
Pagi itu jadwal relawan medis setelah sarapan adalah pengecekan kesehatan pada seluruh anggota pasukan Garuda. Meskipun para prajurit TNI dalam UNIFIL itu namak sehat-sehat semua namun tetap saja harus diadakan pengecekan kesehatan rutin agar terhindar dari segala macam penyakit yang kemungkinan menyerang nantinya dan juga supa bisa mengetahui keadaan fisik para prajurit apa baik-baik saja atau dalam keadaan kurang sehat. Bagaimanapun kesehatan para prajurit di sana adalah nomor satu karena mereka harus dalam keadaan yang selalu sehat agar dapat melakukan tugasnya dengan baik.
Kegiatan itu sudah diinfokan pada saat sarapan pagi tadi dan kini para relawan medis baik dokter mapun perawat telah bersiap-siap mempersiapan peralatan dan obat-obatan yang kiranya mereka butuhkan untuk pemeriksaan tersebut. Kegiatan tersebut dilaksanakan di sebuah tenda super besar yang muat untuk banyak orang. Kegiatan tersebut mungkin akan berlangsung hingga sore melihat jadwal rutin para prajurit yang tidak sama sehingga mereka akan melaksanakan pemeriksaan kesehatan secara bergantian. Pagi untuk mereka yang tidak ada jadwal pagi, siang untuk mereka yang mempunyai waktu di siang hari begitu juga di sore hari. Bagi prajurit yang tidak ada waktu sama sekali di hari itu akan melakukannya di hari selanjutnya. Maklum... Anggota pasukan di Indobatt UNIFIL kan sangat banyak, jadi aatu hari saja tidak cukup bagi para dokter memeriksa kesehatan para prajurit-prajurit tersebut.
Wangi yang sejak pagi tadi tidak melihat Galih waktu sarapan, kini juga tidak mendapati lelaki manis itu di tenda pemeriksaan membuatnya celingukan mencari mantan kekasihnya itu.
"Kok dia gak keliahatan sejak pagi tadi ya?" Gumamnya lirih.
"Kamu cari siapa Wang? Celingukan gitu." Tanya Elias.
"Ah itu kak... Bukan apa-apa." Sahut Wangi mengelak.
"Cari Galih?" Tebak Elias langsung.
"Hahh?!" Wangi malah melongo kaget.
"Gak usah berlagak bego! Aku tahu kamu lagi nyari Galih kan?" Ujar Elias lagi.
"Ssttt..!! Jangan keras-keras dong kak! Malu." Bisik Wangi.
"Makanya kalau ditanya jawab yang jelas dong..." Ujar Elias.
"iya, iya... Aku nyari Galih, ini sudah hampir selesai tapi sedari tadi dia tidak kelihatan sama sekali." Sahut Wangi pada akhirnya.
"Sertu Galih sedang tugas patroli sejak pagi-pagi sekali tadi." Tiba-tiba seorang prajurit datang dan menjawab pertanyaan Wangi barusan yang membuat Wangi terkejut sekaligus sedikit malu. Bisa-bisa hal ini bisa jadi gosib lagi di markas Indobatt.
"Ahh, saya Romero teman seangkatan Sertu Galih. Maaf tadi saat datang kemari saya tidak sengaja mendengar ucapan Dokter Wangi." Kata Romero.
"Oh tidak apa-apa, terimakasih infonya. Anda ingin cek kesehatan kan? Mau dengan saya atau dengan Dokter Elias? Tanya Wangi dengan perasaan yang canggung. Sementara itu Elias hanya bisa menahan tawanya.
"Dengan Dokter saja tidak masalah." Jawab Romero yang langsung duduk di bangku depan meja Wangi.
__ADS_1
"Oh okey, silahkan salah satu tangannya ditaruh di atas meja, saya akan cek tekanan darahnya dulu." Romero langsung menaruh lengan kirinya di atas meja begitu Wangi menyuruhnya dan kemudian Wangi mulai memeriksanya.
"Tekanan darahnya normal ya Om... Apa ada keluhan lain yang mungkin dirasakan?" Tanya Wangi pada Romero.
"Tidak ada, hanya saja dari kemarin tenggorokan saya terasa gatal dan kering." Jawab Romero.
"Coba saya periksa dulu, maaf tolong buka mulutnya sebentar." Pinta Wangi dan Romero pun langsung membuka mulutnya. Lalu Wangi dengan senter kecil yang menyorot ke dalam mulut Romero, memeriksa tenggorokan lelaki itu.
"Oh... Ini gak apa-apa kok, cuma gejala radang tenggorokan, untungnya masih awal, saya akan kasih obatnya nanti diminum sesai resep yang saya tulis ya..." Ucap Wangi sambil menuliskan resep setelah memeriksa tenggorokan Romero.
"Baik Dok, terimakasih." Jawab Romero.
"Ini, jangan lupa minumnya setelah makan ya.." Kata Wangi sambil mengingatkan.
"Baik, akan saya ingat Dok. Kalau begitu saya pamit dulu..." Romero beranjak dari duduknya setelah mendapat anggukan dari Wangi, tapi dia berhenti sejenak dan mengatakan sesuatu lagi pada Wangi.
"Oh ya Dok, sebentar lagi pasukan yang sedang patroli di Blue Line akan segera kembali. Jadi Dokter Wangi tunggu saja." Ucap Romero sembari melihat arloji tangannya sekilas.
"Saya tidak menunggu Galih." Ucap Wangi yang langsung membuat Romero terkekeh geli.
"Ah, iya." Sahut Wangi dengan kecanggungan yang memalukan.
"Kalau begitu saya permisi Dok." Romero langsung melangkah pergi dengan senyum yang dikulum.
"Pfftt... Bhuahahaha..." Tawa Elias akhirnya sudah tidak bisa ditahan lagi. Melihat Elias yang menertawakannya Wangi langsung menghunuskan tatapan tajamnya ke arah Elias.
"Puas?!" Tanya Wangi sarkas sambil menatap tajam Elias.
"Pfftt... Puas banget! Bhahaha..." Jawab Elias dengan tawa yang masih belum mereda.
Wangi yang kesal langsung menuju keluar tenda.
__ADS_1
"Lho... Mau kemana?!" Seru Elias.
"Cari angin, di dalam panas ada SETANnya!" Sahut Wangi yang menekankan kata setan dalam ucapannya.
"Cari angin apa cari angin?" Elias masih terus saja menggoda Wangi, entah sejak kapan Elias punya hobby menjaili Wangi padahal itu orang dulunya terkenal kaku dan dingin. Mungkin sejak dia berpacaran dengan Wita?
"Huhh!!" Wangi langsung melengos saja tanpa menghiraukan candaan Elias lagi.
"Itu Wangi kenapa senior?" Tanya Lukman yang datang menghampiri Elias dengan wajah bingungnya.
"Biasa cewek... Lagi dapet." Sahut Elias asal njeplak.
"Ohh... Hati-hati sama cewek yang lagi PMS, lebih seram daripada kuntilanak." Ujar Lukman menyahutinya.
"Memangnya kamu pernah ketemu kuntilanak Luk?" Tanya Elias sarkas.
"Idih... Amit-amit!! Jangan sampai!" Sahut Lukman sambil bergidik ngeri.
"Tadi bilangnya gitu, gak jelas kamu Luk." Ujar Elias sambil meninggalkan Lukman dan memanggil pasien berikutnya.
Sementara itu Wangi yang keluar tenda memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar markas Indobatt, menyapa beberapa orang yang berpapasan dengannya entah itu siapa, yang dia tahu mereka adalah salah satu anggota pasukan UNIFIL juga. Jadi di situ dia harus bersikap ramah pada semua orang karena bagaimanapun enam bulan ke depan dia akan bekerjasama dengan mereka. Maka diperlukan membangun hubungan yang baik diantara mereka.
Wangi menghentikan langkahnya di sebuah pohon yang cukup besar yang ada di sana. Ada batu besar di bawahnya dan dia duduk di sana. Wangi melihat langit siang itu yang cukup terik.
"Galih pasti sedang merasakan panas yang menyengat di kulitnya. Bahkan di Indonesia tidak sepanas ini. Tak kusangka musim panas di sini sangat mengerikan." Gumamnya sendiri.
Dari sana Wangi dapat melihat jalanan yang mengarah ke arah markas mereka. Dan dia melihat ada beberapa kendaraan khusus lapis baja yang datang menuju markas mereka.
"Itu... Mungkinkah pasukan patroli yang baru datang dari Blue Line? Seperti kata Sertu Romero mereka sebentar lagi akan kembali dari berpatroli." Gumam Wangi.
Semakin lama kendaraan lapis baja itu semakin dekat dan akhirnya masuk ke gerbang markas mereka. Namun sungguh terkejutnya Wangi ketika melihat Galih keluar dari kendaraan dengan baju yang berlumuran darah.
__ADS_1
"Ya ampun... Galih!!"
Bersambung...