Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 77 Lebanon... I'am coming..


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu setelah wisuda kelulusan Wangi. Setelah acara rujakan dan makan-makan di rumah Wangi, malamnya Wangi memberanikan diri untuk memberi tahu kedua orang tuanya tentang rencana keberangkatannya ke Lebanon dalam misi sukarelawan medis. Tentu saja hal itu sangat membuat Rendra dan Rina selaku orang tua terkejut bukan main. Mereka sempat merasa keberatan jika Wangi putri satu-satunya mereka pergi ke daerah konflik, terutama sang mama. Rina sangat menentang keras keputusan Wangi tersebut, bahkan putrinya tersebut tidak pernah membicarakan masalah itu sama sekali. Wangi sampai berdebat dengan mamanya mengenai keputusannya itu dan kekeh dengan keputusan yang dia ambil, yaitu pergi ke Lebanon sebagai sukarelawan medis di sana. Dengan perdebatan yang sangat panjang akhirnya Rendra mengerti dengan keputusan yang diambil oleh putrinya dan dengan berat hati mengijinkannya untuk melakukan misi itu. Namun berbeda dengan mamanya yang masih belum menyetujui. Rina sampai marah juga kepada suaminya karena telah memberi ijin untuk Wangi, kemudian Rina pergi ke kamarnya dengan tangis di matanya. Hingga pada akhirnya Rina menyetujui keputusan Wangi. Entah apa yang dikatakan Rendra pada istrinya itu hingga menerima keputusan Wangi meski dengan berat hati. Pada waktu itu dengan air mata yang terurai Rina memeluk Wangi seraya memberi ijin kepada putri satu-satunya itu untuk pergi menjadi sukarelawan medis di Lebanon. Dan setelah satu minggu berlalu, besok adalah hari dimana Wangi berangkat melaksanakan tugasnya sebagai seorang relawan medis.


"Sayang... Kamu sudah mengemas semua barang yang kamu perlukan selama di sana kan? Jangan sampai ada hal yang penting ketinggalan." Tanya mama Rina sambil mengingatkan. Saat ini mama Rina sedang membantu Wangi untuk mengemas barang-barangnya.


"Insya'allah sudah semuanya kok ma... Lagian Wangi tidak membawa terlalu banyak barang, hanya yang penting-penting saja kok." Ungkap Wangi pada mamanya.


"Ya sudah, mama hanya mengingatkan." Ujar mama Rina.


"Iya Wangi ngerti, makasih ya ma." Ucap Wangi sambil tersenyum ke mamanya.


"Huuhh..." Mama Rina menghela napasnya seraya menatap sendu wajah putrinya.


"Sayang, apa kamu tidak ingin berubah pikiran?" Tanya mama Rina dengan tatapan penuh harap jika Wangi berubah pikiran dan mengurungkan niatnya.


"Ma... Kita kan sudah bicarakan ini berkali-kali." Ucap Wangi sebagai jawabannya.


"Ma, Wangi tahu mama merasa sangat khawatir, tapi Wangi ke sana kan gak sendiri. Sampai di sana juga tidak sendirian. Di sana juga ada militer kita yang bertugas dan menjamin keamanan kami selaku tenaga medis. Nanti di sana Wangi akan sering-sering menghubungi mama dan keluarga di sini. Jadi mama jangan terlalu khawatir ya..." Ucap Wangi yang mencoba menenagka hati mamanya.


"Bagaimana mungkin mama tidak khawatir? Kamu kan putri mama papa satu-satunya." Ujar mama Rina dengan suara yang bergetar.


"Yaaahh... Mewek lagi, jangan nangis dong ma, siapa tahu ntar Wangi pulang bawa calon mantu." Bujuk Wangi dengan leluconnya.


"Jadi benar kamu pergi ke sana hanya untuk ketemu Galih?" Tanya mama Rina tanpa basa basi.


"Ya kan di sana cowok bukan Galih saja ma... Banyak kok tentara-tentara keren lainnya. Dokter juga ada, bukan hanya Galih doang. Lagian belum tentu penempatan Wangi sama dengan penempatan dimana Galih bertugas, Lebanon kan luas." Sahut Wangi yang mengelak atas dugaan mamanya. Siapan yang kenal baik dengan mereka pasti tahu Wangi punya harapan besar untuk dapat bertemu dengan Galih.


"Terserah kamulah, mama tidak perduli kamu pulang bawa calon mantu atau tidak yang penting kamu jaga kesehatan di sana, jangan sampai telat makan, janji untuk menelpon mama tiap hari." Titah mama Rina yang tidak boleh diganggu gugat.


"Iya ma... Wangi pasti hubungi mama setiap hari jika Wangi tidak sibuk." Kata Wangi dengan senyum kecilnya menatap sang mama.


Hingga keesokan harinya tiba... Pagi itu rombongan sukarelawan medis yang akan berangkat ke Lebabon berkumpul di depan halaman Kampus Universitas tempat Wangi berkuliah dulu. Di sana, Wangi diantar oleh papa Rendra, mama Rina dan juga Dino adik semata wayangnya.

__ADS_1


"Sayang... Kamu baik-baik ya di sana, jaga perilaku, jaga kehormatan, jangan lupa beribadah dan jaga kesehatan, kalau ada waktu sering-seringlah menghubungi kami di sini ya nak?" Nasihat papa Rendra pada Wangi dengan mata yang berkaca-kaca. Meskipun papa Rendra adalah lelaki yang kuat dan berwibawa, namun orang tua tetaplah orang tua. Ini adalah pertama kalinya dia melepaskan putri satu-satunya pergi ke tempat yang jauh, terlebih ke negara orang yang rawan akan konflik negara.


"Iya pa... Wangi akan ingat semua nasehat papa." Jawab Wangi.


"Hiks..hika..hiks..."


Terdengar isak tangis mama Rina yang sedih melihat putrinya yang akan mengemban tugas kemanusiaan di negara orang.


"Ayolah ma... Jangan nangis terus, Wangi kan nantinya pasti pulang, cuma enam bulan saja kok." Kata Wangi sambil memeluk mamanya.


"Enam bulan kan lama nak...hiks.. Kamu kan gak pernah jauh dari mama papa, apalagi sejauh ini." Ujar mamanya seraya sesenggukan.


"Iya Wangi ngerti... Maka dari itu, yang Wangi perlukan saat ini adalah do'a mama papa, supaya apa yang Wangi lakukan di sana berjalan lancar." Ucap Wangi.


"Tentu mama papa akan selalu do'ain kamu di sana." Sahut mama Rina.


"Makasih ya ma... Wangi pasti kangen omelan mama di sana." Ucap Wangi sambil mengeratkan pelukannya.


"Kamu ini..." Sahut mamanya sambil menepuk lengan Wangi gemas dan Wangi langsung tertawa. Paling tidak suasana haru itu sedikit mencair.


"Ya nanti mbak bawain kamu oleh-oleh keripik kaktus." Sahut Wangi asal ceplos.


"Lha kok keripik kaktus sih mbak? Emang gak ada yang lain?" Tanya Dino dengan polosnya.


"Ada, kadal gurun mau?" Sahut Wangi lagi.


"Kok semuanya berbau gurun sih?" Tanya Dino dengan wajah polosnya yang memanyunkan bibirnya.


"Soalnya di sana adanya gurun, mau mbak bawain unta sekalian?" Goda Wangi yang membuat kedua orang tuanya sampai menahan tawa.


"Ogah! Gak jadi, kirim uang jajan aja buat aku." Sahut Dino dengan mulut yang masih mengerucut.

__ADS_1


"Kamu ini Din, mbakmu mau pergi jauh mbok ya'o dido'akan biar perjalanannya lancar, ini belum apa-apa sudah minta oleh-oleh." Kata papa Rendra tak habis pikir pada Dino yang memang belum berpikir dewasa. Maklum, Dino kan masih anak-anak.


"Habisnya... Mbak Wangi mau perginya jauh banget, ntar gak ada yang ajak ribut di rumah." Ungkap Dino dengan nada sedihnya.


"Oalah... Kalau kangen mbak Wangi bilang dong... Sini, peluk mbak dulu." Ucap Wangi seraya merentangkan kedua tangannya yang disambut Dino dengan pelukan sayangnya.


"Mbak Wangi, jangan lama-lama ya perginya." Ucap Dino dibalik pelukannya.


"Iya, mbak Wangi gak lama kok... Dino di rumah jangan nakal, nurut sama mama papa, jagain mereka selama mbak gak di rumah. Dino kan anak laki-laki." Nasehat Wangi untuk adik semata wayangnya.


"Iya mbak..." Jawab Dino.


Tidak lama kemudian terdengar sebuah pengumuman yang mengharuskan para peserta untuk segera berkumpul di lapangan guna upacara pelepasan para sukarelawan. Tenaga medis baik dokter maupun perawat yang ikut ternyata lumayan banyak dan selebihnya adalah tenaga pendidik dan masyarakat umum yang sengaja mendaftar karena mempunyai jiwa sosial.


Setelah berpamitan dengan keluarganya, Wangi pun bergabung dengan peserta lainnya yang sudah berkumpul. Ternyata di sana Elias dan juga Lukman teman seangkatan Wangi pun ikut, bahkan suster Anne juga berangkat bersama mereka.


"Bagaimana, apakah kalian sudah siap berpetualang?" Tanya Elias kepada Wangi, Lukman dan juga suster Anne.


"Tentu saja harus siap kan?" Jawab Lukman.


"Saya justru tidak sabar untuk sampai di sana." Ucap suster Anne.


"Saya bahkan sudah menyiapkan sunblock untuk di sana, bersiaplah untuk berjemur...!" Seru Wangi dengan jawaban konyolnya yang membuat mereka tertawa. Terlihat jika mereka semua bersemangat.


"Dokter Elias, Dokter sudah pamitan sama Wita kan?" Tanya Wangi setengah berbisik pada Elias.


"Ehmm... Kamu sendiri sudah siap belum ketemu doi?" Balas Elias berbalik menyerang Wangi dengan pertanyaan yang sedikit meledeknya.


"Justru saya siap tempur dengannya di sana." Jawab Wangi dengan pingahnya dan dibalas dengan tawa oleh Elias.


Kini seiring berjalannya waktu, hubungan Elias dan Wangi tidak lagi canggung, apalagi kini sudah ada Wita di hati Elias. Ya... Meski untuk sementara waktu pasangan yang lagi sayang-sayangnya itu harus terpisah oleh jarak. Tadinya Wita juga mau ikut, namun berhubung dia sedang menyelesaikan tugas Koas-nya jadi Wita tidak dapat ikut mendaftar.

__ADS_1


"Lebanon... I'am coming." Batin Wangi dalam hatinya.


Bersambung...


__ADS_2