Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 68 Wangi Punya Adik Baru


__ADS_3

Paginya Wangi beraktifitas seperti biasaya setelah hari yang melelahkan kemarin. Tadi malam para orang tua sibuk memikirkan kapan bagusnya diselenggarakan acara pertunangan Galih dan Wangi. Dan mereka memutuskan acara akan digelar satu bulan lagi sementara harinya masih menyusul karena harus mencocokkan hari libur Wangi, kalau masalah Galih kan gampang karena atasannya adalah calon mertuanya sendiri, urusan ijin bisa kapan saja.


"Sayang, aku kerja dulu ya... Kamu hati-hati nyetirnya." Pamit Wangi pada Galih saat akan keluar dari mobilnya. Seperti biasa pagi Galih mengantar Wangi untuk ke Rumah Sakit.


"Iya sayang... Kamu juga baik-baik kerjanya." Jawab Galih sambil membelai lembut rambut Wangi.


"Assalamu'alaikum..." Ucap Wangi sebelum benar-benar turun dari mobilnya.


"Wa'alaikumsalam..." Balas Galih sambil melambaikan tangannya dan melihat Wangi sampai benar-benar masuk ke dalam Rumah Sakit, barulah dia melajukan mobilnya untuk kembali ke Batalyon.


Wangi melangkahkan kakinya memasuki Rumah Sakit, baru beberapa langkah dia memasuki lobby ada seseorang yang memanggilnya dari belakang.


"Dokter Wangi..."


Mendengar ada seseorang yang memanggilnya dari arah belakang, Wangi langsung berhenti dan menengok ke belakang. Ternyata itu adalah Wita yang sepertinya dia juga baru saja datang.


"Hai Koas Wita... Selamat pagi." Sapa Wangi setelah mengetahui siapa orang yang memanggil namanya.


"Selamat pagi Dokter Wangi." Balas Wita sambil menundukkan kepalanya sekilas.


"Kamu baru datang juga?" Tanya Wangi basa basi.


"Iya Dok, Dokter juga kan? Soalnya saya tadi tidak sengaja melihat Dokter keluar dari mobil." Ujar Wita.


"Ahh... Iya, saya tadi diantar ke sini." Wangi sengaja tidak mengatakan jika dia diantar oleh Galih karena merasa sedikit tidak enak setelah mengetahui jika Wita adalah adik kandung mendiang tunangan Galih. Ya...meski itu sudah diluruskan sendiri oleh Galih namun Wangi tidak pernah menyinggung atau menanyakannya langsung pada Wita karena memang itu bukan urusan dia untuk ikut campur dalam masalah masa lalu antara Galih dan keluarga mendiang Sinar. Toh semua orang punya masa lalu kan... Dan kejadian itu sudah lama berlalu jauh sebelum dirinya bertemu dengan Galih.


"Diantar mas Galih?" Tiba-tiba Wita langsung menanyakan pada intinya dan itu membuat Wangi merasa kurang nyaman.


"Ohh itu... Iya." Jawab Wangi yang merasa canggung untuk menjawab.


"Kok dia tiba-tiba tanya begitu ya? Apa dia merasa gak terima aku kini berhubungan dengan Galih menggantikan kakaknya?" Batin Wangi bertanya.

__ADS_1


Wita tersenyum lembut, dan itu membuat Wangi mengerutkan dahinya. Batinnya bertanya apa ada yang salah?


"Saya senang Dokter Wangi yang menjadi pendamping mas Galih kini." Ungkap Wita tiba-tiba membuat Wangi bertambah bingung.


"Kamu tahu?" Tanya Wangi ragu-ragu dan Wita pun mengangguk dengan senyum yang masih tergambar di bibirnya.


"Pfftt.. Tentu saja... Di Rumah Sakit ini tidak ada yang tidak tahu jika Dokter Wangi setiap hari diantar jemput oleh pacarnya yang tampan." Dengan terkekeh Wita menjawab.


"Kamu tidak...marah?" Tanya Wangi dengan rasa yang sedikit heran dengan reaksi Wita tersebut.


"Marah? Kenapa saya harus marah?" Tanya Wita sambil memiringkan kepalanya karena sedikit kurang paham.


"Itu... Maksud saya..." Ucapan Wangi terhenti, terpotong oleh kata-kata Wita.


"Owh... Maksud Dokter marah karena hubungan mas Galih dan kakak saya di masa lalu?" Wangi mengangguk membenarkan ucapan Wita.


"Ya ampun Dokter Wangi... Jadi Dokter Wangi berpikir demikian selama ini?" Tebak Wita dengan sorot mata yang sedikit kecewa.


"Bukan itu maksud saya... Hanya saja saya merasa tidak enak saja, maaf." Kata Wangi merasa benar-benar tidak enak.


Dan Wangi pun tersenyum, terselip rasa haru di hatinya. Dia bersyukur jika banyak orang yang mendo'akan yang terbaik untuk hubungannya dengan Galih.


"Terimakasih Koas Wita." Ucap Wangi dengan senyum tulusnya.


"Panggil Wita saja jika kita berdua seperti saat ini, saya boleh menganggap Dokter seperti kakak sendiri? Saya kini sudah tidak punya kakak lagi, tapi melihat Dokter Wangi saya jadi ingin lebih dekat." Ungkap Wita.


"Tentu saja, saya punya satu adik laki-laki yang begitu menyebalkan, mungkin punya satu lagi adik perempuan lebih menyenangkan." Ujar Wangi yang kemudian tergelak bersama Wita.


"Ahahaaha..." Tawa mereka bersama.


"Kalau begitu panggil aku kakak atau mbak Wangi kalau sedang berdua saja." Pinta Wangi kemudian.

__ADS_1


"Baiklah... Mbak Wangi." Jawab Wita dengan senyum bahagianya.


"Okey kalau gitu, mending kita segera masuk ke tempat masing-masing sebelum terlambat. Yuk Wita!" Ajak Wangi yang menggamit lengan tangan Wita dan meninggalkan pelataran lobby Rumah Sakit.


Siang harinya ketika Wangi dan Erika sedang menikmati makan siangnya di kantin Rumah Sakit.


"Eh Wang, kamu ngerasa aneh gak sih sama tingkah laku si uler Keket akhir-akhir ini? Tumben-tumbennya dia baik sama kamu, pakek acara nempel-nempel segala sama kamu. Kamu udah jampi-jampi dia ya Wang?" Seloroh Erika yang suka asal njeplak saja kalau bicara.


"Sembarangan! Kamu pikir aku dukun pelet apa?!" Dumel Wangi yang langsung menyemprot Erika.


"Lha habisnya itu si Keket tiba-tiba jinak sama kamu, aku kan jadi curiga saking speechless-nya aku." Ujar Erika penuh tanda tanya.


"Ohh... Dia itu sebenarnya baik cuma kelewat manja saja jadi terkadang ngeselin, trus saat ini dia itu lagi berusaha PDKT sama teman pacar aku." Ungkap Wangi yang bikin mulut Erika langsung melongo dibuatnya setelah mendengar semua itu.


"What?! Demi apa?" Begitulah reaksi Erika seakan tak percaya.


"Ya... Begitulah." Sahut Wangi cuek sambil menikmati soto ayam menu makan siangnya.


"Kok bisa? Maksud aku kok bisa dia kenal sama teman pacar kamu?" Tanya Erika yang semakin penasaran.


"Ya bisalah, males aku ceritanya, panjang." Ujar Wangi yang lagi tidak ingin untuk menggosip.


"Yaahh... Ceritanya pendekin dong..." Pinta Erika dengan sedikit memohon.


Tiba-tiba seseorang datang menaruh sepiring bakso dan es jeruk di atas meja mereka lalu duduk begitu saja di sebelah Wangi.


"Nah... Kebetulan nih orangnya datang, mending kamu tanyakan sendiri sama sumbernya langsung." Wangi langsung menunjuk orang yang baru saja duduk di sebalahnya yang ternyata itu adalah Wulan yang barusan mereka bicarakan.


"Haa?! Lagi ngomongin apa sih?" Tanya Wulan yang bingung dengan apa yang Wangi dan Erika bicarakan.


"Ngomongin kamu!" Jawab Wangi dan Erika serempak.

__ADS_1


"Hahh?? Aku??"


Bersambung...


__ADS_2