Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 54 Gara-gara Salah Ngomong


__ADS_3

"Dokter Wangi dan mas Galih? Kenapa Dokter Elias melihat mereka segitunya ya?" Tanya Wita dalam hati.


"Ah bodoh amat, aku mau pulang sekarang, perut sudah laper juga." Gumam Wita lagi dan langsung melengkahkan kakinya menuju pintu keluar, tapi dia musti melewati Elias jika harus menuju keluar dan mau tidak mau dia harus sedikit menundukkan kepala hanya untuk sekedar menyapa dokter yang lebih senior darinya.


"Mari Dok..." Sapa Wita yang sedang berpapasan dengan Elias.


"Iya, kamu... Mau pulang?" Maksud hati Wita ingin lekas pergi dari sana setelah menyapa Elias sebagai bentuk kesopanan, namun Elias malah menanyakan sesuatu padanya.


"Iya Dok, tapi saya ingin mampir dulu beli makan di dekat-dekat sini saja." Jawab Wita dengan harapan Elias tidak bertanya apa-apa lagi padanya.


"Owh... Ya sudah kalau gitu ayo!" Ujar Elias seakan mengajak Wita pergi bersamanya.


"Maaf, maksud Dokter Elias apa ya?" Tanya Wita yang benar-benar tidak ngeh dengan maksud Elias.


"Kamu mau beli makan kan?" Tanya Elias lagi.


"Iya Dok." Jawab Wita dengan wajah bodohnya.


"Ya sudah ayo! Bareng saya saja, saya juga belum makan malam." Ujar Elias yang membuat Wita langsung melongo, tidak menyangka dengan ajakan Elias yang mengajaknya makan bersama.


"Tidak usah Dok, saya bisa sendiri gak apa-apa kok." Dengan ekspresi yang kaku Wita berusaha menolak ajakan Elias.


"Kamu nolak saya? Tenang saja, saya tidak akan menyuruh kamu untuk membayar makanan saya, nanti saya yang akan traktir kamu." Ujar Elias yang tidak menggubris penolakan Wita.


"Maksud saya bukan begi..tu.. Eh Dok..." Wita tidak sempat menyelesaikan ucapannya karena Elias langsung menarik tangannya untuk ikut dengannya secara terpaksa.


"Aduh! Aku salah ngomong." Rutuk Wita dalam hati.


Akhirnya mau tidak mau Wita mengikuti Elias. Dalam hati Wita jadinya ngedumel sendiri, berharap tidak ada hal buruk ketika dia bersama Elias, semoga saja ini hanya makan malam biasa saja. Lagian perut Wita sudah tidak dapat diajak kompromi lagi, seharian ini dia sibuk dengan kerjaannya dan hanya makan sebungkus roti untuk mengganjal perutnya siang tadi, jadi bisa dibilang hari ini dia sudah melewatkan makan siangnya.


"Kamu mau makan dimana?" Tanya Elias ketika mereka sudah berada di luar pelataran Rumah Sakit dan tentunya Elias sudah melepaskan tangannya yang menggandeng tangan Wita.


"Terserah Dokter saja yang penting dekat-dekat sini saja." Jawab Wita yang sudah menahan laparnya.


"Kan kamu yang ngotot ngajakin, kenapa musti tanya lagi sih? Nggak tahu apa orang sudah kelaparan gini." Wita ngedumel sendiri dalam hatinya.

__ADS_1


"Okey." Setelah itu Elias kembali melangkahkan kakinya, berjalan di depan Wita layaknya seorang pemandu jalan.


"What?! Cuma itu yang dia katakan? Aku kira bakalan tanya lagi, misalnya 'Kamu mau makan ini gak? Di tempat ini gak?' Gak ada basa basinya lagi gitu? Ya salah aku juga sih...yang mau nurutin maunya dia." Lagi-lagi Wita hanya bisa ngedumel sendiri dalam hatinya, mana berani dia protes dengan Elias kalau mau selamat besok paginya.


Akhirnya mereka berdua berjalan keluar dari area Rumah Sakit dan berbelok menuju salah satu rumah makan yang menyajikan soto daging dan rawon.


"Disini saja tidak apa-apa kan?" Tanya Elias pada Wita.


"Iya Dok, tidak masalah buat saya." Elias mengangguk mendengar jawaban Wita lalu masuk kedalam rumah makan tersebut yang diikuti oleh Wita di belakangnya.


"Ohh Dokter Elias, mau makan apa Dok?" Tanya ibu penjual yang ternyata sudah mengenal Elias dengan senyum ramahnya.


"Rawon seperti biasanya, kamu mau makan apa?" Jawab Elias pada si ibu penjual seraya menanyakan apa yang ingin dipesan Wita.


"Samain saja Dok." Jawab Wita begitu saja, karena dia memang tidak pernah pilih-pilih makanan asal jangan makan daging kambing saja karena dia memang tidak suka.


"Ini siapa Dok? Tumben tidak bareng dengan Dokter Wangi." Ujar si ibu begitu saja menanyakannya pada Elias dan membuat Wita jadi merasa tidak enak sendiri sehingga timbul pertanyaan dibenak Wita.


"Ha?! Kok Dokter Wangi jadi dibawa-bawa sih? Jadi berasa jalan sama laki orang deh... Lha aku pelakornya dong! Sial!! Kok jadi gini sih?" Rutuk Wita dalam hati.


"Iya bu, lagi gak tugas bareng, ini Koas Prawita yang sedang tugas pengabdian di Rumah Sakit Universitas." Terang Elias agar si ibu tidak salah sangka dan salah paham terhadap mereka.


"Jeruk anget." Jawab Elias dan Wita bersamaan tanpa sengaja.


"Wahh kompakan nih... Bisa-bisa jodoh hahaa... Bercanda kok, monggo duduk dulu, nanti saya antar pesanannya." Ujar si ibu dengan candaannya yang membut Elias dan Wita salah tingkah sendiri.


Sambil mengangguk dan tersenyum canggung mereka berdua pergi memilih tempat duduk paling belakang yang diperuntukkan untuk dua orang. Dengan suasana yang berubah awkward mereka duduk berhadapan dan terasa sunyi sesaat padahal di rumah makan itu tidak hanya mereka berdua yang datang untuk makan.


"Ehm... Dokter Elias terkenal juga ya disini." Ujar Wita berusaha mencairkan suasana karena terus terang dia tidak suka suasana canggung saat ini, bisa jadi dia tidak nafsu makan nantinya.


"Owh... Maksud kamu ibu pemilik rumah makan ini? Kebetulan dulu suaminya adalah salah satu pasien yang pernah saya rawat, akhirnya kami saling kenal. Dan kebetulan rawon di sini rasanya paling enak daripada di kedai lainnya, jadi saya sering makan di sini." Terang Elias pada Wita.


"Bareng Dokter Wangi juga?" Wita langsung merutuki pertanyaan yang keluar dari mulutnya barusan.


"Duhh!! Ini mulut kenapa sama kepponya sih dengan pikiran aku, ini nih kalau jadi orang terlalu jujur." Rutuk Wita dalam hatinya, dia menyesali setelah apa yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Maaf Dok, bukan maksud saya..." Ucapan Wita tertahan ketika Elias memotongnya.


"Dokter Wangi suka makan soto daging di sini, jadi kami sering kebetulan bertemu dan akhirnya makan bareng, dia junior saya di kampus dan kami pernah satu tim waktu menangani kasus penyakit seorang pasien." penjelasan Elias tersebut akhirnya menjawab pertanyaan yang ada di benak pikiran Wita.


Tak lama kemudian seorang wanita muda mengantarkan pesanan mereka, mungkin salah seorang pelayan di tempat tersebut.


"Silahkan Dok... Selamat menikmati." Ucap wanita tersebut tersenyum malu-malu pada Elias sembari tangannya menyelipkan anak rambutnya di telinga.


"Terimakasih." Jawab Elias datar layaknya Elias bersikap pada umumnya.


"Sama-sama Dok..." Balas wanita tersebut dengan pipi bersemu merah mendengar jawaban Elias dan berlalu setelahnya.


"Ehm... Saya rasa Dokter Elias benar-benar populer di sini." Ujar Wita setelah wanita muda tadi pergi.


"Maksud kamu?" Tanya Elias tak mengerti.


"Wanita barusan sepertinya suka dengan Dokter." Sahut Wita sambil menahan tawanya.


"Ngaco kamu! Dan jangan tertawa!" Hardik Elias dengan tatapan sebalnya.


"Benaran Dok... Dokter sih tidak lihat ekspresinya sambil gini..." Ujar Wita sambil menirukan gaya wanita tadi.


"Pfftt..." Elias menahan tawanya ketika melihat Wita menirukan wanita tadi.


"Eh ehh... Dokter Elias baru saja ketawa ya?" Seloroh Wita ketika melihat Elias menyunggingkan senyumnya.


"Enggak! Ngapain saya ngetawain kamu?" Sahut Elias mengelak.


"Saya tidak bilang kalau Dokter sedang menertawakan saya." Sekakmat! Kicep langsung bibir Elias karena sudah tidak bisa mengelak lagi.


"Erhm... Makan dulu saja, nanti keburu dingin." Ucap Elias mengalihkan pembicaraan dan langsung menyantap rawonnya, sementara Wita hanya menatap Elias dengan memicingkan matanya seakan curiga akan sesuatu.


"Atau... Jangan-jangan Dokter Elias suka ya dengan Dokter Wangi?" Elias langsung tersedak dan sedikit menyemburkan kuah rawonnya saat mendengar persepsi yang diutarakan oleh Wita.


"Uhuk..uhukk..!"

__ADS_1


"Eh, minum dulu Dok, makanya makannya pelan-pelan saja."


Bersambung....


__ADS_2