Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 78 Apa Kabar Jantungmu?


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan berjam-jam yang begitu panjang, akhirnya rombongan Wangi dan para sukarelawan tiba juga di tanah Lebanon. Siang itu mereka tiba di Bandar Udara Internasional Rafik Hariri dengan selamat. Sebagai informasi bandara ini adalah bandara komersial satu-satunya yang beroperasi di negara tersebut.


Setelah itu mereka semua diangkut dengan kendaraan khusus yang akan membawa para relawan ke markas Indonesian Battalion (Indobatt) di Adchit al Qusayr yang berada di Lebanon Selatan. Di sana mereka akan bergabung dengan UNIFIL (United Nations Interim Forces In Lebanon) bersama Kontingen Pasukan Garuda yang sudah terlebih dahulu bergabung di sana.


"Wang, Adchit al Qusayr itu bukannya berada di wilayah Blue Line dekat perbatasan Israel ya?" Tanya Lukman seraya berbisik pada Wangi ketika mereka berada di dalam mobil.


"Iya, kenapa? Kamu takut Luk? Mau kembali saja?" Jawab Wangi dengan pertanyaan yang setengah mengejek pada Lukman.


"Ya enggaklah, aku kan sudah niat datang kemari, dengan niat baik pula, masa mundur?" Sahut Lukman tanpa rasa ragu.


"Baguslah kamu gak ciut hati." Balas Wangi.


"Justru aku yang khawatir sama kamu Wang, takutnya kamu bakal nyerah duluan." Ujar Lukman.


"Mana ada Wangi mundur sebelum berperang? Yang ada dia yang paling bersemangat di sini, soalnya sudah ada yang menunggu." Sahut Elias begitu saja yang kebetulan mendengar pembicaraan dua juniornya itu.


"Kok bisa?" Tanya Lukman tak mengerti.


"Nanti juga kamu akan tahu Luk. Iya kan Dokter Wangi?" Jawab Elias sembari tersenyum smirk kepada Wangi.


"Tolong jangan bikin gosib di sini ya Dokter Elias." Ujar Wangi dengan lirikan tanjamnya, namun Elias justru menahan tawanya.


"Kalian ini sebenarnya ngomongin apa sih?" Tanya Lukman lagi yang benar-benar kurang paham dengan maksud kedua rekan sejawatnya. Namun yang ditanya cuma diam saja.


Akhirnya mereka semua sampai di tempat tujuan setelah menempuh perjalanan darat selama kurang lebih satu setengah jam dari Beirut ke Adchit al Qusayr. Setelah turun mereka di sambut oleh perwakilan Pasukan Garuda bersama UNIFIL di markas mereka. Dan tanpa diduga sama sekali salah satu perwakilan Pasukan Garuda yang menyambut kedatangan para relawan adalah Galih.

__ADS_1


Deg!!


Jantung Wangi seakan berhenti berdetak, padahal dia sudah mempersiapkan akan datangnya hari ini, namun tetap saja setelah saat itu terjadi Wangi tidak dapat mengontrol degup jantungnya. Dan sepertinya Galih belum menyadari jika ada Wangi di dalam rombongan para relawan itu. Wangi yang berada di tengah-tengah rombongan memakai celana rempel selutut warna cream, kemeja flanel warna coklat susu lengan panjang dengan kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnya sepertinya tertutupi oleh badan teman-temannya sehingga Galih belum melihatnya. Lalu apa kabar jantung Galih jika melihat wanita yang dia cintai itu berada di tengah-tengah rombongan itu?


"Eh doi tu..!" Elias mendekat dan setengah berbisik pada Wangi.


"Biasa aja." Sahut Wangi yang terkesan cuek tp sebenarnya matanya tak lepas pada Galih yang berdiri di depan sana.


"Yakin? Jantung kamu baik-baik saja kan?" Ledek Elias lagi.


"Dokter mau mulut Dokter saya sumpal pakai slayernya Lukman?" Sahut Wangi dengan jengkel yang melihat Elias mengejeknya dengan senyum yang tertahan di bibirnya.


"Pfftt... Ogah! Slayer Lukman bau keringat." Sahut Elias balik.


"Kalian ngomongin apa sih bisik-bisik gitu? Kok slayer saya disebut-sebut?" Tanya Lukman dengan muka cengonya.


"Ckckk... Kalian kompak banget ya... Kenapa gak jadian saja?" Ujar Lukman.


"Saya bukan tipenya Dokter Wangi." Sahut Elias santai.


"Ehh... Wang yang di belakangnya Komandan itu sepertinya aku pernah lihat tapi dimana ya?" Tanya Lukman sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Pfftt..." Elias yang mendengarnya hanya bisa menahan tawanya atas kelemotan Lukman, sedangkan Wangi yang ditanya hanya diam mencoba meredakan degup jantungnya.


Sementara itu Komandan Pasukan Garuda berdiri di sana menyampaikan pidato penyambutannya untuk para relawan yang baru datang.

__ADS_1


"Saya sampaikan selamat datang kepada para relawan di tanah Lebanon. Saya Letkol Abdiasyah selaku komandan di sini mewakili seluruh Kontingen Garuda, UNIFIL PBB mengucapkan banyak terimakasih atas kelapangan hati saudara sekalian untuk membantu meringankan beban kami serta membantu mastarakat di sini. Saya berharap kedatangan anda sekalian di sini dapat sedikit membantu warga di sini yang sedang membutuhkan bantuan baik medis, pendidikan ataupun sosial. Sekali lagi kami ucapkan selamat datang di markas Indobatt dan selamat bergabung dalam UNIFIL yang selalu menjaga dan memperjuangkan perdamaian dunia khususnya di Lebanon ini." Setelah kata sambutan itu selesai langsung terdengar suara tepuk tangan para orang-orang di sana dan beberapa anggota pasukan Garuda yang ada di sana berjalan maju dengan membawa kalung bunga untuk di sematkan di leher para relawan yang datang sebagai bentuk penyambutan mereka. Salah satu dari pasukan yang ikut menyematkan kalung bunga itu adalah Galih. Dan entah suatu kebetulan atau apa? Tidak sengaja kalung bunga yang dibawa Galih itu mengarah pada Wangi. Ketika Galih hendak mengalungkannya, tangannya tiba-tiba menggantung di udara ketika melihat siapa wanita yang ada di hadapannya. Galih langsung dibuat shock melihat wanita yang selama ini selalu dirindukannya berada langsung di hadannya. Dia seakan tidak percaya jika yang di hadapnnya itu adalah Wangi, perempuan yang ia tinggalkan sebelum hari pertunangan mereka.


"Wa.. Wangi?!" Gumam Galih dengan wajah terkejut menatap lurus perempuan di hadapannya. Namun dengan santainya Wangi maju selangkah dan mengepaskan kepalanya sendiri dengan kalung bunga yang masih menggantung di tangan Galih membuat lelaki itu tersentak. Dan lagi-lagi dengan tenangnya Wangi melangkah maju tepat di samping Galih lalu setengah berbisik tepat di sebelah telinga Galih.


"Bernapaslah." Ucap Wangi dan kemudian berlalu begitu saja melewati Galih yang diam terpaku di tempatnya.


Ternyata hal itu tanpa sengaja terlihat oleh suster Anne yang sedari tadi hanya diam saja. Suster Anne kemudian mendekati Wangi.


"Dok, bukannya itu pacar Dokter yang sempat bikin heboh di Rumah Sakit kita? Tidak disangka pacar Dokter Wangi ada di sini juga, pantes lama gak kelihatan nongol di Rumah Sakit kita. Kalian janjian ya...?" Ucap suster Anne yang asal tebak itu.


"Dia tidak tahu jika saya datang ikut rombongan relawan." Mendengar jawaban Wangi itu suster Anne terkejut dan langsung menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.


"Astaga! Jadi demi cinta Dokter Wangi sampai menyusul pacar ke sini? Berasa lihat Descendants Of The Sun gak sih?" Ujar suster Anne yang tiba-tiba berbinar-binar matanya.


"Kamu pikir saya ini Song Hye Kyo dan dia Song Joong Ki gitu? Sorry di sini gak ada adegan selendang terbangnya." Ujar Wangi sewot karena sedikit kesal dan itu sontak membuat Elias yang juga melihat dan mendengar semua kejadian tadi langsung menyemburkan tawanya meski sedikit dia tahan agar tidak kebablasan.


"Dokter Elias kenapa tertawa? Memang ada yang lucu?" Elias langsung berhenti tertawa mendengar pertanyaan Lukman sambil tepok jidat dan berlalu pergi sambil merangkul pundak Wangi.


"Mending kita lihat barak medis kita, tadi sudah ada yang mengarahkan di sana." Ucap Elias sambil merangkul pundak Wangi dan membawanya pergi dari orang-orang keppo di situ.


"Tapi nggak harus rangkul saya juga kan Dok!" Sentak Wangi yang berusaha untuk melepas rangkulan Elias.


"Ssstt...! Diam saja sebentar! Kamu ingin bikin lelaki di belakangmu yang terus menatapmu dari belakang itu ketar-ketir panas dingin kan?" Ucap Elias sambil menaik turunkan alisnya sebagai kode. Dan untungnya Wangi langsung faham maksud Elias.


"Jahil juga ya anda Dok..." Ujar Wangi sambil tersenyum smirk.

__ADS_1


"Sekarang Galih... Apa kabar jantungmu?" Tanya Wangi dalam hatinya.


Bersambung...


__ADS_2