
Sudah empat hari berlalu setelah hari itu, hari dimana pikiran Galih menjadi kacau. Galih sudah beraktifitas seperti biasanya, dia hanya akan bertemu Wangi di saat pagi hari dan sore hari saat mengantar jemputnya dari rumah ke Rumah Sakit. Paling dia akan mampir sebentar ke Rumah Sakit untuk menemui mamanya dan menjenguk papanya yang semakin hari semakin pulih kesehatannya. Sekarang giliran Wangi yang dibuat pusing oleh seseorang, tapi orang tersebut bukan Galih melainkan Elias. Kenapa demikian? Setelah sakit empat hari yang lalu, esoknya Elias langsung masuk kerja seperti biasanya namun ada yang sedikit aneh dari dirinya. Kepribadian Elias yang terkenal begitu dingin, cuek dan tidak ada belas kasihan pada juniornya itu mendadak berubah menjadi sedikit kalem meski masih terlihat jelas aura galaknya namun pesona Elias tetap bersinar di hadapan semua orang. Disaat dingin dan galak saja sudah membuat ciwi-ciwi terpesona apalagi sekarang yang berubah sedikit kalem? Tentu pesonanya menjadi dua kali lipat terlihat dimata wanita-wanita di sana. Tapi kenapa harus Wangi yang menjadi pusing dan kebingungan sendiri? Karena perubahan Elias tersebut lebih terlihat jika saat bersama Wangi padahal siapa yang tidak tahu bagaimana sikap Elias sebelumnya pada Wangi yang selalu menjadi siksaan bagi perempuan itu. Seperti saat ini.
"Duhh... Capek banget, pasien di kamar Melati 331 orangnya ribet susah diatur." Gerutu Bayu, senior satu tingkat diatas Wangi disaat lelaki itu baru saja masuk ke dalam ruang dokter.
Dengan perasaan kesal dia duduk di kursi kerjanya yang bersebalah dengan meja Wangi dimana perempuan itu sedang sibuk mengerjakan beberapa pekerjaannya. Bayu pun melirik ke arah Wangi yang berada di sisi kirinya.
"Dokter Wangi bisa ambilkan saya air minum? Saya haus." Ujar Bayu yang dengan soknya memerintah Wangi yang sedang sibuk bekerja. Namun sebelum Wangi akan menjawab perintah Bayu tiba-tiba Elias yang juga berada di sana untuk bekerja menyela.
"Anda tidak punya kaki dan tangan untuk mengambil air minum Dokter Bayu?" Tanya Elias dengan sarkas.
"Ee... Saya hanya meminta tolong pada Dokter Wangi saja karena saya terlalu capek." Jawab Bayu dengan kikuk, dia tidak mengira jika Elias tiba-tiba ikut campur begini.
"Aahh... Tapi saya tidak mendengar kata 'tolong' dalam kalimat Dokter tadi, apa saya salah dengar ya? Lagian jarak dispenser hanya berjarak tiga langkah dari tempat duduk anda, atau mau saya saja yang mengambilkannya?" Elias kembali menyindir Bayu dengan perkataan yang terdengar masih sarkas itu membuat Bayu semakin gelagapan. Sementara Wangi yang hanya duduk menyimaknya saja menjadi ternganga melihat Bayu yang sudah blingsetan karena malu.
"Ng enggak perlu Dok, saya bisa ambil sendiri." Dengan tergagap Bayu segera beranjak dari tempat duduknya menuju dispenser dan mengambil air minumnya sendiri. Sedangkan Elias dengan santainya melanjutkan lagi berkutat pada laptopnya.
"Emm... Sudah jam makan siang, saya keluar duluan ya..." Bayu yang merasa sudah kehilangan muka karena Elias langsung keluar dari ruangan dengan berdalih untuk makan siang. Dan kini di dalam ruangan itu tinggal Elias dan Wangi saja, sementara Dokter Residen yang lainnya masih melakukan tugasnya dan belum kembali.
Dengan tetap santai tangannya lincah mengetik keyboard di laptopnya, Elias melirik sekilas ke arah Wangi berada.
"Anda tidak istirahat makan siang dulu Dokter Wangi?" Tanya Elias tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.
"Ha? Apa Dok?" Wangi mendadak gelagapan sendiri mendengar pertanyaan Elias yang tidak terlalu jelas masuk ke telinganya. Entah pikiran Wangi ada dimana saat itu ketika Elias sibuk memperhatikannya.
__ADS_1
"Anda tidak istirahat dulu? Ini sudah jam makan siang." Ucap Elias mengulang pertanyaannya.
"Ohh... Saya masih belum selesai dengan ini." Tunjuk Wangi pada layar laptopnya sendiri.
"Kalau Dokter Elias mau istirahat silahkan duluan saja, saya nanti saja setelah ini selesai. Nanggung Dok." Ujar Wangi sambil meringis kikuk.
"Haahhh...."
Elias menghela napas panjangnya lalu menutup laptopnya dan beranjak dari duduknya.
"Saya keluar dulu." Ucap Elias pada Wangi.
"Baik Dok, silahkan." Balas Wangi.
Setelah kepergian Elias membuat Wangi langsung menghembuskan napas lega.
"Bodohlah! Yang penting selesain ini dulu." Wangi pun tidak ingin ambil pusing lagi dan melanjutkan pekerjaannya.
Setelah beberapa saat kemudian Elias kembali lagi dengan membawa sebuah kantong kresek. Dia mengeluarkan isinya yang ternyata adalah satu cup jus buah dan sebungkus sandwich isi daging dan sayur dengan ukuran sedang yang kemudian ia letakkan di atas meja Wangi membuat Dokter cantik itu sedikit tersentak. Wangi menengok ke sebelah kanannya sambil mengangkat kepalanya memandang Elias yang berdiri di sana.
"Ini apa Dok? Tanya Wangi dengan wajah bingungnya.
"Itu kamu makan dulu, jangan sampai melewatkan jam makan meski sedang sibuk." Wangi semakin dibuat speechless dengan ucapan Elias, tidak biasanya lelaki jutek itu seperhatian itu kepadanya sampai repot-repot membawakannya roti buat makan siangnya.
__ADS_1
"Hahh?! Serius Dok?" Tanya Wangi masih tidak percaya.
"Memangnya saya terlihat bercanda?" Mendengar jawaban Elias yang ketus itu membuat Wangi percaya jika senior setannya tersebut tidak bercanda.
"Ya... Tidak sih, cuma tumben saja Dokter baik sama saya, upss!" Wangi langsung membekap mulutnya sendiri yang terlanjur kelepasan.
"Anggap saja itu balasan saya karena sudah mau merawat saya saat sakit beberapa hari yang lalu." Ujar Elias masih dengan nada dinginnya, namun bedanya sekarang ucapannya itu terdengar seperti orang yang sedang gugup dan berusaha mengelak perkataan Wangi.
"Oohh... Kalau gitu makasih ya Dok." Wangi merasa lega kalau memang seperti itu alasannya. Entah Wangi itu terlalu polos atau terlalu naif sehingga tidak bisa melihat ke dalam isi hati Elias terhadapnya selama ini. Jika wanita lain mungkin sudah tahu perhatian Elias selama ini adalah perhatian yang tak biasa.
"Terus untuk Dokter sendiri mana?" Tanya Wangi dengan polosnya.
"Ini." Jawab Elias sambil mengeluarkan sebuah cup minuman berisi kopi dari kantong kresek yang sama tadi.
"Cuma kopi?" Tanya Wangi heran.
"Tadi saya sudah makan duluan." Sahut Elias sambil membuka kembali laptopnya dan menyeruput kopi dari gelas cupnya.
"Ooohh...." Balas Wangi. "Kalau begitu saya makan dulu Dok, sekali lagi terimakasih untuk ini." Ucap Wangi yang memulai meminum jus buahnya yang ternyata itu adalah jus sirsak kesukaannya.
"Wahh kok dia tahu ya aku suka jus sirsak?" Gumam Wangi keheranan dalam hatinya, namun setelahnya ia tidak memperdulikannya lagi.
Elias melirik ke arah Wangi yang tersenyum puas ketika wanita itu meminum jus yang ia berikan. Bibir Elias pun tanpa sadar ikut menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
"Wangi.... Kapan kamu akan menyadari perasaanku?" Tanya Elias dalam hatinya.
Bersambung...