Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 116 Siap-Siap Diomeli


__ADS_3

"Galih, awas...!!"


Galih langsung berbalik ketika mendengar teriakan Romero, pas disaat sebuah belati mengarah ke arahnya. Untungnya belati itu mampu dia tahan meski tangannya terluka.


"Galih Admaja." Ujar Joshua ketika berhadapan dengan Galih yang kini masih menahan serangan belati Joshua.


"Ternyata kau masih ingat namaku, Joshua Franklin." Balas Galih.


"Tentu saja, bahkan dulu kita pernah berteman. Tapi tak kusangka si Burung Hantu kini menyerang temannya sendiri." Ujar Joshua dengan tatapan membunuh pada Galih.


"Itulah yang aku kecewakan, kau dulu adalah teman yang baik dan menyenangkan. Menyerang? Bukankah kau duluan yang menyerang kami? Kau yang dulu sangat membanggakan baju kemiliteranmu, namun apa yang terjadi sekarang? Kau sendiri yang menodainya, kau merusak nama baik militer dan negaramu, kau merusak orang-orang di sini dan menyakiti mereka. Bahkan aku tak habis pikir kamu memberi nama tempat laknat ini dengan nama kekasihmu. Lamona." Ujar Galih seraya menendang tulang kering kaki Joshua sehingga lelaki itu mengaduh dan pertahanannya pun goyah. Hal itu digunakan Romero untuk membantu Galih meringkus Joshua.


"Argghh...!!" Pekik Joshua saat tangannya dipelintir oleh Romero.


"Menyerahlah... Sekarang tidak ada jalan lain lagi untuk kabur dari kami." Kata Galih pada Joshua yang kini sedang dipegangi oleh Romero dan salah satu rekannya.


"Dasar Burung Hantu bodoh!! Seharusnya kau bergabung denganku dan mendapat kekayaan serta kekuasaan bersamuku. Apa yang kamu dapatkan dari seragam itu hahh?!! Uang? Wanita? Bahkan wanita yang kau cintai pasti akan memilih uang daripada seragam kebanggaanmu itu!" Seru Joshua dengan kilat marah di wajahnya.


"Tapi sayang sekali wanitaku tidak seperti Lamona-mu. Dia lebih menyukai memegang pisau daripada uang." Balas Galih setengah mengejek. Ya memang benar sih... Karena Wangi kan lebih suka memegang pisau bedah, meski dia juga tidak akan menolak jika diberi uang hehehe...


"Sialan..!!" Umpat Joshua sambil menyikut Romero dan berhasil merebut pistol yang terselip di pinggang Romero lalu menembakkannya ke arah Galih. Tapi sayangnya, kecepatan tangan Galih lebih cepat daripada tangan Joshua yang merupakan mantan penembak jitu di kemiliterannya.

__ADS_1


Dorr!!


"Arrgghhh...." Pekikan panjang terdengar dari mulut Joshua. Salah satu peluru Galih mengenai tepat di paha kiri Joshua.


"Ternyata peringkatmu masih dibawahku. Aku lebih cepat darimu." Ejek Galih sambil menepuk pundak Joshua yang kini tengah meringis kesakitan. Joshua pun kembali diamankan.


"Kamu gak apa-apa Lih? Luka kamu gimana?" Tanya Romero yang khawatir melihat tangan sahabatnya berlumuran darah. Ia menyerahkan kain lap yang dia sambar dari mini bar yang ada di ruangan tersebut dan menyerahkannya ke Galih untuk menghentikan sementara darah yang mengalir di tangan Galih.


"Yang pasti sakitlah... Ah, bakalan kena omel Wangi nih..." Mendengar keluhan Galih itu, Romero hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Aku gak ikutan ya kalau kalian berantem." Sahut Romero.


"Woi Rom... Teman masa gitu?!" Seru Galih yang berjalan mengikuti Romero dari belakang, namun Romero tetap tak menghiraukannya.


Begitulah operasi penangkapan Joshua berakhir. Semua orang yang terlibat dalam kejahatan Joshua telah ditangkap, termasuk Lorena yang dibuat pingsan oleh Romero. Ternyata wanita itu ikut andil besar dalam memperluas jaringan narkoba, Lorena berperan menawarkan narkoba pada tamu-tamu pria yang dia rayu. Romero pun sempat dia tawari juga, untung Romero bisa mengatasi wanita itu.


Kembali ke tiga jam kemudian...


Para tim dokter telah berjaga di depan pintu Rumah Sakit untuk menunggu kedatangan para pasien darurat sesuai kabar yang mereka terima. Wangi dan Zahara yang juga berada di sana sungguh berharap-harap cemas semoga pasien-pasien tersebut bukanlah Galih ataupun Romero.


Akhirnya dua ambulans datang dan para staff perawat serta dokter sudah siap dengan dua brankar untuk menerima pasien. Pasien yang pertama keluar adalah seorang gadis muda yang sudah tak sadarkan diri. Gadis itu adalah Erisha yang tiba-tiba pingsan dan kini langsung ditangani oleh Lukman dan dokter Rio. Kemungkinan Erisha pingsan karena lemas, kekurangan cairan dan depresi berat. Wangi dan Zahara belum bisa bernapas lega karena masih ada satu pasien lagi yang belum keluar. Dan saat pasien kedua diturunkan dari ambulans, mereka langsung menghela napas lega karena pasien tersebut adalah wanita muda yang over dosis karena dia sudah dicekoki obat halusinogen oleh para penjahat di sana. Pasien itu langsung ditangani oleh Zahara dan ketika Wangi akan membantu Zahara tiba-tiba dia dikejutkan oleh sosok yang keluar dari ambulans setelah pasien wanita itu keluar. Sontak Wangi pun menjerit, membuat Zahara dan para staff lain yang akan mendorong brankar pasien berhenti dan menengok ke belakang.

__ADS_1


"Kyaaa...!!" Teriak Wangi yang kaget dengan darah yang merembes keluar dari kain yang dililit di telapak tangan Galih.


"Hehe... Ini hanya luka kecil kok." Ujar Galih sambil meringis ketika melihat wajah panik Wangi.


"Aku akan menuntut penjelasannya nanti. Sekarang ikut aku!" Kata Wangi yang kini memasang wajah garangnya.


"Ah... Bakal panjang nih urusannya." Gumam Galih.


"Apa??!" Seru Wangi yang samar-samar mendengar gumaman Galih.


"Eng, enggak papa kok..." Sahut Galih cepat sampai tergagap-gagap.


"Ckk.. Telinganya tajam juga." Batin Galih yang tak berani mengeluarkan suara lagi di hadapan Wangi.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2