berangkat ke tempat tujuan.
"Wah... Ramai sekali ya?" Wangi dan para relawan medis lainnya yang baru pertama kali melihat gambaran suasana seperti itu merasa takjub dengan antusian para warga dan anak-anak tersebut.
"Ternyata di sini banyak sekali anak-anak." Komentar Lukman.
"Kebanyakan anak-anak di sini adalah anak-anak pengungsi dari korban perang Syuriah. Beberapa dari mereka sudah tidak punya orang tua." Terang Zahara.
"Lalu mereka tinggal bersama siapa di sini?" Tanya Wangi penasaran sekaligus mereasa iba dengan mereka.
"Ada tempat penampungan yang khusus ditinggali mereka yang jadi korban perang Syuriah." Terang Zahara lagi.
"Hmm... Syukurlah kalau begitu, kasihan mereka, dibalik senyum lebarnya, terdapat duka hati yang mendalam." Ucap Wangi dengan pandangan yang nanar pada anak-anak itu.
"Yuk, kita kerja sekarang! Nanti kalian akan tahu gimana tempat penampungan bagi mereka." Kata Zahara sambil menyusul dokter dan tim medis lainnya yang sudah jalan duluan ke tempat pemeriksaan dilakukan. Wangi dan Lukman pun mengikuti Zahara dan mereka akhirnya sampai pada sebuah tenda yang lumayan besar yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu oleh penduduk setempat dan anggota pasukan Garuda yang datang lebih awal.
"Kita akan melakukan pemeriksaan di sini. Kalian lihat rumah besar namun sederhana yang ada di sebelah tenda itu? Itu adalah tempat penampungan para korban perang itu. Ada juga beberapa rumah kecil yang juga mereka tinggali karena temapt penampungan sudah penuh. Mereka yang di tampung di sini biasanya membantu warga setempat untuk bekerja di ladang." Terang Zahara kembali.
"Ah, kalian sudah datang? Cepat kalian siapkan segala yang diperlukan." Perintah Dokter Gibran yang pada waktu itu juga ikut bersama mereka.
"Baik Dok!" Jawab mereka serempak.
Mereka para tim medis melakukan tugas mereka dengan lancar tanpa hambatan. Semuanya nampak melakukan tugasnya dengan senyuman. Anak-anak itupun terlihat bahagia meski awal-awalnya takut akan disuntik tapi di akhir anak-anak itu tersenyum bahagia karena mendapatkan permen dan coklat dari para dokter.
"Ahh... Akhirnya selesai juga." Gumam Wangi setelah selesai membereskan barang-barang medisnya.
"Kamu sudah selesai mengemas semuanya? Yuk balik!" Tanya Zahara.
__ADS_1
"Ayuk!" Sahut Wangi.
Disaat mereka berbalik dan hendak melangkah, mata Wangi tidak sengaja melihat seseorang yang dia kenal sedang bersama dua orang wanita muda tengah berdiri tak jauh dari rumah penampungan yang ditunjuk Zahara tadi.
"Eii... Tunggu Ra, itukan kak Elias? Ngapain tu orang barengan sama dua wanita cantik? Sepertinya penduduk asli deh..." Ujar Wangi sambil menunjuk ke arah Elias dan dua orang wanita Lebanon itu.
"Iya, ya? Ngapain si curut itu disana sama cewek? Dua lagi, cantik-cantik pula." Ujar Zahara yang juga merasa penasaran dengan apa yang dilakukan kembarannya itu.
"Dua cewek itu senyum-senyum malu-malu pula, tapi abang kamu lempeng-lempeng aja. Eiitt... Dikasih apa itu sama si cewek?" Tambah Wangi.
"Lhahh... Kok jadi tersenyum gitu habis dapet sesuatu dari cewek-cewek itu?" Timpal Zahara yang kemudian saling pandang-pandangan dengan Wangi. Mereka sudah mulai keppo.
"Owh... Mereka berdua kalau tidak salah pasien malaria yang rawat jalan beberapa hari yang lalu." Sahut Galih yang tiba-tiba sudah ikut nimbrung bersama Wangi dan Zahara.
"Ya ampum Lih! Kaget aku! Datang gak diundang, pulang awas kalau ngilang!" Celetuk Wangi begitu saja saking kagetnya tiba-tiba Galing sudah berdiri di sampingnya.
"Astaga yang... Kamu pikir aku jaelangkung apa?" Gerutu Galih sambil ngelus dadanya.
"Lebay!!" Sahut Zahara dan Wangi bersamaan.
Dan merekapun dikagetkan untuk kedua kalinya karena tiba-tiba Elias sudah ada diantara mereka.
"Kalian semua ngapain di sini?" Tanya Elias denga polosnya.
"Astagfirullah... Eli, bikin kaget aja sih?!" Seru Zahara sambil ngelus dadanya.
"Lha.. masa gitu saja kaget?" Tanya Elias tak percaya.
"Habisnya kakak tuh tadi kan lagi sama dua cewek Lebanon yang cantik-cantik trus tahu-tahu sudah ada di sini. Btw tadi habis ngapai hayo...? Tadi habis dapat apaan tuh dari cewek-cewek itu? Awas lho jangan macem-macem, kalau sampai Wita tahu bisa dapat surat PHK anda!" Wangi langsung mengomeli Elias begitu saja.
"Sepertinya salah satu dari mereka suka sama kamu El" Galih pun ikut menggoda Elias sambil menaik turunkan alisnya yang dibarengi oleh kekehan kecil.
"Mereka itu pasien malaria yang kebetulan aku tolong pada waktu itu. Kamu sendiri pasti tahu kan Lih? Kan yang ngawal aku waktu itu kamu. Dan ini hanya ucapan terimakasih dari mereka." Elias menunjukkan sebuah kantong berisikan buah anggur dan buah tin yang masih segar.
"Oh iya, yang ini dari wanita yang rambutnya dikepang. Katanya khusus buat Galih, dia juga nitip salam katanya kapan-kapan disuruh mampir. Nih!" Setelah mengatakan itu Elias menyerahkan kantong itu pada galih lalu pergi dengan senyum tengil yang ditujukan pada Galih.
"Apa itu? Coba lihat!" Wangi langsung mengambilnya dari tangan Galih dan melihat apa isinya.
"Kue coklat dan sebotol jus anggur? Sepertinya wanita itu beneran suka sama kamu ya..." Ucap Wangi dengan senyum yang membuat Galih langsung merinding.
"Wangi ini cuma..."
"Zahara, yuk pergi dari sini!" Wangi pun tanpa menghiraukan Galih lagi langsung menarik Zahara untuk lekas pergi dari sana. Zahara yang tidak mau komentar apapun hanya pasrah mengikuti Wangi.
"Sa...sayang... Ini cuma salah paham...!" Seru Galih yang merasa sudah kejebak trik licik Elias.
"Sialan Elias, ngerjain aku!" Gerutu Galih sambil melihat ke dalam kantong plastik berisi kue coklat dan jus anggur tadi.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1