Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 85 Maaf Dari Galih dan Rahasia Romero


__ADS_3

"Galih?!" Seru Wangi ketika tahu siapa orang yang tiba-tiba menaril tangannya.


"Wangi, kita harus bicara!" Ucap Galih seakan itu adalah perintah.


"Gak ada yang harus dibicarakan, aku masih ada kerjaan." Galih langsung menghalangi Wangi ketika dokter cantik itu akan pergi.


"Wang, pleas... Ada yang harus dengar dari kamu dan ada yang ingin aku katakan padamu." Pinta Galih sekali lagi.


"Tidak ada yang penting yang harus kita bicarakan Lih." Wangi berusaha menolaknya lagi.


"Tapi bagiku penting." Sahut Galih tegas.


"Kita sudah berakhir dua tahun yang lalu jika kamu lupa." Ucap Wangi sengit.


"Apa kamu yakin?" Tanya Galih.


"Apa?!" Seru Wangi apa maksud Galih.


"Apa kamu yakin kalau kita benar-benar selesai?" Tanya Galih sekali lagi untuk menegaskan pertanyaannya.


"Haha... Kamu gila ya Lih?! Kamu lupa atau pura-pura bego?! Kamu sendiri yang mengakhirinya dengan mulut kamu sendiri!" Seru Wangi yang begitu kesal dengan lelaki tampan di hadapannya itu.


"Ya! Aku akui aku bodoh saat itu karena nyatanya meski aku mengatakan hal menyakitkan itu padamu justru akulah yang tersiksa sendiri dengan kata-kata itu. Tak sedetikpun aku di sini melupakanmu Wangi. Aku berusaha menepis semua kenangan kita yang selalu membayangiku tapi aku tidak bisa. Aku sempat ingin menghubungimu lagi, tapi aku malu pada diriku sendiri, aku malu padamu dan mungkin kamu di sana sudah melupakanku atau bahkan sudah memiliki penggantiku. Sampai pertahananku runtuh ketika hari itu aku melihatmu di sini, di hadapanku. Wangi... Mungkin kata maaf tidak akan bisa menutup luka yang aku sematkan di hatimu tapi aku tetap ingin meminta maaf padamu. Maafkan atas kebodohanku waktu itu Wangi, aku sungguh menyesal." Ucap Galih dengan mata yang sudah berair sembari menggenggam erat tangan Wangi.


Air mata Wangi ikut menetes saat Galih mengatakan hal itu. Lalu dia berkata...


"Ya, seperti yang kamu katakan tadi, kata maaf tidak akan bisa menutup luka yang pernah kau sematkan kepadaku. Jadi, tunjukkan rasa penyesalanmu jika kamu benar-benar merasa menyesal." Ucap Wangi seraya melepaskan tangannya dari genggaman Galih laku berbalik meninggalkan lelaki itu.


"Wangi! Aku akan melakukannya sesui keinginan kamu!" Seru Galih sebelum wanita pujaannya itu benar-benar jauh.


"Wangi... Aku akan berusaha mendapatkan maaf darimu dan memperbaiki semuanya. Aku janji, aku tidak akan mengulangi kesalah itu untuk kedua kalinya." Bisik hati Galih.


Wangi berjalan ke tempat pusat medis Indobatt sambil mengusap bekas air matanya. Ketika baru saja memasuki tempat itu ada suara yang tiba-tiba menyapanya.


"Hai... Kita ketemu lagi." Ucap seorang laki-laki tinggi tegap yang masih dengan seragam militernya lengkap, baret biru laut itupun masih terpasang rapi di kepalanya.


"Kamu...?" Wangi mengingat lelaki itu tapi lupa namanya.


"Romero." Jawab lelaki berlesung pipi itu sambil menunjukkan nama tagnya pada Wangi.


"Kita ketemu di tenda pemeriksaan tadi siang, Dokter ingat?" Ucapnya lagi.


"Ya, ya ya... Saya ingat hanya saja saya lupa nama kamu kalau tidak kamu tunjukkan barusan." Jawab Wangi dengan suara agak serak.


"Hei... Mata kamu sembab, apa kamu habis nang..."


"Enggak!!" Wangi langsung memotong ucapan Romero sebelum lelaki itu menyelesaikan kalimatnya dan segera menegaskan jika dugaan Romero salah, meski itu bebar sih... Hanya saja Wangi malu karena kepergok habis menangis oleh lelaki yang baru ia kenal.


"Pfftt... Okey. Emm... Mau kopi? Atau mungkin teh hangat jika kamu tidak meminum kopi, di sini juga ada susu dan coklat jika kamu mau. Saya baru saja ingin membuat kopi sampai saya melihatmu datang." Ucap Romero dengan tersenyum untuk memecah kecanggungan diantara mereka.

__ADS_1


"Ha?? Memang di sini ada yang jualan minuman hangat?" Tanya Wangi yang entah mengapa hari ini otak cerdasnya tidak berfungsi bagus. Mungkin karena Galih?


"Pfft... Hahaha... Dokter Wangi ternyata lucu juga ya? Tadi kan saya bilang akan membuatkannya, apa Dokter berpikir saya sedang berjualan minuman hangat?" Seketika tawa Romero pecah dan sedikit menggoda Wangi sampai dokter cantik itu bersemu pipinya.


"Owhh..." Saking malunya hanya kata itu yang keluar dari bibir Wangi.


"Ada pantri kecil di belakang ruang jaga pusat medis ini jika kebetulan kami ingin menyeduh minuman, dan kebetulan malam ini tugas jaga saya." Kata Romero memberi keterangan dan Wangi pun manggut-manggut mengerti.


"Kamu jaga sendiri?" Tanya Wangi yang tidak melihat siapapun di post jaga pusat medis tersebut.


"Ada Reihan juga, dia sedang keluar sebentar mengambil camilan di dapur markas." Jawab Romero.


"Ah, begitu..." Sahut Wangi sambil meringis canggung.


"Dokter juga sedang tugas malam hari ini? Oh ya, Dokter Wangi ingin minum apa? Kopi, teh, susu, coklat?" Tanya Romero sekali lagi.


"Apa tidak merepotkan?" Tanya Wangi.


"Sama sekali tidak, saya cuma tinggal menyeduhnya saja." Jawab Romero.


"Kalau begitu saya mau coklat hangat saja." Sahut wangi.


"Okey, tunggu sebentar ya... Dokter bisa duduk di sini." Romero memberikan sebuah kursi bundar untuk Wangi duduk.


"Ah ya, terimakasih." Ucap Wangi.


"Saat malam di sini udaranya lumayan sangat dingin meskipun di siang hari sangat panas. Jadi saya membuat minumannya bukan hangat tapi panas, karena minumannya akan cepat dingin jika membuatnya hangat saja. Silahkan di minum, hati-hati panas." Kata Romero yang didengarkan Wangi dengan memperhatikan kepulan uap dari cangkir coklatnya.


"Terimakasih." Ucap Wangi seraya tersenyum. Dia menyentuh sisi cangkir tersebut dengan kedua tangannya untuk menghilangkan sejenak rasa dingin di tangannya. Lalu tak lama kemudian dia menyeruput coklat panas yang dibuatkan Romero.


"Gimana? Apa rasanya sudah pas?" Tanya Romero yang ternyata sedari tadi mengamati Wangi.


"Sudah, ini sangat enak, terimakasih." Jawab Wangi seraya tersenyum.


"Syukurlah kalau itu sesuai selera Dokter." Ujar Romero yang ikut tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.


"Oh ya tadi pertanyaan saya belum dijawab, Dokter sedang tugas jaga juga malam ini?" Tanya Romero.


"Sebenarnya tidak, tapi saya ada seorang pasien yang harus saya pantau malam ini, jadi mungkin saya akan di sini sampai pagi." Jawab Wangi.


"Owh... Wanita yang baru saja melahirkan tadi siang itu?" Tebak Romero.


"Iya, bayinya prematur dan dia masih sangat lemah meski sekarang sudah baik-baik saja. Saat operasai wanita itu hampir saja tidak tertolong jadi malam ini saya harus memantau keadaannya sendiri." Ucap Wangi.


Tidak lama kemudian Reihan datang dengan pisang goreng dan jagung bakar yang masih panas.


"Wah... Baru aku tinggal sebentar saja kamu sudah ada temannya Rom." Ujar Reihan ketika melihat ada Wangi di sana.


"Kenalkan ini Dokter Wangi. Dok, ini Reihan teman jaga saya malam ini yang saya katakan tadi." Ucap Romero memperkenalkan Reihan pada Wangi.

__ADS_1


"Hallo bu Dokter, saya Reihan." Ujar Reihan sambil menyodorkan tangannya.


"Iya, hallo... Wangi." Sahut Wangi sambil membalas jabat tangan Reihan.


"Sudah jangan lama-lama salamannya, giliran ada wanita cantik saja langsung gercep kamu." Goda Romero sambil melepas tangan Reihan dan Wangi yang sedang bersalaman.


"Pfftt..." Wangi hanya tersenyum menahan tawanya.


"Apaan sih kamu, gak seneng lihat teman senang. Oh ya Dok, ini saya bawa pisang goreng sama jagung bakar, kebetulan bagian dapur baru saja bikin camilan. Silahkan dimakan mumpung masih hangat." Ujar Reihan menawarkan pisang goreng dan jagung bakarnya.


"Iya om, makasih." Jawab Wangi sambil mengambil sepotong pisang goreng dari atas piring yang dibawa Reihan. Baru satu gigitan, Zahara datang bersama Elias dengan kantung plastik yang entah apa isinya, tapi dari baunya itu adalah makanan.


"Yaelah... Kirain kamu sudah masuk dari tadi Wang, tahunya nongkrong di sini sama cowok-cowok genit ini." Ujar Zahara sambil menunjuk ke arah Romero dan Raihan.


"Enak saja! Nih Reihan yang genit, aku mah enggak." Ujar Romere yang menolak predikat genit dari Zahara.


"Lha kok jadi aku? Kan kamu duluan yang bareng Dokter Wangi." Pungkas Reihan.


"Beneran Wang? Kamu gak digodain kan sama Gerandong satu ini?" Tanya Zahara sambil nunjuk ke arah Romero.


"Eh nenek Lampir! Jangan su'udzon dulu! Orang cuma ngopi bareng kok." Ujar Romero membela diri.


"Lha bukannya Gerandong sama nenek Lampir itu CSan ya?" Celetuk Reihan begitu saja sehingga membuat Wangi menahan tawanya.


"Pfftt..."


"Ck, kalian berdua tuh ya... Dari dulu sampai sekarang kalau bertemu sudah kayak kucing yang kebelet kawin saja. Awas ntar beneran jodoh lho..." Ujar Elias yang dulu sering melihat Zahara dan Romero adu mulut.


"Lho... Kalian berdua sudah kenal lama juga?" Tanya Wangi pada, Elias, Romero dan Zahara.


"Kami teman sekolah dulu." Jawab Elias.


"Waow... Kebetulan banget ya...?" Ujar Wangi yang setengah speechless mendengar kenyataan barusan.


"Lebih tepatnya mereka berdua itu tidak bisa dipisahkan meski sering sekali bertengkar, seperti... seseorang yang aku kenal." Ujar Elias sambil tersenyum smirk pada Wangi.


"Ciee... Gosip baru nih.." Celetuk Reihan dengan senyum menggodanya seraya menaik turunkan kedua alisnya.


"Awas kamu Rei kalau bilang yang macam-macam!!" Gertak Zahara pada Reihan.


"Wuihh... Galaknya..." Sahut Reihan sambil mengangkat kedua tangannya di depan dada.


"Udahlah Wang, kita masuk ke dalam saja, gak usah dengerin mereka, Lukman dan yang lainnya pada nungguin ntar aku kenalin juga ke staff medis di sini. Kamu pasti belum kenal semua kan? Yuk!!" Zahara Langsung menggamit lengan Wangi dan langsung mengajaknya pergi tanpa menghiraukan para lelaki di belakang mereka.


"Rom, sebaiknya kamu akui semuanya sebelum semuanya terlambat, kamu tahu maksud aku kan? Aku masuk dulu." Ujar Elias pada Romer dan pergi setelah menepuk pundak Romero.


"Maksud Dokter itu apa Rom?" Ditanya Reihan seperti itu Romero hanya diam saja sambil memandang Elias yang melangkah masuk menyusul Wangi dan saudara kembarnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2