Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 107 Operasi Penangkapan Raja Kalajengking #4


__ADS_3

Sebuah gang kecil di daerah kota di Lebanon terlihat sangat ramai orang keluar masuk. Sebenarnya itu bukanlah sebuah gang, namun jalan kecil yang langsung menuju sebuah bangunan yang orang-orang awam tahu adalah caffe semacam kedai kopi. Tapi kenyataannya itu adalah rumah Kasino yang merupakan tempat berjudi orang-orang kaya atau orang-orang biasa yang kebetulan tahu tempat itu dan mencoba keberuntungannya disana, ya walau...banyak juga yang keluar dari sana dengan tangan kosong dan wajah babak belur karena tidak mampu membayar hutang judi. Dan di sinilah Galih dan Romero akan melancarkan aksinya.


Galih keluar dari sebuah mobil sedan yang dikendarai tentara militer Lebanon yang menyamar sebagai sopir pribadinya. Semata-mata untuk meyakinkan mata para penjahat di dalam sana saat melihat kedatangan Galih yang bak konglomerat dengan koper hitam di tangannya. Para penjahat itu pasti menduga di dalam koper tersebut berisikan uang yang banyak. Ya, tidak sepenuhnya salah sih... Tapi bukan uang asli melainkan uang palsu. Dan bukan hanya uang palsu, di dalam koper hitam tersebut juga sudah terselip pistol kecil dan beberapa bom asap yang dibutuhkan Galih dan timnya untuk penyergapan itu.


Dua bodyguard di caffe "Kasino" yang berjaga di depan pintu masuk tempat itu langsung menyambut kedatangan Galih dengan sangat ramah. Dua bodyguard itu dari awal sudah melihat Galih yang turun dari mobil mewahnya di ujung gang tersebut, makanya tak heran mereka menyambutnya dengan suka cita. Melihat gaya Galih yang perlente, menurut mereka itu adalah tangkapan besar. Mereka belum tahu saja, justru merekalah yang tangkapan besar bagi Galih.


"Selamat datang tuan, silahkan masuk." Sambut salah seorang bodyguard yang berambut gondrong, namun Galih hanya diam saja di depan mereka sambil melihat-lihat sekelilingnya dengan sengaja memasang wajah yang arogan.


"Apakah ini pertama kalinya anda ke sini?" Tanya bodyguard yang satunya.


"Iya, karena aku dengar ada hal yang menarik yang bisa aku dapatkan di tempat ini." Jawab Galih.


"Anda berada di tempat yang benar tuan!" Sahut si gondrong seraya menjentikan jarinya sambil tersenyum senang.


"Kami juga menyediakan tempat VIP untuk tamu tertentu. Kalau anda mau kami dengan senang hati akan memandu anda di dalam, tapi tentu saja biayanya cukup mahal karena kami juga menyediakan fasilitas yang cukup memuaskan." Sambungnya panjang lebar.


"Itu bisa diatur, tapi untuk saat ini aku mau melihat-lihat dulu, kalau semuanya sesuai dengan apa yang kalian katakan aku pasti akan memesannya." Kata Galih dengan kata yang masih terdengar arogan. Seperti seorang pebisnis yang berhati-hati saat melakukan transaksi.


"Ah, ternyata dia sangat sulit, tapi ini tangkapan besar! Aku harus bisa merayunya nanti untuk dijadikan pelanggan VIP tetap di sini. Lumayan kan bonus yang ku dapatkan nanti." Batin si gondrong.


"Ah, tentu saja tuan. Anda boleh melihat-lihat dulu, saya yakin anda tidak akan kecewa." Jawab si gondrong mengiyakan ucapan Galih. Lalu dia mempersilahkan Galih untuk segera masuk ke dalam ruangan yang di dalamnya ternyata cukup berisik dengan suara musik.


"Sementara iya'in saja, tapi lihat saja nanti... Kamu akan menjadi bagian dari Scorpion Kasino ini, hahaha..." Batin si gondrong tertawa jahat.


"Bro, aku bawa dia masuk dulu. Kamu jaga di sini sebentar!" Bisik si gondrong pada temannya.


"Oke!" Jawab temannya sambil mengangguk.

__ADS_1


Mata Galih mengitari pemandangan yang ada di sekitarnya ketika dia sudah ada di dalam tempat laknat itu. Selain cukup berisik dengan suara musik, ternyata di dalam sana cukup ramai pengunjung. Selain terdapat meja-meja pengunjung yang lumayan banyak terisi, di sana juga ada meja bar yang cukup panjang dengan kursi yang terisi orang-orang yang sedang menikmati minuman keras, bahkan ada dari mereka yang sudah mabuk sambil menggamit tubuh seorang wanita seksi. "Menjijikkan!" Itu yang ada di benak Galih saat ini. Galih masih mengedarkan matanya namun ia tidak melihat Romero sama sekali di tempat itu padahal rekannya itu sudah masuk terlebih dahulu.


"Dimana Romero saat ini? Kenapa tidak kelihatan sama sekali batang hidungnya? Tidak mungkin kan dia masuk terlalu dalam?" Dalam hatinya Galih jadi sedikit khawatir.


"Bagaimana tuan? Bukankah tempat ini menyenangkan?" Tanya si gondrong sambil tersenyum bangga.


"Lumayan..." Jawab Galih sekedarnya. Matanya masih sambil melihat-lihat sekelilingnya dan pandangannya berhenti di salah satu pintu yang dijaga dua orang berbadan gempal.


"Anda dapat menikmati berbagai macam minuman di sini, kami punya banyak minuman bagus. Dan..." Si gondrong menjeda ucapannya ketika menyadari mata Galih berhenti di sebuah pintu ruangan yang dijaga dua orang temannya itu.


"Ah... Jika anda bosan dengan minuman, seperti yang anda dengar jika ada yang menarik di sini, lebih tepatnya sesuatu di dalam sana. Anda pasti sudah tahu itu kan tuan?" Lanjut si gondrong sambil menunjuk ke arah pintu yang dilihat Galih.


"Hmm..." Galih hanya menjawabnya dengan dehaman. Dia sudah tahu jika di dalam sana tempat orang-orang bermain Kasino


"Dan jika anda ingin pelayanan ekstra, kami menawarkan keanggotaan VIP. Saya jamin anda akan terpuaskan." Lanjut si gondrong lagi.


Tidak mau terkecoh dan memutuskannya terburu-buru, Galih memilih untuk duduk dulu saja di sana sambil pura-pura memesan minuman.


"Baiklah tuan, jika butuh sesuatu silahkan panggil salah satu petugas yang ada di sana, saya akan menyampaikannya pada mereka untuk mengijinkan anda masuk jika anda ingin. Kalau begitu saya permisi." Galih hanya mengangguk untuk menanggapi ucapan si gondrong itu. Setelahnya si gondrong berjalan ke arah orang-orang yang berjaga di depan pintu ruangan Kasino dan mengatakan sesuatu yang entah apa itu. Galih hanya melihatnya dari ekor matanya saja, namun pandangan terputus setelah seorang bartender berbicara padanya untuk menawarkan sebuah minuman.


"Anda ingin memesan tuan?" Tanya si bartender.


"Aku ingin yang kadar alkoholnya paling rendah, karena sekarang masih terlalu dini untuk mabuk." Jawab Galih agar si bartender tidak curiga jika sebenarnya Galih tidak berniat sama sekali untuk meminum minuman laknat itu. Mungkin nanti dia akan pura-pura meminumnya jika terpaksa, padahal mencium baunya saja dia sudah mual.


"Baiklah tuan." Untungnya si bartender tidak curiga sama sekali dan pergi menyiapkan pesanan Galih.


Tanpa Galih sadari, si gondrong telah menyuruh seorang wanita untuk merayu Galih ketika dirinya sedang sibuk dengan bartender tadi.

__ADS_1


"Hai Soledat... kemarilah!" Panggil si gondrong ketika dia melihat seorang wanita berpakaian seksi berwarna ungu dengan make up tebal melintas di depannya.


"Kenapa kau memanggilku? Aku sedang kesal sekarang!" Sahut wanita seksi itu sambil mengerucutkan bibirnya yang bergincu merah merona itu. Dia terlihat sangat kesal.


"Kenapa kau kesal begitu?" Tanya si gondrong sambil bersedekap.


"Aku sedang kesal! Lagi-lagi Lorena menyerobot mangsaku!" Jawabnya ketus.


"Haha... Kalau masalah itu kamu tidak usah khawatir cantik..." Kata si gondrong sambil menowel dagu si wanita yang dipanggilnya Soledat itu.


"Ada tangkapan yang lebih besar dari yang tadi, tapi kau harus bisa merayunya dulu karena dia sedikit alot. Tapi aku pastikan jika kamu bisa mendapatkannya, aku jamin dompetmu akan meluap isinya. Dan lagi, dia masih muda." Ucap si gondrong dengan senyum smirknya.


"Sungguh? Dimana orang itu?" Tanya Soledat dengan mata berbinar.


"Itu, dia di sana, yang sedang memesan minuman." Tunjuk si gondrong ke arah Galih duduk.


"Lelaki berjas navi dengan topi Panama itu? Sepertinya aku akan suka. Baiklah, aku akan mendapatkannya!" Kata Soledat percaya diri dengan senyum yang mengembang di bibir merahnya.


"Kalau begitu aku percayakan dia padamu." Kata si gondrong sambil menyeringai.


"Tenang saja, serahkan dia padaku." Jawab Soledat sambil melenggang pergi menuju ke arah Galih duduk.


"Hai tampan... Boleh aku duduk di sini?"


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2